NetSains.com

Recent Comments


Powered by Disqus

25 Penulis Teraktif

  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • Foto anda tak tampak disini? Segera buat akun di Gravatar.com!
Netsains.Com on Facebook
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (Belum ada rating)
Loading ... Loading ...

Perhatian!
Artikel ini adalah artikel lama, diterbitkan lebih dari setahun yang lalu.
Mohon beritahu kami melalui komentar apabila artikel ini sudah tidak relevan lagi

Keberpasangan: dari Teori Fisika, Ayat Al Quran dan Alkitab

(Ditujukan kepada Dr. Laksana Tri Handoko dan Dr. Terry Mart)

Suatu hari, tanpa arah dan tujuan, saya jalan-jalan di Mal Pondok Indah, Jakarta Selatan. Saya menyusuri gang demi gang mal yang luar biasa besar tersebut. Sewaktu saya lewat di depan sebuah stand pakaian, seorang cewek tiba-tiba menabrak bahu saya. Sontak saya kaget, dan dengan lemah-lembut dia mengatakan: “Eh, maaf yach mas!”. Namun setelah itu, seorang cowok kekar di sampingnya tiba-tiba mengumbar pandangan yang penuh amarah, dan dengan nada sangat maskulin ala Elmanik baru bangun tidur berucap: “Jangan macam-macam, mas!”. Hampir saja kepalan tangannya mendarat di muka saya. Untungnya si cewek buru-buru meredam amarahnya: “Sudahlah Lex, itu salah saya!” (mungkin namanya Alex).

Sepintas insiden itu bukanlah hal yang luar biasa. Namun setelah saya perhatikan, ada rahasia tersembunyi di balik itu. Setelah kejadian itu, sebuah pertanyaan sering mengganggu: “Mengapa ada karakter yang sangat bertolak belakang antara laki-laki dan perempuan?”. Beberapa pekan kemudian, saya membaca Alquran dan menemukan ayat: “Mahasuci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa-apa yang tidak mereka ketahui (QS. 36:36)”. Terinspirasi ayat tersebut, pikiran saya memunculkan sebuah asumsi bahwa keberpasangan adalah prinsip fundamental yang mendasari semua hal. Bagaimana caranya?

Pola keberpasangan terlihat sangat indah dan teratur. Setiap kasus keberpasangan selalu melibatkan dua objek dengan sifat-sifat alami yang saling bertolak belakang. Ini hukum alam. Kalau selama ini saya bertanya, mengapa laki-laki cenderung maskulin sedangkan perempuan cenderung feminim? Atau pertanyaan, mengapa orang suka terhadap yang baik-baik sedangkan yang buruk-buruk selalu dibenci? Setidaknya hal itu telah dijawab oleh keberpasangan.

Eksistensi

Bayangkan kalau tidak ada yang namanya ‘tidak ada’, pasti sesuatu yang namanya ‘ada’ juga tak akan pernah ada, dan begitupun sebaliknya. Kalau tidak ada orang ‘jahat’, mestinya tidak ada juga orang yang disebut ‘baik’, begitu juga sebaliknya. Kalau tidak ada jenis kelamin ‘laki-laki’, tentu yang namanya ‘perempuan’ juga tak akan pernah dikenal, begitu pun sebaliknya. Semua hal akan didapatkan selalu dengan pasangannya, karena eksistensi sesuatu adalah satu-satunya pembanding dari eksistensi pasangannya. Dengan kata lain, keberpasangan akan selalu muncul sebagai kebutuhan akan pembanding keberadaan suatu objek.

Bahkan dari permulaan munculnya, ilmu pengetahuan telah sangat akrab dengan kasus-kasus keberpasangan. Dalam kelas biologi telah dikenal model materi kehidupan elementer yang penuh dengan pasangan-pasangan basa Nitrogen. Dalam kelas kimia juga telah didapatkan reaksi eksoterm dan reaksi endoterm. Dan kasus yang paling banyak ditemui adalah dalam kelas fisika: spin atas dan spin bawah, materi dan anti-materi, muatan positif dan muatan negatif, gaya tarik dan gaya tolak, gelombang dan partikel, dan sebagainya.

