NetSains.com

Recent Comments


Powered by Disqus

25 Penulis Teraktif

  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • Foto anda tak tampak disini? Segera buat akun di Gravatar.com!
Netsains.Com on Facebook
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 suara, nilai: 5.00 ⁄ 5)
Loading ... Loading ...

Perhatian!
Artikel ini adalah artikel lama, diterbitkan lebih dari setahun yang lalu.
Mohon beritahu kami melalui komentar apabila artikel ini sudah tidak relevan lagi

Alam Gaib, Siapa Takut?

ensiklopediaBatu ajaib Ponari adalah bukti bahwa fenomena alam gaib tak pernah sirna. Bagaimana hubungan hal-hal gaib itu dengan sains?

Alam gaib dalam kehidupan masyarakat awam selalu dikaitkan dengan fenomena-fenomena mistik, klenik, dan kekuatan supranatural. Di berbagai jenis masyarakat di seluruh penjuru dunia pembicaraan mengenai subjek ini sudah bukan barang asing lagi. Di kalangan masyarakat Jawa misalnya, yang sudah sangat akrab dengan berbagai fenomena ajaib, hantu, dan ilmu kedigdayaan. Di kalangan masyarakat Eropa yang sudah demikian majunya pun masih berkembang polemik tentang Dracula dan sihir, di kalangan masyarakat primitif Afrika ada fenomena Voodoo, bahkan di kalangan masyarakat Amerika masih ada tradisi Halloween yang sangat kental dengan fenomena metafisik, dan sebagainya.

Jika ditelisik lebih jauh, fenomena-fenomena itu akan menjadi sangat faktual sehingga siapapun tidak bisa menyangkalnya lagi. Masalahnya, mengapa kita masih terus menyangkal keberadaannya? Mengapa ilmu pengetahuan kita akan menemui jalan buntu jika berhadapan dengan hal-hal yang berbau mistik?

Ada semacam kredo yang berkembang di barat bahwa gejala-gejala metafisik itu abnormal, halusinasi, dan merupakan mitos tradisi yang sama sekali jauh dari wilayah sains. Itu kredo yang berkembang di barat, dan sekarang telah merambah ke timur, yang telah lazim di kalangan ilmiah. Cendikiawan barat biasanya memasukkan bahasan metafisika ke dalam kelas psikologi. Menurut mereka, dalam sistem kesadaran, selain kita kompeten terhadap kebanyakan kenyataan-kenyataan objektif, kita juga sering mengalami ilusi halusinatif, sesuatu yang dirasa ada tapi sebetulnya tidak ada. Budaya manusia sangat jauh dari kawasan ilmiah, karena sifatnya yang subjektif. Orang Jawa misalnya, tak tahu dan tak mau tahu kenapa mereka harus membuat sesajen, bakar-bakar kemenyan, takut terhadap pohon-pohon besar, batu-batu besar, kuburan keramat, dan masih banyak lagi. Yang jelas, itu merupakan tradisi turun-temurun yang sifatnya anonim, yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Pantas saja, kalangan ilmiah memvonis mati bahwa alam gaib dan segala sesuatu yang berhubungan dengan metafisika, bukanlah wilayah sejati sains.

Namun bagaimanapun, nyata atau tidak nyata, sadar atau tidak sadar, objektif atau subjektif, anonim atau tidak anonim, dan sebagainya adalah bagian dari eksistensi semesta ini. Bagaimanapun misteriusnya hantu-hantu dan makhluk-makhluk halus di sekitar kita, toh mereka tetap bagian dari alam ini, yang harus dimengerti dan dipahami oleh makhluk cerdas seperti kita. Bagi para pemikir barat, mungkin saja, data-data inderawi tentang alam gaib belum cukup menjadi alasan untuk membahas masalah tersebut secara ilmiah. Betulkah?

