NetSains.com

Recent Comments


Powered by Disqus

25 Penulis Teraktif

  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • Foto anda tak tampak disini? Segera buat akun di Gravatar.com!
Netsains.Com on Facebook
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 suara, nilai: 5.00 ⁄ 5)
Loading ... Loading ...

Perhatian!
Artikel ini adalah artikel lama, diterbitkan lebih dari setahun yang lalu.
Mohon beritahu kami melalui komentar apabila artikel ini sudah tidak relevan lagi

Sistem Kelistrikan dan Permasalahannya

Masalah kelistrikan menjadi salah satu isu yang banyak diperbincangkan dewasa ini. Terjadinya pemadaman listrik secara bergilir, naiknya harga berlangganan listrik, dan usaha untuk mencari sumber listrik baru adalah isu sentral yang menjadi pusat perhatian banyak pihak. Namun, masalah mendasar dari pengelolaan kelistrikan seolah tertutup oleh isu hangat yang belakangan muncul sebagaimana disebutkan di atas. Sudah bukan rahasia lagi bahwa perusahaan yang mengelola kelistrikan selalu mengalami kerugian. Melalui tulisan ini, penulis mengajak kepada semua pihak untuk kembali memperhatikan masalah mendasar ini.

Tinjauan Umum Sistem Kelistrikan

Sebagai pembuka untuk membahas masalah pengelolaan kelistrikan, mari kita tinjau kembali struktur umum pengelolaan kelistrikan.

Dalam sistem kelistrikan paling tidak terdapat tiga fungsi umum atau subsistem, yaitu subsistem pembangkitan, transmisi, dan distribusi. Tiap-tiap subsistem ini memiliki karakteristik dan fungsi yang berbeda tapi saling burhubungan. Selanjutnya akan dibahas masing-masing subsistem tersebut.

Subsistem pembangkitan memiliki fungsi memproduksi (membuat) atau membangkitkan listrik. Subsistem ini pada dasarnya adalah sebuah pabrik yang memproduksi listrik tetapi karena listrik bukanlah suatu benda yang dapat dilihat maka istilah memproduksi lebih tepat dinyatakan dengan membangkitkan listrik. Listrik dapat dihasilkan dari berbagai macam cara, menggunakan air disebut PLTA (pembangkit listrik tenaga air), menggunakan uap air disebut PLTU (pembangkit listrik tenaga uap), dan lain-lain. Subsistem pembangkitan biasanya terletak di tempat-tempat listrik itu dihasilkan. PLTA terletak di bendungan atau waduk, PLTU terletak di dekat sumber panas bumi penghasil uap, dan seterusnya. Listrik yang dihasilkan tidak bisa disimpan atau ditampung dulu, tetapi harus langsung dialirkan ke tempat dimana listrik itu akan dipakai. Jadi, tidak ada gudang penyimpanan listrik atau tandon penyimpanan listrik. Inilah salah satu karakteristik dari listrik dipandang dari segi produksi.

Karena listrik tidak dapat disimpan, maka listrik itu harus terus dialirkan dari subsistem pembangkitan ke tempat listrik itu akan dipakai. Di sinilah peran subsistem transmisi. Subsistem ini berfungsi mengalirkan listrik ke tempat-tempat di mana listrik akan digunakan. Lagi pula tempat pembangkitan listrik biasanya jauh sehingga diperlukan cara agar listrik bisa dialirkan ke tempat lain. Maka, kita sering melihat kabel-kabel listrik membentuk saluran listrik tegangan tinggi yang membentang dari satu tempat ke tempat lain, itulah yang digolongkan sebagai subsistem transmisi.

Sebelum listrik sampai ke pemakai, saluran listrik tegangan tinggi yang dialirkan dari subsistem pembangkit perlu dibagi ke beberapa pemakai. Subsistem yang menjalankan fungsi ini disebut subsistem distribusi. Pada tahap ini listrik dibagi-bagi dengan tegangan tertentu ke sejumlah pemakai, baik pemakai rumah tangga maupun pemakai industri. Kita sering melihat gardu-gardu listrik yang tersebar di beberapa tempat, di sinilah listrik itu didistribusikan. Pada gardu-gardu ini terdapat trafo yang berfungsi menaikkan atau menurunkan tegangan ke tegangan yang sesuai. Kita juga sering mendengar pemadaman listrik di suatu daerah dihubungkan dengan kejadian di suatu gardu, karena memang di gardu inilah pusat penyaluran listrik di daerah tersebut.

