(Lanjutan dari bagian 2)
ARLI: Sempat juga kita pernah mendiskusikan bagaimana menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan utama dalam hidup kita. Memang, kami merasa bahwa hal tersebut tidaklah mudah, karena keterbatasan manusiawi. Namun, bagaimakah akhirnya kita benar-benar bisa meneladani beliau, dalam konteks masa kini dan ke Indonesiaan?
BU UYUN: Disini dikatakan Nabi menjadi teladan, dan dikatakan tidaklah mudah. Bagaimana akhirnya bisa benar-benar bisa meneladani beliau dalam konteks masa kini dan keindonesiaan. Saya kira banyak hal yang bisa dicontoh dari Nabi. Memang kalau Nabi itu dikatakan manusia paling sempurna, sehingga layak dijadikan teladan bagi kita semua. Sekarang, bagaimana beliau dijadikan contoh, ya kita mencontoh dari hadist, yang berasal dari perilaku dan perkataan Nabi. Kalau dalam konteks Indonesia, ya bermacam-macam. Tadi nyambung yang pertama. Kenapa di Indonesia , terjadi banyak keruwetan. Karena kita biasa mengurus urusan orang lain. Sebenarnya dalam ajaran Nabi kan jelas, bahwa untuk berbuat kebaikan itu, mulai dari dirimu sendiri. Inikan menggambarkan kalau saya, menginterpretasi hadis ini, berarti kita mulai berbuat baik dari diri kita, bukan dengan mengurusi orang lain. Saya kira, ini dalam hal apapun. Di dalam keluarga demikian. Makanya tadi ada hubungannya dengan diceritakan Pak Farid tadi, yaitu bahwa dakwah itu mulailah dari diri sendiri. Jadi diri kita berubah dulu, baru kita bisa mengubah. Atau kalau masing-masing merubah dirinya, ya akan jadi baik, dibandingkan mengurusi orang lain. Itu salah satu.
Namun, salah satu perkataan Nabi, menurut saya itu sangat hebat sekali, ketika itu diterapkan oleh kaum muslimin, atau sebagian besar orang di Indonesia. Saya kira ajaran Nabi sangat banyak, dan juga ajaran tentang dalam hal apapun saya kira kita bisa mencontoh Nabi. Dalam mendidik anak, kemudian bermasyarakat, misalnya berdagang dan sebagainya. Saya kira dalam aspek itu bisa mencontoh Nabi. Kemudian ada hal-hal penting lagi. Saya tidak ingat, apakah ini dari hadist atau quran, yaitu perkataan ‘perbuatan dan perilaku engkau ya Muhammad yang paling baik yaitu kesabaran dan ketenangan’. Kayaknya dari Hadist. Jadi ada dua hal pada diri Engkau ya Muhammad, tentang perilaku dan tabiat yang paling baik di sisi Allah. Jadi perilaku yang paling baik pada diri Muhammad adalah kesabaran dan ketenangan. Saya kira kesabaran dan ketenangan ini, kalau kita bisa mencontoh Nabi dalam hal ini saja. Katakanlah tidak perlu yang lain, seperti Nabi bisa berdagang. Nah itu saja bisa jadi kunci pembuka untuk menyelesaikan persoalan. Rata-rata orang kan tidak bersabar dalam hal cita-cita, dalam berhubungan dengan orang lain, dan lain sebagainya. Ketika orang sabar dan tenang, itu saya kira orang itu pasti akan meraih sesuatu dengan hasil yang pasti lebih baik. Saya kira, untuk meraih urusan dunia pun, pasti akan baik juga, karena memang ajaran Rasul itu untuk kehidupan di dunia dan kebahagiaan di akherat. Jadi bukan berarti ajaran Nabi hanya untuk akhirat saja.
