NetSains.com

Recent Comments


Powered by Disqus

25 Penulis Teraktif

  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • Foto anda tak tampak disini? Segera buat akun di Gravatar.com!
Netsains.Com on Facebook
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (Belum ada rating)
Loading ... Loading ...

Perhatian!
Artikel ini adalah artikel lama, diterbitkan lebih dari setahun yang lalu.
Mohon beritahu kami melalui komentar apabila artikel ini sudah tidak relevan lagi

Mengapa Seseorang Bisa Menjadi Homoseksual ?

Niankhkhnum and Khnumhotep

Niankhkhnum and Khnumhotep

Menanggapi beberapa pertanyaan rekan-rekan tentang kenapa seseorang bisa menjadi homoseksual, di sini saya akan coba sedikit berbagi informasi tentang etiologi homoseksual (sebab kenapa seseorang menjadi homoseksual). Kebetulan beberapa waktu yang lalu saya melakukan penelitian tentang mengapa seseorang hingga bisa menjadi homoseksual. Hasilnya menunjukkan pembuktian dari beberapa kajian teori yang ada sebelumnya. Banyak faktor yang berpengaruh mengapa seseorang dapat menjadi homoseksual. Secara lebih spesifik mungkin bisa dibilang individual differences, karena masing-masing orang mempunyai etiologi (sebab musabab terjadinya sebuah gangguan) yang berbeda-beda. Jika kita lihat dari dimensi Biologis, homoseksualitas bisa juga dimungkinkan karena adanya kelebihan kromosom seks dari ibu. Kromosom normal pada seorang laki-laki berjumlah 46 buah (23 pasang), 22 pasang kromosom otosom dan sepasang kromosom seks (XY), sedangkan laki-laki yang memiliki kecenderungan homoseksualitas secara hormonal memiliki jumlah kromosom 47 buah, yang terdiri dari 44 buah (22 pasang) otosom dan 3 buah kromosom seks (XXY) hal ini dikarenakan kromosom dari ibu (XX) tidak terjadi pembelahan, sehingga individu laki-laki ini memiliki ciri-ciri kewanitaan. Secara fisik ia laki-laki yang memiliki penis, tetapi penis ini sangatlah kecil jika dibandingkan dengan ukuran penis laki-laki normal, dan jika dianggap sebagai kliteris ukurannya terlalu besar jika dibandingkan kliteris wanita pada umumnya. Ia juga memiliki payudara yang semakin membesar seiring dengan usia pubertasnya (Notosoedirdjo dan Latipun, 2002).

Penulis mempunyai rekan yang seperti ini, hingga akhirnya kini ia operasi kelamin dan telah menjadi seorang perempuan. Anastasi (dalam bukunya pengantar psikologi), secara biologis menjelaskan homoseksual ini terjadi jika bayi laki-laki selama dalam kandungan mensekresi hormon testosteron kurang dari jumlah normalnya, atau jika bayi perempuan (yang kelak menjadi lesbian) mensekresi hormon testosteron (juga) yang melebihi kadar normalnya.

Nah jika kita lihat dari dimensi Psikologis, banyak lagi faktor yang berpengaruh. Mulai dari aliran Psikoanalisa yang mengungkap dimensi masa lalu, dimana anak pada tahap falik (usia 3-5 th) kurang mendapatkan figur yang baik dari orang tua dengan jenis kelamin yang sama. Jika ini terjadi pada laki-laki (untuk perempuan tinggal membalik saja), dalam situasi kehidupan awal seorang anak, figur ibu terlalu dominan dalam keluarga (bisa jadi karena ayah lemah, perceraian sehingga anak laki-laki tinggal dengan ibunya, atau ayah meninggal) sehingga identifikasi anak laki-laki ini cenderung ke arah perempuan. Termasuk pengasuhan oleh ayah terhadap anak laki-lakinya menjadi kurang efektif.

Seorang ahli Psikoanalis yg lain, Carl Gustaf Jung menyebut ini sebagai Anima Animus. Dalam diri seorang laki-laki ada jiwa feminin, begitu sebaiknya dalam jiwa perempuan ada karakter maskulin. Mana yang akan berkembang lebih dominan, ini nanti yang akan dibentuk oleh lingkungan.

Kembali lagi ke figuring dengan ayah, jika anak laki-laki mempunyai persepsi yang buruk ke ayahnya, hal ini bisa jadi sebagai penyebab juga. Misalkan, ayah terlalu keras dalam mendidiknya, menghukumnya, sehingga anak mempunyai penilaian yang negatif ke ayahnya. Ayah terlalu normatif terhadap anak laki-lakinya, misalkan jika makan tidak boleh bersuara, posisi duduk harus seperti ini, minum harus seperti ini, makan harus di meja makan, dsb. Perilaku seperti di atas adalah hal yang biasa diterapkan pada anak perempuan, bukan laki-laki. Hal ini nantinya yang juga akan berpengaruh terhadap perkembangan maskulinnya. Secara psikologis dinamakan inhibisi perkembangan maskulin. Bisa juga ketika orang tua terlalu membatasi ruang gerak anak laki-lakinya, sehingga perkembangannya menjadi maskulin terhambat (inhibisi perkembangan maskulin). Contohnya, karena orang tua sudah bertahun-tahun tidak mempunyai anak atau mendambakan sekali anak laki-laki, maka ketika lahir anak laki-laki ia sangat disayang sekali, tidak boleh berkesplorasi kesana kemari, naik-naik atau memanjat pohon tidak boleh, main berkotor-kototan seperti anak laki-laki yang lain tidak boleh, pokoknya disayang dan dimanja benar, sehingga karakter maskulin yang semestinya mulai berkembang dari kecil jadi terhambat. Termasuk ketika tidak dekat dengan ayah tadi sehingga ia tidak mendapatkan figuring maskulin yang baik. Atau mungkin orang tua yang benar-benar menginginkan anak laki-laki, sehingga ketika lahir perempuan membuat jadi anak perempuannya ini seperti laki-laki (atau sebaliknya, ingin anak perempuan, lahir laki-laki, membuat anak laki-lakinya ini seperti perempuan). Mendandaninya, memakaikan rok. tentu saja yang namanya anak kecil akan menurut saja jika kita apa-apakan.

Saat fase falik tadi (3-5 tahun) yang semestinya ia mulai diberitahu perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan, tetapi tidak ia dapatkan. Anak laki-laki dibiarkan saja bermain dengan teman (atau kakak) perempuannya, sehingga ia jadi lebih gemar bermain boneka, masak-masakan, atau permainan perempuan yang lain. Hal ini yang juga disebut inhibisi perkembangan maskulin pada anak laki-laki, sehingga karakter feminin lah yang lebih berkembang. Bukan melarang anak untuk mencoba bereksplorasi dengan banyak mainan dan juga teman, hanya saja orang tua perlu lebih selektif ketika memilihkan jenis permainan yang pas buat anak.

