NetSains.com

Recent Comments


Powered by Disqus

25 Penulis Teraktif

  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • Foto anda tak tampak disini? Segera buat akun di Gravatar.com!
Netsains.Com on Facebook
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 suara, nilai: 5.00 ⁄ 5)
Loading ... Loading ...

Perhatian!
Artikel ini adalah artikel lama, diterbitkan lebih dari setahun yang lalu.
Mohon beritahu kami melalui komentar apabila artikel ini sudah tidak relevan lagi

Terapi yang Efektif untuk Anak dengan Asperger Syndrome?

newtheoriesofautismaspergersyndromeTanya:

Anak saya berusia 4,7 tahun, mengidap Asperger Syndrome. Yang saya upayakan untuk anak saya saat ini adalah terapi terpadu di rumah oleh seorang terapis dan untuk sosialisasinya, ia tetap bersekolah. Ini semua baru saja saya upayakan selama 2 minggu, mengingat diagnosis dari dokter juga baru 2 minggu.

Alhamdulillah, anak saya menurut dokter sangat cerdas. Yang ingin saya tanyakan, terapi seperti apakah yang dibutuhkan anak saya? Mengingat kami hidup di kota kecil di Jawa Timur, jadi kalau berobat harus pergi ke kota besar. Apakah penderita seperti itu bisa disembuhkan dengan obat-obatan? Apakah anak saya nantinya bisa tumbuh seperti anak-anak normal lainnya? Terimakasih. (Heni Lestari)

Jawab:

Dear Ibu Heni Lestari,

Sindrom atau gangguan Asperger pertama kali digambarkan oleh Hans Asperger pada tahun 1944. Dahulunya penyakit ini disebut “autistic psychopathy”. Penyebab pastinya belum diketahui, namun diduga berhubungan dengan kerusakan/kelemahan (impairments) pada hubungan antara amigdala dengan struktur di otak. Pada beberapa kasus, anak dengan gangguan Asperger memiliki problem/permasalahan di periode prenatal (sebelum ibu melahirkan) dan neonatal (bulan-bulan pertama setelah ibu melahirkan), serta selama proses kelahirannya.

Penatalaksanaan

Sebelumnya perlu diketahui, terapi pada penderita sindrom Asperger terutama ditujukan untuk meningkatkan kemampuan bersosialisasi dan berkomunikasi, baik komunikasi verbal maupun non verbal.

A. Strategi Umum untuk Anak dengan Gangguan Asperger

1. Temukanlah bakat, hobi, minat, kemampuan, atau keterampilan yang terpendam di dalam diri anak, dan kembangkanlah hingga optimal dan maksimal.

2. Berikanlah guru atau pembimbing terbaik untuknya. Luangkanlah waktu untuk berinteraksi bersamanya setiap hari.

3. Berilah mereka apresiasi dan dukungan yang tulus dan sepenuh hati.

4. Jangan pernah melukai hati mereka dengan mengejek hasil karya atau kemampuan mereka meski hanya sekali.

5. Jangan pernah memotivasi atau mengapresiasi mereka dengan kata-kata bernada hinaan, cacian, ejekan, atau kata-kata negatif lainnya.

B. Strategi Sosialisasi Anak dengan Gangguan Asperger di Sekolah dan Lingkungan-Pergaulan Sosial

1. Ajarilah anak untuk mau berinteraksi, bergaul, bermain dengan anak sebaya atau seusianya. Libatkan anak di dalam klub bermain, sering diajak di dalam forum diskusi/debat. Bila perlu, orang tua dapat mengajak teman bermain (yang seusia) anaknya untuk mau diajak bermain ke rumah.

2. Buatlah jadwal belajar (di sekolah/rumah) yang tidak kaku, tetap dan tidak sering diubah-ubah, agar tidak membingungkan anak.

3. Idealnya, anak itu dibimbing oleh guru yang sama atau yang benar-benar telah akrab, tidak berganti-ganti guru.

4. Guru dan orang tua hendaknya ikut memilihkan teman bergaul dan bermain yang cocok untuknya.

C. Strategi Berkomunikasi dan Berbahasa untuk Anak dengan Gangguan/Sindrom Asperger

1. Ajarilah anak untuk mengingat frase tertentu, misalnya untuk membuka percakapan, latihlah mengucapkan, “Apa kabar?” atau, “Selamat pagi!”