Proses perhitungan biaya listrik yang dipakai oleh pemakai, kerugian akibat pencurian listrik, dan segala macam masalah yang berkaitan langsung dengan pemakai listrik termasuk ke dalam subsistem distribusi.

Pengelolaan sistem kelistrikan di Indonesia yang meliputi tiga fungsi sebagaimana dijelaskan di atas dilakukan oleh operator tunggal sekaligus sebuah badan usaha milik negara (BUMN), yaitu PLN.

Demikianlah penjelasan umum dan ringkas dari suatu sistem kelistrikan. Di sini dibahas bagaimana listrik yang dibangkitkan di PLTA yang jauh dari pusat kota dialirkan dan digunakan oleh orang-orang di pusat kota.

Evaluasi Sistem Kelistrikan Yang Ada

Dari penjelasan tentang sistem kelistrikan di atas dan membandingkan dengan sistem kelistrikan yang ada saat ini yang dikelola oleh PLN, menurut saya ada hal-hal yang perlu mendapat perhatian.

  1. Pernahkah pengelola sistem kelistrikan memperhitungkan jumlah listrik yang dihasilkan dalam subsistem pembangkitan, kemudian dialirkan melalui subsistem transmisi, sampai ke subsistem distribusi, dan terakhir sampai ke pemakai langsung? Apakah ada sejumlah listrik yang terbuang sia-sia dalam keseluruhan proses ini? jika kita meninjau listrik sebagai produk yang akan dijual maka kehilangan listrik berarti kehilangan sejumlah produk. Ini berarti ada harga produk yang tidak terjual, dan bisa berarti kerugian. Suatu sistem kelistrikan terpadu yang baik tentu saja akan memperkecil sejumlah kerugian ini dengan memperhitungkan jumlah listrik yang dihasilkan dan berapa jumlah yang dipakai dan dibayar oleh pemakai atau konsumen.
  2. Kita mengenal berbagai jenis pembangkitan listrik. PLTA menggunakan air, PLTU menggunakan uap air dari sumber panas bumi, dan sebagainya. Masing-masing sumber listrik didapat atau dijalankan dengan biaya yang berbeda. Apakah perbedaan tiap sistem pembangkitan ini tidak mempengaruhi perbedaan nilai jual listrik itu kepada konsumen? Bukankah seharusnya konsumen yang memakai listrik dari PLTA berbeda dari konsumen yang memakai listrik dari PLTU? Atau, jika di suatu daerah menggunakan listrik dari PLTA, mengapa mereka harus terpengaruh oleh kenaikan harga BBM yang digunakan pembangkit di daerah lain? Dari sudut pandang keadilan, hal ini tentu terlihat sangat tidak adil. Semestinya biaya listrik berlaku lokal sesuai pembangkit yang dijalankan di daerah yang bersangkutan.
  3. Bagaimana memperhitungkan dan mengelola distribusi listrik? Dalam pandangan bisnis, listrik yang dijual dan terbayarkan oleh pemakai semestinya sesuai dengan listrik yang diterima dari subsistem pembangkitan dan transmisi. Memang ada sejumlah listrik yang hilang saat transmisi yang biasanya sudah diperhitungkan saat merancang subsistem transmisi, tetapi sejumlah listrik yang hilang akibat desain di gardu, pemakaian tidak sah, atau pencurian listrik semestinya perlu diperhitungkan juga. Sudahkah ini dilakukan oleh pengelola sistem kelistrikan?

Dari sudut pandang efektivitas dan profit, permasalahan di atas bisa dijadikan landasan dalam mengevaluasi kinerja pengelolaan kelistrikan yang ada saat ini. hal di atas tentu hanya sebagian kecil dari permasalahan yang ada, tetapi dari sini kita bisa menganalisis sistem yang ada untuk mencari sedikit solusi yang bisa diajukan.