Freud, seorang ahli psikoanalisa berpendapat bahwa pada dasarnya kita ini dilahirkan dalam keadaan biseksual. Oleh karenanya, wajar jika dalam diri seorang laki-laki memiliki karakter feminin, yang tentunya lebih didominasi maskulinitasnya.Pada anak laki-laki yang memeiliki kecenderungan feminin lebih dominan, terkadang menjadi laki-laki yang sensitif, perasa. Saat dewasa, ia akan lebih menggunakan dimensi emosionalnya dalam menentukan pilihan atau mengambil keputusan, dibandingkan menggunakan rasio atau logika layaknya laki-laki pada umumnya. Hal ini terkadang nampak pada perilaku anak saat masih kecil. Anak laki-laki terkadang lebih gemar bermain boneka-bonekaan, masak-masakan, atau permainan perempuan lainnya dengan teman atau kakak perempuannya. Mereka lebih nyaman bermain dengan perempuan dibandingkan main mobil-mobilan atau sepak bola dengan teman laki-lakinya. Beberapa diantara mereka juga mengaku jika teman perempuannya lebih dapat mengerti dan memahami perasaannya, dibandingkan dengan teman laki-lakinya yang terkesan kasar dan awut-awutan. Ketika orang tua mulai melihat indikasi ini di awal, segeralah arahkan permainan mereka pada permainan yang lebih memfasilitasi perkembangan maskulinnya. Tetapi yang perlu diperhatikan betul oleh orang tua adalah jangan terlalu memaksakan anak untuk melakukan hal itu. Misalkan tiba-tiba melarangnya bermain dengan si Ani, atau membakar semua koleksi boneka yang ia punya. Tidak demikian, melainkan memalui pendekatan yang lebih halus. Pelan-pelan ia mulai kita ajak bermain bersama, mengikutkannya pada kegiatan ekstra kulikuler taekwondo misalkan, atau sepak bola mungkin. Tawarkan pada anak, berikan gambaran, dan biarkan ia menentukan pilihannya.

Jika ditinjau dari sudut pandang Behaviour (perilaku), maka homoseksual terjadi karena faktor pembiasaan, lingkungan, dan adanya penguat positif (rasa enak, nikmat, nyaman) dalam hubungan dengan sesama jenisnya. Sehingga masing-masing orang mempunyai riwayat gangguan yang berbeda, ada yang berawal dari Biologis kemudian diperkuat faktor Psikologis, ada juga yang murni faktor Psikologis. Kebanyakan yang murni behavior ini biasanya terjadi pada masa-masa remaja. Entah karena gaya hidup, bujukan teman, atau faktor yang lain. Meskipun demikian, tidak semudah itu seseorang bisa menjadi homoseksual. Biasanya pasti sudah disertai dengan potensi sejak kecil, hanya saja masih manifest (terpendam). Butuh sebuah kejadian atau pencetus untuk memunculkannya. Makanya ada yang pernah bilang jika homoseksual ini ibarat kata membangunkan singa yang sedang tidur.

Jika ada pertanyaan apakah perilaku ini bisa diubah? Bisa tidaknya, kembali kepada sebab musabab mengapa seseorang menjadi homoseksual. Jika murni karena perilaku, pembiasaan dan lingkungan, maka dirubah lewat proses pembalajaran ulang. Secara psikologis kita biasa menyebut modifikasi perilaku. Ada beberapa teknik terapi yang dapat diterapkan.

Namun jika sebabnya karena trauma masa lalu, seperti yang dijelaskan oleh aliran Psikoanalisa yang melihat hal ini dari sudut pandang masa lalu, maka dibutuhkan psikoterapi dengan pendekatan Psikoanalisa. Terapi ini disebut analisa yang dilakukan oleh seorang Analis (ahli terapi psikoanalisa yang telah melalui masa pendidikan dan pelatihan terapi psikoanalisa, termasuk ia sendiri juga telah menjalani terapi ini. Analisa dilakuakn untuk mengungkap konflik-konflik dalam alam bawah sadar seseorang untuk dimunculkan ke permukaan. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah hipnoterapi (hipnotis), hanya saja saya belum pernah membaca seberapa efektif hipnoterapi mampu membantu mereka mengatasi homoseksualnya. Juga beberapa metode lain dalam terapi Psikoanalisa.

Nah jika fenomena terjadinya homoseksual karena Biologis, ya mau tidak mau memang harus memilih ke salah satu ciri kelamin yang lebih dominan. Kalo sudah demikian, kita tidak lagi menyebut sebagai homoseksual, tetapi transeksual.

Memang cukup kompleks ketika kita melihat fenomena ini. Secara Psikologis, homoseksual sudah tidak lagi dimasukkan ke dalam sebuah gangguan, melainkan sebuah pilihan hidup. Hanya saja, norma dan nilai-nilai budaya kita yang belum dapat menerima hal ini, sehingga membuatnya menjadi abnormal. Oleh karenanya, butuh kearifan kita untuk menentukan sikap dan bagaimana harus menghadapi orang-orang dengan homoseksual. Penulis juga berharap, semoga hal ini dapat digunakan sebagai wacana dalam mendidik dan mengasuh anak. Terkadang orang tua secara tidak sadar melakukan hal-hal yang tidak tahunya merupakan potensi yang mengembangkan kecenderungan homoseksual seseorang, mengingat pada dasarnya manusia ini dilahirkan dengan potensi biseksual. Anak-anak tidak mengetahui apa-apa, mereka hanya menerima asuhan dan didikan orang tua. Dalam tahap awal perkembangan mereka mungkin tidak akan segera terdeteksi jika terjadi “salah asuh”. Namun, ketika mereka menginjak masa remaja, mulailah satu persatu masalah timbul. Upaya antisipasi dan persiapan lebih dini diharapkan mampu menyiapkan anak-anak kita kelak menjadi insan yang berguna bagi orang tua, agama, dan lingkungan sekitarnya. Semoga bermanfaat.

REFERENSI :

American Psychiatric Association. (2000). Diagnostic and statistical manual of mental disorder (4th ed.). Washington, DC: Author.

____________________________. (1980). Diagnostic and statistical manual of mental disorder (3th ed.). Washington, DC: Author.

Atkinson, R.L. Pengantar psikologi (jilid dua). ( 11th ed.). Batam : Interaksara.

Fudyartanta, RBS. (2005) Psikologi kepribadian freudianisme. Yogyakarta : Zenith Publisher.

Kaplan, H.I., Sadock, B.J. & Grebb, J.A. (1997). Sinopsis psikiatri (jilid dua). Jakarta : Binarupa Aksara.

Sadarjoen, S.S. (2005). Bunga rampai kasus gangguan psikoseksual. Bandung : PT. Refika Aditama.

Penyebab Homoseksual. Diakses pada 15 Maret 2006, dari http://blog.360.yahoo.com

Kredit Foto: Greg Reeder, http://en.wikipedia.org/wiki/File:Niankh.jpg

 

 Tentang Penulis:

Adib Asrori Psikolog & Akupunkturis, pernah mengajar pada Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang. Sekarang bergabung dengan Sadar Hati Foundation, sebuah LSM yang mempunyai tujuan utama mereduksi angka penyebaran HIV/AIDS, khususnya akibat penggunaan Narkoba suntik. Menyelesaikan pendidikan sebagai Psikolog, pada Fakultas Psikologi UGM. Saat ini sedang mengembangkan teknik pengobatan Timur dengan pendekatan Psikologi. Cat hobies & sekarang mulai beralih ke hobies KOI. Bagi yang ... Selengkapnya »
 
  Beri komentar atau taut balik artikel ini.
  • http://www.detik.com Isna

    tapi masih bisa sembuh kan homo itu?

