NetSains.com

Recent Comments


Powered by Disqus

25 Penulis Teraktif

  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • Foto anda tak tampak disini? Segera buat akun di Gravatar.com!
Netsains.Com on Facebook
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 suara, nilai: 5.00 ⁄ 5)
Loading ... Loading ...

Perhatian!
Artikel ini adalah artikel lama, diterbitkan lebih dari setahun yang lalu.
Mohon beritahu kami melalui komentar apabila artikel ini sudah tidak relevan lagi

Apa yang perlu saya lakukan kalau anak tiba-tiba kejang disertai panas yang tinggi ?

kejangArtikel ini akan membahas segala sesuatu tentang kejang demam, yang biasa terjadi pada buah hati Anda, beserta “jurus sakti” untuk menaklukkannya.

Ada 15 hal yang akan dibahas dalam di artikel ini, yaitu:
1. Sinonim
2. Definisi
3. Epidemiologi
4. Penyebab (Etiologi)
5. Faktor Risiko
6. Patofisiologi
7. Klasifikasi dan Manifestasi Klinis
8. Pemeriksaan Penunjang
9. Penatalaksanaan
10. Diagnosis Banding
11. Apa yang harus dilakukan saat anak Anda kejang?
12. Kapan anak Anda harus dirawat atau dirujuk ke rumah sakit?
13. Prognosis
14. Tahukah Anda?
15. Referensi dan Bacaan yang Dianjurkan

Sinonim

Di dalam dunia kedokteran, kejang pada anak (berusia 6 bulan-5 tahun) disebut juga:
1. Kejang demam
2. Febrile seizures
3. Febrile convulsions

Definisi

1. Bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh; suhu rektum (dubur) di atas 38ºC.
2. Kejang yang berhubungan dengan demam (suhu di atas 38,4 ºC per rektal) tanpa adanya infeksi susunan saraf pusat atau gangguan elektrolit akut.
3. An event in infancy or childhood usually occurring between three months and five  years of age, associated with fever, but without evidence of intracranial infection or  defined cause (a consensus conference held by the National Institutes of Health, 1980).

Epidemiologi

1. Kejang demam terjadi pada 2-4% anak berumur 6 bulan sampai 5 tahun. Menurut  Tejani NR (2008), kejang demam terjadi pada anak berusia 3 bulan – 5 tahun.
2. Insiden tertinggi pada umur 18 bulan.
3. Dari semua kasus kejang demam, sekitar 80% merupakan kejang demam sederhana  dan 20% kejang demam kompleks.
4. Kejang pertama terbanyak di usia 17-23 bulan.
5. Anak lelaki lebih sering mengalami kejang demam dibandingkan dengan anak wanita.
6. Kejadian kecacatan atau kelainan neurologis sebagai komplikasi kejang demam tidak pernah dilaporkan.
7. Kematian karena kejang demam tidak pernah dilaporkan.
8. Antara 2% – 5% anak-anak di Amerika Serikat menderita kejang demam pada hari  kelima kelahiran (fifth birthday) mereka, dan sekitar sepertiganya berulang minimal  sekali. Angka yang sama dari kejang demam di Amerika Serikat juga ditemukan di  Eropa Barat.
9. Insiden kejang demam di India sekitar 5-10%, di Jepang sekitar 8,8%, di Guam sekitar  14%, di Hongkong sekitar 0,35%, dan di China sekitar 0,5-1,5%.

Penyebab (Etiologi)

1. Proses ekstrakranial/ekstrakranium.
2. Penyakit virus (viral illnesses)
Penyakit virus merupakan penyebab utama (predominant cause) kejang demam.
Kepustakaan terbaru menunjukkan keterlibatan human herpes simplex virus 6 (HHSV-6) sebagai penyebab timbulnya (etiologic agent) roseola pada 20% dari sekelompok pasien yang datang dengan kejang demam mereka yang pertama.
3. Shigella gastroenteritis
Shigella gastroenteritis juga berhubungan dengan kejang demam. Studi terbaru  menunjukkan hubungan antara kejang demam yang berulang (recurrent febrile seizures) dan influenza A.
4. Genetik
Terdapat dasar genetik (genetic basis) dari kejang demam. Kejang demam cenderung
terjadi pada keluarga.
Bila anak terkena kejang demam, maka risiko saudara kandungnya terkena adalah  sebesar 10%. Kemungkinan ini menjadi 50% jika orang tuanya pernah menderita kejang  demam.

