Netsains.Com – Indonesia pantas berbangga memiliki salah satu putera terbaiknya di bidang neurosains. Siapakah dia? Ya, dia adalah Irawan Satriotomo, M.D., Ph.D.
Pria kelahiran Semarang, 30 Juli 1968 ini begitu friendly, smart, handsome, dan modest. Penulis, yang pernah berjumpa langsung dengan dia di Semarang, merasakan bagaimana asyiknya berdiskusi dan berinteraksi dengan dia. Ibarat mata air pegunungan, penjelasan dia terasa sejuk, jernih, dan mengalir. Penulis merasa sangat beruntung karena berkesempatan mewawancarai dia.
Dia pernah menjadi Assistant Professor di Department Anatomy and Neurobiology, Kagawa University, Japan dan sekarang bekerja sebagai peneliti di Department Comparative Biosciences, University of Wisconsin, USA. Sebagai seorang ilmuwan di bidang neurosains, keahlian dia tentunya tidak dapat diragukan lagi, khususnya di bidang neurosains yang bertema: Neurodegeneration and Neuroplasticity in Central Nervous System, Neuronal-glial interaction and their molecular mechanisms, dan The role of stem cells in neurodegenerative disease.
Karya dan prestasi dia begitu banyak dan sungguh mengagumkan. Misalnya: meraih lima penghargaan bergengsi dan prestius tingkat Internasional, yaitu: Japanese Government Scholarships (Monbusho), Teaching assistant fellowship dari Kagawa Medical University, Research assistant fellowship dari Kagawa Medical University, Nankai grant, Travel grant [Japanese Government, Monbusho] yaitu: Presentation in Annual meeting of American Association for the Advancement of Science (AAAS) in Denver CO, Achievement for young scientist grant [Japanese Government, Monbusho].
Publikasi ilmiah dia lebih dari: 29 publikasi di jurnal ilmiah Internasional, lebih dari 20 presentasi di forum ilmiah Internasional, serta lebih dari lima kali memberikan invited talk/lectures (kuliah) di forum Internasional dan nasional. Saat ini dia menjadi editorial board di Journal of Behavioral and Brain Sciences and invited peer-reviewer untuk berbagai jurnal ilmiah Internasional lain seperti: Neuroscience, Brain Research Review, Brain Research, Neuroscience Research, Neuroscience Letter, Brain Research Bulletin.
Dia pernah membimbing mahasiswa S3 (PhD program dan Postdocs) antara lain Dr. Daniel Gonzales (1999 – 2002) yang saat ini menjadi post-doctoral di Karolinska Institute, Sweden, Dr. Takanobu Sakurai (2000 – 2002) menjadi menjadi scientist di Taisho Pharma, Jepang dan Dr. Jiro Terada (2008 – 2011) yang sekarang menjadi Assistant Professor di Chiba University, Jepang
Mendaki Langit Meraih Bintang
DITO: Apakah menjadi dokter merupakan cita-cita Anda sejak kecil, jika ya, mengapa (memilih profesi ini)? Jika bukan, lalu apakah cita-cita Anda sejak kecil?
Jawab:
Sebenarnya saya bercita-cita menjadi pilot sejak kecil. Mungkin karena pengaruh om kami yang bekerja di AURI saat itu, akan tetapi dia tidak bisa menjadi pilot dan bekerja di bagian tehnik. Saya sangat ingin menjadi ”test pilot”, yaitu seseorang yang menerbangkan dan menguji pesawat udara atau pesawat tempur yang baru saja dibuat. Setelah lulus dari SMAN VIII Jakarta, saya mendaftar di AKABRI AU, akan tetapi pada ujian akhir pantohir saya gagal. Saya sangat kecewa waktu itu.