  • http://profiles.friendster.com/40938053 Adib Asrori

    Thanks atas pertanyaannya.. Seperti yang udah saya jelaskan di atas, bisa tidaknya tergantung beberapa faktor. salah satunya adalah penyebabnya. Jika dimensinya fisik, dan secara hormonal dia laki-laki yang memiliki kelebihan hormon perempuan, maka ia diarahkan untuk memilih ke arah hormon yang lebih dominan. Jika terjadinya karena faktor perilaku, misalkan coba-coba, sehingga merasa enak dan ketagihan, maka ini dapat dirubah melalu proses yang saya sebut di atas sebagai “Modifikasi Perilaku”. Yakni merubah perilaku atau kebiasaan yang sekarang, menjadi sebuah perilaku yang diinginkan. Meskipun demikian, tidak segampang itu seseorang mau atau dengan nyaman melakukan hubungan dengan sesama. Biasanya mesti didahului dengan faktor yang menifest (tersembunyi di alam bawah sadarnya), sehingga tinggal menunggu pemicu yang cukup kuat hingga perilaku homoseksual itu muncul. Misalkan saja ada trauma di masa lalu, dimana waktu ia kecil pernah disodomi, atau ada pengalaman seksual dengan sesama jenisnya. termasuk pengasuhan orang tua (seperti penjelasan di atas). Jika homoseksual terjadi karena trauma di masa lalu, maka kita akan selesaikan traumatiknya ini dahulu. di dalam terapi psikoanalisa menyebutnya sebagai pengangkatan pengalaman bawah sadar ke kesadaran.
    Faktro kedua yang tak kalah pentingnya adalah dari individu itu sendiri. Mau tidak ia berubah. Tetapi, perubahan atau perilaku itu dikatakan abnormal karena penilaian lingkungan (salah satu kriteria gangguan abnormal). Jika individu yang bersangkutan merasa baik-baik saja dengan kehomoseksualannya, maka perubahan perilaku yang seperti mana yang mau dilakukan. Termasuk istilah “sembuh” itu tadi. Jika seseorang tidak merasa sakit, lalu apanya yang akan disembuhkan.
    Tambahan lagi, terkadang agak sedikit sulit, bahkan dosen saya yang seorang profesor pernah mengatakan homoseksual itu akan susah dikembalikan menjadi heteroseksual jika dimensinya sudah menyangkut seksual. Yakni jika ia telah merasakan nikmatnya berhubungan seksual dengan sesama jenis. Hal ini diperkuat oleh pendapat Freud (dalam Arief, 2005) bahwa kepuasan tertinggi seorang individu terletak pada dimensi fisiknya. Sedangkan kepuasan fisik itu tercapai jika kita mengalami orgasme (kepuasan seksual). sehingga hal ini dikembalikan lagi ke individu yang bersangkutan. Perilaku atau hal mana yang akan dirubah. Jika ia merasa baik-baik saja dengan kehomoseksualannya, maka ia akan menjadi homoseksual yang “sehat” secara psikologis, meskipun secara budaya kita hal itu dianggap abnormal. Atau mungkin jika ia merasa bahwa kehomoseksualannya ini sebagai sesuatu hal yang bisa ia terima, hanya saja masalahnya saat ini terletak pada hubungan seksualnya dengan sesama yang bertentangan dengan norma agama yang ia pegang. Maka yang akan dirubah adalah bukan rasa cintanya dengan sesama jenis, tetapi bagaimana ia dapat mengendalikan dorongan seksualnya terhadap sesama jenisnya. Sekali lagi semua tergantung dari individu yang bersangkutan, hal mana yang akan ia perbaiki. Semoga cukup menjawab. Salam..

  • someone

    tolong in dunk gw memiliki orientasi terhadap cowo…tapi jelas2 gw udah punya cewe.
    kenapa ya ???

    • http://profiles.friendster.com/40938053 Adib Asrori

      Buat Someone,
      Seperti yang dikatakan Freud (seorang ahli psikoanalis), bahwa pada dasarnya manusia itu dilahirkan dalam keadaan biseksual. Nah nantinya kita akan jadi heteroseksual, homoseksual, atau tetap biseksual, itu terjadi seperti yang saya ungkapkan di atas.
      Kalo Anda merasa suka terhadap cowk, tetapi anda punya cewek, itu juga masih dalam tataran wajar. Hanya saja seberapa besar intensitasnya. Lebih dominan ke cewek, ato lebih dominan ke cowok, itu yang akan menentukan hal itu bermasalah ato tidak. Dikatakan “masalah” ketika itu sudah menimbulkan ketidanyamanan bagi Anda. tapi kl anda fine2 aja menjalani hal itu ya nggak masalah..
      Saya belum tau betul bagaimana detail permasalahan Anda, sehingga saya hanya bisa kasih masukan itu. Intinya semua itu pilihan. Kalo emang pengen konsultasi lebih detail dan privecy, Anda bisa kirimkan email ke (asrori_adib@yahoo.co.id)
      Saya tunggu kl memang Anda ingin berkonsultasi by email. Selama saya bisa bantu insya’allah saya usahakan..
      Good Luck ya..

  • http://zoelqflyz.blogspot.com zoel80

    semuanya bisa dirubah seandainya dalam jiwa si homoseksual itu ada kemauan untuk merubah jati dirinya, disamping itu faktor agama juga memiliki peranan sangat penting dalam merubah jati diri seseorang, dekatkan dirilah kepada sang maha pencipta karena kita diciptakan di dunia ini berpasang – pasangan.

    • http://profiles.friendster.com/40938053 Adib Asrori

      Thanks komentarnya..
      Betul banget jika semuanya bisa dirubah, kembali lagi ka faktor individunya mau atau tidak untuk berubah. Tetapi kita juga harus pertimbangkan aspek manusia itu sendiri.
      Sebagai Makhluk Tuhan, dimensi manusia terdiri dari fisik (raga/tubuh), psikis, dan qolbu (naluri Ketuhanan). Nah ketika aspek ini tentunya seiring berjalan bersama. Tidak cukup jika kita menyelesaikan permasalahan homoseksual ini dari sisi Ketuhana atau Agama saja, tetapi kita juga harus rasional pertimbangkan dimensi fisik dan psikologis orang tersebut. Bisa atau tidak, memungkinkan atau tidak untuk dilakukan sebuah perubahan. Bisa saja ketika kita menggunakan dimensi agama untuk menyelesaikan masalah ini, lebih ke “tidak melakukan perilaku homoseksual atau hubungan seks sesama jenis”, tetapi tidak menyelesaikan permasalahan homoseksual itu. Lebih tepatnya “memendam masalah” agar tidak muncul ke permukaan. istilah psikologisnya disebut “represi” dan hal ini justru malah tidak sehat secara psikologis.. Sekali lagi kembali ke individu yang bersangkutan. hidup ini memang pilihan. Norma mana yang akan ia ambil dan sanggup ia jalani. Ketika ia memilih lebih berat ke Agama, takut akan Tuhan-nya, maka tentunya konsekuensi beban psikologis yang akan ia ambil. sebaliknya, ketika ia memilih menjadi “homoseksual yang sehat” secara psikologis, tentunya konsekuensinya adalah adanya sedikit pertentangan dengan norma Agama yang dipegang orang tersebut. Barokallah..