Faktor Risiko

Faktor risiko berulangnya kejang pada kejang demam adalah:
1. Ada (anggota) keluarga dengan riwayat kejang demam.
2. Usia < 18 bulan.
3. Suhu tubuh saat kejang. Makin tinggi suhu sebelum kejang  demam, makin kecil risiko berulangnya kejang demam
4. Lama demam sebelum kejang. Makin pendek jarak antar mulainya demam dengan terjadinya kejang demam,
makin besar risiko berulangnya kejang demam.

Penilaian

a. Bila ada 3 faktor di atas, kemungkinan kejang demam berulang kembali adalah 80%.
b. Bila sama sekali tidak ada faktor di atas, kemungkinan kejang  demam berulang kembali adalah 10-15%.

Menurut Tejani NR (2008), faktor risiko berkembangnya/terjadinya kejang demam adalah:
1. Ada riwayat keluarga yang menderita kejang demam.
2. Suhu tinggi.
3. Laporan orang tua tentang keterlambatan perkembangan anak.
4. Neonatal discharge pada usia lebih dari 28 hari (indikasi  perinatal illness yang memerlukan mondok di rumah sakit).
5. Keterlibatan orang tua secara langsung dalam mengasuh dan merawat anak (daycare attendance).

Faktor risiko terjadinya epilepsi di kemudian hari:
1. Adanya gangguan neurodevelopmental (perkembangan saraf).
2. Kejang demam kompleks (lebih dari satu kali).
3. Ada riwayat epilepsi dalam keluarga.
4. Lamanya demam saat awitan kejang.

Patofisiologi

Bagaimana kejang demam terjadi? Bagaimana pula riwayat perjalanan kejang demam sehingga menyebabkan epilepsi?
Menurut Nooruddin R Tejani (2008);
“Kejang demam terjadi pada anak kecil (young children) pada suatu saat dalam perkembangan (development) dimana ambang pintu (threshold) mereka rendah. Inilah saat ketika mereka rentan (susceptible) terkena berbagai infeksi yang seringkali  menyerang anak-anak seperti infeksi saluran pernapasan atas (upper respiratory infection), otitis media, viral syndrome, dan reaksi mereka terhadap perubahan suhu yang  lebih tinggi.

Studi pada hewan menunjukkan peranan dari pirogen endogen, seperti: interleukin 1, yang dengan meningkatkan neuronal excitability, dapat menghubungkan aktivitas kejang dan demam.

Studi pendahuluan (preliminary studies) pada anak (children) tampaknya mendukung  hipotesis bahwa jaringan sitokin (cytokine network) diaktivasi atau diaktifkan dan  memegang peran pada patogenesis kejang demam (febrile seizures).”

Menurut Masdar Muid (2005);
“Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel dan organ otak diperlukan suatu energi  yang didapat dari metabolisme. Bahan baku untuk metabolisme otak yang terpenting  adalah glukosa.
Melalui proses oksidasi dimana oksigen disediakan oleh kerja paru-paru dan diteruskan  ke otak melalui sistem kardiovaskuler. Jelaslah bahwa sumber energi otak adalah glukosa  yang melalui proses oksidasi dipecah menjadi CO2 dan air.

Sel dikelilingi oleh suatu membran yang terdiri dari permukaan dalam (yakni: lipoid) dan permukaan luar (yakni: ionik). Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat dilalui dengan mudah oleh ion Kalium dan sangat sulit dilakukan oleh ion Natrium dan elektrolit lainnya, kecuali oleh ion Klorida. Akibatnya, konsentrasi ion Kalium dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi ion Natrium rendah; sedangkan di luar sel neuron terdapat keadaan sebaliknya.