Dalam Tafsir Al-Misbah disebutkan mengenai tafsir dari QS. 36:36. Sebagian ulama menyatakan bahwa makna ‘pasangan’ dalam ayat itu hanya berlaku pada makhluk hidup saja. Namun Dr. Quraisy Shihab tak begitu sependapat dengan pernyataan tersebut. Menurutnya, pendapat ini tidak sejalan dengan makna kebahasaan, tidak cocok dengan maksud sekian banyak ayat Alquran, dan berbagai kenyataan ilmiah yang ditemukan dewasa ini. Dari segi bahasa, kata azwaj (pasang-pasangan) adalah bentuk jamak dari kata zauj (pasangan). Menurut pakar kebahasaan, Ar-Raghib Al-Ashfahain, kata ini digunakan untuk masing-masing dua hal yang berdampingan atau bersamaan, misalnya jantan dan betina. Kata itu juga digunakan untuk menunjuk hal yang sama bagi selain binatang, seperti alas kaki. Selanjutnya beliau menegaskan bahwa keberpasangan tersebut bisa akibat kesamaan dan bisa juga karena bertolakbelakang. Ayat-ayat Alquran yang lain pun menggunakan kata tersebut dalam pengertian umum, bukan hanya untuk makhluk hidup, misalnya pada Alquran 51:49. Dari sini ada siang ada malam, senang-susah, atas-bawah, dan seterusnya. Semua hal (maksudnya makhluk) memiliki pasangannya, hanya Allah saja yang tidak berpasangan, tidak ada pula yang sama dengan Dia. Dari segi ilmiah, misalnya terbukti bahwa muatan listrik pun berpasangan: positif dan negatif. Demikian juga dengan atom, yang tadinya diduga sebagai unit terkecil dan tidak dapat dibagi, ternyata ia pun berpasangan. Atom terdiri dari proton dan elektron.1

Premis Lugas

QS. 36:36 mengandung premis yang sangat lugas (eksplisit). Kelugasan ini menjadi penuh resiko manakala ia mencuatkan implikasi yang tidak main-main. Kalau betul-betul ada ‘sesuatu’, dalam teks dan konteks apapun, yang tidak ada pasangannya, tentu itu tidak diperbolehkan. Kalaupun itu memang ada, maka itu akan menjadi alasan yang sangat kuat untuk mencoret Alquran dari daftar kitab suci. Oleh karena itu, ayat tersebut harus memiliki implikasi ilmiah, bahwa keberpasangan adalah sifat mendasar yang melandasi semua hal di semesta. Ayat ini bisa diuji, misalnya dengan asumsi bahwa keberpasangan merupakan prinsip fundamental dalam fisika.

Suatu ketika Einstein duduk di sebuah gerbong kereta api di samping jendela. Ketika kereta mulai melaju, beliau dengan sangat meyakinkan merasakan bahwa kereta itu sedang bergerak. Di tengah-tengah perjalanan, ketika kecepatan kereta optimum tanpa akselerasi, Einstein melihat pohon-pohon di luar jendela. Beliau melihat pepohonan yang ada di samping rel seolah-olah bergerak menjauhi kereta. Andai saja gerbong yang beliau tumpangi sama sekali tertutup, dan hanya menyisakan sejumlah kecil spasi untuk jendela, tentu beliau akan kesulitan membedakan sebetulnya siapa yang sedang bergerak: kereta yang ditumpanginya atau pohon-pohon itu? Itulah fenomena relativitas.2

Fenomena relativitas telah diteliti dengan seksama oleh Newton. Mekanika yang dikembangkannya berangkat dari asumsi bahwa ruang dan waktu bersifat terpisah dan absolut—tak perlu kerangka acuan untuk mengukurnya. Einstein melihat ada kejanggalan dalam konsep Newton. Butuh waktu bertahun-tahun sebelum Einstein memahami kejanggalan itu.