2. Latihlah anak untuk berani bertanya apapun, trmasuk tentang instruksi yang membingungkan agar diulangi dengan sederhana, jelas, dan tertulis.

3. Ajarilah anak untuk berani mengatakan atau mengakui jika mereka tidak mengetahui jawabannya atau belum memahami sesuatu.

4. Ajarilah anak secara bertahap dan perlahan namun jelas dan mendetail; tentang gaya bahasa, metafora, perumpamaan, peribahasa, bahasa isyarat, dan interpretasi lainnya yang kompleks dan rumit.

5. Berhentilah sejenak bila Anda menginstruksikan serentetan tugas. Misalnya: ambillah buku…..duduklah disini…..tulislah “mama”…..

6. Latihlah dan biasakanlah anak untuk menahan diri dari menyurakan setiap ide, pikiran, atau niatnya.

7. Bermain peran (role-playing) dapat membantu anak dengan gangguan Asperger untuk memahami perspektif, sudut pandang, paradigma, pikiran, dan perasaan orang lain. Latihlah dan biasakanlah anak untuk berhenti sejenak dan berpikir bagaimana perasaan orang lain sebelum sang anak bertindak dan berbicara.

8. Beberapa anak dengan gangguan Asperger memiliki kemampuan berpikir visual yang bagus. Mereka dapat dilatih untuk memvisualisasikan ide atau pikiran mereka dengan (dibantu) gambar, diagram, simbol, atau analog visual lainnya.

9. Dianjurkan pula untuk melatih atau membiasakan anak untuk menggambarkan atau menuliskan apa yang telah dilihat, diingat, dialami, atau apa yang diinginkannya.

Beberapa terapi yang juga bermanfaat untuk anak dengan gangguan Asperger, misalnya:

* Pelatihan keterampilan sosial dengan “role modeling” dan “role playing” dapat membantu pemulihan anak dengan gangguan Asperger.

* Latihan relaksasi (relaxation training)

Ini amat berguna untuk meredakan dan mengendalikan stres atau emosi penderita gangguan Asperger. Bentuknya dapat bermacam-macam, seperti: meditasi, yoga, kundalini, senam/olahraga pernafasan, berdoa, berzikir, dsb. Hal ini tentunya memerlukan lingkungan yang tenang, nyaman, bebas dari polusi (udara, suara, dsb), peralatan tertentu, seperti: musik alam (suara air terjun, gelombang air laut, kicau burung, dsb), kepasrahan yang tinggi, pikiran yang tenang, dan posisi yang nyaman (sebisa mungkin duduk, jangan berbaring, dan jangan telentang). Relaksasi ini sebaiknya rutin dilakukan selama 10-20 menit, 2x sehari, pagi hari sebelum sarapan dan sore hari sebelum makan malam.

* Adapun diet yang dianjurkan untuk orang dengan gangguan Asperger adalah diet rendah kolesterol dan rendah LDL. Hal ini berdasarkan hasil penelitian Dziobek I, Gold SM, Wolf OT, Convit A. (2007) yang melaporkan peningkatan kolesterol total dan LDL (low-density lipoprotein) pada orang dengan gangguan Asperger. Berkonsultasilah dengan ahli gizi atau pakar diet di dalam memilih menu yang tepat untuk anak Anda.

* Obat-obatan

Terapi obat hanya boleh diberikan oleh dokter. Biasanya, dokter akan memberikan obat dari golongan antipsikotik, SSRI (selective serotonin reuptake inhibitors), neuroleptik atipikal, clonidine, atau naltrexone sesuai indikasi.

Sebagai informasi tambahan, intervensi farmakologis (obat-obatan) biasanya digunakan untuk mengobati berbagai gangguan penyerta (comorbid disorders), seperti: masalah pemusatan perhatian, gangguan mood, dysthymia, gangguan bipolar, dan gangguan obsessive-compulsive.

* Konsultasi

Untuk mengevaluasi terapi, diperlukan juga berkonsultasi dengan berbagai ahli, seperti: dokter spesialis saraf, dokter spesialis THT (otolaryngologist), audiologis, “speech pathologist”, terapis fisik dan okupasi.