Adanya perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam dan luar sel menyebabkan perbedaan potensial yang disebut potensial membran dari sel neuron. Untuk menjaga
keseimbangan potensial membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim Na-KATPase
yang terdapat di permukaan sel.

Keseimbangan potensial membran ini dapat berubah oleh adanya:
1. Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraseluler.
2. Rangsangan yang datangnya mendadak, misalnya mekanis,
kimiawi, atau aliran litrik dari sekitarnya.
3. Perubahan patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit
atau keturunan.

Pada keadaan demam, kenaikan suhu 1ºC akan mengakibatkan kenaikan metabolisme
basal 10-15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%.

Pada anak berusia 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh, dibandingkan
dengan orang dewasa yang hanya 15%. Jelaslah pada kenaikan suhu tubuh tertentu dapat
terjadi perubahan keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu yang singkat
terjadi difusi dari ion Kalium maupun ion Natrium melalui membran tadi, yang berakibat
terjadinya pelepasan muatan listrik. Pelepasan muatan listrik ini demikian besarnya
sehingga dapat meluas ke seluruh sel maupun ke membran sel tetangganya dengan
bantuan neurotransmiter sehingga terjadilah kejang.

Tiap anak memiliki ambang kejang yang berbeda; ini tergantung dari tinggi rendahnya
ambang kejang seorang anak menderita kejang pada kenaikan suhu tubuh tertentu.
Pada anak dengan ambang kejang yang rendah, dapat terjadi kejang pada suhu 38ºC,
sedangkan pada anak dengan ambang kejang yang tinggi kejang baru terjadi pada suhu
40 ºC atau lebih.

Dari kenyataan ini dapatlah disimpulkan bahwa terulangnya kejang demam lebih sering
terjadi pada ambang kejang yang rendah; sehingga dalam penanggulangannya perlu
diperhatikan pada tingkat suhu berapa penderita kejang.

Kejang demam yang berlangsung singkat pada umumnya tidak berbahaya dan tidak
meninggalkan gejala sisa. Namun pada kejang demam yang berlangsung lama (> 15
menit) biasanya terjadi apnea (henti nafas), meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi
untuk kontraksi otot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnia, asidosis laktat
disebabkan oleh metabolisme anerobik, hipotensi arterial disertai denyut jantung yang
tidak teratur dan suhu tubuh makin meningkat disebabkan meningkatnya aktivitas otot
dan selanjutnya menyebabkan metabolime otak meningkat.

Rangkaian kejadian di atas merupakan faktor penyebab sehingga terjadi kerusakan
neuron otak selama belangsungnya kejang lama.

Faktor terpenting adalah gangguan peredaran darah yang mengakibatkan hipoksia
sehingga meninggikan permeabilitas kapiler lalu timbul edema otak sehingga terjadi
kerusakan sel neuron otak.

Kerusakan di daerah medial lobus temporalis setelah mendapat serangan kejang yang
berlangsung lama; dapat menjadi “matang” dikemudian hari sehingga terjadi serangan
epilepsi yang spontan. Jadi, jelaslah bahwa kejang demam yang berlangsung lama dapat
menyebabkan kelainan anatomis di otak sehingga terjadi epilepsi.

Klasifikasi dan Manifestasi Klinis

Commission on Epidemiology and Prognosis (1993) mengklasifikasikan kejang demam
menjadi:
1. Kejang demam sederhana
2. Kejang demam kompleks

Kejang demam sederhana (simple febrile seizures)
Merupakan kejang demam dengan karakteristik:
1. Kejang demam yang berlangsung singkat, umumnya serangan  akan berhenti sendiri dalam waktu kurang dari 10 menit.
2. Bangkitan kejang tonik atau tonik-klonik, tanpa gerakan fokal.
3. Tidak berulang dalam waktu 24 jam, atau hanya terjadi sekali  dalam 24 jam.

Kejang demam kompleks (complex febrile seizures)
Merupakan kejang demam dengan karakteristik:
1. Kejang berlangsung lama, lebih dari 15 menit.
2. Kejang fokal (parsial satu sisi), atau kejang umum didahului kejang parsial.
3. Kejang berulang dua kali atau lebih dalam 24 jam.

Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium yang meliputi:
a. Pemeriksaan darah perifer (tepi) lengkap
b. Elektrolit
c. Glukosa darah
d. Kalsium serum
e. Urinalisis
f. Biakan darah, urin, atau feses (tinja).
2. Pungsi lumbal
a. Jika bayi < 12 bulan, sangat dianjurkan dilakukan pungsi lumbal karena gejala meningitis sering tidak jelas.
b. Jika bayi antara 12-18 bulan, dianjurkan pungsi lumbal kecuali pasti bukan meningitis.
c. Jika bayi > 18 bulan, tidak rutin.
Bila pasti bukan meningitis, pungsi lumbal tidak dianjurkan.
3. Elektroensefalografi (EEG)
Dipertimbangkan pada kejang demam yang tidak khas, misalnya: kejang demam
kompleks pada anak berusia > 6 tahun, atau kejang demam fokal.
Menurut Tejani (2008), electroencephalogram biasanya tidak diperlukan sebagai evaluasi
rutin pada anak dengan kejang demam yang pertama kalinya (first simple febrile
seizure).
4. Pemeriksaan foto kepala, CT Scan dan/ atau MRI (Magnetic Resonance Imaging).
Indikasi pemeriksaan CT Scan dan MRI:
a. Dijumpai kelainan neurologis fokal yang menetap (hemiparesis).
b. Ada riwayat dan tanda klinis trauma kepala.
c. Kemungkinan terdapat lesi struktural di otak (mirosefali, spastik).
d. Terdapat tanda peningkatan tekanan intrakranial (kesadaran menurun, muntah
berulang, fontanel anterior menonjol, paresis saraf otak VI, edema papil).

Penatalaksanaan

Ada dua rekomendasi yang kami uraikan di sini:
1. Rekomendasi dari Unit Kerja Koordinasi Neurologi
Ikatan Dokter Anak Indonesia/IDAI (2005).
2. Rekomendasi dari dari Tejani NR (2008)
Berikut uraian kedua rekomendasi tersebut di atas.
1. Rekomendasi dari Unit Kerja Koordinasi Neurologi Ikatan Dokter Anak
Indonesia/IDAI (2005).

A. Saat kejang
Pemberian diazepam rektal (melalui dubur) saat kejang sangat efektif untuk
menghentikan kejang, dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Untuk anak berusia < 3 tahun: dosis 5 mg.
b. Untuk anak berusia > 3 tahun: dosis 7,5 mg.
c. Untuk anak dengan berat badan < 10 Kg: dosis 5 mg.
d. Untuk anak dengan berat badan > 10 Kg: dosis 10 mg.
e. Secara umum: 0,5-0,75 mg/Kg berat badan/kali pemberian.
Di rumah, maksimal diberikan dua kali berurutan dengan jarak lima menit.
Cara lain pemberian diazepam adalah melalui suntikan intravena sebanyak 0,2-0,5
mg/Kg berat badan. Berikan perlahan dengan kecepatan 0,5-1 mg per menit. Bila kejang
berhenti sebelum sebelum dosis habis, hentikan penyuntikan.
Bila anak masih kejang, berikan diazepam dua kali dengan jarak lima menit.
Bila tetap masih kejang, berikan fenitoin intravena dengan dosis 15 mg/Kg berat badan
perlahan-lahan.
Bila kejang belum berhenti, rawat di ruang rawat intensif, berikan pentobarbital, pasang
ventilator bila perlu.

B. Saat kejang berhenti
Saat kejang sudah berhenti, tentukan apakah bayi/anak termasuk dalam kejang demam
yang memerlukan pengobatan rumat atau cukup intermiten saat demam.