Dalam tahun 1905, keraguan dramatis atas keabsolutan ruang dan waktu diungkapkan Einstein. Perhitungan Einstein menjungkirbalikkan anggapan dasar tentang eksistensi ruang dan waktu. Satu hal beliau garisbawahi bahwa setiap gerak di bagian manapun di semesta ini adalah relatif. Maksudnya, pergerakan benda tidak bisa didefinisikan tanpa adanya kerangka acuan untuk mengukurnya. Misalnya perumpamaan gerbong kereta api di atas. Anda tidak akan pernah bisa membedakan sebenarnya siapa yang sedang bergerak, kereta yang Anda tumpangi atau pohon-pohon yang ada di sisi rel, seandainya saat itu Anda sedang berada di situ. Anda akan tahu yang sebenarnya terjadi kalau Anda berada di luar sistem, misalnya di sisi rel, sehingga definisi gerak kereta hanya bisa ditentukan dengan kerangka acuan itu. Dengan demikian, kita bisa mengatakan bahwa gerak benda dan kerangka acuan adalah dua hal yang niscaya berpasangan.

Perseteruan

Dalam abad 20, terjadi perseteruan hebat antara Fisika Relativitas dan Fisika Kuantum. Pada akhir Oktober 1927, atas prakarsa pengusaha sabun kaya raya, Ernst Solway, pertama kali diselenggarakan pertemuan paling penting dalam sejarah sains modern. Pertemuan ini terkenal dengan sebutan Konferensi Solway, bertempat di Hotel Metropole, Brussel, Belgia. Pertemuan pertama ini menjadi sangat terkenal lantaran terjadi perseteruan antara dua pemikir garis depan, Niels Bohr dan Albert Einstein.Perseteruan tersebut dipicu oleh pengumuman Bohr tentang tafsirannya terhadap Teori Kuantum, yang kemudian terkenal dengan sebutan Aliran Kopenhagen.

Aliran Kopenhagen memperkenalkan dua prinsip paling mendasar dalam fisika, yakni Prinsip Saling Melengkapi (dalam kaitannya dengan konsep materi) dan Prinsip Ketidakpastian (dalam kaitannya dengan konsep ruang-waktu). Masalahnya timbul manakala Einstein secara terbuka menyatakan ketidaksetujuannya terhadap Prinsip Ketidakpastian, yang diyakini sebagai pengganti Prinsip Sebab-Akibat. Setiap jamuan teh sore hari, Einstein selalu menyerang prinsip-prinsip Bohr. Ia merancang berbagai percobaan pikiran untuk menemukan berbagai kontradiksi dalam prinsip tersebut. Namun selalu saja Bohr mampu menemukan kelemahan konsep Einstein dan mementahkannya.

Pada konferensi selanjutnya, tahun 1930, Einstein mengajukan apa yang disebutnya sebagai paradoks kotak cahaya, yang dirancang untuk menggugurkan ketidakpastian. Ia mengambarkan kotak penuh cahaya dan menganggap energi foton dan waktu pancarannya bisa ditentukan secara pasti. Waktu dan energi adalah sepasang variabel yang memenuhi Prinsip Ketidakpastian. Caranya kotak ditimbang terlebih dahulu. Dengan pengatur cahaya yang dijalankan jam di dalam kotak, satu foton dipancarkan. Lalu kotak tersebut ditimbang lagi untuk mengetahui massanya. Kalau perubahan massanya diketahui, maka energi foton dapat dihitung dengan persamaan E=mc2. Perubahan energi diketahui dengan tepat, begitu juga waktu pancaran fotonnya, sehingga gugurlah Prinsip Ketidakpastian.

Percobaan pikiran ini membuat Bohr kelimpungan. Semalam suntuk ia mencari kelemahan hujah Einstein. Pagi harinya Bohr menggambarkan kotak cahaya. Dengan gigih, ia mematahkan argumen Einstein: “Ketika foton dipancarkan terjadi sentakan yang menyebabkan ketidakpastian posisi jam dalam medan gravitasi bumi. Ini menyebabkan semacam ketidakpastian pencatatan waktu berdasarkan asumsi Teori Relativitas Umum”.