Alam Gaib dalam Percobaan

Pada akhir Oktober 1927, atas prakarsa pengusaha sabun kaya raya, Ernst Solway,diselenggarakan pertemuan paling bersejarah dalam sejarah sains modern. Pertemuan ini terkenal dengan sebutan Konferensi Solway, bertempat di Hotel Metropole, Brussel, Belgia. Pertemuan pertama ini menjadi sangat terkenal lantaran terjadi perseteruan intelektual antara dua pemikir garis depan, Niels Bohr dan Albert Einstein.Perseteruan tersebut dipicu oleh pengumuman Bohr tentang tafsirannya terhadap Teori Kuantum, yang kemudian terkenal dengan sebutan Aliran Kopenhagen.

Aliran Kopenhagen memperkenalkan dua prinsip paling mendasar dalam fisika, yakni Prinsip Saling Melengkapi (dalam kaitannya dengan konsep materi) dan Prinsip Ketidakpastian (dalam kaitannya dengan konsep ruang-waktu). Masalahnya timbul manakala Einstein secara terbuka menyatakan ketidaksetujuannya terhadap Prinsip Ketidakpastian. Setiap jamuan teh sore hari, Einstein selalu menyerang prinsip-prinsip Bohr. Ia merancang berbagai percobaan pikiran untuk menemukan berbagai kontradiksi prinsip-prinsip tersebut. Namun selalu saja Bohr mampu menemukan kelemahan konsep Einstein dan mementahkannya.

Pada konferensi selanjutnya, tahun 1930, Einstein mengajukan apa yang disebutnya sebagai paradoks kotak cahaya, yang dirancang untuk menggugurkan ketidakpastian. Ia mengambarkan kotak penuh cahaya dan menganggap energi foton dan waktu pancarannya bisa ditentukan secara pasti. Waktu dan energi adalah sepasang variabel yang memenuhi prinsip tersebut. Caranya, kotak ditimbang terlebih dahulu. Dengan pengatur cahaya yang dijalankan jam di dalam kotak, satu foton dipancarkan. Lalu kotak tersebut ditimbang lagi untuk mengetahui massanya. Kalau perubahan massanya diketahui, maka energi foton dapat dihitung dengan persamaan E=mc2. Perubahan energi diketahui dengan tepat, begitu juga waktu pancaran fotonnya, sehingga gugurlah Prinsip Ketidakpastian.

Percobaan pikiran ini membuat Bohr kelimpungan. Semalam suntuk ia berupaya mencari kelemahan hujah Einstein tersebut. Pagi harinya Bohr menggambarkan kotak cahaya. Dengan gigih, ia mematahkan argumen Einstein: “Ketika foton dipancarkan terjadi sentakan yang menyebabkan ketidakpastian posisi jam dalam medan gravitasi bumi. Ini menyebabkan semacam ketidakpastian pencatatan waktu berdasarkan asumsi Teori Relativitas Umum”.

Einstein sejauh itu kalah dalam berbagai adu argumentasi dengan Bohr. Namun perseteruan berlanjut hingga tahun 1935—kala itu ia menetap di Amerika Serikat dan menjadi guru besar di Institute for Advanced Study, Princeton—ketika Einstein mengajukan sebuah paradoks yang sampai sekarang masih diperdebatkan. Bersama dua kolega mudanya, Boris Podolsky dan Nathan Rosen, ia mengajukan sebuah masalah yang terkenal dengan sebutan Paradoks EPR (Einstein-Podolsky-Rosen) untuk meruntuhkan Prinsip Ketidakpastian. Kalau ada sepasang partikel, misalnya A dan B, dalam keadaan tunggal atau kedua spinnya saling meniadakan (berpasangan). Keduanya bergerak saling menjauh dalam arah tertentu. Suatu ketika spin A ditemukan dalam keadaan ‘atas’. Karena kedua spin harus salingmeniadakan,makadalamarahyangsamaspin Bharusdalamkeadaan ‘bawah’. Fisika klasik sama sekali tidak mempersoalkan hal ini. Cukup disimpulkan bahwa spin B harus selalu ‘bawah’ sejak pemisahan. Masalahnya mulai tampak manakala Aliran Kopenhagen memperlakukan spin A selalu tak pasti sampai ia diukur dan harus mempengaruhi B seketika itu juga, yaitu mengatur agar spin B berpasangan dengannya. Ini berarti ada aksi pada jarak atau komunikasi yang lebih cepat dari kecepatan cahaya, yang tidak bisa diterima.