Sistem Kelistrikan Alternatif

Dari sejumlah permasalahan di atas, diperlukan suatu langkah maju dalam pengelolaan listrik yang dapat mengembalikan efektivitas dan profit perusahaan pengelola kelistrikan.

Dari penjelasan di atas, tampak bahwa permasalahan dalam pengelolaan listrik terletak pada distribusi listrik dan pengelolaan dana hasil distribusi listrik. Selama ini pengelolaan sistem kelistrikan yang meliputi subsistem pembangkitan, transmisi, dan distribusi dilakukan oleh satu institusi pemerintah, yaitu PLN. Dalam hal ini PLN membangun pembangkit listrik sekaligus maintenance-nya (pemeliharaan), membangun sistem transmisi beserta maintenance-nya, dan melakukan pelayanan kepada pemakai listrik sebagai pihak yang berhadapan langsung dengan konsumen.

Untuk alasan efektivitas dan profit, penulis mengusulkan suatu sistem kelistrikan alternatif berupa pemisahan dalam pengelolaan kelistrikan. Di sini sistem kelistrikan dibagi menjadi dua sistem yang terpisah dalam pengelolaannya yang masing-masing menjalankan fungsinya secara mandiri. Sistem pembangkitan dan transmisi berada di satu sisi dengan satu manajemen tersendiri dan di sisi yang lain sistem distribusi dengan satu manajemen tersendiri pula.

Dalam sistem kelistrikan ini, pihak pembangkit dan transmisi memproduksi listrik dan menjualnya kepada pihak lain, yaitu sistem distribusi. Sistem distribusi membeli listrik dari sistem pembangkit dan transmisi untuk dijual kepada pemakai listrik sebagai konsumen. Di sini baik sistem pembangkitan dan transmisi maupun sistem distribusi menjalankan usahanya sebagai institusi bisnis yang berusaha meraih keuntungan.

Sebagai institusi bisnis yang bertujuan menghasilkan keuntungan, masing-masing pihakmelakukan transaksi jual beli. Dengan demikian, baik sistem pembangkitan dan transmisi maupun sistem distribusi semestinya tidak mengharapkan timbulnya kerugian di pihak masing-masing. Ini membuat semua pihak berusaha menjalankan fungsi dan usahanya secara efektif agar tercapai usaha meraih keuntungan.

Sistem kelistrikan melalui pemisahan pengelolaan antara sistem pembangkitan dan transmisi dengan sistem distribusi merupakan suatu alternatif dalam pengelolaan sistem kelistrikan. Sistem alternatif ini merupakan suatu usulan dalam rangka meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan perolehan profit yang diharapkan dari suatu pengelolaan suatu sistem kelistrikan.

Pembahasan lebih rinci dari pemisahan sistem kelistrikan dan perbaikan yang bisa dicapai melalui penerapan sistem alternatif ini akan dijelaskan dalam tulisan berikutnya bertajuk Sistem Kelistrikan Alternatif, Profesionalisme Dalam Pengelolaan Kelistrikan.

foto:drfphoto.com

 

 Tentang Penulis:

Bayu Sapta Hari editor, penulis, dan penggiat sel ... Selengkapnya »
 
  Beri komentar atau taut balik artikel ini.
  • http://www.profile.friendster.com/debyfs Deby =)

    Rasanya harus BANYAK berhemat..

  • diman

    Dari tulisan ini, kayaqnya PLN perlu evaluasi lagi deh. Mungkin banyak kebocoran, listrik yang muncrat sana muncrat sini. Klo kebocoran yang ada bisa diperkecil syukur dihilangkan, pasti keuntungan jadi berlipat. Dan yang paling kuharapkan, TARIF YANG SEKARANG, DITURUNKAN!!!!

    • uston

      ksalahan pada menejemen ny,krna stiap ditanya pln slalu rugi.pada hal pln bisa untung bsar,d krna kan d pln bnyk calo,pemasangan kwh yg smesti ny murah bisa 2x lipat biaya ny.

    • uston

      pln bisa ny rugi trus pada hal pln untng besar

  • http://www.friendster.com/jumpingsistervany vani

    hahaha emang daridulu.. mo pegawai ke, direktur ke, pemerintah..dll.. kelakuannya selalu tidak beres..
    mau dapet duitnya aja,kerjanya kerjanya ga bener..
    mungkin pengaruh mereka demikian karena tempat kerjanya kurang nyaman..jadi bete gitu deh, males2an.
    maav ya kalo ga nyambung komennya hehe.