Einstein sejauh itu kalah dalam berbagai adu argumentasi dengan Bohr. Namun perseteruan berlanjut hingga tahun 1935, ketika ia menetap di Amerika Serikat dan menjadi guru besar di Institute for Advanced Study, Princeton. Einstein mengajukan paradoks yang sampai sekarang masih diperdebatkan. Bersama dua kolega mudanya, Boris Podolsky dan Nathan Rosen, ia mengajukan masalah yang terkenal dengan sebutan Paradoks EPR (Einstein-Podolsky-Rosen) untuk meruntuhkan Prinsip Ketidakpastian.

Kalau ada sepasang partikel, misalnya A dan B, dalam keadaan tunggal atau kedua spinnya saling meniadakan (berpasangan). Keduanya bergerak saling menjauh dalam arah tertentu. Suatu ketika spin A ditemukan dalam keadaan ‘atas’. Karena kedua spin harussalingmeniadakan,makadalamarahyangsamaspin Bharusdalamkeadaan ‘bawah’. Fisika klasik sama sekali tidak mempersoalkan hal ini. Cukup disimpulkan bahwa spin B harus selalu ‘bawah’ sejak pemisahan. Masalahnya mulai tampak manakala Aliran Kopenhagen memperlakukan spin A selalu tak pasti sampai ia diukur dan harus mempengaruhi B seketika itu juga, yaitu mengatur agar spin B berpasangan dengannya. Ini berarti ada aksi pada jarak atau komunikasi yang lebih cepat dari kecepatan cahaya, yang tidak bisa diterima. Einstein dan para koleganya mengusulkan apa yang disebut Prinsip Lokalitas sebagai jalan tengah paradoks ini, sehingga ia mengartikannya sebagai kealpaan Aliran Kopenhagen. Kalau sistem tersebut dipisahkan satu sama lain, pengukuran yang satu tentu tidak akan berpengaruh terhadap yang lain. “Jangan pernah lupakan Teori Relativitas Khusus saya: tidak ada yang lebih cepat dari cahaya”, demikian Einstein menegaskan.

Meskipun demikian, Bohr tetap tidak setuju terhadap konsep pemisahan tersebut. Ia segera mengingatkan Einstein dan semua penyokong sains bahwa mazhabnya selalu menegaskan bahwa mekanika kuantum sangat tidak memperbolehkan pemisahan antara pengamat dan yang diamati. Dua elektron dan pengamat adalah bagian dari satu sistem yang utuh. Jadi, percobaan EPR, menurut dia, tidak membuktikan ketidaklengkapan Teori Kuantum. “Sangat naif anggapan bahwa sistem atom dapat dipisah-pisah. Sekali dikaitkan, sistem atom tak akan pernah terpisahkan”, demikian Bohr menegaskan.3

Dalam pengamatan-pengamatan selanjutnya didapatkan bahwa Prinsip Ketidakpastian berlaku dalam dunia skala kecil dan dapat diabaikan dalam dunia skala besar. Sebaliknya, sebab-akibat berlaku dalam dunia skala besar dan dapat diabaikan dalam dunia skala kecil. Pola yang sangat teratur itu memperlihatkan adanya relasi keberpasangan. Bahwa sebab-akibat maupun ketidakpastian bukanlah dua hal yang saling mengalahkan satu sama lain. Mereka berlaku kedua-duanya, berdampingan, dan sederajat, sebagai sebuah keberpasangan. Alat ukur fisikawan yang tidak bisa lebih halus lagi dari gelombang elektromagnetik menyebabkan usikan-usikan terhadap objek pengamatan. Bagi objek-objek halus seperti elektron, usikan itu akan sangat mengganggu ketelitian pangukuran, sedangkan bagi objek-objek yang kasat mata seperti bola, meja, bintang, planet, dan sebagainya, usikan-usikan itu tidaklah berarti. Maka diyakini bahwa pengaruh ketidakpastian sangat kuat dalam dunia partikel subatomik dan diabaikan dalam dunia skala besar, sedangkan pengaruh sebab-akibat Newton dapat diamati dalam dunia skala besar bintang dan diabaikan pada dunia partikel subatomik.