  • Run_t3a

    Sy pny ade cowo, sy bnr2 curiga kalo dia homo, dan sy kwtr skl. Bpk ibu sy pasti shock kalo sampe tau. Dan ade sndr tdk terbuka, sdh sy cb ajak bicara berkali2 tp ttp tdk mengaku. Tlg sekali gmn cr membuatnya normal lg. Kasian bpk dan ibu sy. Trimakasih.

    • http://profiles.friendster.com/40938053 Adib Asrori

      Buat “Run_t3a”

      Menanggapi masalah Anda, saya belum dapat memastikan apakah Adik anda homoseksual atau tidak. peluanga 50% iya, 50% tidak. sebab data-data yang Anda berikan masih terbatas. Coba kalo sempat, Anda dapat layangkan surat ke email saya (asrori_adib@yahoo.co.id), untuk kita diskusikan masalah ini.
      Termasuk ketika Anda bilang adik Anda homoseksual, darimana Anda menyimpulkan hal itu? indikasinya apa? perilaku seperti apa dari adik Anda yang Anda curigai itu perilaku homoseksual.. Apakah tingkah lakunya terlalu feminin? teman mainnya hanya perempuan saja? atau apa.
      Sebagai bahan pertimbangan juga. Mengingat permasalaha homoseksual adalah bukan permasalahan yang bisa diterima oleh budaya layaknya ketika Anda baru putus pacar, atau orang tua bercerai. Meski ini permasalahan yang tidak gampang, namun masyarakat masih bisa toleran dengan hal ini. Tapi, homoseksual sangat tidak bisa diterima oleh budaya kita. Nah, sebagai bagian dari keluarga, apalagi jika memang benar dia homoseksual, tentunya ia tak akan mau menceritakan hal ini pada kakaknya. Bisa mati digantung (ini perumpamaan saja) dia. sebab dia menganggap permasalahan ini sebagai hal yang sangat tidak dapat diterima oleh budaya dan lingkungannya.
      semoga sedikit penjelasan saya ini dapat membantu, kl mau lebih detail tentang permasalahan Anda, dapat layangkan surat ke alamat email saya (asrori_adib@yahoo.co.id)
      Salam.. Adib..

  • ydn

    yah,,,balik2 lagi semua ada dua pilihan.
    stop atau terus tapi harus tetap dipertanggung jawabkan..
    tidak ada seorang pun yang mau menjadi GAY..
    tapi kalo sudah terlanjur terjadi..
    inget,,,lakukan lah dengan tanggung jawab,,dan kalian masih banyak dikelilingi oleh orang2 yang tentunya tidak mau kalian kecewakan…
    wish u all the best

    • http://profiles.friendster.com/40938053 Adib Asrori

      Yups.., betul banget.. aku setuju..
      Semua itu pilihan. Jika mau tetap menjadi homoseksual, jadilah homoseksual yang “sehat” baik secara fisik dan psikologis. Misalnya ketika memutuskan jadi homoseksual, tentunya mau tidak mau ia akan melakukan hub seksual. maka lakukanlah hub seksual yang aman, pakai kondom, tidak berganti2 pasangan, sehingga tidak sampai terkena penyakit. dengan ini secara tidak langsung kesehatan fisik akan terjaga. Begitu juga dengan psikologis seseorang. ketika ia sudah memutuskan menjalani kehidupan sebagai homoseksual, maka ia sudah siap menghadapi tekanan2 sosial dari masyarakat yang belum dapat menerima keadaan mereka. Atau jika mereka datang ke psikolog, akan kami bantu menyiapkan kondisi psikologisnya untuk menjalani kehidupannya sebagai homoseksual.
      Sebaliknya, jika ingin menjauhi perilaku “homoseksual” maka bener-benar tinggalkan.
      Karena jika di tengah-tengah, semuanya akan serba membingungkan dan banyak masalah yang akan datang.
      Tak pernah ada seorang pun yang mau dan meminta dilahirkan sebagai homoseksual. Semua itu adalah kehendak-Nya, tinggal bagaimana kita menghadapi dan mengelolanya dengan baik.. Salam..

  • abdus salam

    kenapa sampai detik ini masyaramasih bisa melakukan perdangangan manusia padahal pemerintah telah memberi bermacam kebijakan dan sekuensi terhadap pelaku tersebut terus selanjutnya tindakan apa yang selayaknya di terapkan oleh pemerintah agar hal yang semacam itu bisa teratasi

  • abdus salam

    kenapa sampai detik ini masyarakat masih bisa melakukan perdangangan manusia, padahal pemerintah telah memberi semacam kebijakan dan sekuensi/hukuman terhadap pelaku tersebut, terus selanjutnya tindakan apa yang selayaknya di terapkan oleh pemerintah agar hal yang semacam itu bisa teratasi?

    • abdus salam

      sampai kapan?

      • abdus salam

        lantas kalau memang sudah demikian berarti pemerintah kurang giat dalam menyikapi sebuah problematika, padahal tindakan yang semacam itu dapat merugikan orang khususnya pada kaum wanita

  • abdus salam

    apa definisi dari moderasi itu?

  • Sandi

    Jadi intinya perilaku homo itu karena dipelajari, berarti pasti ada cara belajar untuk jadi normal lagi dong. Mengenai metode hypnotherapy untuk mengobatinya, saya setuju, karena menyangkut adanya “data” yang error di pikiran bawah sadar. Ini sesuai pengalaman saya mengajarkan self-hypnosis ke teman yang kurang pede, sesudah sebulan dia tekun melakukan self-hypnosis, rasa percaya dirinya meningkat pesat.
    Tampaknya perlu diteliti butuh berapa lama efek hypnotis itu bisa tertanam pada individu yang berbeda untuk kasus homoseks ini.
    Artikelnya bagus, makasih.

    • http://profiles.friendster.com/40938053 Adib Asrori

      @Sandi, Thanks coment-nya..
      Jika itu karena dipelajari, memang ada upaya untuk pembelajaran ulang yang biasa kita sebut “modifikasi perilaku”. Pendekatannya perilaku. Hal ini bisa dilakukan untuk mereka yang menjadi homoseksual murni karena perilaku, dalam artian pembelajaran yang salah. Misalnya dasarnya di pure heteroseksual, punya cewk, bisa ML ama cewk, gak ada perasaan atau orientasi ke cewk. Hingga suatu ketika cewknya ini menyakitinya yg luar biasa, dan saat itu ada cowk sahabatnya yg kebetulan homoseks yang membuatnya merasa nyaman. Jika sampai ia melakukan perilaku seksual, maka hal inilah yang disebut karena proses belajar yang salah. Dalam prinsip pembelajaran itu, tidak mengenal dimensi masa lalu, tetapi apa yang ada saat ini. Tetapi, hal ini jarang sekali terjadi. Biasanya seseorang mau melakukan perilaku homoseksual ini karena adanya faktor-faktor lain (faktor pendahulu seperti pengasuhan orang tua, figuring ayah) seperti yang saya jelaskan di atas. Hal ini menyangkut masa lalu seseorang. Sedangkan perilaku atau kebiasaan yang sudah tertanam dalam diri seseorang selama sekian puluh tahun, tidak semudah itu dapat dirubah dalam satu dua minggu, atau satu dua bulan. Butuh waktu lama dan proses pembelajaran ulang yang cukup panjang.
      Sebagai informasi juga, sampai hari ini saya belajar psikologi, memang tidak ada terapi yang dirancang khusus untuk membuat seseorang yang homoseksual menjadi heteroseksual. sebab dalam dunia psikologi saat ini, homoseksual sudah bukan merupakan gangguan, sehingga terapinya pun tidak ada. Yang ada adalah bagaimana seseorang dengan homoseksual ini bisa eksis dan hidup “sehat” secara psikologis, tidak “sakit”, dapat berkarya dan berfungsi sebagai dirinya secara maksimal..
      Btw, soal penerapan hypnosis ini mas Sandy nerapin sendiri atau pake’ terapis yang ahli hypnosis gitu? boleh tau sedikit praktisnya gmn? thanks..