* Bimbingan (Konseling) Karir dan Orientasi Kerja

Orang dengan gangguan Asperger paling cocok bekerja dengan bantuan teknologi, terutama internet. Ilmu komputer, teknik, ilmu alam juga merupakan pilihan karir yang tepat. Pada saat wawancara (job interviews), orang dengan gangguan Asperger memerlukan bantuan dan perhatian khusus, begitu pula di dalam bersikap dan beradaptasi di dalam lingkungan kerja yang baru.

* Saran dan Anjuran

Orang tua, guru, pendidik, pengasuh, atau siapapun yang memiliki anak atau saudara yang menderita gangguan Asperger atau sindrom Asperger, sebaiknya memperbanyak membaca literatur, buku, majalah anak, tabloid kesehatan, saling berdiskusi dan bertukar pikiran atau pengalaman, mengikuti seminar, atau browsing di internet untuk memperkaya wawasan tentang sindrom Asperger. Pemerintah bersama Dinas Kesehatan hendaknya juga memperbanyak brosur dan menggiatkan sosialisasi tentang sindrom Asperger hingga ke sekolah-sekolah, Puskesmas, Balai Pengobatan, dan masyarakat awam.

Dengan penatalaksanaan yang holistik, komprehensif, rutin, dan teratur, didukung oleh tim dari berbagai multidisiplin ilmu, dan diiringi dengan kekuatan doa dan Cinta Kasih, maka Insya Allah buah hati Anda dapat mandiri dalam menghadapi tantangan kehidupan dan menjadi kebanggaan negeri ini. Amin.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Salam SEHAT dan SUKSES selalu!!!

Dr. Dito Anurogo

Penemu Hematopsikiatri

Penulis Buku dan Ebooks

Konsultan Kesehatan www.netsains.com

foto:psychcentral.com

 

 Tentang Penulis:

Dr Dito Anurogo Dito Anurogo adalah dokter yang sedang berkarya dan mengabdikan diri di neuroscience department, Brain and Circulation Institute of Indonesia (BCII), Surya University, Indonesia. Ia adalah dokter pehobi filateli-numismatik, fotografi, pecinta alam, pernah aktif di FLP (Forum Lingkar Pena) Semarang, Member of IFMSA (International Federation of Medical Students' Associations), dan konsultan kesehatan di NetSains.net dan detik.com. Ia mendapatkan sertifikasi CME dari berbagai universitas ... Selengkapnya »
 
  • Website Pribadi/Blog:
  • Tulisan di NetSains: 147 Tulisan
  Beri komentar atau taut balik artikel ini.
  • silvia

    trimakasih artikel ini sangat bermanfaat.. maaf saya ingin bertanya apakah anak dgn penderita sa dpt di berikan susu? krn saya pernah membaca klo anak autis tdk boleh di beri susu.. mhn jawabnya trimakasih salam

  • Caecilia

    Apa yang ditulis semua itu benar,saya sudah menerapkan semuanya. Hasilnya…… anak saya (17 thn) sekarang sudah punya teman cukup banyak (dengan 7 sahabat)dan sekarang sudah kuliah di Fakultas Teknik Mesin & Dirgantara ITB (bersama dengan sahabat2nya). Akan tetapi bukan berarti semua sudah beres, karena saya masih merasakan perlu membimbing & tetap mengarahkan dia (tentunya dengan cara yang berbeda). Saya akan senang bila bisa sharing dengan teman-teman. Semoga artikel ini membantu rekan-rekan yang memiliki anak penyandang AS untuk mengoptimalkan mereka…..

    • Tiktik_susanti

      Dear Caeselia,
      Bagaimana kamu mendidik / apa tips untuk saya ?.. boleh tolong email saya ?.. thanks

    • Tiktik_susanti

      Dear Caeselia,
      Bagaimana kamu mendidik / apa tips untuk saya ?.. boleh tolong email saya ?.. thanks

  • dini

    anak saya 4 tahun, tidak bisa bermain dgn teman sebayanya. perbendaharaan kosakatanya bagus termasuk bahasa inggris dan sedikit mandarin. tapi kesulitan untuk mengekspresikan diri memakai kata2.
    suka menutup telinga bila mendengar bunyi2an tertentu yg bagi orang lain mrpk bunyi yg wajar.
    skrg masuk di tk, dan tetap belum tertarik untuk bermain dgn teman2nya.
    membaca blog ini menjadi tahu kalau mungkin anak saya AS.
    dimana sebaiknya saya melakukan pemeriksaan awal?