B.1. Pengobatan Rumat
Pengobatan rumat cukup diberikan selama setahun bebas kejang, lalu dihentikan
bertahap selama 1-2 bulan. Pengobatan ini efektif untuk menurunkan risiko berulangnya
kejang.
Indikasi pengobatan rumat:
1. Kejang lama (lebih dari 15 menit).
2. Terdapat kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah
kejang. Misalnya: hemiparesis, parsis Todd, cerebral palsy,
retardasi mental, hidrosefalus.
3. Kejang fokal (sentral/memusat).
4. Bila ada keluarga sekandung atau orang tua yang mengalami
epilepsi.
5. Pengobatan rumat dipertimbangkan bila:
a. Kejang berulang dua kali atau lebih dalam 24 jam.
b. Kejang demam terjadi pada bayi berusia kurang dari 12 bulan.
c. Kejang demam terjadi 4 kali atau lebih per tahun.
Ada dua pilihan dalam pengobatan rumat:

a. Asam valproat
Dosis: 15-40 mg/Kg berat badan/hari dibagi 2-3 dosis. Pemakaian asam valproat pada
usia < 2 tahun menyebabkan gangguan fungsi hati. Bila mengonsumsi obat ini sebaiknya
diperiksa kadar SGOT dan SGPT setelah 2 minggu, sebulan, kemudian tiap 3 bulan.

b. Fenobarbital
Dosis: 3-5 mg/Kg berat badan/hari dibagi 2 dosis. Pemakaian fenobarbital setiap hari
menimbulkan gangguan perilaku dan kesulitan belajar.

B.2. Pengobatan Intermiten
Merupakan pengobatan yang diberikan pada saat anak mengalami demam, untuk
mencegah terjadinya kejang demam.
Ada dua pilihan dalam pengobatan intermiten:

a. Antipiretik
* Parasetamol atau asetaminofen 10-15 mg/Kg berat badan/kali,
diberikan 4 kali.
* Ibuprofen 10 mg/Kg berat badan/kali, diberikan 3 kali.
b. Antikonvulsan
* Diazepam oral dosis 0,3 – 0,5 mg/Kg berat badan, setiap 8 jam saat demam. Ini efektif
untuk menurunkan risiko berulangnya kejang.
* Diazepam rektal (diberikan melalui dubur) dengan dosis 0,5 mg/Kg berat badan/kali,
diberikan 3 x per hari.
* Fenobarbital, karbamazepin, fenitoin tidak berguna mencegah kejang demam bila
diberikan secara intermiten. Fenobarbital dosis kecil baru berefek antikonvulsan dengan
kadar stabil di dalam darah, bila telah diberikan selama 2 minggu.
2. Rekomendasi dari Tejani NR (2008)
A. Antipiretik (Antipyretics)
Antipiretik sebaiknya digunakan pada pasen yang merasa tidak nyaman dengan demam
sekunder mereka (demam bukan keluhan utama). Antipiretik tidak dimakudkan untuk
mencegah berulangnya atau kambuhnya kejang demam.

1. Acetaminophen
Mekanisme kerja:
Menurunkan demam dengan aksi langsung pada pusat pengatur panas hipotalamus
(hypothalamic heat-regulating centers), yang meningkatkan pembuangan (dissipation)
panas tubuh melalui
vasodilatasi dan berkeringat (sweating).
Dosis dewasa:
325-650 mg PO/PR q4-6h; jangan melebihi 4 g/hari.
Dosis anak:
10-15 mg/kg berat badan PO/PR q4-6h; jangan melebihi 5 dosis/hari atau 2,6 g/hari.

2. Ibuprofen
Mekanisme kerja:
Salah satu obat anti-inflamasi nonsteroid atau NSAIDs (nonsteroidal anti-inflammatory
drug) yang dapat menurunkan demam. Ibuprofen menghambat pembentukan
prostaglandin.
Dosis dewasa:
200-400 mg PO q4-6h saat timbul gejala; jangan melebihi 3,2 g/hari.
Dosis anak:
5-10 mg/kg berat badan/dosis PO q6-8h prn (bila perlu); jangan melebihi 40 mg/kg berat
badan/hari atau 2,4 g/hari.
B. Antikonvulsan (Anticonvulsant)
Prophylactic treatment dengan agen antikonvulsan, dapat dipertimbangkan pada episode
demam subsequent.

