Recent Comments


Powered by Disqus

25 Penulis Teraktif

  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • Foto anda tak tampak disini? Segera buat akun di Gravatar.com!
Netsains.Com on Facebook

Disini juga numpang iklan, yah. Buat biaya server :)

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (Belum ada rating)
Loading ... Loading ...

Perhatian!
Artikel ini adalah artikel lama, diterbitkan lebih dari setahun yang lalu.
Mohon beritahu kami melalui komentar apabila artikel ini sudah tidak relevan lagi

Makna Kemerdekaan RI Bagi Para Ilmuwan

Hari kemerdekaan baru saja berlalu, dan sedikit banyak hiruk pikuk perayaannya masih terasa diantara kita. Hiruk pikuk pesta, perlombaan, dan sarasehan yang berhubungan dengan hari ‘suci’ itu telah kita rasakan, dan selalu mengingatkan kita lagi akan betapa pentingnya 17 Agustus. Hari kemerdekaan juga mengingatkan kita, betapa luar biasanya pengorbanan pendahulu kita untuk mempertahankan kemerdekaan kita terhadap ancaman imperialisme asing. Tak terhitung sekian banyak pejuang kemerdekaan kita, yang merenggang nyawa supaya kita semua dapat menikmati buah kemerdekaan sekarang ini. Namun, akhirnya di tahun 2010 ini, kita mendapatkan tantangan baru yang berbeda dengan yang dihadapi pendahulu kita di angkatan ’45. Korupsi, kemiskinan, ketidak-adilan, krisis ekonomi, dll seakan menjadi bagian dari keseharian kita. Ilmuwan, yang merupakan salah satu bagian paling terdidik di masyarakat kita, dipanggil untuk juga terlibat dalam urun rembuk menghadapi semua problematika itu. Berbagai krisis yang harus diatasi, adalah bagian dari dialektika kita dalam mengisi kemerdekaan. Bagaimanakan para ilmuwan bisa mengisi kemerdekaan?

Ilmu pengetahuan tidaklah ‘bebas-nilai’

August Comte, bapak ilmu sosiologi dari Perancis, percaya bahwa sains haruslah mengaplikasikan ‘fisika sosial’. Maksud dari fisika sosial adalah, supaya ilmuwan yang meneliti suatu obyek, tidaklah boleh berempati dengan obyek penelitiannya tersebut. Hal ini seperti seorang biolog, yang meneropong bakteri di cawan petri. Dalam perspektif fisika sosial, peneliti tersebut (biolog), sama sekali tidak ada hubungan apapun (emosi dsb), dengan sang obyek (bakteri). Konsepsi ini, selain di ilmu alam, akhirnya diperluas ke ilmu sosial, dimana seorang sosiolog yg meneliti suatu masyarakat, dilarang berempati dengan mereka. Fisika sosial juga sering disebut sebagai paradigma positivistik. Namun, akhirnya fisika sosial dikritik habis oleh Karl Marx.
Marx, sang filusuf Jerman, dari kota Trier di Badden-Wuttemberg, percaya bahwa borjuasi ala fisika sosial tidak akan membawa perkembangan apapun. Fisika sosial rentan dengan praktek borjuasi, dimana sekelompok elit akhirnya mengeksploitasi bagian paling termarjinalkan dari masyarakat. Selain itu, fisika sosial juga membolehkan ilmuwan untuk tidak memperdulikan masyarakat yang termarginalkan. Hal mengizinkan cengkraman borjuasi elit untuk semakin mengeksploitasi kaum proletar, karena ilmuwannya sudah menjadi ‘jinak’ (docile). Persepektif Marxian sangat menentang hal tersebut, dan mengharapkan supaya ilmuwan lebih terlibat dalam memberdayakan kaum yang termarginalkan. Marxisme percaya, bawa ilmu pengetahuan tidaklah ‘bebas nilai’, namun ia haruslah bermanfaat bagi kebaikan masyarakat, termasuk kaum yang termarginalkan sekalipun. Tanpa harus menjadi seorang sosialis komunis, Bung Karno dan Bung Hatta membaca buku-buku Karl Marx dan Marxisme. Bapak bangsa kita tersebut percaya, bahwa kemerdekaan Indonesia adalah untuk kebaikan seluruh komponen bangsa, bukan hanya untuk segelintir ilmuwan atau segelintir elit.

Ilmuwan dalam mengisi kemerdekaan

Krisis yang menghinggapi bangsa kita sudah sangat multi-dimensi. Oleh karena itu, para ilmuwan seyogyanya juga berkontribusi dalam menghadapi krisis tersebut, sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing. Seorang peneliti biologi molekuler misalnya, dapat berkontribusi dalam mengembangkan drugs atau terapi untuk penyakit tropis. Seorang sosiolog dapat berkontribusi dalam menyelesaikan masalah sosial. Dan berbagai contoh lainnya. Namun berbeda dengan negara maju, misalnya Jerman. Di negara kita, egoisme sektoral masih sangat kuat. Seorang dokter, akan menganggap ilmunya lebih superior dibanding ilmu lain. Juga seorang kimiawan, akan anggap ilmunya paling berguna. Seorang politisi akan anggap ilmu politik paling berguna, dan seterusnya. Tentu saja, hal ini berbeda dengan Jerman misalnya, yang karena pendidikannya sudah sangat matang, sama sekali tidak menganak-emaskan ilmu satu terhadap yang lain. Ideologi sosial-demokrat telah menyebabkan semua ilmu harus memiliki ‘kodrat’ yang sama. Kondisi ini tentu berbedea dengan di negara kita. Oleh karena itu, langkah awal dalam mengisi kemerdekaan adalah menghancurkan egoisme sektoral tersebut. Publik telah lama dibingungkan oleh egoisme sektoral tersebut, sebab hal itu sama sekali tidak memberikan kontribusi apapun terhadap mereka. Bapak bangsa kita, apapun latar belakang keilmuwannya, bersatu-padu dalam memerangi imperialisme. Namun, imperialisme telah lama pergi, dan musuh baru telah datang. Mereka adalah kemiskinan, ketidak-adilan, korupsi, krisis ekonomi, dan lain-lain. Oleh karena itu, egoisme sektoral tersebut seharusnya disingkirkan, dan kita bersatu padu dalam menghadapi musuh bersama tersebut. Mengisi kemerdekaan, adalah saat dimana para ilmuwan dari berbagai bidang ilmu, bersatu dalam menghadapi krisis multi dimensi yang kita hadapi sekarang. Selamat Hari merdeka!

Sumber gambar: http://stat.kompasiana.com/files/2010/01/

 

 Tentang Penulis:

Arli Aditya Parikesit Penulis adalah alumni program Phd bidang Bioinformatika dari Universitas Leipzig, Jerman. Ia bisa dihubungi di akun twitter: @arli_par . Membantu penelitian di Laboratorium Bioinformatika, FMIPA-UI pun masih dilakukannya ... Selengkapnya »
 
  Beri komentar atau taut balik artikel ini.