  • keyhan

    ada satu lagi fase dalam kandungan, misal si ibu ingin sekali mempunyai anak perempuan, bisa saja dalam kandungan mempengaruhi psikologi si janin

  • keyhan

    ya saya juga pernah sekali menjalani proses psikoanalisa (hypnosis) itu, perkembangan cukup lumayan, caranya memaksa alam bawah sadar “jijik” dengan perilaku tersebut dan membuat keinginan trhadap lawan jenis ke dalam alam bawah sadar, walau cuma sekali efeknya terasa, saya tidak melakukan murni self-hypnosis, tapi dibantu orang lain. Sampai sekarang kalau pikiran mulai kotor ke sejenis saya merasa mual, bahkan waktu seharian dipenuhi pikiran kotor, kata dokter asam lambung tidak seimbang, katanya dispeksia atau apa, selalu seperti itu, akhirnya takut berpikiran kotor dengan sejenis, dan efek baiknya kalau lihat yang cantik sekali jadi langsung tertarik, walau belum berani menjalin hubungan. Btw, kata therapisnya harusnya 7 kali berturut-turut, tapi berhubung biaya (saya mahasiswa), belum terapi sebanyak itu (sekarang masih lebih tertarik thdp cowok walau udahada respek ke cewek). kalau self hypnosis pernah, tapi waktu coba tiba-tiba ada yang ngagetin jadi tersentak bangun, rasanya pusing seharian, seperti ngung-ngung gimana gtu seperti bingung, sejak saat itu sebelum pindah kost yang kira-kira ga da ganggu ga mau praktekin dulu. itu pengalaman saya, dan tergantung kedalaman hypnosis seseorang semakin dalam, akan efektif

  • parningotan

    saya punya anak umur 7,5tahun. selama ini saya mulai mencurigai anak saya ini krn sewaktu2 dia mau mencuri2 pura2 jatuh atau dengan cara yang lain ingin menyentuh kemaluan saya, dan pernah suatu ketika saat hendak mandi saya hanya pakai handuk dia minta di peluk YA TUHAN…AMPINI SAYA……apakah anak saya mempunyai orientasi sex sesama jenis nantinya?

    • http://profiles.friendster.com/40938053 Adib Asrori

      Maaf kl boleh tau Anda seorang bapak atau ibu?
      Sementara dari informasi yang sedikit, saya bisa menduga anak Anda sedang mengalami fase “falik” (tahap psikoseksual Freud). Dimana ia mulai gemar memainkan alat kelaminnya, atau bisa jadi ia mulai tertarik dengan alat kelamin orang tua yang sejenis. Biasanya mereka mencuri2 untuk melakukan hal ini, atau misalnya setelah buang air ia enggan untuk dipakaikan celananya kembali.
      Masih sesuatu hal yang wajar. namun bukan berarti orang tua boleh lengah. Jika anda seorang bapak, tentunya anak anda laki-laki, maka jadilah ayah yang tidak terlalu keras dalam mendidik anak. Disiplin boleh, tetapi jangan sampai anak punya persepsi negatif ke ayahnya di kemudian hari. Fasilitasi perkembangan maskulinnya. misalnya diajak main bola, karate, atau hal-hal yang bisa dilakukan dengan ayah. Intinya adalah identifikasi anak laki-laki dengan ayahnya, bukan dengan ibu. Bagaimana anak bisa mengidentifikasikan dirinya dengan ayah, ingin menjadi seperti ayah, jika ayah tidak menimbulkan rasa aman dan nyaman baginya.. so, jadilah ayah yang baik buat anak Anda..
      Sebaliknya jika Anda seorang ibu, tentunya kebalikan dari hal di atas. Fasilitasi perkembangan femininnya, dan buat dia mengidentifikasikan dirinya dengan figur ibu yang feminin, bukan identifikasi pada ayah yang maskulin..
      Semoga cukup membantu..

  • dudy. . .

    sbenarY gw bkn seorg gay cz gw pnya pcr seorg cwe tp knp stiap liat cwo yg uda ckup umur sneng ja liatY sperti liat cwe sperti biasa gtu!!!gw bsa ngmong kl gw bkan sorng gay cz sya tdk fmnim,mlhan byk yg blg gw ganteng+gagah bda m cwo yg lain.wktu kcil gw sperti ank kcil cwo umumY mlahn gw suka dunia olhrga mlhan sring jd andlan d skul gw.tp yg gw rasa aneh knp gw liat cwo yg brumur diatas 35thn dan sdah menikah tp gw liat bkn cwo smbarng??gw jg uda brusaha mnghlangkn rsa ntu tp susah bgt euy,bsa bntu ga??