Oleh Om, saya disarankan untuk mendaftar di sekolah penerbangan Curug. Saya mengikuti semua ujian yang diadakan oleh Curug dan termasuk salah satu yang diterima diantara ribuan peserta. Hanya 30 siswa calon pilot yang terima setiap tahunnya. Akan tetapi datang surat pemberitahuan jika saya diterima di FK UGM. Orang tua saya, terutama ibu, meminta saya untuk masuk fakultas kedokteran karena kalau jadi pilot …takut pesawatnya jatuh …ha..ha..ha. Diantara keluarga kami hanya ada satu orang yang menjadi dokter, pakde kami. Oleh karena itu dia meminta saya untuk menjadi dokter….mungkin agar mengangkat ”martabat” keluarga dan keluarga besar… saya tidak tahu…tetapi saya sekarang bersyukur memilih profesi di dunia medik…I am not regret becoming a doctor..
DITO: Ada tantangan atau tentangan dari keluarga, saat Anda memutuskan untuk menjadi/memilih profesi dokter? Jika ada, dari siapa (saja)?
Jawab:
Tidak ada tentangan dari keluarga, malah mereka yang mendorong saya masuk fakultas kedoketeran. Ya..akhirnya saya bilang pada panitia penerima di Curug jika saya memutuskan untuk masuk ke FK UGM. Dan pada tahun tahun awal kuliah saya di FK UGM saya kerap mengeluarkan air mata jika melihat pesawat terbang. Jiwa muda saya agak berontak dan lebih memilih aktif di gelanggang mahasiswa dibandingkan belajar. Saya tetap mengikuti kuliah dengan aktif, akan tetapi saya jarang belajar kembali sepulang kuliah karena aktif di organisasi kemahasiswaan . Saya hanya belajar pas mau ujian….wah contoh ini tidak boleh ditiru lho… Walaupun demikian saya merasa pengalaman berorganisasi dan interaksi selama mahasiswa banyak membantu karir saya yang sekarang ini.
DITO: Mengapa Anda tertarik untuk memilih bidang neurosains?
Jawab:
Mungkin karena saya menyukai hal yang ”menantang” dan tidak suka hal yang bersifat ”status quo”. Selama ini dunia kedokteran terutama penyakit-penyakit syaraf degeneratif dianggap penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Hal ini pula yang membuat dokter dan penderita pasrah apa adanya jika mendapatkan penyakit tersebut. Dalam islam, our prophet Muhammad SAW says ”Seek medical treatment, for God has not created an illness without creating a cure for it” …bagi saya ini adalah ”hope”…..harapan, tetapi juga ”challenge” ….tantangan untuk para dokter dan ilmuwan.
Di sini diperlukan para ahli yang dapat menyelesaikan masalah tersebut dengan menjembatani interdisiplin ilmu yang berkaitan dengan syaraf dan munculah bidang Neurosains ini. Empatbelas tahun lalu, saat pertama kali saya belajar di Kagawa Medical University untuk mengambil S3 di bidang neurobiology atau neuroscience, bidang ini masih sedikit yang meminati akan tetapi kini… wah luar biasa sekali perkembangan neurosains… dan menjadi salah satu multidiciplinary subjects yang sangat di minati oleh banyak mahasiswa S3 dan ilmuwan… serta tidak melulu dikuasai oleh orang kedokteran.
Banyak program neurosains di perguruan tinggi di North America dan Europé yang dibuat, seperti NTP (Neuroscience Training Program).. Makin pesatnya perkembangan ilmu ini menyebabkan grants atau dana penelitian untuk bidang neurosains menjadi semakin kompetitif… Journal dengan impact factor (faktor impak yang menunjukan kualitas journal tersebut- red) yang baik/tinggi makin selektif memilih manuscripts (naskah)…
Sayang sekali bidang neurosains di Indonesia dan beberapa developing countries di Asia belum banyak berkembang … Hal ini mungkin disebabkan karena penyakit infeksi-menular, higiene dan sanitasi, serta kematian ibu dan anak masih menjadi fokus utama bagi departemen kesehatan di negara tersebut. Akan tetapi jika kita melihat masalah penyakit di kota-kota besar… penyakit degeneratif sudah menjadi masalah utama…seperti stroke….kecelakan kendaraan bermotor yang menyebabkan kecacatan (spinal cord injury), alzheimer’s, belum lagi penyakit lainnya seperti motor neuron diseases (ALS), neuroimmunology multiple sclerosis etc…..Bila tidak ada yang mau menangani, lalu siapa yang akan menangani mereka?