  • devi

    sayang sekali dokter Dito menyebut AS sebagai penyakit, apakah AS sungguh adalah penyakit?

  • Mutizar Makri

    Anak saya sekarang umurnya 3,3 tahun, dan baru 1 bulan ini menemui dokter, dan dokter memvonis bahwa anak saya AS, saya sedih dan takut,tapi saya yakin bahwa anak saya bisa normal dengan ikhtiar dan doa kami sekeluarga..ada salah satu kelebihannya..dia mudah hapal dengan nyanyian apapun, walopun kata2nya tidak semuanya diucapkan dengan benar tapi nadanya 100% benar, dia mudah sekali mengotak atik hp atau laptop walaupun baru dia lihat…kalau ada lagi artikel tentang AS, saya sangat senang sekali dan merasa tidak sendiri dalam menghadapi masalah ini. Terimakasih

  • Susan yolanda

    dokter, saya mempunyai anak dg AS usia 12 th, anak saya sdh pernah mengikuti terapi okupasi saat umur 9 th, kemudian berhenti selama 2 th karena faktor waktu dan jarak dari tempat terapi yg jauh sekali. Anak kami mengalami kendala dalam pergaulan di sekolah, dia tidak suka bergaul dg teman sekelasnya karena ada beberapa teman sekolahnya yg pernah mengganggunya shg persepsimya semua temannya nakal dan jahat. Karena memang dlm hal aktifitas olahraga gerakannya yg kaku, dia sering ditertawai jadinya dia marah, mau membalas ejekan dan tertawa temannya dia nggak bisa akhirnya dia menangis. Sampai saat ini bila dia bertengkar dg temannya atau pada situasi yg sulit dia selalu menangis. Dia tidak bisa membendung airmatanya karena hanya dg menangis dia dpt meluapkan emosinya. Selain itu dia gampang tersinggung dg sikap temannya, sehingga dia mudah marah. Apalagi bila dia diejek “anak autis”, dia marah kemudian menangis. Dokter bagaimana caranya utk menghentikan kebiasaannya yg gampang tersinggung dan mudah menangis ? Apa benar dg terapi role playing bisa membantu anank saya beradaptasi dg situasi dan lingkungan sekitarnya ? Terima kasih banyak atas nasehat dokter. Ibu Susan (surabaya)

  • http://pulse.yahoo.com/_4SO3WO4WV2RNQM7ULVGDMTXBSY peni

    Terima kasih dok untuk penejlasannya yang detil. sangat saya perlukan untuk anak saya

    salam

  • http://pulse.yahoo.com/_VWZZQRBW3XA2HYL2S3U626CMVY Roni

    Saya sedang mencari spesialis yang bisa mendiagnosa secara resmi Asperger di orang dewasa. Apakah ada saran?

    mohon di email infonya ke:

    baron_batavia (at) yahoo (dot) com

    terima kasih.

  • Audy Rupang

    Selamat Siang Dokter, Saya Mahasiswa S2Profesi Psikologi, saat ini sedang mengambil Thesis tentang anak dengan sindrom Asperger dengan menggunakan teknik ABA (Applied Behavior Analysis) . klien saya berusia 13 tahun .  Apakah Dokter ada saran dengan penggunaan teknik ABA ini? Mohon Referensi Buku atau literatur yang berkaitan dengan Sindrom Asperger, kiranya dokter dpt menghubungi sy melalui

    email: audyrupang@gmail.com .

    Atas perhatian dan waktunya sy ucapkan Terima kasih.

  • http://www.facebook.com/people/Abdul-Aziz/100002953768898 Abdul Aziz

    sering sekali autisme,asperger syndrome, rett sindrome, dsb yg termasuk pada PDD atau ABK disandingkan dengan kata “penderita” padahal hingga saat ini kusemua kelainan tersebut belum dikategorikan sebagai penyakit.apabila tidak termasuk kategori penyakit maka tidaklah tepat apabila disandingkan dengan kata “penderita” tapi lebih tepat disandingkan dengan kata “penyandang”.
    contoh penggunaan: penderita HIV, penderita TBC. penyandang tunanetra, penyandang tunarungu, penyandang autisme dan seterusnya.