    • http://profiles.friendster.com/40938053 Adib Asrori

      Thanks buat komentarnya.. Seseorang dikatakan homoseksual tidak hanya dari penampilan yang feminin saja, tetapi banyak juga cowk2 yang macho tetapi merasa mempunyai ketertarikan yang lebih terhadap sesama jenisnya, timbul hasrat seksual, atau mungkin juga melakukan perilaku seksual dengan sesama jenis, itu dapat dikatakan homoseksual (meskipun secara fisik ia terlihat macho).
      Untuk yang terjadi pada Anda, saya kurang begitu bisa memastikan, namun ada beberapa kemungkinan. Yang pertama, bisa jadi biseksual yakni Anda bisa suka dengan cewk ato dengan cowk. Untuk saat ini mungkin karena Anda punya cewk atau pernah berpacaran dengan cewk, sehingga intensitas Anda lebih besar ke cewk. Mungkin jika dibuat prosentase, 60% ke cewk, 40% ke cowk. Mengapa bisa demikian, sebab bisa jadi Anda lebih condong ke cewk karena rasa aman dan nyaman yang Anda dapatkan dari hubungan itu, dan Anda belum pernah tahu bagaimana menjalin hubungan dengan cowk. Ibarat kata Anda makan bakso di warung A yang terlihat sepi tapi enak rasanya. Besok-besok anda akan terus makan di situ meski Anda tahu warung B (yang sama-sama jual bakso) sangat ramai pengunjungnya. Pasti Anda terkagum khan melihat warung B itu. Tapi Anda tidak akan mengatakan lebih enak mana (warung A apa warung B) jika belum mencoba makan di warung B (tetapi saya tidak menyarankan Anda mencoba mencoba berhubungan dengan cowk jika memang Anda belum pernah sama sekali & sebaiknya jangan mencoba). Hal ini hanya sebagai ilustrasi saja jika memang Anda biseksual dan lebih cenderung ke cewk, tetapi punya rasa tertentu ke cowk.
      Kemungkinan kedua Anda homoseksual latent, yakni kecenderungan suka terhadap sesama namun ditekan kuat-kuat ke dalam alam bawah sadar. Mengapa demikian, sebab secara normatif di budaya kita hal ini tidak dapat diterima, dianggap tabu, memalukan, dsb. Namun, yang namanya perasaan tidak dapat dibohongi. Oke mungkin nalar dan logika anda berkata “kl aku gak ada rasa apa-apa dengan cowk”, namun terkadang secara tidak sadar muncul ketertarikan dengan sesama jenis yang mempunyai kriteria tertentu menurut Anda (yang membuat Anda kagum).
      Untuk kedua hal di atas (kemungkinan pertama dan kedua) mana yang benar, coba Anda kembali lagi mengingat ke masa lalu tentang kejadian-kejadian di masa kecil hingga Anda beranjak remaja, adakah kejadian-kejadian atau pengalaman yang Anda alami yang mengarah pada riwayat kenapa seseorang bisa menjadi homoseksual (seperti yang telah saya jelaskan pada artikel di atas). Kira-kira apakah ada yang demikian. Jika ada, bisa jadi Anda biseksual atau homoseksual laten. Tetapi jika tidak ada riwayat yang mengarah pada pembentukan homoseksual, maka bisa jadi ketertarikan pada sesama jenis itu sebatas kewajaran saja dalam artian kagum. Wajar khan ketika cowk yang gendut atau kurus sekali ketika melihat cowk yang badanya seksi dan berotot merasa terkagum dibuatnya karena mereka juga ingin mempunyai badan seperti itu. Atau seorang cowk yang sangat introvert, sulit bersosialisai, kutu buku, kagum ketika melihat temannya sesama cowk pandai bergaul, jago main basket, dan banyak dikagumi cewk-cewk. Atau seorang anak yang belum puas dengan kasih sayang ayah, ternyata ayah harus meninggalkannya untuk selamanya, atau adik yang ingin punya kakak laki-laki, sehingga ia selalu mencari kasih sayang dari ayah atau kakak laki-laki yang secara tidak langsung ia dapatkan dari teman-teman cowknya yang lebih tua misalnya.
      Nah skrg tinggal Anda identifikasikan perasaan Anda ini, lebih ke mana. Rasa kagum akan kelebihan laki-laki itu, dengan nota bene mungkin Anda tidak memiliki kelebihan itu. Atau rasa tertarik yang mengarah pada hasrat seksual, sehingga menginginkan untuk melakukan hubungan seksual, atau paling tidak keinginan untuk memilikinya (berpacaran atau menjalin hubungan yang lebih serius dengan laik-laki itu).
      Initinya, apapun Anda, homoseksual, biseksual, atau straight, selama hal itu tidak sampai mengganggu keberfungsian Anda sehari-hari, dalam dunia kerja, kuliah atau sekolah, juga di lingkungan sosial tempat Anda tinggal (masyarakat atau keluarga), saya pikir tidak akan jadi masalah. Dikatakan sebagai masalah ketika Anda mulai merasa tidak nyaman dengan perasaan itu, atau Anda terganggu dengannya. Selama itu tidak sampai mengganggu hubungan Anda dengan cewk Anda (misalnya dengan rasa itu Anda jadi ingin punya pacar cowk atau perilaku homoseksual yang lain), saya pikir tidak akan menjadi masalah. Batas yang wajar jika kadar kesukaannya tidak terlalu tinggi, sebatas kekeguman atau perasaan suka biasa, sebab pada dasarnya manusia dilahirkan dalam keadaan biseksual. Semoga cukup membantu.
      Best Regard, Adib

  • dudy

    hehheeh sbnarnya gw jg bingung gw gay atw kga cz stiap liat cwo jg sma aja sprti liat cwe cntik gtu!!!gw uda lma jmblo kok!!!tp kl gw seorng gay gw hnya mlhat bapa2 saja kl ank mda kga tuch mkaY gw jg pyeng kok knp bsa ,mlhat bapa2 sperti ntu!!!mgkin kga gw seorng tp hnya ska trhdap bapa2 aja!!!tp gw pngn smbuh dr pnykit sperti yg ni!!!

  • mahyuddin

    satu lg ni.badanku kyk cowo kebanyakan,sehat,tinggi bdn 175,vital gua besar kok.tp knp ya gua terangsang klo lihat tubuh pria yg lagi #########?klo g’######### sm sekali g’terangsang.gmn cara menghilangkn rasa trsbt?

  • ceri hani

    terima kasih… artikelnya membuat saya lebih membuka diri pada homoseksual…

  • ceri hani

    terima kasih… artikelnya membuat saya lebih membuka diri pada homoseksual…

  • lala

    Saya punya anak laki-laki umur 6 th,kalo dia main berdua dgn teman mainnya jg laki2 dan ga ada siapa-siapa dia slalu main pegang-pegangan alat pital ini bukan sekali terjadi.apakah anak saya punya kelainan dok

  • lala

    Saya punya anak laki-laki umur 6 th,kalo dia main berdua dgn teman mainnya jg laki2 klo ga ada siapa-siapa dia slalu main pegang-pegangan alat pital ini bukan sekali terjadi.apakah anak saya punya kelainan dok

    • http://asrori_adib.blogspot.com Adib Asrori

      Untuk memastikan adanya kelainan atau tidak butuh pemeriksaan lebih lanjut.. saat ini saya tidak bisa memastikan apakah anak ibu punya kelainan, sebab datanya sangat minim.
      Langkah yang dapat ibu lakukan adalah, coba ajak anak ibu bicara dengan santai, tanpa menghakimi atau marah, tanyakan kenapa kok adik suka main pegang-pegangan burunganya ama si A? coba cari tahu apa sebenarnya yang ada dalam pemikirannya.. Sebab ada kemungkinan ia masuk dalam fase falik tadi, dimana ia suka mainan alat kelamin & ia dapatkan kepuasan(masturbasi inocent namanya), tapi bukan kayak kepuasan orang dewasa yang bermasturbasi karena fantasi sesksual..
      Tapi sekali lagi ibu harus bisa mengendalikan perasaan ibu untuk benar-benar bertanya secara netral pada putra ibu. Jangan sampai ia jadi ketakutan dengan itu.
      Lalu, tanamkan sedikit nilai-nilai bahwa hal itu tidak bagus (tidak dengan marah lho ya). Sapa tau si adik memang tidak mengerti jika “mainan” dia yang ini kurang pantas.. Makanya kenapa perlunya pendidikan seksual sejak dini bagi anak kita.. Sementara itu ibu yang bisa saya informasikan. semoga cukup membantu. Jika masih ada yang mau ditanyakan silahkan ketik komen di bawah atau email ke saya, insya’allah secepatnya saya balas..
      Salam Hangat, Adib

  • firman

    dok, aq sdh tau dampak lingkgan n dosa mnurt agama… ilmu2 ttg bhya n adzab yg q akan jlnin atas perbuatan q ini saya sdh tau, blum lg cemoohan msyrt kl aq tau jd begini.. soal ibdah alhamdulilah aq jg dag prnh tinggal..misalnya sholat… aq pgen skali berubah.. aq pgen normal ! … tp susah sekali dok utk ngerubah smuanya itu, bahkan sngkin nafsu memuncakny aq hilap prnh behubngan bdn sm cow… aq sdr it dosa tp ksdaran aq dikalahkan oleh nafsu aq!

    mgp Tuhan mbrikan pnykit sperti ini? tp aq prnh mbca seorah ulama yg bernama siti musdah mulia.. dia melegalkan prilaku trst, tentuny mrupakan good news bg aq? tp hati kcil q g mau trus n knp aq bs jd gini?