  • http://www.atsamf.com Global Power

    Bila anda mempunyai masalah kelistrikan dan ingin memback up dengan genset yang dapat dioperasikan secara otomatis, anda bisa mempergunakan panel ats amf, untuk mengenal lebih jauh mengenai panel ats amf, silahkan mengunjungi website kami.

    terima kasih.

  • Fadhil

    Inilah kebiasaan kita di indonesia, apa2 selalu nyalain pemerintah. Maunya segala sesuatu gratis, bayar pajaknya nda mau. Saya sarankan pada penulis untuk lebih banyak menggali informasi, pengetahuan, bila perlu langsung dari sumbernya. Perbanyak research, bukan seperti katak dalam tempurung, supaya tau the real condition. If everything goes on the right way praise yourself, but if it goes to the wrong way, blame your government, and you are the GREAT citizen.

  • salyna

    beri penjelasan tetang DSM(demand side management) donk?

  • Frans

    Dari evaluasi mas Bayu diatas dapat saya simpulkan bahwasanya mas bayu kurang terlalu paham ttg masalah sistem distribusi listrik, misalkan saja dari evaluasi no 2, tarif yg berbeda untuk tiap2 pembangkit. Jika Dilakukan hal demikian maka pihak penyedia listrik harus memisahkan GI PLTA dan GI PLTD misalnya, kemudian sistem interkoneksi tidak dapat berjalan sehingga kondisi kelistrikan akan terus devisit.

  • E.SETIAWAN

    Rasanya sudah seyogyanya karyawan PLN yang demo untuk swatanisasi pengelolaan kelistrikan harus nerimo karena PLN sudah boke untuk pengadaan kapasitas listrik yang lebih gede, dan rasanya kalau di swatanisasi nantinya daya saing akan kompetitif seperti di lakukan bidang telekomunikasi bisa bisa listrik jadi murah seperti nelpon saat ini. dan yang buat undang undang kelistrikan mereka mikirin yang lebih luas bukan mikirin karyawan PLN saja yang sudah bisa nikmatin gaji gede tetapi kinerjanya’? yah seperti saat ini

