NetSains.com

Recent Comments


Powered by Disqus

25 Penulis Teraktif

  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • Foto anda tak tampak disini? Segera buat akun di Gravatar.com!
Netsains.Com on Facebook
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 suara, nilai: 4.00 ⁄ 5)
Loading ... Loading ...

Perhatian!
Artikel ini adalah artikel lama, diterbitkan lebih dari setahun yang lalu.
Mohon beritahu kami melalui komentar apabila artikel ini sudah tidak relevan lagi

Pertanian Organik di Jepang

Jepang dikenal sebagai negara paling maju di Asia. Namun tahukah anda, bahwa pertanian disana ternyata masih kuat nuansa ‘tradisional’nya?  Bagaimana itu? Mari kita simak selengkapnya!

Begitu kita berada di luar Tokyo, terjadilah anomali. Ini terjadi karena ternyata Negeri matahari terbit ini juga merupakan negeri para petani lokal/kecil. Di Fukuoka, kota terbesar nomor tujuh di Jepang, ladang padi yang damai terselip diantara rumah dan candi, dalam bayang-bayang pencakar langit yang hanya berjarak 10 mil.

Di iklim yang sangat kondusif ini, pertanian keluarga menanam buat dan sayuran dalam siklus tahunan, untuk memproduksi bahan pangan bagi kota berpenduduk 1,3 juta ini. Di daerah suburban, dimana pertanian lokal jauh lebih banyak, konsumen sering mendapatkan sayuran yang baru dipetik tadi pagi untuk makan malam. Di supermarket pada jantung kota Fukuoka, adalah umum untuk mendapatkan sayuran yang dipanen sehari sebelumnya.

Hasil pertanian segar

Jika anda menggigit tomat atau stroberi disini, maka efek dari kesegarannya akan segera terasa. Mereka sangat penuh cita rasa, sehingga tidak perlu dipersiapkan lebih lanjut lagi. Bahkan anak-anak menyukai sayuran, termasuk juga yang dianggap tidak enak seperti bayam atau kacang-kacangan.

Jepang memiliki istilah untuk hasrat terhadap makanan lokal dan segar: chisan, chishou, yang berarti, ‘produksi lokal, dan konsumsi lokal’.

Preservasi chisan-chisou pada salah satu negara yang paling terurbanisasi di dunia merupakan teladan yang baik, bahwa di negara lain yang terurbanisasi hal ini juga dapat diterapkan.

Dengan perkecualian Hokkaido, pulau Jepang yang paling utara dan paling rural, sebagian besar pertanian di Jepang adalah operasi skala kecil yang dijalankan oleh beberapa anggota keluarga. Hasilnya tidak hanya pada kesegaran makanan lokal, namun juga dedikasi untuk terhadap produk. Anggur dan peach, diantara buah lain, mereka lindungi dengan pelindung, sewaktu masih tumbuh, untuk melindungi mereka dari serangga dan gangguan lain. Tanah pun dipetakkan dengan baik, sehingga sayuran akan tumbuh dari dalam beberapa kaki. Dengan bantuan dari rumah kaca, hal ini membantu pasokan tanaman dari musim semi, panas, gugur, dan dingin. Sebagian besar pekerjaan dilakukan oleh tangan. Petani Jepang memproduksi semangka kotak, dari trik bonsai dengan membentuk semangka menjadi kubus sewaktu ia tumbuh, sehingga ia dapat dimasukkan kedalam kulkas. Ini menunjukkan dedikasi mereka terhadap pertanian.

Bantuan Pemerintah

Dalam era modern ini, generasi muda sudah mulai tidak tertarik atau mengapresiasi pertanian chisan chishou. Namun, pemerintah Jepang tidak tinggal diam. Mereka memberikan insentif-insentif, untuk mengakselerasi pertanian lokal. Di 20 tahun terakhir ini, pemerintah telah memfasilitasi pertanian lokal untuk memasuki pasar. Menjual tanah pertanian kepada kepentingan komersial, akan dipajaki sangat tinggi oleh pemerintah, sementara memberikan tanah tersebut ke anak untuk pertanian hanya dipajaki sangat minim. Pusat pertanian juga mengundang anak-anak sekolah untuk menanam dan memanen, untuk meningkatkan minat mereka. Pertanian kadang menjadi bagian dari kurikulum sekolah.