  • endy

    sy seorang yg homo, istilah dlm bhsnya aku disebut sbg bott, aku gak tau rasa ini kapan munculnya dikehidupan aku, tpi aku rasa memang sudah dari lahir aku begini, aku inin berubah menjadi laki2 yg normal, seperti kebanyakan lelaki pd umumnya, hidup seperti ini gak enak, semuanya penuh dengan kebohongan, semuanya palsu, selalu aja harus ada yg ditutupi, kadang aku merasa lelah dengan semua ini, kira2 bisahkah saya menjadi laki2 normal dalam waktu yg singkat?help me…

    • http://asrori_adib.blogspot.com Adib Asrori

      Wah kalo belum-belum sudah kasih batasan “Dalam Waktu Singkat” sepertinya itu yang sulit.. Jika normal yg km maksud adalah heteroseksual, sepertinya agak susah, sebab sampe hari ini saya belum menemukan terapi yang efektif untuk itu.. hanya saja jika meredakan dorongan seksual dengan sesama, kemudian mengendalikan diri dengan bagus, lalu mencoba menjalani kehidupan normal dengan menikah atau pacaran dengan cewk itu lain cerita.. Coba Anda berkonsultasi dengan Psikolog yang ada di kota Anda..

  • irfan

    menurut ifan,sebab gay itu,kerena,dri kebaikan seseorng ,or jasa yng di anggap tdk bisa di balas,hingga terjdi a,kasih synag antra ke2 a, bsa diktakan dlam keadaan sadar,wlau yng mau hanya 1 pihak sja, seperti ne kan mengakibat kan,hal2 yng tdk di ingin kan misal,krena dsar tdk cma2 mau or di paksa wlau dalm keadaan sadar kan terjdi permusuhan. what about u???

  • evie

    saya ternyata menikah dg homoseksual slm 11 th …5 th pertama sy br tahu dia gay krn ktm bokep gay dan majalah playgirl yg dia simpan, wkt itu dia ngakunya biseks dan pgn berubah jd ttp meprtahankan keluarga…nyatanya 6 th sy menunggu perubahan dan slm itu pula kami srg bertengkar krn kecurigaan sy, dia main di luar jam kantor, plg telat dgn alasan sibuk kerja…slm itu pula sy cari tahu ttg gay,setiap ada info tuk kesembuhan sy kejar, sy serahkan ke dia, tp tampaknya tak ada niat dia tuk berubah…….dia sll mengatakan beginilah aku, klo berubah dia maunya ya krn dia pgn, tp apa usahanya….nol.malah semakin gencar bhub dgn teman2nya, seakan maafku tuk merestui dia, pdhl aku syg pdnya….dan dia bs memuaskan aku….tp dia sll menyakitiku seakan dialah yg korban dgn perasaannya itu. akhirnya sy bcr dgn keluarganya, dia diajak hipnoterapi tapi dia tdk tuntas krn tdk mau dihipnotis……intinya dia nyaman sbg homo. akhirnya kini kami dlm proses perceraian, krn skg dia udh punya bf (boyfriend) dan kyknya skg dia yg bottom, dulu dia top (itu kutahu dr curi2 liat hapenya)…..yg mo kutanyakan, bgm menghilangkan perasaan marahku padanya, shg wl km sdh proses dan tdk tggal serumah, aku seakan gak rela dia senang2 dgn bfnya, wl klo dia dirmh kami jg tdk nyaman, akibatnya sy jd blak2an menuduh bfnya lah yg mengakibatkan smua ini, mmg masalah sdh muncul tp smkn tdk bs diatasi stlah dia mdapat bf, dia smkn berani ekspos bhw dia gay ke keluarganya, tdk ada lg rasa malu…dan dia sll marah bl bf nya disinggung wl sedikit sj……sakit rasanya…., bgm ya dok?? rasanya skg saya yg perlu psikiater……

    • http://asrori_adib.blogspot.com Adib Asrori

      Saya bisa memahami kegelisahan yang ibu rasakan saat ini.. Masih ada perasaan marah dan kecewa yang ibu rasakan karena ibu sayang pada suami dan berharap ia dapat berubah. Tapi realitanya khan tidak demikian. Kondisi yang sulit ketika harus kehilangan orang yang sudah 11 tahun bersama kita. Mungkin cinta itu sudah tidak begitu dalam, tapi yang berat adalah kebersamaan yang sudah dibina selama ini.. Nah saran saya adalah ibu butuh seseorang yang dapat membantu ibu untuk mengeluarkan emosi-emosi negatif ibu, hingga akhirnya ibu dapat menerima keadaan ini.. Ketika ibu sudah bisa “berdamai dengan realita” maka kemarahan-kemarahan itu akan mulia berkurang. Ibu marah kepada BF suami pun sepertinya tidak akan terjadi lagi. mengapa saat ini ibu marah ke BF suami, karena sebenarnya khan ibu marah pada suami, namun ada perasaan sayang yang menghalangi kemarahan itu. Sehingga yang ibu bs lakukan adalah marah pada orang lain yang tidak ada keterikatan emosional dengan ibu..
      Dan satu hal yang perlu ibu pahami, bahwa sampe hari ini saya belum menemukan terapi untuk homoseksual. sebab homoseksual pun sudah bukan dianggap sebagai gangguan. Nah yang ada, seperti hipnoterapi atau terapi agama, untuk sedikit mereduksi dorongan seksualnya kepada sesama sehingga ia bisa tidak terlalu tergoda ketika melihat sesama jenis. Ketika dorongan seksual dapat direduksi, tentunya ia dapat mencoba untuk menjalani kehidupan normal sebagai heteroseksual. Tentunya untuk hal ini dibutuhkan motivasi yang kuat dari dalam dirinya untuk berubah.
      Sekali lagi saya menyarankan sebaiknya ibu bertemu dengan Psikolog untuk dapat membantu ibu menerima keadaan ini, juga mendampingi dan menguatkan ibu ketika menjalani proses perceraian ini.. Kalo boleh tau ibu lokasi dimana? mungkin saya bisa bantu carikan referensi Psikolog.
      Semoga cukup membantu.. Salam hangat, Adib

    • RAHMA

      Mbak evie…
      saya sedang melakukan riset utk tesis saya, dengan tema: menjadi istri dari seorang pria gay.
      Maukah mbak evie menjadi narasumber saya?
      Saat ini saya adalah mahasiswa Pasca Sarjana UGM, fak.Psikologi
      Saya berani menjamin bahwa identitas dan kerahasiaan mb evie akan saya jaga.
      Jika mb evie berminat,dapat menghubungi saya di imel : ramana_ande@yahoo.com atau myluvly_lea@yahoo.com