  • http://yahoo.com Poegoeh Y. Roesmanto

    Senyatanya, apa yang dikemukakan oleh Saudara Bayu Sapta Hari memang benar atau setidak-tidaknya mewakili kenyataan yang saat ini terjadi. Namun demikian, saya berfikir bahwa sebaiknya kita melihat persoalan yang dihadapi PLN sebagai satu-satunya operator ketenagalistrikan secara jernih dan adil. Jernih dalam pengertian bahwa sebagai masyarakat kita pun harus berempati terhadap permasalahan tersebut dan tidak hanya selalu “curiga” kondisi tersebut disebabkan oleh PLN semata sehingga inti musabab segala kemelut ketenagalistrikan dapat terlihat jelas, tegas dan tanpa bias. Adil dalam pengertian bahwa semua persoalan yang muncul tidak hanya andil PLN tetapi juga ada andil kita sebagai pengguna tenaga listrik sehingga dalam mencari solusi tidak hanya mengenai pengelolaan tenaga listrik tapi juga bagaimana mengubah perilaku kita sebagai pelanggan tenaga listrik. Pernahkah terbanyangkan oleh kita, bagaimana tenaga listrik yang kita pakai misalkan untuk mendinginkan ruangan, memanaskan air, menhidupkan pesawat telivisi dibangkitkan? Bila sadar betul bagaimana tenaga listrik tentunya kita akan berhemat meskipun kita tahu harga yang kita bayarkan masih relatif murah.
    Menurut pendapat saya, kemelut yang dihadapi oleh PLN saat ini merupakan akumulasi dari berbagai permasalahan yang dihadapi PLN di semua subsistem ketanagalistrikan baik pembangkitan, transmisi dan distribusi. Terlepas dari kemungkinan adanya ketidakefektifan dalam menajemen di PLN, permasalahan utama yang mendasar adalah tidak adanya kebijakan energi di negara ini yang jelas. Maksud jelas disini adalah Pemerintah sebagai regulator tidak memberikan pedoman yang jelas baga tata kelola energi yang ada. Sebagai contoh, gas bumi yang merupakan salah satu hasil tambang kita lebih banyak dijual ke luar atau ke pihak asing sementara kebutuhan energi gas kita cukup besar. Permasalahan yang sama juga terjadi pada batubara, tetapi beruntung PLN ada krisis global yang memeberikan dampak positif pada pemenuhan kebutuhan batubara untuk pembangkitan tenaga listrik karena penurunan permintaan pasar global. Namun bila tidak saya kira kita yang merupakan pelanggan tenagalistrik di wilayah Jakarta akan seringkali mengalami byarpet karena menurunnya kapasitas pembangkitan di PLTU Suralaya yang merupakan jantung pembangkitan di Jawa-Bali. Jadi persoalan sumber bahan bakar pembangkit dialami oleh PLN di sisi pembangkitan. Apalagi sejak subsidi BBM dihapuskan maka PLN harus diperlakukan sama dengan industri lainnya dengan membeli BBM sesuai harga pasar. Investasi yang dilakukan pun relatif kecil karena adanya keterbatasan finansial untuk mengembangkan kapasitas pembangkitan. Beruntung ada harapan dari mega proyek 10.000 MW yang dicanangkan Pemerintah, tetapi realisasinya mengalami keterlambatan karena sekali lagi kesulitan mencari pendanaan. Berbagai pola pendanaan dikembangkan untuk menyelesaikan permasalahan, tetapi sekali lagi masih berjalan tidak sesuai yang diharapkan.Ibarat supir bus kota, yang usia busnya sudah tua tentu saja hanya ada dua pilihan tetap mengoperasikan bus tuanya untuk mengangkut penumpang meskipun sadar kemungkinan batuk-batuk atau bahkan mogok di tengah jalan, tetapi dengan semangat pelayanan yang tinggi tetap mengoperasikan bus tua daripada diomelin atau dilempari batu oleh penumpang yang tidak tau kalau mengangkut mereka lebih banyak rugi dibandingkan untung.
    Permasalahan di sisi transmisi, dengan keterbatasan dana yang dimiliki (kalau boleh dibilang tidak punya uang)menyebabkan upaya pemeliharaan dan pembangunan transmisi menjadi salah satu kendala tersendiri. Merupakan hal yang sia-sia bila setelah dibangun pembangkit, ternyata tidak dapat disalurkan karena kendala tidak tersedianya kabel atau saluran transmisi. Saya yakin Saudara paham betul bagaimana sulitnya membangun transmisi di negara ini, meskipun Presiden sudah mengeluarkan peraturan bahwa untuk kepentingan publik area yang akan dilalui jalur transmisi dibebaskan tetapi kenyataannya jauh panggang dari api. Eforia reformasi masih saja terjadi yang menyebabkan harga pengganti tidak pernah pasti sehingga proses penyelesaian berlarut-larut. Pada sisi lainnya, trafo, kabel dan gardu yang dimiliki sudah kelebihan kapasitas yang seharusnya mereka tanggung. Peremajaan dan investasi jaringan transmisi menjadi kendala tersendiri yang disebabkan oleh permasalahan pendanaan. Saya pribadi, pernah melihat kabel tegangan 500 KV membara karena bottleneck penyaluran dan pembebanan berlebih di wilayah Jawa Timur.