Selain kasus-kasus di atas, mestinya masih banyak kasus keberpasangan lain dalam fisika. Kasus-kasus di atas ditemukan setelah konsep-konsepnya mapan. Kalau prosesnya diperluas, yakni mengintegrasikan keberpasangan dalam konsep-konsep yang belum mapan secara eksperimen, misalnya Teori Supersimetri dan Superstring, kita akan mendapatkan yang lebih banyak lagi. Tapi apakah kita bisa melakukannya?

Di Alkitab

Sekedar informasi, pada tanggal 17 November 2008, saya menemukan ayat-ayat dalam Alkitab yang menjelaskan secara eksplisit (meskipun tidak seeksplisit Alquran) mengenai keberpasangan:

“Di sana ular pohon bersarang dan bertelur, mengeram sampai telurnya menetas, burung-burung berdendang saja berkumpul di sana, masing-masing dengan pasangannya. Carilah di dalam kitab Tuhan dan bacalah: satu pun dari semua makhluk itu tidak ada yang ketinggalan dan yang satu tidak kehilangan yang lain, sebab begitulah perintah yang keluar dari mulut Tuhan, dan Roh Tuhan sendiri telah mengumpulkan mereka (Yesaya 34:15-16)”.

Disarikan dari:

1Tafsir Al-Mishbah (Quraisy Shihab)

2Seri Mengenal dan Memahami Einstein (Joseph Schwartz dan Michael

McGuinness)

3Seri Mengenal dan Memahami Teori Kuantum (JP. McEvoy dan Oscar Zarate)

foto: imagecache2.allposters.com

 

 Tentang Penulis:

Jaki Umam Tahun 2009 mengikuti program diploma di Bina Sarana Informatika, Depok. Tahun 2013 berhasil memasuki prodi Fisika di Universitas Ahmad Dahlan, Jogjakarta. Tentu, menulis dan sains tetap menjadi cara asyik untuk hidup. Semangat yang selalu dipegang, “Jangan pernah mati, ... Selengkapnya »
 
  Beri komentar atau taut balik artikel ini.
  • mukaonta

    –Kalau boleh saya mengkritik, dari pembicaraan2 sebelumnya, saya melihat bahwa Anda masih mengadopsi sentimen agama tradisional, dimana itu sama sekali tidak dibutuhkan dalam konteks ini. Thanks

    Mas Umam,
    saya kan sampaikan kepada mas diatas, agama itu bukan sumber pengetahuan ilmiah (sains) dan upaya memperoleh pengetahuan lalu sentimen agama tradisional mana yang saya bawa mas? saya malah menganjurkan usaha2 untuk mengejar sains harus di lepaskan dari sentimen terhadap agama, kalau mau obyektif.

    • Khalijah

      Pemikiran yan gmengatakan bahawa agama dan sains hendaklah terpisah jika hendak menjadi objektif adalah pemikiran yang berasaskan pandangan alam sekular. Hal ini berlainan bagi agama Islam. AlQuran dan alam adalah kitab Allah. Manusia dimita membaca ayat-ayat Allah (ayat wahyu daripada alQuran dan ayat kauniah daripada alam). Baca bermaksud endapatkan informasi yang akhirnya menjadi ilmu yang boleh dimanfaatkan manusia.
      Ilmu alQuran lebih kepada teks yang lebih bersifat asas, prinsip. Ini memerlukan pemikiran secara deduktif untuk mendapatkan kasimpulan lanuut yang boleh di aplikasikasikan dalam situasi yang khusus. Ayat-ayat alam merujuk kepada hal-hal konkrit. Kita perlu mencerap, membaca dan membuat kesimpulan secara induktif. Jadi kesimpulan secara induktif ini jika benar akan bertautan dengan pernyataan pokok/asas yang diperolehi daripada alQUran.

      sains sekular tidak merujuk kepaa kitab yang dianggap sahih. Maka itu perlu dibuat andaian dan dirasionalkan sehingga dapat diterima aqal apa yang diperkatakan. Sementara alQuran memberi kita pernyataan asas ayng dari mana boleh kita mula berasional untuk tiba kepada satu-satu kesimpulan. Maka itu dapat dilihat pemikiran yang berteraskan kepada alam san alQUran menjadikan kitaran pemikiran yang lengkap: deduktif induktif atau induktif deduktif. Ini lebih mendekati kenyataan.