Ironisnya, orang-orang yang berduit atau mampu tersebut akan pergi ke negara tetangga atau negara maju untuk berobat. Sudah saatnya kita memasukkan neurosains dalam kurikulum di fakultas kedokteran, kesehatan, dan biologi misalnya dan mengirimkan lebih banyak tenaga pendidik dan peneliti untuk bidang ini sehingga kita bisa mengisi ”gap” atau kesenjangan yang sangat mencuat dalam disiplin ilmu neurosains antara kita dengan negara maju lainnya.
DITO: Bagaimanakah menurut Anda prospek di bidang neurosains di masa mendatang?
Jawab:
Wah sangat besar sekali…terutama dengan perkembangan stem-cell (sel punca) dan regenerative medicine. Penyakit-penyakit yang dahulu mungkin punya prognosis yang kecil untuk diobati atau tidak mungkin disembuhkan sekarang muncul banyak harapan. Perkembangan ilmu genetik (genomic), protein (proteonomic) dan metabolites (metabolomic) memberikan basis pengetahuan yang sangat besar terhadap pemahaman penyakit tertentu.
Sebagai contoh; kita bisa membuat transgenic animal atau mutant animal yang bisa kita uji cobakan untuk pembuatan novel therapy (terapi baru –red.) penyakit itu. Pemahaman akan neural structures, potein or molecules signaling pathways, ion channel, neurotransmitter etc. yang semakin bertambah memberikan dasar penting untuk memahami penyakit neurodegeneratif dan progesivitasnya.
Perkembangan biomedical engineering di bidang neurosains sudah sedemikian majunya dan mampu membuat neuroprosthetics (neural prosthetics) untuk menggantikan modalitas dari syaraf motorik, sensorik atau cognitif seperti halnya cochlear implant pada pasien tuli/kurang pendengaran atau motor prosthetic pada penderita tetraplegi dengan brain-computer interface yang memungkinkan pasien bisa mendengar, berkomunikasi, berjalan, dan sebagainya.
Oleh karenanya, jika negara kita tidak segera memulai mengembangkan bidang neurosains ini, ”knowledge gap” (jurang pemisah ilmu-pengetahuan –red.) antara dokter dan ilmuwan kita akan semakin jauh. Kita nanti akan sangat tergantung kepada negara lain …dan hanya menjadi ”user” atau pemakai saja atau bahkan bisa jadi hanya sebagai tempat uji obat atau terapi …yang di negara maju tidak bisa dilakukan karena regulasinya yang sangat ketat. Ketika memberi kuliah pakar di beberapa universitas dan institut di Indonesia bulan desember lalu, saya mendengar banyak pasien kita yang berangkat keluar negeri dan menjalani terapi tanpa tahu obat atau sell punca (stem-cell) apa yang digunakan untuk mengobati penyakitnya dan saya juga mendengar banyak dokter kita yang menggunakan produk dari luar tanpa tahu content drugs (komposisi obat –red.) tersebut. Banyak pseudoscience (kajian yang ”mirip” ilmu alias ”ilmu semu” –red.) yang berkembang di negara kita, yang tidak bisa dipertanggung-jawabkan keilmiahannya.
Pemerintah, departemen kesehatan dan badan pengawasan obat dan makanan (BPOM) dalam hal ini, perlu mengawasi kegiatan atau aktivitas penyedia pelayanan atau provider kesehatan dalam melaksanakan aktivitasnya sehingga sehingga tidak merugikan masyarakat kita nantinya.
Itulah sebabnya ketika salah seorang rekan dari Indonesia mengajak kami untuk mengembangkan neurosains institut di Indonesia, saya sangat tertarik dan menerima tawaran tersebut. Demikian pula antusias teman sejawat baik dari dunia kedokteran atau bidang yang lain, banyak yang menyatakan keinginannya untuk bergabung dengan institut yang rencananya akan didirikan tahun depan.