    Permasalahan di sisi distribusi jauh lebih pelik lagi karena pada subsistem ini, PLN tidak hanya menghadapai persoalan internal seperti keterbatasan dana untuk investasi di jaringan distribusi dan pemeliharaan, pembelian bahan bakar untuk pembangkit diesel skala kecil, dan sistem pelayanan terpadu bagi pelanggan tetapi juga mengahdapi persoalan eksternal yaitu meningkatnya permintaan pasang baru tenaga listrik. Permintaan pasang baru rata-rata di setiap wilayah sebanyak satu juta pelanggan yang membawa konsekuensi finansial dan hukum. Mengapa saya katakan demikian? hal tersebut karena setiap permintaan pasang baru membutuhkan biaya investasi minimal Rp700.000 (tergantung jenis pelanggannya) sehingga dapat dibayangkan besarnya biaya yang harus disiapkan PLN untuk melayani pasang baru. Konsekuensi hukum yang ditimbulkan adalah bila PLN tidak sanggup melayani maka calon pelanggan yang butuh akan mencari cara singkat misalkan calo atau mencuri. Meskipun PLN mengintesifkan upaya penertiban melalui kegiatan P2TL tetapi kuantitasnya tidak sebanding dengan pertumbuhan permintaan tenaga listrik.
    Menurut best praktice, idealnya pertumbuhan pembangkitan sebesar 6% bila pertumbuhan pendapatan bruto 9%. Namun saat ini PLN hanya bertumbuh 2,4% padahal tahun-tahun sebelumnya pernah mencapai 10%. Mengapa hal ini terjadi? Alasan utamanya adalah karena keterbatasan dana atau finansial yang mungkin saja bisa disebabkan oleh adanyanya ketidakefektifan manajemen (mismanagement), ketidakhematan atau hal lainnya.
    Dalam kondisi seperti sekarang ini, dengan kebutuhan bahan bakar yang harganya mengacu pada harga pasar sedangkan harga jual ditetapkan Pemerintah maka kewajiban Pemerintahlah untuk kekurangan biaya pokok penyediaan tenaga listrik terhadap harga jual atau yang lebih dikenal masyarakat dengan istilah subsidi listrik. Perlu diketahui bahwa besarnya subsidi listrik yang diberikan oleh Pemerintah secara final akan dilakukan setelah perhitungannya diaudit oleh BPK RI, meskipun Pemerintah sudah mengalokasikannya dalam APBN. Hasil audit BPK RI bisa saja di atas atau di bawah plafon subsidi listrik dalam APBN. Satu hal yang selama ini tidak PLN terima dari tugasnya menjalankan public service obligation (PSO) sesuai amanat undang-undang adalah marjin. Berbeda dengan Pertamina yang dalam tugas PSO-nya diberikan marjin, PLN tidak sehingga seolah-olah ada ketidakadilan atau perlakuan berbeda terhadap PLN. Semoga saja hal ini tidak terus berlangsung.
    Jadi, menutup komentar saya atas tulisan Saudara, menurut perspektif saya apa yang terjadi saat ini di PLN sperti adanya defisit energi, pemadaman bergilir, munculnya kerusakan gardu, trafo dan jaringan merupakan akumulasi persoalan yang tidak terselesaikan dengan baik. Pemberian subsidi listrik kepada hampir seluruh golongan pelanggan pun tidak tepat karena tidak memotivasi pelanggan untuk berhemat dan memicu pola hudup konsumtif karena diraca harga listrik masih murah. Marilah kita dukung PLN untuk memperbaiki kinerjanya paling tidak mulai dari kita sendiri untuk mulai saat ini berhemat pemakaian listrik demi keberlangsungan pasokan listrik. Saya pernah memprediksikan bahwa PLN akan mengalami kasus seperti California (California Blackout) pada tahun 2004, dan tanda-tandanya sudah mulai terlihat tetapi saya percaya PLN dan Pemerintah sudah menyadarinya dan sudah mempersiapkan jalan pemecahannya. Hanya harapan saya yang juga harapan semua masyarakat Indonesia (saya kira)Pemerintah dan PLN segera mencari alternatif yang kongkrit dan tidak sekedar mencari kambing hitam karena untuk menjadi bangsa besar dan maju tidaklah berguna saling menyalahkan tanpa memberikan solusi yang aplikatif. Kami tahu hutang BBM PLN kepada Pertamina besar, kami tahu PLN kesulitan keuangan tetapi yang kami tidak tahu mengapa persoalan ini seolah tidak direspon cepat oleh Pemerintah. Menunda-nuda penyelesaian persoalan hanya akan menimbulkan efek balon yang akan siap meledak. Bila itu terjadi bersiaplah menghadapi kondisi seperti yang dialami masayarakat negara bagian California. Semoga hal itu hanya mimpi.
    Terima kasih

  • FEBRI

    saya mw plta di indonesia smakin ditingkat kahn pembagunganya