      Jadi yang menjadi asas perbezaan pemikiran sekular dan juga pemikiran Islamik/tauhidik adalah sekular tertumpu kepada hanya alam dan manusia sementara pemikiran tauhidik memuatkan konsep ketuhanan, Pencipta selain alam dan manusia dalam kerangka pemikiran mereka.

      wallahualam

  • http://bioarli.page.tl/ arli

    Sebaiknya kita baca dulu link debat Richard Dawkins versus Francis Collins di sini http://www.time.com/time/magazine/article/0,9171,1555132,00.html
    Di artikel Times tersebut, paham evolusionis Dawkins diperdebatkan dengan paham religius Collins. Collins, walau dia religius, tapi tetap seorang ilmuwan penting yang berperan dalam Human Genome Project. Bahkan dia sudah menerbitkan buku yang memanifestasikan pandangan religiusnya. Adapun Dawkins memang dikenal sebagai ‘humanis sekuler’, yang sudah sangat kritis dengan agama atau sistim spiritual apapun. Buku2 karangannya pun menuduh agama tak lebih dari sekedar ‘virus’. Melihat bahwa Collins tetap bisa menjadi ilmiah, walau religius, rasanya tidak ada masalah. Pemikiran Dawkins pun sebenarnya memang mewakili sebagian kecenderungan di barat, dimana sebagian intelektualnya sudah sangat skeptis dengan agama. Saya bukannya membela Collins, namun jelas dari interview itu, dia masih memegang keyakinan religiusnya. Menarik juga perkataan Dawkins: ‘If there is a God, it’s going to be a whole lot bigger and a whole lot more incomprehensible than anything that any theologian of any religion has ever proposed’. Paling tidak masih ada sesuatu yang dia yakini, walau itu berbeda dengan religi atau theologi agama mapan.

  • Dhanzig

    Maaf mas2, saya sama sekali tidak melihat means of keberpasangan dimaksud pada anda berdua,lalu disembunyikan dimana sinergi tersebut.

  • http://jakiumam.blogspot.com Jaki Umam

    Silakan bagi Anda semua yang telah membaca tulisan tentang keberpasangan untuk menulis essai atau artikel untuk mendukung atau menyanggah tulisan tersebut. Itu akan memperluas perspektif diskusi ini. Saya juga berharap tulisan-tulisan saya mengenai keberpasangan yang lain segera diterbitkan redaksi.

  • http://www.nae-williesmemory.blogspot.com Willies Prof.

    …………. menurut saya ajaran kitab-kitab lebih berpacu dalam ajaran alam tentang keduniawian, namun selebihnya mengacu ke alam akhirat yang mana adalah alam yang harus dilewati setiap umat manusia. kejadian teori fisika yang telah di uraikan oleh manusia-manusia hebat di jaman dahulu adalah suatu unsur dugaan yang mungkin terjadi di dunia fana.

  • suhairy ilyas

    Saya sudah baca tulisan mas Jaki tentang keberpasangan, berikut komentara komentar yang cukup ramai dan beragam.
    Saya salut dengan kesungguha mas jaki untuk memadukan antara ayat tanziliah (wahyu) dan ayat kauniah (fenomena alam), “alam terkembang jadi guru” kedua dua nya adalah ayat ayat Allah pencipta,pengatur dan pemilik serta penguasa alam semesta ini.Saya berhusnuzhan semoa mas zaki termasuk dalam barisan ulul albab yang memadukan zikir dan fikir (QS.3:190) yang akirnya berkesimpulan: “Ya Tuhan Kami sungguh tidak sia sia semua Ciptaan-Mu”.Salut juga dengan banyaknya tanggapan yang beragam, semoga semua itu akan menambah semangat mas Jaki untuk mengharungi lautan ilmu yang tiada tepinya ini.Semoga semua itu akan memantapkan iptek dan imtaq.dengan hidayah dan taufiqNya.amiin.terima kasih.

