NetSains.com

Recent Comments


Powered by Disqus

25 Penulis Teraktif

  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • Foto anda tak tampak disini? Segera buat akun di Gravatar.com!
Netsains.Com on Facebook
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 suara, nilai: 3.00 ⁄ 5)
Loading ... Loading ...

Perhatian!
Artikel ini adalah artikel lama, diterbitkan lebih dari setahun yang lalu.
Mohon beritahu kami melalui komentar apabila artikel ini sudah tidak relevan lagi

Saya Harus ke Psikolog atau Psikiater?

Psychology ImageNetsains.Com - Banyak sekali masalah yang terjadi dalam hidup kita yang terkadang membuat kita bingung mencari solusi atau jalan keluarnya. Terlebih dengan permasalahan yang menyangkut dimensi psikologis, sebab aspek ini tidak nampak jelas. Seseorang cenderung menyimpan permasalahan ini, tidak ditemukan jalan keluar, akibatnya permasalahan bertambah parah. Agar tidak semakin berkelanjutan, lalu kemana kita harus mencari bantuan jika menghadapi permasalahan psikologis seperti ini? Ke psikolog, ataukah psikiater??

Jawabannya tergantung permasalahannya. Dua disiplin ilmu yang sama-sama mempelajari dimensi psikologis seseorang, namun pendekatan yang digunakan berbeda. Terkadang sering timbul tumpang tindih antara keduanya. Sebelum kita bahas lebih lanjut, kita akan membedakan dahulu antara keduanya. Psikiater, adalah dokter umum, yang mengambil pendidikan spesialis kejiwaan. Latar belakang pendidikannya adalah dokter yang banyak mempelajari aspek fisik, kemudian ia mempelajari aspek kejiwaan pada pendidikan spesialis. Sedangkan Psikolog adalah mereka yang menempuh pendidikan psikologi selama 8 semester, hingga mendapat gelar sarjana psikologi, kemudian mengambil pendidikan Profesi atau Magister Profesi Psikologi guna mendapatkan gelar Psikolog dan izin praktek. Dari awal, Psikolog sudah belajar mengenai dimensi psikologis seseorang, berbeda dengan psikiater yang banyak belajar dimesi fisik. Inilah beda antara keduanya. Sehingga ketika kita mengalami permasalahan yang berkaitan dengan dimensi psikologis, seperti putus pacar, konflik dengan pasangan, perselingkuhan, anak bermasalah, remaja yang mengalami hambatan dalam penyesuaian atau pengembangan diri, maka datanglah ke Psikolog untuk membantu Anda menemukan problem solving atas masalah Anda.

Tetapi ketika Anda menemukan orang di sekitar Anda dengan gangguan kejiwaan berat seperti psikosa, atau istilah awamnya kita biasa sebut “orang gila” yang sering tertawa sendiri, keluyuran tanpa tujuan, pakaian compang-camping, ketika diajak berbicara tidak nyambung, maka pada Psikiaterlah mereka harus dibawa.  Sebab jika telah mencapai kondisi yang demikian, aspek fisik juga telah mengalami gangguan yakni terjadinya ketidakseimbangan cairan kimia di otak yang biasa disebut neurotransmiter (Nevid, 2005). Ada beberapa neorotransmiter di otak yang mempengaruhi kondisi psikologis seseorang. Misalnya terlalu banyak jumlah Dopamin dalam otak, menyebabkan kontak realitanya terganggu, adanya halusinasi, suka bicara sendiri, yang kadang sering kita sebut “gila” atau istilah psikologisnya schizofrenia. Guna menormalkan kembali fungsi ini, maka seseorang butuh obat anti psikotik yang bekerja “memblok” atau menghambat kerja dopamin, sehingga halusinasi berkurang, dan mulai ada kontak realita. Obat ini hanya psikiater yang boleh memberikan. Ketika halusinasi sudah berkurang atau bahkan tidak muncul, diajak berbicara mulai bisa nyambung, barulah treatmen psikologis seperti psikoterapi atau konseling, juga penggalian riwayat gangguan secara lebih mendalam dapat dilakukan oleh psikolog.