Einstein dan para koleganya mengusulkan apa yang disebut Prinsip Lokalitas sebagai jalan tengah paradoks ini, sehingga ia mengartikannya sebagai kealpaan Aliran Kopenhagen. Kalau sistem tersebut dipisahkan satu sama lain, pengukuran yang satu tentu tidak akan berpengaruh terhadap yang lain. “Jangan pernah lupakan Teori Relativitas Khusus saya: tidak ada yang lebih cepat dari cahaya”, demikian Einstein menegaskan.

Meskipun demikian, Bohr tetap tidak setuju terhadap konsep pemisahan tersebut. Ia segera mengingatkan Einstein dan semua penyokong sains bahwa mazhabnya selalu menegaskan bahwa mekanika kuantum sangat tidak memperbolehkan pemisahan antara pengamat dan yang diamati. Dua elektron dan pengamat adalah bagian dari satu sistem yang utuh. Jadi, percobaan EPR sama sekali tidak membuktikan ketidaklengkapan Teori Kuantum. “Sangat naif anggapan bahwa sistem atom dapat dipisah-pisah. Sekali dikaitkan, sistem atom tak akan pernah terpisahkan”, demikian Bohr menegaskan.

Berbagai percobaan, misalnya yang dikerjakan John Clauser di Berkeley (1978) dan Alain Aspect di Paris (1982), ternyata meruntuhkan Prinsip Lokalitas. Mereka menyimpulkan bahwa dunia ini bukanlah semata penampakan lokal, tapi juga didukung kenyataan non-lokal yang gaib dan tak terperantarai ruang-waktu, sehingga memungkinkan interaksi yang lebih cepat dari cahaya, bahkan seketika. Contoh populer dari fenomena non-lokal adalah voodoo, ESP (Extra Sensory Perseption) atau yang biasa dikenal persepsi luar sadar. Pertanyaan yang tersisa, jika non-lokalitas betul-betul sahih, bagaimana kita bisa menerima konsep-konsep “tak masuk akal” dan fenomena-fenomena gaib?

Pengalaman

Ketika saya duduk di bangku SMA, saya pernah mengalami momentum kehidupan. Seperti biasa, sebelum bel berdering pukul 7 pagi, saya dan teman-teman duduk-duduk nyantai di teras kelas. Kebetulan kelas kami berhadapan langsung dengan kantor guru. Tiba-tiba dari balik pintu kantor muncul guru biologi kami, Supriyono Satrio, dengan pakaian safari yang sangat serasi dengan postur tubuhnya. Beliau berjalan dengan penuh wibawa menyusuri koridor depan kantor menuju ruang komputer. Seketika terdengar gumaman dari arah Rudi yang duduk di sebelah saya: “Busyet…..Pak Pri gagah banget! Suatu saat gue harus jadi kayak beliau”.

Mendengar gumaman tersebut, sekonyong-konyong saya berkomentar: “O….jadi cita-cita lo ingin jadi guru yach?”.

“Emang kenapa?”, tanya Rudi penuh sentimen.

Tiba-tiba dengan setengah sadar saya menjawab: “Lo ga lihat nasibnya Guru Umar Bakri, beliau sengsara seumur hidup gara-gara ngabdi jadi guru. Kakinya bengkak-bengkak gara-gara ngayuh sepeda ontel berkilo-kilometer setiap hari”.

“Emang cita-cita lo mau jadi apaan?”, tanya Rudi dengan menambah air muka sentimennya.

“Gue mau jadi ilmuwan”, jawab saya mantap.