  • http://myrazano.com/mukzizat-dalam-kemukzizatan-al-quran myrazano

    Penciptaan berpasang-pasangan pada manusia pada hakikatnya disamping menunjukkan ketidak sempurnaan makhluk sebagai hamba juga menggambarkan bahwa hanya Allah swt yang memiliki kesempurnaan itu.

    Kemudian dengan adanya ciptaan yang berpasangan juga memberi peluang atau Allah swt membukakan satu celah kepada makhluk yang berakal untuk mempelajari sisi yang lain dari satu sisi sebelahnya atau dengan berpasangan Allah memudahkan akal untuk memahami satu bagian saja karena ibarat siang dengan malam, siang adalah kebalikan dari malam ( maklum sekarang lagi tegah malam )

    Demikian salam kenal dari http://myrazano.com
    mohon kunjungan dan dukungannya ( maklum masih sepi mengunjung )

    terimakasih
    Semoga Allah swt Merahmati kita semua. amin

  • http://www.jakiumam.blogspot.com Jaki Umam

    Al Quran adalah sumber dari segala sumber ilmu pengetahuan. Dan itulah tugas dari kita semua untuk mengungkapnya sebelum hal itu terkubur sama sekali dan tidak memberi manfaat kepada kita. Sebagai salah satu komunitas sains, para netsainers jangan sampai mengabaikan hal ini. Thanks

  • suri

    mas muka onta ternyata dungu seperti ontanya, orang non muslim maju karena meninggalkan kitabnya sedangkan orang muslim mundur karena meninggalkan kitabnya.

  • iruel

    ralat :
    0 dan 1 adalah angka,
    0 lebih kecil dari 1
    1 lebih besar dari 0
    artinya :
    “tidak ada 0 maka tidak ada 1,tidak ada 1 maka belum tentu ada 0:

    jadi kita harus mengerti dulu ada dan tidak adanya 0,karena 0 adalah sumber dari segalanya,ini sama aja dengan tidak ada Al-Qur’an jika tidak ada Alkitab(Injil,Taurat dan Zabur).

    ingat hukum fisika,
    suatu energi tidak dapat dimusnahkan,tapi energi dapat di ubah menjadi energi lain == suatu agama tidak dapat di musnahkan,tapi agama dapat di ubah menjadi agama lain.

    seharusnya kita memahami teori indah tersebut,jadi jangan coba-coba menghapuskan Agama lain,karena kita sendiri yang akan kehilangan agama sendiri.

    THE FOOL HUMAN WHO DESTROY THE OTHER HUMAN RELIGION

    • Jaki Umam

      Saya juga mau ralat komennya mas iruel, 0 bukanlah pasangan 1, yang telah saya tulis di artikel yang judulnya “Keberpasangan dalam Matematika”. Mengenai masalah agama, semua agama eksis dengan pengikutnya masing-masing, dan eksistensinya terkadang menjadi faktor terjadinya kompetisi peradaban. Ini mungkin jawaban atas pertanyaan, mengapa Tuhan “membuat” agama-agama yang begitu beragam di dunia ini?
      Kalau zaman Nazi mungkin masih relevan pandangan musnah-memusnahkan seperti itu, tapi saya kira sekarang hal itu sudah tidak relevan (mungkin hanya relevan di Israel). Kalau kata orang, sekarang zamannya Perang Pemikiran (Ghazwatul Fikr)…begitu mas…

  • mica

    lha anda kn bkan kristen mana tau soal alkitab

  • Jaki Umam

    Semua orang berhak mempunyai ilmu pengetahuan, termasuk pengetahuan tentang kitab dan agama lain.