  • evie

    saya tinggal di bandung…….mmg betul yg bapak katakan…..sy marah karena seakan dia tdk merasa bersalah….salah dia ya kenapa menikahi saya, sedang saya wkt menikah tidak tahu dia begitu, klo tahu ya sy tdk akan mau tersiksa batin begini, pdhl dia adlh org pertama yg menerima cinta sy, mgk ketulah kali ya Pak krn dulu sy banyak nolak orang….awalnya kami sahabatan slm kuliah, kluarga 2 pihak sama2 tahu kami dekat satu sama lain dan menyangka ada apa2nya, pdhl awalnya bg sy hy lah seorang sahabat, krn sy lbh sering py sahabat cowok, jd klo udh gitu kemana2 ya sama dia, tp klo ada sesuatu dr cowok itu, atau dia kemudian tertarik sy menghindar…….dan akhirnya break deh,bgtu jg dgn dia, dia pernah blg suka dsb, sy menghindar tp kmdn sy mendekat lg krn tdk mo kehilangan sahabat lg tuk kesekian kali,smp akhirny klga tanya2 dan kita akhrnya menikah…sy mulai mencintai dia stlh nikah. tp dia malah menyakiti sy dgn perlakuannya, wl dlm berhub. dia normal tp dia srg plg malam. Saya rasa sy memang perlu psikiater spt yg bapak blg, tp skg ini sy hidup dr awal, artinya sy sdg tdk ada dana utk hal2 spt itu krn sy hanya guru TK. dulu sblm nikah sy kerja dan gaji sy 3x lipat gaji dia, tp kini sy hrs hidup sdri, cari sdri krn mulai mggu ini dia mencabut semua fasilitasnya untuk sy. Yg saya benci, BF nya berani2nya minta uang sampai 3 jt. itu puncaknya sy akhirnya memutuskan pisah, krn bertengkar dan dia tdk mau disinggung sedikitpun ttg BF nya. dia sll blg jangan masukkan org lain dlm masalah kita, mmg masalah sdh muncul lama tp skg tambah puncak krn ada BF yg spt menguasai dia, pdhl BFnya tahu dia telah beristri dan py anak……sy rasanya tidak rela dia senang2 di luar dgn BF nya, wl tuk dia balik sy jg sdh tdk mau…….

  • sahdar

    sy seorang pria berusia 23 tahun,sy mengalami kelainan seks yakni lebih tertarik kpd cowk,tp sy tdk perna mengatakan kpd seoarangpun tentang apa yg sy alami sekarang ini..sy selalu berpura2 untuk tampil jd cowok yg normal tetapi sgt sulit bg sy,,sy perna punya cewek tp cint sy lebih besar kepada seorang cowk,waktu msh brumur sekitar 6 tahun,perasaan ini belum ada tp sy merasa lama kelamaan ini masalah ini semakin meningkat,bahkan sampai dgn skrg.bahkan sy tdk ada ketertarikan sama sekali kepada lawan jenis,tp jujur sy blm perna berhubungan initim dengan pria cuma nafsu sy sgt besar kepada pria.sy mau bgt sembuh dr penyakit ini.minta solusinya donk.thanks

    • http://asrori_adib.blogspot.com Adib Asrori

      Sebuah potensi yang bagus dalam diri Anda ketika Anda ingin memperbaiki diri, yakni Anda belum pernah melakukan hubungan seksual dengan sesama. sebab jika sudah, akan sangat sulit bagi Anda untuk lepas.. Memang sampai hari ini belum ada terapi yang efektif untuk dapat menyembuhkan homoseksual, sebab homoseksual bukanlah sebuah gangguan. Hanya saja yang selama ini dilakukan adalah mereduksi dan mengendalikan dorongan seksual terhadap sesama.. Logo terapi atau Quantum Ikhlas adalah salah satu metode yang dapat membantu untuk menerima kondisi sebagai homoseksual. Jika sudah pada tahap ini, maka Anda akan dapat menjalani kehidupan sebagai manusia normal tanpa selalu terganggu dengan problem homoseksual Anda. sebab selama ini homoseksual menjadi masalah bagi Anda karena Anda terlalu memikirkannya. Hipnoterapi juga dapat membantu Anda mengatasi konflik-konflik masa lalu Anda yang tidak Anda sadari hingga menyebabkan Anda menjadi seperti sekarang.. Saran saya coba temuin Psikolog yang ada di kota Anda.. Jika Anda di malang, mungkin saya bisa membantu,.
      Salam Hangat, Adib

  • Ranny

    Sy seorng ank cewk umr 15 thn..
    Sebelum y sy ini ank yg tomboy..

    Tetapi pada usia 14 thn sy sdh pcran dgn cow..

    Ketika sy smp,sy mengenal seks dr tmn2..
    Sblum y sy blm tw ap2 tntng seks..

    Da sy mrsa aneh jika melihat cew cntik..
    Sy mrsa ingin berkenalan n dekat hingga berpacaran dgn cew trsebut..

    Tetapi sy jg bz suka dgn cow..
    D’sisi ln sy lbh trtrik dgn cew..

    Lbh parah y lg,sy tdk prnh membyangkan seks dgn laki2…
    Tp sy sllu membyngkn seks dgn cew..

    Apkh sy seorng lesbian?
    Ato kah hnya seorang biseksual..

    Jika ia sy s’orng lesbian,gmn cr yc hngga sy bz mnjdi normal ??

    Tolong d’jwb,,sy bngung skli..

    • http://asrori_adib.blogspot.com Adib Asrori

      Buat Ranny yang sedang bingung, butuh data yang lebih lengkap lagi untuk dapat memastikan kedua hal tersebut.. Tapi, terlepas apakah Anda biseksual atau lesbi, yang jelas khan ada kecenderungan untuk suka dengan sesama.. hal ini aja yang perlu km sadari & km manage dengan baik.. mau diteruskan, atau dikedalikan.. Coba hubungi Psikolog terdekat di kota Anda untuk dapat memastikan & membantu masalah Anda.. Semoga cukup menjawab..

      • http://pulse.yahoo.com/_54SIXFR75L7DNJXR2JDVM23WHI Sasuke Uchiha

        pak adib,,saya cew berusia 23 th,,
        hal yang sama q rsakn sperti ranny,,hal ini mulai timbul sejak aq remaja dan memuncak hingga skrg.
        prsan yg aneh, qu bs ska am cew dan jg bs suka am cow. q adl cew toboy, tp q sll ntup2i. q malu sbnarny, tp ne bkn keinginan q spenuhnya pak. gimana solusinya slain k psikolog. bkn g mw k sna tp q tak pny biaya ckup k sna,,
        tp ju2r, sya tdk smpai mlkukan seks thd ssma jnis, krn sya tw itu dharamkan,,cuma yg aneh hnyalh prasan sja yg jg suka thd cew, prasan cmburu jg ad jk cew itu berhubgn dg cow.

  • eve

    Pak, saya butuh konseling psikolog mengenai homoseksual di malang, bagaimana cara saya menghubungi anda? via email?

  • Bob

    Bapak, sejauh ini yang masih sering digunakan untuk memahami fenomenon homoseksual dari pendekatan behavioristik dan psikoanalisa. Bagaimana dengan humanistik?