Namun, mendengar jawaban saya, tiba-tiba si Rudi tertawa lebar menumpahkan semua sentimentilitasnya yang sedari tadi tertahan, sambil berkata: “Ha….Apa? Lo mau jadi ilmuwan? Buat apa? Komputer sudah ada, mobil sudah ada, pesawat supersonik juga ada, pesawat ulang-alik juga sudah dibuat, bahkan bom nuklir juga sudah ada. Lo mau apa lagi? Semuanya sudah ditemukan orang-orang Eropa dan Amerika yang pinter-pinter itu. Kalau lo mau jadi ilmuwan, lo jangan makan tahu-tempe terus, lo harus makan roti dan keju. Lo harus banyak ngeremi telur ayam kayak Thomas Alfa Edison. Atau lo harus sering kejatuhan apel kayak Newton. Lo juga harus sering-sering naik kereta api kayak Einstein. Emang lo bisa apa?”.

Saya mati kutu di hadapan Rudi. Ternyata dia tersinggung dengan protes saya terhadap cita-citanya yang ingin jadi guru. Dan peristiwa itu pun membekas sepanjang hari, bulan, dan tahun-tahun yang saya lalui. Setiap hari saya hidup dengan sebuah pertanyaan: apa yang bisa saya lakukan?

Pada suatu malam yang sepi-senyap ditambah guyuran kecil hujan rintik-rintik, saya mencoba duduk-duduk santai di teras rumah. Tapi apa yang saya dapatkan justru jauh dari kesantaian yang diharapkan. Pemandangan gelap dan menakutkan berkeriapan di mata, kadang-kadang suara desis angin dan suara jangkrik malam menambah kental suasana mistis. Tapi apalah arti semua itu dibandingkan pertanyaan-pertanyaan yang tiba-tiba menyergap saya dari depan, samping, dan belakang.

“Kenapa saya tiba-tiba merinding? Apa benar ada setan berkeliaran di sekitar saya? Ah, itu cuma takhayul!”.

“Tapi kenapa saya ragu? Bukankah Alquran telah membenarkannya? Kalau memang itu benar, kenapa saya tidak pernah memergoki mereka? Apa benar jin, kuntilanak, tuyul, pocong, sundel bolong, genderuwo, buta ijo, atau apa saja yang pernah saya tonton di acara TV itu ada? Kalau begitu, kenapa saya harus percaya?”.

Manakala kondisi otak makin kritis, saya samar-samar mengingat omongan Rudi, untuk kemudian saya menyimpulkan: “Jangan-jangan ini adalah masalah yang belum bisa dipecahkan orang-orang Amerika dan Eropa yang pinter-pinter itu!”.

Kesimpulan itu kemudian mempengaruhi hari-hari saya bertahun-tahun kemudian, bahkan sampai saat ini. Jadi, siapa takut alam gaib!

foto:spiritualisme.files.wordpress.com

 

 Tentang Penulis:

Jaki Umam Tahun 2009 mengikuti program diploma di Bina Sarana Informatika, Depok. Tahun 2013 berhasil memasuki prodi Fisika di Universitas Ahmad Dahlan, Jogjakarta. Tentu, menulis dan sains tetap menjadi cara asyik untuk hidup. Semangat yang selalu dipegang, “Jangan pernah mati, ... Selengkapnya »
 
  Beri komentar atau taut balik artikel ini.
  • Buntu Sijagat

    (send-1)
    Assalumu’alikum wr. wb.