  • fitri damayanti

    aslam…
    pa saya minta tolong dong ayat al-quran yang berkaitan tentang teori tentang fisika tetapi ada asbab an-nuzulnya, qira’at nya, tafsir dan ta’wil. muhkam mutasyabih nya dong. tolong yah pa??
    saya tunggu jawaban dari bapak.
    wsalam

  • http://weirdfield.wapsite.me/Satriya_Paningit.jpg Satriya Paningit

    Di quran tidak hanya mengenal keberpasangan aja tapi persamaannya juga supaya mudah dipelajari manusia.Misalnya di antara buah2^an rasanya hampir mirip,electron ama positron,saudara kembar,teman Qarin manusia,anjing ama anjing laut dan lain-lain

  • http://anggraeniyully@yahoo.co.id yully anggraeni s

    semua orang hidup ingin menjadi sempurna,
    walau banyak bagaimana cara menempuhnya???
    ada orang yang mungkin merasa sempurna bila dapat melindungi orang lain tanpa memikirkan pandanagan orang lain…
    tapi ada pula orang yang diam, namun tidak dapat melakukan apapun bila tidak dilindungi..
    jadi jangan pernah menyimpulkan suatu opini yah…tq =)

  • azharnovian

    semua kejadian di bumi ini pasti sudah dicantumkan dalam al-quran.

  • azharnovian

    assalamu’alaikum..
    qolallohuta’ala filkitabil karim:
    Seluruh Alam semesta ini tunduk kepada Allah dan bertasbih kepada-Nya., yang didasarkan pada kesadaran bahwa semuanya akan kembali kepada Allah .
    Semua yang bernyawa akan mati dan akan kembali kepada Sang Pencipta (Q.S Al Anbiyaa’:35) .
    Bertasbih adalah proses mengingatkan kita akan adanya hari akhir dan semuanya harus mempersiapkan bekal untuk menghadapinya .

  • ibnusomowiyono

    Sebelum berbicara masalah pasangan akan lebih nyata jika kita bicara masalah perbedaan. Setelah “mengakui” adanya perbedaan, barulah kita dapat mempelajari hakekat dari perbedaan. Banyak yang menjadikan perbedaan sebagi pangkal sengketa karena masing-masing merasa benar dan tak bersedia mengakui kebenaran fihak lainnya.
    Banyak yang menganggap fikiran dan batin bertentangan dan tak dapat disatukan,maka membiarkan berjalan menurut jalur masing-masing. Itu lebih baik dari menjadikan pertentangan atau pangkal sengketa maupun konflik. Akan lebih baik kita biarkan yang berbeda tetap berbeda sebab diluar itu masih banyak yang sama.
    Tak mungkin perempuan dan lelaki sama segalanya, banyak perbedaan tetapi masih ada yang sama, yaitu saling memerlukan. Bertolak dari saling membutuhkan maka berkembang yang berbeda justru memberikan manfaat untuk saling melengkapi. Kalau sudah sadar akan manfaat perbedaan baru dapat disebut lelaki merupakan pasangan perempuan.
    Sering kali dalam diri kita terjadi “benturan” antara fikiran dan hati nurani, sehingga mempengaruhi sikap hidup dan perbuatan orang. Fikiran cenderung hanya mencari keuntungan bagi diri sendiri tanpa peduli terhadap lingkuangn dan fihak lain, sebaliknya hati nurani sering tak sependapat dengan fikiran.
    Andaikata fikiran tak dikendalikan oleh hati nurani, maka akan menjadikan seseorang tak merasa mencederai fihak lain atau lingkungan.
    Setiap manusia, makluk hidup bahkan benda (lingklungan) pada dasarnya tak mau dirugikan atau dicederai, ini alami sekaligus ilmiah. Siapa dan apa saja akan memberikan reaksi atas perbuatan fihak lain, sehingga fikiran yang tak dikendalikan oleh hati nurani bagaikan bumerang yang akan kembali pada yang “melemparnya.
    Kalu kita telah menyadari bahwa hati nurani yang mula-mula bertentangan dengan fikiran ternyata diperlukan untuk mengendalikan perbuatan hasil fikiran, barulah kita menyadari hati nurani merupakan pasangan yang saling. mengisi dalam menentukan perbuatan seseorang yang didasari hasil fikiran.