1. Diazepam (Valium)
Mekanisme kerja:
Menurunkan kejang demam subsequent jika diberikan setiap episode demam. Mengatur
(modulates) efek postsynaptic dari transmisi GABA-A, menyebabkan meningkatnya
hambatan presinaptik.
Bekerja di bagian sistem limbic, thalamus, dan hypothalamus, dalam menimbulkan efek
menenangkan (calming effect).
Dosis dewasa:
Untuk kejang sebesar 5-15 mg IV q5min, ulang prn (bila perlu); jangan melebihi 30 mg
dalam 8 jam.
Dosis anak:
Oral: 0,33 mg/kg berat badan PO saat terjadi demam; lanjutkan q8h sampai anak tidak
demam.
Rektal atau lewat dubur (dosis sediaan 2,5; 5; 10; 15; atau 20 mg/dosis):
2-5 tahun: 0.5 mg/kg berat badan PR
6-11 tahun: 0.3 mg/kg berat badan
Dapat diulang lewat dubur sekali setelah 4-12 jam jika diperlukan, jangan melebihi 20
mg/dosis.

2. Lorazepam
Mekanisme kerja:
Suatu hipnotik sedatif dengan onset efek yang singkat dan waktu paruh yang relatif lama.
Dengan meningkatkan kerja gamma-aminobutyric acid (GABA), suatu penghambat
neurotransmitter utama (major inhibitory neurotransmitter) di otak, menekan semua
tingkat sistem saraf pusat/SSP (central nervous system/CNS), termasuk pembentukan
limbic dan reticular. Penting untuk memonitor tekanan darah pasien setelah pemberian
obat.

Dosis dewasa:
Kondisi penyakit (disease state) tidak tampak pada orang dewasa.
Dosis dewasa 4 mg/dosis IV perlahan selama 2-5 menit dan ulangi dalam 10-15 menit
prn (bila perlu); dosis kumulatif 8 mg/hari dipertimbangkan maksimum 1-10 mg/hari
PO/IV/IM dibagi bid/tid.

Dosis anak:
Bayi dan anak (infants and children): 0,1 mg/kg berat badan IV perlahan selama 2-5
menit; ulangi prn (bila perlu) dalam 10-15 menit dengan dosis 0,05 mg/kg berat badan;
jangan melebihi 4 mg/dosis.
Remaja (adolescents): 0,07 mg/kg berat badan IV perlahan selama 2-5 menit dan ulangi
dalam 10-15 menit prn (bila perlu); jangan melebihi 4 mg/dosis.

Diagnosis Banding
1. Bacteremia dan sepsis pada anak
2. Infeksi epidural dan subdural
3. Epidural Hematoma
4. Fever (demam) pada anak
5. Meningitis
6. Meningitis dan encephalitis pada anak
7. Status epilepticus pada anak (pediatrics)

Apa yang harus dilakukan saat anak Anda kejang?
1. Tetap tenang dan tidak panik.
2. Longgarkan pakaian yang ketat terutama di sekitar leher.
3. Bila tidak sadar, posisikan anak terlentang dengan kepala
miring. Bersihkan muntahan atau lendir di mulut atau hidung.
Walaupun kemungkinan lidah tergigit, jangan memasukkan
sesuatu ke dalam mulut.
4. Ukurlah suhu, observasi, dan catatlah lama dan tentukanlah
bentuk kejang.
5. Tetap bersama anak selama kejang.
6. Berikan diazepam rektal (melalui dubur). Jangan diberikan
ketika kejang telah berhenti.
7. Bawalah secepatnya ke dokter atau rumah sakit terdekat bila
kejang berlangsung 5 menit atau lebih.

Kapan anak Anda harus dirawat atau dirujuk ke rumah sakit?
Penderita kejang demam perlu dirawat atau dirujuk ke rumah sakit pada (minimal salah
satu) kondisi berikut ini:
1. Kejang demam kompleks.
2. Hiperpireksia (suhu tubuh lebih dari 41,1 ºC).
3. Usia < 6 bulan.
4. Kejang demam pertama.
5. Dijumpai/disertai kelainan neurologis (persarafan).
Prognosis
Baik (benign).