Saya kira banyak sekali ya. Dari dua hal , nanti ada lagi yang hal kejujuran, sampai Nabi diberi gelar Al-Amin, orang yang jujur. Kemudian, ketika Nabi ditanya nasihat seorang sahabat, hanya mengatakan ‘jangan marah’. Jadi artinya sesuatu problem atau masalah-masalah yang kita hadapi itu semuanya kita bisa mengacu pada ajaran Rasul. Apapun persoalannya. Saya kira kita bisa melihat dari situ, dari Nabi sendiri. Makanya dikatakan bahwa Nabi itu adalah Quran berjalan. Jadi ibaratnya kalau teksnya itu Quran , maka wujud nyatanya ada pada Nabi. Jadi tinggal mencontoh saja. Jadi saya kira itu perilaku Nabi itu sangat kontekstual dengan zaman apapun ya. Karena beliau itu diturunkan pada akhir jaman, dan setelah itu tidak ada Nabi lagi. Jadi ya sudah, seperti itu. Hadis juga mengatakan, kamu akan selamat dengan berpegang teguh pada dua hal,yaitu quran dan sunah nabi. Jadi ya orang diberi kunci akan dua hal itu. Jadi persoalan-persoalan di Indonesia itu kalo kita kembali lagi bukan mengkaji, tapi mengamalkan. Bukan mendiskusikan lagi, mendiskusikan kalo ahli agama kalo saya kira sudah banyak. Namun mengamalkan ajaran Nabi, itu pasti Indonesia akan baik. Itu tadi, mulai dari diri sendiri. Sabar, tenang, baik, dan banyak lagi. Pendidikan, bagaimana mengajarkan kebaikan. Ya kita mencontoh bagaimana Nabi mendidik. Saya kira itu.
PAK FARID:
Nabi Muhammad itu kalau saya lihat, semua aspek hidup yang dialami orang itu ada padanya. Dia yatim, orang yatim juga bisa lihat. Dia kaya. Usia 25 tahun ketika melamar Khadijah itu Nabi mas kawinnya sekitar 100 unta. Hitung saja kalo unta itu harganya satu 10 juta, maka kalo 100 itu adalah 1 milyar. Jadi Nabi itu kaya sekali pas melamar Khadijah. Khadijah itu janda kaya, namun Nabi pun juga kaya. Dia berdagang sebelumnya. Dia itu menikah, dia memimpin negara. Dia berkeluarga, berdagang, banyak sekali. Dan yang menarik, semua dilakukan dengan batas-batas wajar, tidak ajaib-ajaib. Biasa-biasa saja. Artinya bisa ditiru, Mukjizatnya kan bukan berupa kegaiban-kegaiban yang seperti Nabi sebelumnya, yang membelah laut. Susah kan meniru seperti itu menggunakan tongkat. Karena umatnya lain. Kalau kita ya Quran itu. Isinya bagus sekali, dan bisa kita tiru. Tapi juga sederhana. Begitu sederhananya, walau debatable. Saya lihat, pada jaman Nabi itu tidak banyak kajian-kajian. Kenapa? Karena banyak prakteknya daripada bicaranya. Tidak ada tafsir. Bukan karena semua dijawab Nabi, karena toh sahabat juga tidak bertanya. Namun karena banyak prakteknya. Sekarang ini terlalu banyak wacana.
Nabi sudah memberi contoh sederhana, tapi akhirnya itu begini. Jadi perilaku Nabi atau apapun yang berkait dengan ajaran Islam itu akhirnya nanti kembalinya itu kepada ketundukan atau pasrah ke Tuhan. Sudahlah, karena diri kita inilah juga fitrah2 ketuhanan. Kembali keTuhan dan seterusnya. Tapi, kalau keimanannya sudah ada disana, maka diskusi-diskusi itu tidak akan muncul. Tuhan itu seperti apa, kan sudah dijelaskan, bahwa kamu akan menemukan Tuhanmu, sesuai gambaranmu. Itukan berarti tidak perlu diskusi. Udah, jalankan saja. Iman itu apa, lalu dibahas. Ya susah. Lakukan saja. Seperti dibahas, cinta itu apa. Cinta ialah, ya susah. Namun pecinta, dengan yang jatuh cinta itu ndak usah dibahas itu ya sudah ngerti. Ya saya kira keislaman yang dicontohkan Nabi itu sederhana dan praktis. Cuma karena kita punya otak, lalu dipake, nanti ditambah lagi. Itukan sudah diperintahkan agama, kalau kita harus menggunakan otak. Itu ayat-ayat bertebar tentang menggunakan akal. Iya, namun arahnya tetap kepada keimanan itu. Artinya kalo sudah iman, ya arahnya ke perbaikan diri, bertebaranlah keatas bumi. Nabi bersabda, kan sunahku dan quran sebagai peninggalan. Itu artinya kan sederhana, bisa ditiru. Nabi kan sering menekankan kalau ‘saya ini manusia biasa’. Cuma kadang kita berlebihan. Kadang ada beribadah sampai habis-habisan, Nabi juga ngaak membolehkan. Dilarang juga berpuasa berat, sangking senangnya sama Tuhan. Ini juga tidak boleh. Jadi biasa saja lah. Nabi juga manusia biasa, dia tidak mau dikultus. Hal seperti itu kan masih dalam ranah-ranah normal yang bisa ditiru.