Terlebih lagi ketika berita tersebut terekspos ke media-massa, saya ”kebanjiran” email dari mereka yang masih belajar di program S3 atau selesai program doktornya dari Belanda, Inggris, Kanada dsb. mereka yang menyatakan diri ingin bergabung atau terlibat kerjasama dengan institut yang akan kita dirikan. Mohon doa dan restunya agar institut tersebut bisa terealisasi dan kita bisa mengembangan disiplin ini di negeri tercinta ini.
Pengalaman Hidup
DITO: Bagaimana Anda menjalani kehidupan masa kecil, anak-anak, dan remaja?
Jawab:
Orang tua saya, almarhum bapak, menerapkan cara ”discipline” and ”reward”. Dia tidak akan memberikan sesuatu pada anaknya kalau kami tidak melakukan hal ”baik”. Pendidikan dia yang memberikan dasar kepada kami untuk mandiri. Saya pernah ketika masih bersekolah di sekolah dasar (SD) secara diam-diam menjajakan ”es lilin” di sekitar kampung kami di Depok, padahal, untuk ukuran di lingkungan tersebut kami masih termasuk di kategorikan mampu karena kedua orang tua kami bekerja dan kami memiliki pembantu untuk membantu pekerjaan rumah tangga. Akan tetapi saya ingin merasakan bagaimana berjualan es lilin dan mendapatkan uang sendiri. Sampai hal itu ketahuan oleh rekan kerja ibu yang anaknya membeli es kami dan menyampaikan pada ibu. Dia sangat malu dan memarahi saya…akan tetapi bapak hanya tertawa mendengar cerita itu…ha ha ha.
Menjelang bulan Ramadhan biasanya saya dan adik laki-laki saya memecahkan celengan kami dan membeli petasan/kembang api ..akan tetapi tidak kami pakai sendiri…. kami jual petasan atau kembang api itu di depan rumah…. Ya..kalau tidak laku kami pasang sendiri juga akhirnya….ha ha ha.
DITO: Dapatkah Anda berbagi cerita tentang “masa lalu” yang begitu menempa dan mendewasakan diri dan kepribadian Anda, dan sekaligus yang mengandung hikmah? Boleh diceritakan secara lengkap, mendetail, dan terperinci, silakan…
Jawab:
Pada awalnya ketika masih kecil (SD), saya biasanya hanya ingin bergaul dengan anak yang ”lebih” … apakah dia lebih pandai…lebih cantik (ehm..) lebih cakap…..dan dari keluarga mampu…
Akan tetapi kedua orang tua menasehati saya bahwa dalam kehidupan ini tidak hanya ada orang yang ”berlebih” akan tetapi juga ada orang yang ”kurang/tidak berkecukupan” . Kita membutuhkan mereka semua dan pada suatu saat kita juga membutuhkan bantuan dari mereka yang kita anggap kurang ”mampu” .
Keberanekaragaman itulah yang seharusnya membuat kita bisa menghargai apa yang Allah SWT berikan pada kita. Bapak juga kerap membawa saya ke daerah ”slum” (perkampungan yang kotor dan kumuh –red.) di bantaran sungai Ciliwung, Manggarai. Mengamati kehidupan orang yang tinggal di daerah tersebut. Tanpa saya sadari dia mengajarkan pada saya how to tolerance and appreciate with the others. Sifat ”toleransi” dan ”menghargai” orang lain membuat kita akan mudah bergaul dengan orang banyak dari golongan dan agama yang berbeda atau beradaptasi bangsa lain.