Untuk memudahkan lagi membedakan antara keduanya, kita ambil contoh ketika seseorang datang dengan keluhan tidak bisa tidur di malam harinya. Ketika ia datang ke Psikiater, maka ia akan mendapatkan obat tidur guna mengatasi gangguannya. Tetapi, ketika ia datang ke Psikolog, maka akan digali sebab musabab mengapa ia tidak dapat tidur, hingga ditemukan akar permasalahannya mengapa seseorang tidak dapat tidur. Apakah murni dimensi fisik, ataukan ada faktor psikologis. Jika murni faktor psikologis, maka treatmen psikologis lah yang akan diberikan. Misalnya, konseling, katarsis, atau jenis psikoterapi lain sesuai dengan permasalahan klien.

Masih bingung harus ke Psikolog atau Psikiater?? Tidak usah bingung dan khawatir. Anda dapat merasakan yang dominan Anda keluhkan saat itu. Jika psikologis, maka datanglah ke psikolog. Jika Anda rasa ada dimensi fisik yang menyertai keluhan Anda, maka datanglah ke dokter atau psikiater. Anda tidak perlu khawatir akan salah tempat, sebab jika mereka para psikolog, dokter, atau psikiater memegang prinsip kode etik maka mereka akan merujuk Anda jika tidak sesuai dengan disiplin ilmu mereka. Tidak asal memberikan terapi atau penanganan, tetapi disesuaikan dengan keahliannya. Misalkan saya sebagai psikolog, ada klien yang datang dan ternyata saya curiga ada dimensi fisik yang menyertai keluhannya. Tidak mungkin saya akan menutup mata dan diam saja lalu saya terapi apa adanya, tetapi saya pasti akan rujuk untuk mendapatkan pemeriksaan fisik dahulu ke dokter umum, psikiater, neurolog, internist, atau dokter yang ahli pada bidangnya sesuai dengan keluhan klien. Begitu juga sebaliknya, saya pun tak jarang menerima pasien rujukan dari dokter yang memang sumber keluhan fisik mereka adalah psikologis. Berdasar hasil cek laborat, bersih tidak ada yang terganggu sama sekali, namun si pasien mengeluhkan adanya sakit yang luar biasa pada bagian tubuh tertentu. Setelah menjalani beberapa sesi psikoterapi maka keluhan si pasien perlahan mulai berkurang. Memang butuh kehati-hatian dalam melangkah dan menetukan pilihan, tetapi bukan berarti dengan kekhawatiran salah menentukan pilihan, Anda menjadi tidak segera mendapatkan penanganan, khususnya masalah yang berkaitan dengan dimensi psikologis Anda. Sebaiknya tidak terlalu memendam banyak masalah, sebab hal ini juga akan menimbulkan masalah baru bagi Anda di kemudian hari. Mengapa demikian, insya’allah nanti akan saya bahas di artikel lain. Minimal berceritalah kepada orang terdekat Anda, teman, sahabat, anak, pasangan, atau orang-orang yang Anda percaya agar beban emosional Anda tidak terlalu berat. Semoga bermanfaat.. (ADB)

Referensi :

Nevid, J. S., Rathus, S. A., & Green, E. B. (2005). Psikologi Abnormal (Terjemahan). Jakarta : Erlangga.

foto:/departments.weber.edu/

 

 Tentang Penulis:

Adib Asrori Psikolog & Akupunkturis, pernah mengajar pada Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang. Sekarang bergabung dengan Sadar Hati Foundation, sebuah LSM yang mempunyai tujuan utama mereduksi angka penyebaran HIV/AIDS, khususnya akibat penggunaan Narkoba suntik. Menyelesaikan pendidikan sebagai Psikolog, pada Fakultas Psikologi UGM. Saat ini sedang mengembangkan teknik pengobatan Timur dengan pendekatan Psikologi. Cat hobies & sekarang mulai beralih ke hobies KOI. Bagi yang ... Selengkapnya »
 
  Beri komentar atau taut balik artikel ini.
  • arin

    apa ada dokter psikolog yang melayani pasien via online/email , saya butuh skali konsultasi, tapi diwilayah saya , saya kurang tau tempat konsultasinya. jika ada yang tahu mohon beritahu saya , trimakasih sebelumnya..

  • siti

    Ada ga spikolog yg gratis atw biaya trjangkau?

    • YoPs

      Coba ke psukesmas atau rumah sakit pemerintahan yang para pelayan kesehatannya telah mendapatkan gaji dari pemerintah