    Komentar, saya

    Benar…siapa takut dgn alan ghaib?????
    itu benar…manakala kita yakin..yakin tentang kuasaNya, bahwa fenomena alam ghaib itu benar ada.
    Dan dalam proses kejadiannya hanya kepada hamba-hambaNya yg sadar tentang kejadian proses itu benar dan diluar kemampuan akal manusia (sulit) proses kejadiannya dibuktikan, tapi wujud dan faktanya bisa dibuktikan.
    Misal seseorang diberikan kekuatan –kemampuan untuk menelong seseorang untuk mengusir orang kemasukan roh halus. Padahal pertolongan itu sesungguhnya Allah telah mengetahui bahwa adanya proses penyembuhan kepada sesorang yg kesurupan, melalui si Anu, kok bisa sembuh ya…itu kejadian yang ada di masyarakat. Tetapi menurut pendapat saya (akal), bahwa sesungguhnya proses itu sesungguhnya adalah kuasa-kuasa dan janji Allah kepada hambanya yang perlu mendapat pertolongan. Bahwasanya, sesorang yg disembuhkan dengan media air dalam gelas (atau) dibawakan air dari Si Anu, itu sebenarnya sebuah media saja. Tetapi yang sesungguhnya ada proses memang dari orang yg dimintakan bantuannya dan alam pikiran ghaib mempu menstransformasi ke akalnya agar proses keyakinan itu dapat terbuktikan. Mengapa misalnya sesorang mungkin disembuhkan lewat bantuan media –dapat disembuhkan?, sesungguhnya hanya sekadar sugesti saja.
    Tetapi saya dan percaya orang yang dimampukan dan diluar kemampuan akal itu yang menurut pendapat saya tidak semua mendapatkan anugerah (kelebihan dariNya).
    Tapi saya kira untuk mencapai ke tingkat ini memang perlu proses, misalnya mengendalikan hal-hal yang tidak dijinkan allah swt (dan telah) terdukumentasi dalam kitab-kitabnya, sebagai rujukan proses untuk dipelajari dihayati – dipraktekan (diamalkan)…dan saya kira sebagian diantara kita (termasuk saya) sulit untuk menyampahkan amanah yg sebenar-benarnya.
    Saya, kira jarak kerapatannya sangat tipis sekali, dan kalau saja kita-kita mampu mengendalikan apa-apa yang kita mampukan dalam membedakan tiga instrumen pilihan, yaitu apa yg disebut dgn rasa Allah – rasa manusia dan rasa syaitan, dan ketiga sistem ini jelas sulit dipisahkan.
    Mengapa, saya menyebutnya tiga rasa. Rasa Allah, jelas adanya pengakuan dan pemahaman kita tentang kejadian proses kehidupan yang menciptakan – yang memiliki – yang berhak – yang, dst. rasa manusia, bagaimana sikap dan perilaku kita dalam hubungan keduniaan – hubungan sesama, tentang keinginan makan – tidur – cape – kuat – dll. dan rasa syaten inilah yang menjelma pada otak dan pikiran kita yg arahnya justri ke arah-arah negatif.
    Saya, kira untuk menggerakan ketiga pilihan tersebut, secara kacamata lahiriah jelaslah kita harus mampu menurunkan derajat egoisme, atau emosial (negatif) kita…dan pengendalian itu juga ada prosesnya. Misalnya melalui lahiriah kita dgn terlebih dahulu mengendalian sumber protein (makanan) yg halal. halal dikonsumsi tentu dipengaruh dari halal bagaimana mendapatkan (mencari) pendapatan penghasilan. Atau kalau dalam islam kita diajarkan berpuasa, baik wajib, mapun sunnah. tetapi menurut saya manakala selama proses berlangsung (kaitan) waktu, dalam proses menjalaninya tidak mampu mengendalikan emosial (egoisnya)…ya kita baru mendapatkan latihan ….belajar (karena) memang pengetahuan penyadaran itu diperoleh dari proses memperoleh pengetahuan ilmiah (kajian, penghayatan). tetapi untuk prakteknya sulit..sulit kalau yang bekerja hanya akal kita.

    Saya, pernah diskusi dengan sesorang, dia bilang, begini untuk saya pribadi masalah kebutuhan primer hidup saya tidak sedikitpun berpengaruh, dan karana saya yakin dengan janji dan kuasa-kuasaNya.

    dan saya tak pernah merasa sepi (katanya), karena saya yakin Dia bersama kita.

    Mungkin saya memberi kesimpulan sementara, bahwa alam ghaib ada dan tidak perlu ditakuti, tetapi bagaimana kita dapat mencapai ke alam itu……

    dari diskusi dan pengalaman bathin sesorang itu, memang banyak yang menurut akal sehat bahwa fenomena bisa saja terjadi dan ada wujudnya dalam realitas di alam terbuka.

