NetSains.com

Recent Comments


Powered by Disqus

25 Penulis Teraktif

  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • Foto anda tak tampak disini? Segera buat akun di Gravatar.com!
Netsains.Com on Facebook
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (Belum ada rating)
Loading ... Loading ...

Perhatian!
Artikel ini adalah artikel lama, diterbitkan lebih dari setahun yang lalu.
Mohon beritahu kami melalui komentar apabila artikel ini sudah tidak relevan lagi

Merokok Meredakan Emosi, Tapi Bikin Makin Kecanduan

smokerPara perokok yakin betul bahwa merokok bisa meredakan stres. Dan kini mereka lebih didukung lagi oleh temuan terbaru. Berdasar pencitraan otak, terbukti bahwa memang nikotin mampu mengurangi respon kemarahan.

Riset ini memerlihatkan, mereka yang mengonsumsi nikotin menjadi sulit terprovokasi dibanding yang sama sekali tidak mengonsumsi nikotin. “Temuan ini mendukung ide bahwa orang yang pemarah dapat dengan mudah kecanduan rokok,” ungkap Jean Gehricke, psikiatri dari University of California.

Gehricke beserta timnya melakukan studi dengan mengidentifikasi sistem otak yang paling bereaksi terhadap nikotin dan terkoneksi kuat dengan respon kemarahan. mereka melibatkan sejumlah orang yang bukan perokok dan perokok, memelajari perilaku mereka saat diprovokasi atau dilukai perasaannya melalui sebuah game komputer.

Perokok yang sebelumnya merokok ternyata bisa berkelakuan lebih tenang menghadapi provokasi dalam game. Sebaliknya, saat tidak diberi asuapan rokok, mereka lebih mudah marah.

Lebih Tidak Bahagia

Adalah korteks limbiks, bagian sistem otak yang menjadi target nikotin dan merupakan pusat pengaturan emosi. Dari hasil pemindaian, diketahui bahwa aktivitas otak di bagian itu meningkat saat nikotin dikurangi. Nikotin memiliki efek mengatur kemarahan bagi orang yang memang pemarah maupun mereka yang menderita stres.

Namun riset terdahulu yang diadakan Pew justru mengatakan sebaliknya, dimana perokok lebih berisiko mengalami stres dibanding yang bukan perokok. Riset mereka juga membuktikan, perokok tidak terlalu bahagia dan sehat daripada mereka yang tidak merokok atau sudah berhenti merokok. Yang pasti sudah terbukti sahih secara ilmiah adalah perokok cenderung berisiko terserang penyakit seperti serangan jantung dan stroke. Kedua penyakit ini dua kali lipat lebih mematikan untuk perokok daripada kanker.

Diterjemahkan secara bebas dari LiveScience.
Foto:surreycc.gov.uk

 

 Tentang Penulis:

Merry Magdalena Merry Magdalena adalah mantan jurnalis desk Teknologi Informasi dan Iptek di Sinar Harapan. Ia sempat memenangkan sejumlah penulisan jurnalistik bidang Iptek, Lingkungan dan TI. Di sela kesibukan sebagai jurnalis, Merry juga masih menekuni hobi menulis buku dan berorganisasi di dunia maya. Bukunya yang sudah terbit "Cyberlaw, Tidak Perlu Takut" ditulis bersama Mas Wigrantoro Roes Setiyadi, "Situs Gaul Gak Cuma buat Ngibul" (Gramedia Pustaka Utama, Mei 2009), "UU ITE, Don't be The Next Victim" ... Selengkapnya »
 
  Beri komentar atau taut balik artikel ini.
  • http://kalijan1977.wordpress.com mas_bowie

    Setiap hal dilakukan selalu ada baik & buruknya. Karena kebetulan saya sendiri perokok, boleh juga artikelnya… Thanks…

  • raramaharani

    saya seorang cewek yang perokok usia saya 18 tahun.
    merokok memang benar bisa menghilangkan stres?
    tetapi jika berakhir dengan kematian dan tidak sehat itu sdah takdir/