NetSains.com

Recent Comments


Powered by Disqus

25 Penulis Teraktif

  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • Foto anda tak tampak disini? Segera buat akun di Gravatar.com!
Netsains.Com on Facebook
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (Belum ada rating)
Loading ... Loading ...

Perhatian!
Artikel ini adalah artikel lama, diterbitkan lebih dari setahun yang lalu.
Mohon beritahu kami melalui komentar apabila artikel ini sudah tidak relevan lagi

Jati Diri: dari Iqbal, Rumi, Sampai Newton

l10726033277_28651Muhammand Iqbal, seorang filosof dari pakistan, menggambarkan pencarian jati dirinya dalam tiga babak. Pertama, dia mencari jati dirinya, dengan ‘bersemadi’ dengan alam semesta, alias dengan panteisme platonis. Kedua, sewaktu dia studi ke Heidelberg, jerman, Nietzche berpengaruh kuat dalam dirinya. Di tahap kedua ini, dia mulai mendapat penguatan jati dirinya, untuk menjadi ‘creator of values’.

Tahap terakhir, sejak pulang dari jerman, dan bergulat dengan kondisi politik di anak benua india, sampai dengan meninggalnya, Iqbal ‘mengangkat’ Jalaludin Rumi dari Persia sebagai guru spiritualnya. Jelas ini lebih ke imaginer, karena Rumi sudah meninggal ratusan tahun yang lalu. Di prosa lirik ‘Javid Nama’, yang sengaja ia tulis dalam bahasa persia, untuk mengenang Rumi, Iqbal menggambarkan seluruh perjalanan spiritualnya dengan Rumi. ‘Javid Nama’ adalah salah satu karya sufisme terbaik di jaman modern ini. Seluruh babak perjalanan Iqbal, sebagai filosof, boleh dibilang unik dibanding seluruh filosof dari barat sekalipun. Iqbal adalah wakil dari ‘oriental perennis’ yang sesungguhnya. Sesuai tradisi filosof, seseorang baru dapat dijuluki sebagai filosof, jika semua pemikirannya adalah otonom atau genuine hasil pemikiran diri sendiri. Memang, pengaruh pihak lain sudah pasti ada, namun pemikiran orisinal harus tetap ‘bersinar’, dengan memanfaatkan pengaruh luar.

Dalam otonomi dan orisinalitasnya, Iqbal berhasil menjadi filosof par excelence. Dia berhasil menentukan, ingin menjadi apa dirinya, dengan ‘terjun’ menuju kesadaran dirinya sendiri. Walau dia ’self determined’, Iqbal tetaplah seorang mahluk sosial, yang mencoba membantu komunitasnya. Walau sepak terjangnya di politik pakistan penuh kontroversi, sampai akhirnya Muhammad Ali Jinnah mengambil ide Iqbal untuk mendirikan Pakistan, paling tidak dia sudah berusaha maksimal untuk berbuat terbaik bagi komunitasnya. Politik memang penuh pilihan, dan kadang apa yang kita pilih belum tentu yang terbaik bagi semua pihak.

Independen

Iqbal hanyalah sekedar contoh dari seorang pribadi yang mencari jati dirinya, secara independen. Ada banyak sekali filosof di muka bumi ini, dari barat sampai timur, yang berpengaruh pada komunitas tempat mereka mengabdi. Mulai dari Karl Marx dengan organisasi buruhnya, sampai dengan para filosof zen di asia, seperti Boddhidarma, yang memberikan spiritualitas Buddhisme pada seluruh asia. Namun ada satu hal…hanya satu hal…yang mempersatukan semua filosof. Mereka adalah pribadi-pribadi yang otonom, unik, dan mampu ’self determining’. Mereka bukan tipe pribadi yang ‘larut’ dengan kebesaran pendahulu mereka, namun mereka dapat memanfaatkan kebesaran mereka, untuk menghasilkan pemikiran dan aksi yang lebih baik.

Seorang Isaac Newton, misalnya. Newton tidak hanya sekedar ‘larut’ dalam matematika Rene Descartes. Namun Newton memanfaatkan pemikiran Descartes untuk memformulasikan hukum gravitasi. Seorang Muhammad Hatta, misalnya, tidak sekedar ‘larut’ dalam bacaan-bacaan mengenai ekonomi koperasi di Skandinavia. Namun Bung Hatta berusaha mengaplikasi dan mengadaptasi konsep koperasi untuk Indonesia. Itulah otonomi, dan itulah ’self determination’…….

foto:profile.ak.facebook.com

 

 Tentang Penulis:

Arli Aditya Parikesit Penulis adalah alumni program Phd bidang Bioinformatika dari Universitas Leipzig, Jerman. Ia bisa dihubungi di akun twitter: @arli_par . Membantu penelitian di Laboratorium Bioinformatika, FMIPA-UI pun masih dilakukannya juga. Penulis juga bekerja sebagai Dosen ilmu kependidikan di STAI Al-Hikmah di Cilandak, ... Selengkapnya »
 
  Beri komentar atau taut balik artikel ini.
  • http://www.facebook.com/profile.php?id=762744275 Syariful Anwar

    To be one’s self, and unafraid whether right or wrong, is more admirable than the easy cowardice of surrender to conformity.

    :)

  • http://www.bunghaw.wordpress.com Hawis Madduppa

    good job Arly! nice article.. Sepertinya kita juga butuh seorang pemimpin yang seperti itu..

    salam,
    Hawis

  • http://bioarli.page.tl/ Arli Aditya Parikesit

    Rekans…Terima kasih atas tanggapannya di jum’at yang indah ini :)