    Contoh, ketika saya menyaksikan sesorang, yang di “NOL” kan pikiran-pikiran keduniaannya, melalui proses penyadaran (taubat) dilatih hatinya agar dia selalu bergerak memohon ampunan kepadaNya….kok tanpa sadar ketika orang itu diminta untuk ber-astagfar dengan menyebut asma allah…..kok pikiran-pikiran masa lalu (kejadian) yang pernah dilakukan dapat dibuktikan, dan ketika dalam proses itu, menurut pengalamannya dia sadar, tetapi tidak kuasa dan tidak dimampukan untuk menutup dan mengakhiri (tabkbir) dengan menutup salam…..lho kok bisa begitu. Ya, itulah mungkin contoh nanti kita dihadapkan pada alam ghaib.
    Rupanya orang ini, adalah salah satu bendaharawan di instansi “X” yang selama ini belau lihai dalam mempertanggungjawabkan keuangan secara administrasi…..apa yang terjadi ketika proses itu berlangsung…..oh rupaya gerak tangannya sepertinya menulis membuat tanda tangan terus-menerus (dalam gerak tanggannya).
    Aneh lagi, saya ada teman, rupanya selama ini dia punya profesi sebagai pemborong pekerjaan kostruksi. dan selama itupula diperolehnya penghasilan berlimbah, tetapi ketika dia kenal dgn saya beliau tidak lagi mendpt pekerjaan seperti yang sebelumnya (red. saat ini) lagi tak ada job. Ketika saya mengajaknya untuk berkonsultasi mencari jalan keluar yg terbaik baginya. dan ketika diproses untuk mempraktekan istagfar untuk bermunajat dan bertobat kepadaNya, lho…lho kok geraknya dari awal yang duduk seperti posisi shalat…lama-kelaman kok gerakannya berubah membujur, bagaikan seekor ular, kaki ke belakang, kedua telap tangan menahan dadanya, dan kepala mengangkat ke atas…..lho-lho kok malah bergerak ke ke dapur mencari sumber air….wah…wah kalau dibiarkan bisa-bisa minum air cucian piring diembar.
    Kesimpulan akal saya, ternyata allah swt juga telah mengjarkan kita (dan) saya diberi kesempatan tentang kehidupan duniaawi itu, bahwa benar apa-apa yg telah allah jelaskan dalam qalamnya melalui Al-quran itu benar dan dapat dibuktikan…….tetapi tentu saja proses pembuktiannya melalui tingkat penyadaran diri.

    Barangkali, yang sederhana kita mampu menyembunyikan mata kita ketika melihat wanita cantik, ketika disodori tanda tangan (untuk), melangkahkan kaki ke tempat yang tak sepadan dgn status sosial kita, tak sadar tentang ucapan kita akan berpengaruh negatif kepada pendengarnya, dan kita senang mendengar dan menyetujui tentang kesepakatan karena kepentingan dunia. Tapi, bagaimana, kita untuk tidak lagi melangkahkan kakinya ke lokasi tidak memberikan kemaslahatan, kita tentu tidak ingin bahwa orang tidak suka dgn ucapan kita, kita tentu tidak ingin bahwa indra mata kita mengumbarnya ke obyek yang tidak sepantasnya kita lihat (seperti) contoh membrowshing internet dgn keragam gambar fulgar, tentang bukti bahwa emosial negatif itu baru dapat dibuktikan jikalau kelaminan kita terangsang ke obyek yang kita lihat (ini pembuktian) langsung, dan hanya kita yg merasakan. tetapi ke lima panca indra diatas masih dapat disembunyikan. dan contoh pembuktian kelima pancaindra kita tadi pembuktian akhirnya yang pasti nanti di alam ghaib sana. Dan alam ghaib tak perlu kita takuti tentu saja hanya orang-orang yang hidupnya tidak merasa sepi, tentu saja hanya orang-orang yang tidak perlu membesar-besaran rasa cintanya (cinta) kepada istri, anak, dll. karena kita yakin kok dan pasti ada yang lebih mencintai. Mengapa tak perlu itu semua dibesar-besarkan, kan semua itu miliknya jadi tak perlu dikhawatirkan lagi. barangkali kalau saja kita tak ragu dengan masalah lingkungan misalnya kita tak perlu merasa takut bahwa benda – harta takut di curi, takut di copet, takut di srempet, dll. masalahnya pendekatan bahwa kita paham tentang kata “yakin” tetapi “tidak dipraktekan dengan lebih menjadi Haqul-Yaqiin”……itu semua memang karena total pengetahuan ego yg ada pada kita lebih dominam ketimbang kita bersandar kepadaNya (pasrah)…