Hal ini sangat penting bagi kita yang belajar atau bekerja di luar negeri dimana budaya, agama dan kebiasaan dari setiap bangsa itu berbeda. Bukan berarti kemudian kita larut dan mengikuti budaya tersebut, akan tetapi kita bisa memilah mana yang baik dan bisa kita terapkan, dan mana yang tidak sesuai. Sebagai seorang muslim saya tidak minum alkohol dan makan makanan yang diharamkan. Saya menyampaikan hal tersebut kepada professor dan kolega saya baik di Jepang dan USA. Mereka sangat menghargai hal itu dan pada setiap pesta atau undangan, mereka memilihkan menu yang tidak ada alkohol atau makanan haram. Demikian pula waktu sholat mereka memahami kewajiban tersebut, bahkan kerap mereka yang mengingatkan jika saya sibuk dengan kegiatan saya. Kalau kita konsisten antara ”perkataan” dan ”perbuatan” dan memiliki integrity, orang lainpun akan menghargai apa yang kita lakukan.
Dia juga mengajarkan pentingnya menjaga kehormatan ”honour” dan bekerja secara professional ”professionalism” pada saya. Saya masih ingat pernah diajak ke salah satu rumah makan yang cukup mewah, dimana saya bisa memilih makanan apa saja yang saya sukai. Ketika dia kembali dari kamar kecil, bapak memanggil saya dan menunjukan kepada saya bagaimana keluarga pemilik rumah makan tersebut hanya makan dengan ”ceker” atau kaki ayam dan makanan sederhana lainnya, sementara mereka menjual makanan yang lebih enak dari itu. Itulah sebabnya rumah makan tersebut maju karena mereka tidak makan sesuatu yang dijualnya atau bisnisnya. Tiga kata mendasar yang sangat penting yaitu ”Discipline”..disiplin diri dan waktu, ”smart-work” …kerja cerdas bukan hanya kerja keras, and ”professionalism” …bekerja secara profesional adalah kata kunci meraih keberhasilan yang dia ajarkan kepada saya tanpa saya sadari. By the way, Ayah saya adalah seorang jurnalis ketika dia masih hidup.
DITO: Apa sajakah pengalaman Anda yang paling berkesan selama menjadi mahasiswa kedokteran? Boleh diuraikan?
Jawab:
Ya… Saya sangat menikmati dunia mahasiswa saya dan cukup aktif terlibat dengan kegiatan kemahasiswaan dan kegiatan diluar kampus. Tahun ke dua kuliah, saya bersama dengan beberapa teman dari organisasi islam mendirikan pesantren mahasiswa. Pada saat itu pesantren Budi Mulya pimpinan Prof. Amien Rais sudah ada, akan tetapi karena daya tampungnya yang terbatas… kami memprakarsai untuk membuat pesantren mahasiswa lain di daerah Kaliurang dengan bantuan salah seorang pemilik rumah kos yang cukup besar dan dapat menampung lebih dari 50 mahasiswa. Saya tinggal disana sampai selesai kuliah. Saya juga sempat terlibat dengan teman-teman LSM Yogyakarta. Serta sempat menjadi ketua unit kegiatan di gelanggang mahasiswa. Sementara di lingkungan fakultas, FK UGM, saya sempat membantu penerbitan majalah kedokteran kampus ”Medisina”, bahkan sempat menjadi pemimpin redaksi majalah tersebut.
Di luar itu saya juga menjadi tutor di beberapa bimbingan belajar di Jogjakarta. dan memberi les privat untuk siswa-siswi SMA, yang kebanyakan adalah putra atau putri dosen senior atau profesor di fakultas kami. Kebaikannya…. waktu saya melaksanakan internship atau ko-as, banyak dosen senior atau profesor yang mengenal saya dan kedekatan tersebut memudahkan saya berinteraksi dengan mereka. Banyak diantara mereka yang menyatakan akan membantu jika di kemudian hari saya ingin mengambil spesialisasi di bagiannya.
Akan tetapi saya memilih kembali ke Jakarta dimana kedua orang tua kami tinggal. Saya bekerja sebagai dokter perusahaan dan mendirikan klinik 24 jam di Depok. Atas dorongan salah satu profesor yang saya kenal semasa mahasiswa, saya melamar bekerja di salah fakultas kedokteran universitas negeri di Jakarta. Saya diterima di FK tersebut dan bekerja disana sampai saya berangkat ke Jepang tahun 1997.
