NetSains.com

Recent Comments


Powered by Disqus

25 Penulis Teraktif

  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • Foto anda tak tampak disini? Segera buat akun di Gravatar.com!
Netsains.Com on Facebook
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 suara, nilai: 4.00 ⁄ 5)
Loading ... Loading ...

Perhatian!
Artikel ini adalah artikel lama, diterbitkan lebih dari setahun yang lalu.
Mohon beritahu kami melalui komentar apabila artikel ini sudah tidak relevan lagi

Salah Kaprah dalam Pelafalan Bahasa Indonesia

Sebagai bahasa nasional, Bahasa Indonesiamengalami tahap-tahap yang sangat penting dalam sejarah perkembangannya. Dimulai dari 1901, disusun ejaan resmi bahasa Melayu oleh Ch. Van Ophuysen dalam Kitab Logat Melayu sebagai cikal bakal bahasa Indonesia. Pada 1928 Bahasa Indonesia diikrarkan dalam Sumpah Pemuda sebagai bahasa persatuan. Kemudian tahun 1942 kedudukan bahasa Indonesia semakin kokoh akibat kekalahan belanda terhadap Jepang, yang secara otomatis bahasa Belanda tidak boleh dipergunakan lagi, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam situasi resmi. Tahun 1945 Bahasa Indonesia memperoleh kedudukannya yang lebih pasti sebagai bahasa nasional, bahasa resmi, bahasa kesatuan dan bahasa negara. Kemudian, dengan penetapan pemakaian ejaan baru oleh Presiden RI tanggal 16 Agustus tahun 1972, selangkah bahasa Indonesia maju menuju kesempurnaannya.(Lihat J.S Badudu.1985)

Melihat sejarah perkembangan bahasa Indonesia yang hampir mencapai satu abad, ternyata bukanlah hal yang mudah untuk menyempurnakannya dan menjaga dari pengaruh-pengaruh bahasa-bahasa lain (asing). Bahasa Indonesia masih belum cukup dewasa menahan gempuran dari bahasa-bahasa asing yang selalu mempengaruhinya. Selain ketidakmampuaannya dalam menahan gempuran, bahasa Indonesia juga masih ada yang terjadi salah kaprah penggunaanya, yang kali ini penulis coba mengangkat kesalahkaprahan bahasa Indonesia, dari segi cara pelafalan membaca akrostik dan akronim.

Bahasa Indonesia dari segi pembacaan kata akrostik dan akronim masihbanyak-apakah karena sengaja atau karena sudah menjadi kebiasaan- yang salah kaprah. Ada beberapa kata yang pelafalannya kita menyesuaikan dengan lidah melayu, namun ada juga yang sedikit menggilitik lidah kita pelafalannya mengikuti dari kata aslinya –maksudnya bahasa asing- yang secara tidak sadar kita menganggap bahwa itu adalah pelafalan lidah orang melayu, khususnya orang Indonesia. Berikut akan penulis coba berikan contoh, mudah-mudahan menggugah hati anda.

Antara TV dan TVRI

Dalam pengucapannya, kita mengucapkannya dengan gaya pelafalan ejaan bahasa Inggris. TV (baca: tivi) mengapa kita tidak melafalkannya ‘teve’. Bukankah dalam bahasa Indonesia fonem t dibaca ‘te’ dan fonem v dibaca ‘ve’? Mungkin jika ingin membeli TV dan melafalkannya dengan ‘teve’ sudah pasti kita akan ditertawakan. Namun, ketika melafalkan nama stasiun TV pemerintah ‘TVRI’, kita melafalkannya dengan te-ve-er-i- bukan ti-vi-ar-ei-. Bagaimana menurut Anda, apakah benar? Hal ini sudah memasyarakat pada pengguna Bahasa Indonesia, suatu kesalahan yang sudah menjadi anggapan benar.

KFC dan A&W

Begitu juga dengan pelafalan dua merek dagang makanan dari luar negeri ini. KFC dan A&W. Kita melafalkan KFC dengan ka-ef-ci sesuai dengan pelafalan bahasa Inggris. Namun, ketika bertemu dengan merk dagang yang berbeda namun asalnya sama kita melafalkan A&W dengan pelafalan lidah melayu -a- dan –w-. Mengapa kita tidak melafalkannya sama seperti melafalkan KFC. Baca saja A&W dengan (Ei and doble yuu). Kini gilirannya, jika melafalkan demikian –ei and doubleyuu-, bisa jadi kita dibilang katrok oleh orang yang mendengarnya.