    mohon…maaf, ya pa…kalau tak dipakai di delete saja.

    terima kasih,
    wassalam

  • http://weirdfield.wapsite.me/Satriya_Paningat.jpg Satriya Paningit

    Ilmuwan di dunia dibagi 2 kubu.Kubunya einstein sebagai ilmuwan teory yang berkembang saat ini dan kubunya Nicolai Tesla ilmuwan praktisi.setiap hasil experimen dari kubunya tesla yang tidak dapat di jelaskan kubunya einstein selalu di disk dari ruang patent yaitu disebut pseudoscience or metaphysics atau sebagai top secret oleh pemerintah seperti penemuan dari nicolai tesla dan kubunya yaitu reality manipulator,timemachine,ufo propulsion,etc setelah einstein kalah telak dalam EPR maka pseudoscience muncul

  • http://jakiumam.blogspot.com Jaki Umam

    @Satriya Paningit: pseudosains menciptakan mesin2 yg Anda maksud? Kenapa ga dipublikasi? Apa keuntungannya buat orang2 yg menyembunyikannya?

  • http://weirdfield.wapsite.me/Satriya_Paningit.jpg Satriya Paningit

    Maaf lagi horney di http://www.mocospace.com/didikm Ikutan join ama aku(mrgreen) di http://www.timechatter.com Temanku doctorz dlm proses pembuatan time machine ke2nya.Mari belajar bareng tentang Skalar wave atau torsion field.Tentu gak dijual bikin aja sendiri :P :P

  • abdel rahmanca

    Assalamu alaikum wr wb, soal ghaib bagi yang percaya maupun tidak pasti ada, itu memang tidak untuk dibuktikan, wong yang terasa tapi ndak ada ujudnya aja hinggga kini ndak ada yang bisa merumuskan & merisaukan, yaitu angin\udara. Hal ghoib hanya bisa dirasakan, dilihat dan dinikmati oleh kholbu, sedangkan pandangan mata hanya bisa menangkap hal nyata sesuai kemampuan rekamnya otak. Sudahkah anda merasa menikmati, merasakan dan mensyukuri udara? kalo udah insya Alloh lain kali meningkat bisa menikmati yang tidak bisa dirasakan oleh kebanyakan orang.Jangan risau kalo ada orang lain yang ndak percaya sama yang ghoib,sebelum orang mencapai tataran tertentu akan sulit menerima hujah orang lain sebelum ia mengalami sendiri. Umumnya kemampuan otak adalah sepihak/satu sisi saja.Sedangkan yang bisa menerima/melihat dari berbagai sisi hanyalah hati/kholbu, sedangkan kholbu yang melihatnya jelas adalah kholbu yang jernih/bening end resik, wallohu alam

  • Riddle

    Bagaimana tentang roh dan jasad?
    Dapatkah 2 roh berada dalam 1 jasad?

    Terimakasih
    Mohon dijawab.

    • puloh saepuloh

      minta petunjuk sama ALLAH,dan buktikan sendiri

  • puloh saepuloh

    Alam ghaib ga perlu ditakuti,alam nyatalah yang perlu ditakuti,alam ghaib cuma yang ghaib saja yang tahu,dan AllAH yang tahu,kita hanya harus iman,dan tidak menggangu yang ghaib,justru alam nyata yang lebih menakutkan,kita langsung bisa melihat dan tahu kejadian kejadian yang ? banyak lah,saya sudah tahu dan pernah mengalaminya,

  • Dickysambas

    cayo daqk yooo