DITO: Apa sajakah pengalaman Anda yang paling berkesan (atau menginspirasi, menyentuh hati) selama menimba ilmu di Kagawa Medical University, Jepang? Bisa diceritakan?
Jawab:
Technology and culture…. team work and ethics!
Saya sangat beruntung dapat belajar dan bekerja di negara maju seperti Jepang. Pertama, teknologi mereka sangat maju dan masyarakatnya-pun menikmati tehnologi itu dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi dilain pihak mereka pun memelihara budaya mereka dengan baik. Pemandangan yang ”kontras tetapi harmonis” itu akan ada terlihat dalam kehidupan sehari-hari mereka. Anda akan bisa melihat kuil yang usianya ratusan tahun dan mendapatkan vending-machine minuman disekitarnya.
Kedua adalah kerjasama dalam tim dan etika. Ya ..di Jepang ada kultur ”kohai-senpai” atau yunior dan senior’ ..demikian pula ”hierarki system” dalam etika kerja mereka…akan tetapi hal ini yang memungkin transfer of knowledge dari senior ke yuniornya dapat berjalan dengan baik.. seorang senior bertanggung jawab atas kesalahan yang ada di bawahnya…jika terjadi masalah berarti mereka gagal dalam mendidik yunior yang berada dibawahnya. Anda bisa melihat sendiri bagaimana pimpinan perusahaan atau politisi Jepang memohon maaf atau mengundurkan diri jika berbuat kesalahan, walaupun kesalahan itu mungkin dibuat oleh anak-buahnya.
Sebagai bangsa yang kaya akan budaya dan sedang membangun, kita perlu menyelaraskan antara pembangunan dan teknologi agar jangan sampai mengorbankan budaya yang kita miliki selama ini… Jika tidak… akar dan karakter bangsa akan hilang dan generasi mendatang kehilangan identitasnya karena mereka tidak mengenal budayanya sendiri…..
Saya melihat anak muda sekarang lebih senang nonton pentas musik pop dibanding menonton wayang orang atau wayang kulit misalnya….. Kan tidak lucu jika orang asing berbondong-bondong mempelajari budaya dan kesenian kita dan bisa memainkan gamelan atau angklung…. Sementara anak kita tidak mengenal alat musik tradisional tersebut!
DITO: Apa sajakah pengalaman Anda yang paling berkesan (atau menginspirasi, menyentuh hati) selama bekerja di University of Wisconsin, Madison? Mohon dipaparkan.
Jawab:
University of Wisconsin atau yang sering disebut UW berada di kota Madison yang tidak terlalu besar dengan populasi tidak lebih dari 230 ribu orang (mid-size city). UW adalah universitas publik yang cukup besar dan termasuk kategori universitas riset dan berada pada ranking ke 2 tingkat nasional perolehan research funding setelah John Hopkins University. Salah satu riset kami adalah aplikasi sel punca pada penyakit neurodegeneratif. Kebetulan sekali pakar stem-cell, James Thomson, orang yang pertama kali mengisolasi human embrionic stem-cell bekerja di universitas yang sama. Saya merasa beruntung dapat belajar dan bekerjasama dengan teman sejawat disini.
Saya pernah membimbing local undergraduate student disini yang akan mengapply MD-PhD program. Ketrampilan dan pengetahuannya sangat luar biasa demikian pula kreativitasnya. Di akhir bimbingan, saya mendapat pemberitahuan bahwa ia diterima di 3 universitas, Stanford, Pittsburgh dan UW dengan beasiswa penuh dan ia memilih Pittsburgh untuk melanjutkan programnya. Ia mengucapkan terimakasih dan memberikan hadiah CD music classic kepada saya… saya sendiri merasa banyak belajar dari dia lewat diskusi yang kami lakukan. Secara tak langsung sebenarnya saya juga banyak belajar dari undergraduate dan graduate students yang bekerja ditempat kami.
Keterbukaan, dinamika pendidikan dan penelitian disini banyak membuka pikiran saya…. there is no end to learning. The more you learn/study, the more you realize how little you know….
Bersambung ke bagian 2
foto: Dito Anurogo