Minoru Yoshino dari Pusat Penelitian Pertanian Fukuoka menjabarkan peran pemerintah pada chisan-chishou dalam tiga hal. Makanan lokal yang segar adalah lebih sehat, dan rasa yang nikmat akan meningkatkan konsumsi sayuran. Sementara, pertanian lokal adalah lebih baik bagi kelestarian lingkungan, karena hanya memerlukan air dan pestisida lebih sedikit.

Diterjemahkan secara bebas dari http://www.livescience.com/health/060905_bad_farming.html

Sumber foto: http://genkijacs.com/images/

 

 Tentang Penulis:

Arli Aditya Parikesit Penulis adalah alumni program Phd bidang Bioinformatika dari Universitas Leipzig, Jerman. Ia bisa dihubungi di akun twitter: @arli_par . Membantu penelitian di Laboratorium Bioinformatika, FMIPA-UI pun masih dilakukannya juga. Penulis juga bekerja sebagai Dosen ilmu kependidikan di STAI Al-Hikmah di Cilandak, ... Selengkapnya »
 
  Beri komentar atau taut balik artikel ini.
  • hotma siahaan

    Yah…saya juga punya pimpi bahwa pertanian organik dan hasilnya akan menjadi idaman setiap
    orang di Indonesia.Masalahnya hasil organik tidak dihargai lebih, padahal prosesnya sangat
    membutuhkan dedikasi tinggi, tenaga dan waktu.

  • hotma siahaan

    Untuk kemajuan pertanian dan petani organik
    mari kita cari bagaimana saling mendukung khusus
    nya dalam pendistribusian dan pemasarannya.

  • singgih

    jika jepang bisa, Indonesia harus lebih bisa.

  • Abubakar

    mari kita mulai dari pertanian yang kecil yaitu memanfaatkan pekarangan rumah kita untuk di tanami tanaman apa saja sesuai kebutuhan kita dan kapasitas lahan…….seperti sayuran dan buah – buahan.

  • Dyani_nice

    heem, andai Indonesia bisa lebih maju pertaniannya daripada Jepang, apa yang akan terjadi yah??????

    • Faisal_ardyanto

      jangan cm ber andai andi,,,ayo qt mulai sekarang,,,

  • Dache_choconut

    ,,ayo,,,,,
    ,pertanian indonesia maju terus,,
    ,seperti jepang,

    ,Ganbate Kudasai,

  • sarang wereng

    yeh..bgs…. tapi jgn cm bersorak sorak bergembira aja,,,cpt kerjakan biar ada buktinya,,,,itu bedanya orang jepang yang lbh banayak kerja dari pa da cuma ngomong tok dan ber andai andai

  • Deriafmagic

    Wow! Good Job Japan..! I wish that Indonesia can be like Japan!

  • senu

    saya baru dari jepang menjadi seorang kensusei, belajar dan merasakan menjadi petani jepang…. benar benar luar biasa. kapan etos kerja petani indonesia seperti petani jepang yaaa??????? 

  • Guest

    bagaimana mau maju kayak jepang dana anggaran ratusan triliun aja gak terserap katanya, mau ambil ada jaringan laba2nya aduhai ngeri deh, kok bisa ya……….. apa yg diatas buta tuli.

  • Memint

    gimana mau kayak jepang sedangkan dana anggaran ratusan triliun aja tidak terserap katanya, mengurus dana aja ada ranjaunya plus ada jaringan laba2, apa yang diatas buta tuli,kok bisa ya……….., tolooooooooooooooooooooong ada orang yg tidak cinta pd bangsa.

  • http://pulse.yahoo.com/_Y7N6RKPMJ2WNOX7RJWBEL47NYU Abdi

    kalu aku sih mau jadi petani maju, asalkan ada dana yang dipakai untuk modal pertanian seperti pembuatan gren haus seperti di negara Jepang. gimana negara akan sua sembada padi jika petani dibiarka meneriama KUR tetapi tetap dibebani untuk segera mengembalikan padahal belum tentu petani selalu hasil, karena produk petani selalu dihargai sanggaaaaaaaaattttttttt murah. kapan majunya negara Indonesia

  • musafir ilmi

    mari pemuda kita bertani secara pintar… … .kibarkan pertanian indonesia di kancah internasional….

  • http://www.potretpertanianku.com/ potret pertanian

    sungguh luar biasa, kapan indonesia juga seperti itu ya,

  • ashef

    ijin simak ya pak :)