BU UYUN: Kita itu bisa mencontoh Nabi sampai 99% sifatnya, jadi hanya satu persen yang tidak bisa, karena berkaitan dengan kerasulan. Sehingga, masih banyak peluang untuk meneladani beliau, dan kunci-kunci hadis itu, kalau saya baca, sebenarnya sederhana. Seperti jangan marah, terus tadi, misalnya mendidik anak. Sebenarnya jelas sekali, misalnya jangan memaki, dan maafkan kesalahannya. Ya sudah, diikuti saja. Tapi orang sering berpikir, gimana ngajari anak saya. Ya berikan contoh. Seperti memaafkan kesalahan, terus tadi tidak boleh memaki. Ya tidak perlu ada konsep-konsep, seperti jangan ada kekerasan pada anak dan seterusnya.
Sebenarnya Nabi sudah memberikan konsep tersebut dengan jelas, seperti jangan memaki. Memaafkan kesalahan, membantu kesulitannya. Kan hal-hal seperti itu ternyata. Jika itu diterapkan dengan dasar hati iman, menurut saya, itu akan baik sekali. Kemudian kalo pedagang itu jujur. Ya sudah, orang ndak usah berpikir, misalnya kalo jujur misalnya ditipu atau kalah. Supaya menang harus sogok-sogokan. Nah itu di Indonesia modelnya seperti itu. Seolah kita tidak bisa berbuat jujur. Padahal itu kita yang membatasi diri kita. Membatasi diri kita untuk tidak berbuat jujur. Padahal Nabi sudah mencontohkan berbuat jujur. Namun, saya kira banyak ya, kebanyakan kita sudah terjebak. Misalnya, mencari kerja harus dengan menyogok. Seolah-olah sudah menjadi hal yang biasa, bahkan dianggap bukan kecurangan atau ketidak jujuran. Bahkan temennya anak saya itu, di Indo, semua kalo ulangan itu mencontek. Gimana itu. Jadi kita sulit untuk mengajarkan ke anak tokh. Lha gimana, dia bilang temenku mencontek semua. Nah inikan pertaruhannya berat. Seolah-olah kita tidak bisa berbuat jujur, karena sudah tertutup semua. Ya hal-hal seperti itu.
PAK FARID (melanjutkan):
Ada yang bertanya begini, bagaimana dengan perkawinan Nabi. Apakah bisa kita contoh beristri 9, poligami. Nah itu yang pertama, Nabi itu tidak pernah menikah kesembilannya secara berbarengan. Yang kedua, ini pendapat saya pribadi. Kalau menurut saya, kebesaran dia itu tidak hilang oleh perilaku poligaminya. Seperti saya melihat seorang Raja, itu punya selir banyak tidaklah menghilangkan kebesarannya. Apalagi Nabi. Monggo-monggo lah. Artinya tidak lalu membuat dia menjadi jelek.
BU UYUN (interupsi): Karen Amstrong saja (Catatan pewawancara: seorang orientalis dari Inggris, pengarang biografi Nabi Muhammad SAW) pernah bilang, kalo aku hidup di masa itu, maka aku mau diperistri oleh Nabi Muhammad. Orang itu akan empati kalo sudah melihat kebaikan Nabi.
PAK FARID (lanjut): Iya, kebaikannya menjadikan poligaminya tidak relevan lagi. Karen Amstrong yang non muslim pun itu kemudian belajar mengenai pribadi Nabi juga begitu. Karisma beliau sangat luar biasa. Tapi oke lah, orang kadang berpikir rasional. Mereka bisa berpendapat, lah itu orang yang terkena kharisma. Kalo tidak, bagaimana. Ya kalo ngaak, saya sebagai melihat Nabi, ya katakanlah itu bukan urusan saya Nabi itu mau menikah dengan berapapun. Tokh beliau tidak pernah menyuruh saya menikah banyak gitu kan. Juga tidak mengajarkan orang menikah banyak, tidak diwajibkan, juga tidak dianjurkan. Dianjurkan juga tidak, kenapa dipermasalahkan. Belum lagi itu hak prerogatif Nabi menikah segitu sampai sembilan. Jadi, jika bukan orang suka mencari-cari, maka kita tidak akan fokus dengan urusan itu. Maka, kita ikuti saja yang lain, yang jelas baik, yang sudah jelas tidak kontroversial. Nah, kalau yang itu sudah jelas, baru kita mencari-cari yang seperti itu (poligami). Jadi, saya kira lebih sehat sikap begitu.
Bersambung (to be continued)