Tahukah Anda?

* Sekitar 80-90% di antara seluruh kejang demam merupakan kejang demam sederhana.
* Kejang berulang adalah kejang dua kali atau lebih dalam waktu satu hari, anak sadar
kembali di antara dua bangkitan kejang.
* Kejang setelah demam karena vaksinasi sangat jarang terjadi.
* Kejang demam kompleks (complex febrile seizures) mengindikasikan berlangsungnya
proses penyakit yang serius, seperti: meningitis, abscess, atau encephalitis.
* Tidak ada data yang mendukung teori bahwa peningkatan suhu yang cepat merupakan
penyebab kejang demam.
* Konsumsi alkohol pada ibu (maternal alcohol intake) dan merokok selama hamil dapat
meningkatkan risiko terkena kejang demam hingga 2x lipat.
* Dianjurkan untuk memberikan diazepam oral atau rektal bila anak demam, terutama
setelah vaksinasi DPT atau MMR.

Referensi dan Bacaan yang Dianjurkan

1.Muid M. Kejang Demam. Dalam: Simposium Infeksi Pediatri Tropik dan Gawat
Darurat Anak: Tata Laksana Terkini Penyakit Tropis dan Gawat Darurat pada Anak.
Malang, 13 Agustus 2005. Halaman 98-100.
2.Pusponegoro HD, et.al. (ed.). Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. Ikatan Dokter
Anak Indonesia (IDAI). 2005. Halaman 209-211.
3.Tejani NR. Pediatrics, Febrile Seizures.
Article Last Updated: Mar 28, 2008. Cited from:

http://www.emedicine.com/emerg/topic376.htm

4.Unit Kerja Koordinasi Neurologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Konsensus
Penanganan Kejang Demam. 2005.
5.Teng D, Dayan P, Tyler S, et al. Risk of intracranial pathologic conditions requiring
emergency intervention after a first complex febrile seizure episode among children.
Pediatrics. Feb 2006;117(2):304-8.
6.American Academy of Pediatrics. Practice parameter: the neurodiagnostic evaluation
of the child with a first simple febrile seizure. American Academy of Pediatrics.
Provisional Committee on Quality Improvement, Subcommittee on Febrile Seizures.
Pediatrics. May 1996;97(5):769-72; discussion 773-5.
7.Kwong KL, Lam SY, Que TL, Wong SN. Influenza A and febrile seizures in
childhood. Pediatr Neurol. Dec 2006;35(6):395-9.
8.Aicardi J, ed. Febrile Convulsions in Epilepsy in Children. 2nd ed. New York: Raven
Press; 1994:253.
9.American Academy of Pediatrics. Practice parameter: long-term treatment of the child
with simple febrile seizures. American Academy of Pediatrics. Committee on Quality
Improvement, Subcommittee on Febrile Seizures. Pediatrics. Jun 1999;103(6 Pt 1):1307-
9.
10.Berg AT. Are febrile seizures provoked by a rapid rise in temperature?. Am J Dis
Child. Oct 1993;147(10):1101-3.
11.Berg AT, Shinnar S, Darefsky AS, et al. Predictors of recurrent febrile seizures. A
prospective cohort study. Arch Pediatr Adolesc Med. Apr 1997;151(4):371-8.
12.Bethune P, Gordon K, Dooley J, et al. Which child will have a febrile seizure?. Am J
Dis Child. Jan 1993;147(1):35-9.
13.Chung B, Wat LC, Wong V. Febrile seizures in southern Chinese children: incidence
and recurrence. Pediatr Neurol. Feb 2006;34(2):121-6.
14.Gatti S, Vezzani A, Bartfai T. Mechanisms of fever and febrile seizures: putative role
of the interleukin-1 system. In: Baram TZ, Shinnar S eds. Febrile Seizures. San Diego,
Ca: Academic Press; 2002:169-88.
15.Haspolat S, Mihci E, Coskun M, et al. Interleukin-1beta, tumor necrosis factor-alpha,
and nitrite levels in febrile seizures. J Child Neurol. Oct 2002;17(10):749-51.
16.Hauser WA. The prevalence and incidence of convulsive disorders in children.
Epilepsia. 1994;35 Suppl 2:S1-6.
17.Hirtz DG. Febrile seizures. Pediatr Rev. Jan 1997;18(1):5-8; quiz 9.
18.Joffe A, McCormick M, DeAngelis C. Which children with febrile seizures need
lumbar puncture? A decision analysis approach. Am J Dis Child. Dec
1983;137(12):1153-6.
19.Knudsen FU. Febrile seizures–treatment and outcome. Brain Dev. Nov-Dec
1996;18(6):438-49.
20.Rosman NP, Colton T, Labazzo J, et al. A controlled trial of diazepam administered
during febrile illnesses to prevent recurrence of febrile seizures. N Engl J Med. Jul 8
1993;329(2):79-84.
21.Stenklyft PH, Carmona M. Febrile seizures. Emerg Med Clin North Am. Nov
1994;12(4):989-99.
22.van Stuijvenberg M, Derksen-Lubsen G, Steyerberg EW, et al. Randomized,
controlled trial of ibuprofen syrup administered during febrile illnesses to prevent febrile
seizure recurrences. Pediatrics. Nov 1998;102(5):E51.
23.Waruiru C, Appleton R. Febrile seizures: an update. Arch Dis Child. Aug
2004;89(8):751-6.