DVD dan VCD

Pelafalan DVD dan VCD Orang indonesia melafalkannya bukan (de-ve-de) tetapi (di-vi-di) Mengikuti pelafalan bahasa inggris. Begitu juga dengan VCD dilafalkan dengan vi-ci-di.

Handphone (HP)
Pada alat elektronnik yang satu ini pun kita juga salah kaprah.Mengapa pada pelafalannya kita tidak melafalkan dengan lidah Inggris. HP dibaca (eitch-pi). Tapi dalam kesehariannya kita melafalkan HP (hape). Bagaimana menurut Anda?

Tetapi walaupun demikian, tidak semua pelafalan dalam bahasa indonesia yang diserap dari bahasa asing menjadi salah kaprah. Satu contoh yang tepat, computer yang dalam bahasa Inggris dibaca –kompiyuterr-, tetapi dalam bahasa Indonesia diserap komputer, pelafalannya pun menjadi komputer. Sesuai dengan lidah orang Melayu bukan?

Melihat adanya kesalah kaprahan yang terjadi, semoga kita tidak semakin manambah kesalahan yang sudah ada. Belajarlah dari kesalahan. Hal ini bukan hanya menjadi tanggung jawab lembaga, badan, departemen atau sejenisnya yang menangani masalah kebahasaan, tetapi ini juga menjadi masalah kita sebagai masyarakat pengguna bahasa Indonesia. Untuk ke depannya semoga dalam proses penyerapan bahasa asing kita tidak salah kaprah lagi.

Foto: extremusmilitis.files.wordpress.com

 

 Tentang Penulis:

M. Purna Dewansyah Saputra Mahasiswa Non-reguler Basinda Angkatan 2006 FKIP Universitas Tanjungpura ... Selengkapnya »
 
  Beri komentar atau taut balik artikel ini.
  • Leo Darmawan

    Gladi Resik dilafalkan singkat “Ji-Ar” bukan “Ge-Er”.

  • mata

    seperti yang kita baca dari tulisan di atas bahwa penyerapan bahasa asing maupun bahasa daerah harus ada filternya agar tidak selalu salah. guru sebagai pengajar bahasa di sekolah harus jeli dalam menyampaikan bahasa jangan asal ambil lalu diberikan ke siswa sampaikan kesalahannya dan tunjukkan pembenarannya. terima kasih

  • Agus D’Willy

    Bagus Mas Purna, mudah-mudahan pengamatan seperti ini dapat menular di kalangan pemakai bahasa kita sehingga diharapkan dapat dan juga mau menggunakan bahasa Indonesia secara benar. Bahasa kita adalah sarana pemersatu, identitas, dasn wujud keberadaan bangsa Indonesia. Ia adalah simbol kedaulatan dan kehormatan kita sebagai bangsa Indonesia. Mari kita ramaikan gerakan cinta berbahasa Indonesia yang benar.

    • ida royani

      seandainya semua orang punya pandangan yang sama dengan anda maka bahasa indonesia tentu semakin lestari

  • poerwa

    mereka yang lupa akan soempah yang dilakukan tanggal 28 – 10 – 1928 , mereka yang tidak merasakan atau tidak bisa merasakan bahwa kemerdekaan bangsa berawal dari soempah ini , mereka yang tidak membayangkan bahwa perjuangan bangsa saat itu sangat berat . .

  • Dee kaffadya

    iya ya, baru tersadar …..

  • Ummu Daffa

    Like it. Ditunggu artikel ttg wawasan kebahasa indonesia-an yang lainnya yah…

  • Fyanosa

            Bahasa Indonesia kini sdh sehrsnya maju dgn mngikuti prkmbangan zaman, pelafalan yg kita dngr slama ini sdh bnyk yg salah fungsi & salah kaprah, sy prnh mndgr suatu kasus dlm prsidangan Susno Duadji dmna dsna hadir seorang prof bahasa (lupa namanya) sbg saksi ahli bahasa & ia mengatakan di dlm isi BAP yg dibuat oleh pnyidik polisi bnyk trjdi kjanggalan dlm pngrtian bahasa yg dmna org yg mmbacanya kan trpengaruh isi BAP tsb & sang prof mngatakan pula kita jngn smp trtipu  oleh bahasa yg kita buat krn bahasa Indonesia mudah diplesetkan hingga hilang dr arti sbnrnya.
          