Sumber Gambar

http://apps.uwhealth.org/health/adam/hie/2/19076.htm

 

 Tentang Penulis:

Dr Dito Anurogo Dito Anurogo adalah dokter yang sedang berkarya dan mengabdikan diri di neuroscience department, Brain and Circulation Institute of Indonesia (BCII), Surya University, Indonesia. Ia adalah dokter pehobi filateli-numismatik, fotografi, pecinta alam, pernah aktif di FLP (Forum Lingkar Pena) Semarang, Member of IFMSA (International Federation of Medical Students' Associations), dan konsultan kesehatan di NetSains.net dan detik.com. Ia mendapatkan sertifikasi CME dari berbagai universitas ... Selengkapnya »
 
  • Website Pribadi/Blog:
  • Tulisan di NetSains: 147 Tulisan
  Beri komentar atau taut balik artikel ini.
  • http://indaini@blogspot.com sutra

    terimakasih atas ulasan mengenai panas kejang , kebetulan anak saya terkena pada usia 23 bulan tanggal 26 sept 2009 ,sebelumnya dia kena flu dan batuk sudah diberi antibiotik , penurun panas dan obat lain oleh dokter ternyata panasnya masih tinggi dan berulang tiap 3-4 jam jadi ketika panasnya naik tak terkontrol karana baru dikasih obat sebelumnya.

  • raco

    anak saya juga baru kejang masuk ugd seloam hospital 3 hari. katanya dulu saya juga pernah kejang waktu masih kecil…jadi kalo melihat langsung mungkin panik juga yaaa….

  • buang hadi santoso

    mau nanya dok?
    anak saya umur 22 bln,berat badan 13 kg,panas naik turun sdh hampir 3 minggu.seminggu pertama panas dikasih obat blm sembuh2 di suruh opname.setiba di UGD anak saya sedikit kejang.masuk ICU 2 hari.hasil tes darah,lab & foto rontsen paru2 berkali2 bagus.dikasih obat2an,antibiotik,pasang infus.sudah 2 minggu di rumah sakit tapi panas naik turunnya kok gak hilang2 ya dok sekitar 37-38,5 C.jadi bingung?akhirnya saya bawa pulang saja mungkn dgn suasana dirumah anak saya perhatiannya bisa teralihkan.kasihan juga buat perkembangan mentalnya.sekarang saya dan dokter yang menangani anak saya masih menunggu hasil tes kultur darah.dan sampai sekarang sdh 2 hari keluar rumah sakit anak saya masih panasnya naik turun.