           Ksimpulannya : Seorang profesor ahli bahasa Indonesia saja berani mnyatakan bhw Bhs Indonesia itu lemah & mdh memutar balikan fakta dgn mnggunakan Bhs yg dikiranya sdh sangat baik yg digunakannya, contoh lain adlh kasus isi Statuta PSSI yg kini marak di semua media.

           Pertanyaan saya kalau seorang profesor ahli bahasa indonesia saja berani mengatakan spt itu, bagaimana halnya & pengaruh dgn masyarakat awam? Pastinya orang awam akan slalu tertipu oleh bahasa yg ia konsumsi melalui media cetak maupun elektronik.

           Disini kita bukannya kita tidak melestarikan bahasa Indonesia atau tidak punya rasa nasionalisme trhdp bangsa kita sndiri tetapi kalau bahasa itu akhirnya akan mnjd alat pemecah belah dgn merekayasa & memlesetkan bahasa Indonesia itu bgmna jadinya bangsa ini & mau dibawa kemana?

           Usul…: Sudah saatnya kini utk mengkaji ulang dgn melakukan penambahan kosakata baru yg mirip tp lain artinya, studi pelafalan bahasa dgn memperjelas fonem…contoh; Ks kembali mnjd X, & bnyk cnth lain.

  • Fyanosa

            Bahasa Indonesia kini sdh sehrsnya maju dgn mngikuti prkmbangan zaman, pelafalan yg kita dngr slama ini sdh bnyk yg salah fungsi & salah kaprah, sy prnh mndgr suatu kasus dlm prsidangan Susno Duadji dmna dsna hadir seorang prof bahasa (lupa namanya) sbg saksi ahli bahasa & ia mengatakan di dlm isi BAP yg dibuat oleh pnyidik polisi bnyk trjdi kjanggalan dlm pngrtian bahasa yg dmna org yg mmbacanya kan trpengaruh isi BAP tsb & sang prof mngatakan pula kita jngn smp trtipu  oleh bahasa yg kita buat krn bahasa Indonesia mudah diplesetkan hingga hilang dr arti sbnrnya.
          
           Ksimpulannya : Seorang profesor ahli bahasa Indonesia saja berani mnyatakan bhw Bhs Indonesia itu lemah & mdh memutar balikan fakta dgn mnggunakan Bhs yg dikiranya sdh sangat baik yg digunakannya, contoh lain adlh kasus isi Statuta PSSI yg kini marak di semua media.

           Pertanyaan saya kalau seorang profesor ahli bahasa indonesia saja berani mengatakan spt itu, bagaimana halnya & pengaruh dgn masyarakat awam? Pastinya orang awam akan slalu tertipu oleh bahasa yg ia konsumsi melalui media cetak maupun elektronik.

           Disini kita bukannya kita tidak melestarikan bahasa Indonesia atau tidak punya rasa nasionalisme trhdp bangsa kita sndiri tetapi kalau bahasa itu akhirnya akan mnjd alat pemecah belah dgn merekayasa & memlesetkan bahasa Indonesia itu bgmna jadinya bangsa ini & mau dibawa kemana?

           Usul…: Sudah saatnya kini utk mengkaji ulang dgn melakukan penambahan kosakata baru yg mirip tp lain artinya, studi pelafalan bahasa dgn memperjelas fonem…contoh; Ks kembali mnjd X, & bnyk cnth lain.

  • Fyanosa

    Bahasa Indonesia kini sdh sehrsnya maju dgn mngikuti prkmbangan zaman,
    pelafalan yg kita dngr slama ini sdh bnyk yg salah fungsi & salah
    kaprah, sy prnh mndgr suatu kasus dlm prsidangan Susno Duadji dmna dsna
    hadir seorang prof bahasa (lupa namanya) sbg saksi ahli bahasa & ia
    mengatakan di dlm isi BAP yg dibuat oleh pnyidik polisi bnyk trjdi
    kjanggalan dlm pngrtian bahasa yg dmna org yg mmbacanya kan trpengaruh
    isi BAP tsb & sang prof mngatakan pula kita jngn smp trtipu  oleh
    bahasa yg kita buat krn bahasa Indonesia mudah diplesetkan hingga hilang
    dr arti sbnrnya.
          
           Ksimpulannya : Seorang profesor
    ahli bahasa Indonesia saja berani mnyatakan bhw Bhs Indonesia itu lemah
    & mdh memutar balikan fakta dgn mnggunakan Bhs yg dikiranya sdh
    sangat baik yg digunakannya, contoh lain adlh kasus isi Statuta PSSI yg
    kini marak di semua media.

           Pertanyaan saya kalau seorang
    profesor ahli bahasa indonesia saja berani mengatakan spt itu, bagaimana
    halnya & pengaruh dgn masyarakat awam? Pastinya orang awam akan
    slalu tertipu oleh bahasa yg ia konsumsi melalui media cetak maupun
    elektronik.

           Disini kita bukannya kita tidak melestarikan
    bahasa Indonesia atau tidak punya rasa nasionalisme trhdp bangsa kita
    sndiri tetapi kalau bahasa itu akhirnya akan mnjd alat pemecah belah dgn
    merekayasa & memlesetkan bahasa Indonesia itu bgmna jadinya bangsa
    ini & mau dibawa kemana?

           Usul…: Sudah saatnya kini
    utk mengkaji ulang dgn melakukan penambahan kosakata baru yg kini bnyk mirip tulisannya tp
    lain artinya, studi pelafalan bahasa dgn memperjelas fonem…contoh; Ks
    kembali mnjd X, & bnyk cnth lain

  • Fyanosa

    Bahasa Indonesia kini sdh sehrsnya maju dgn mngikuti prkmbangan zaman,
    pelafalan yg kita dngr slama ini sdh bnyk yg salah fungsi & salah
    kaprah, sy prnh mndgr suatu kasus dlm prsidangan Susno Duadji dmna dsna
    hadir seorang prof bahasa (lupa namanya) sbg saksi ahli bahasa & ia
    mengatakan di dlm isi BAP yg dibuat oleh pnyidik polisi bnyk trjdi
    kjanggalan dlm pngrtian bahasa yg dmna org yg mmbacanya kan trpengaruh
    isi BAP tsb & sang prof mngatakan pula kita jngn smp trtipu  oleh
    bahasa yg kita buat krn bahasa Indonesia mudah diplesetkan hingga hilang
    dr arti sbnrnya.
          
           Ksimpulannya : Seorang profesor
    ahli bahasa Indonesia saja berani mnyatakan bhw Bhs Indonesia itu lemah
    & mdh memutar balikan fakta dgn mnggunakan Bhs yg dikiranya sdh
    sangat baik yg digunakannya, contoh lain adlh kasus isi Statuta PSSI yg
    kini marak di semua media.

           Pertanyaan saya kalau seorang
    profesor ahli bahasa indonesia saja berani mengatakan spt itu, bagaimana
    halnya & pengaruh dgn masyarakat awam? Pastinya orang awam akan
    slalu tertipu oleh bahasa yg ia konsumsi melalui media cetak maupun
    elektronik.

           Disini kita bukannya kita tidak melestarikan
    bahasa Indonesia atau tidak punya rasa nasionalisme trhdp bangsa kita
    sndiri tetapi kalau bahasa itu akhirnya akan mnjd alat pemecah belah dgn
    merekayasa & memlesetkan bahasa Indonesia itu bgmna jadinya bangsa
    ini & mau dibawa kemana?

           Usul…: Sudah saatnya kini
    utk mengkaji ulang dgn melakukan penambahan kosakata baru yg kini bnyk mirip tulisannya tp
    lain artinya, studi pelafalan bahasa dgn memperjelas fonem…contoh; Ks
    kembali mnjd X, & bnyk cnth lain

  • http://www.facebook.com/people/Hatman-Purnama/100003038914304 Hatman Purnama

    Itulah orang Indonesia, merasa gengsi tinggi tidak mau menggunakan bahasa yang sesuai kaidahnya. Walaupun bahasa lain masuk, jangan lupa dengan bahasa negara sendiri. khususnya para pemimpin di pemerintahan agar menjadi acuan di masyarakat.