NetSains.com

Recent Comments


Powered by Disqus

25 Penulis Teraktif

  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • Foto anda tak tampak disini? Segera buat akun di Gravatar.com!
Netsains.Com on Facebook
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (Belum ada rating)
Loading ... Loading ...

Perhatian!
Artikel ini adalah artikel lama, diterbitkan lebih dari setahun yang lalu.
Mohon beritahu kami melalui komentar apabila artikel ini sudah tidak relevan lagi

Menyambut Tebu Transgenik Tahan Kering (Bagian 1)

Netsains.Com - Indonesia akan mulai menjajaki pengembangan tanaman transgenik pada 2013. Dimulia dengan tanaman tebu. “Paling cepat, tanaman transgenik yang akan hadir di Indonesia adalah tebu tahan kering. Itu sudah secara resmi disetujui oleh pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian,” kata Direktur Indonesia Biotechnology Information Center (IndoBIC) Dr. Bambang Purwantara di Jakarta, Senin (14/3). Tanaman yang akan diusahakan terlebih dahulu ialah tebu tahan kekeringan, jagung tahan hama, dan padi bervitamin A yang disebut beras emas (golden rice).

Untuk tanaman tebu tersebut, sampelnya sudah lolos uji coba keamanan berdasarkan pertimbangan Komisi Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetik (KKH PRG) Indonesia. Tahun ini, tebu transgenik tersebut sedang diuji keamanan hayati. Tahun depan direncanakan menjalani uji varietas. Dengan kata lain, pada 2013, tebu transgenik tahan kering ini sudah bisa diimplementasikan di lahan-lahan tebu Tanah Air. “Tebu akan menjadi produk transgenik paling cepat yang diluncurkan pada 2013, disusul jagung dan golden rice pada 2014,” lanjut Bambang yang juga Anggota Keamanan Hayati dan Keamanan Pangan Produk Hasil Rekayasa Genetika (GM).

Tebu transgenik tersebut mengandung gen betA. Gen beA ini merupakan hasil isolasi bakteri E. Coli (Gram negatif yang biasa dijumpai dalam usus organisme berdarah hangat) atau R. Meliloti (Gram-negatif penambat nitrogen) yang menyandi protein choline dehydrogenase (CHD) enzim yang mengkatalis konversi choline menjadi betaine aldehyde. Pemasukan gen inilah yang menjadikan tebu menjadi tahan terhadap kekeringan.

Tanaman tebu memproduksi serbuk sari yang viabel dalam jumlah yang terbatas. Pada umumnya tebu dipanen sebelum tanaman berbunga. Kompatibilitas genetik tanaman tebu dengan kerabat liarnya sangat rendah. Oleh karena itu, kecil dampak yang mungkin ditimbulkan oleh tebu transgenic terhadap kerabat liarnya dan tanaman lainya sebagai akibat dari transfer gen. Tanaman tebu disebarkan ke lingkungan oleh manusia secara vegetatif pada areal tertentu dan kecil kemungkinannya menyebar sendiri melalui penyebaran biji, sehingga kecil kemungkinan dampak yang ditimbulkan karena penyebaran tebu transgenik secara alami.

Tanaman tebu transgenik toleran kekeringan dibudidayakan di Indonesia pada lahan tertentu (lahan kering). Tanaman tebu sulit menyerbuk silang sehingga risiko untuk menyerbuk silang kecil. Viabilitas benihnya rendah. Selain itu, Indonesia bukan tempat asal tebu. Sifat baru (novel) tidak akan ditransfer ke daerah atau lingkungan yang tidak dikelola (unmanaged environment).

Tidak ada data yang menyebutkan keberhasilan persilangan alami antara tanaman tebu dengan kerabat dekatnya, seperti disebutkan di Australia oleh Daniel & Roach (1987). Walaupun tebu mempunyai kerabat liar, tetapi kerabat liar tebu tidak diketemukan di sekitar kebun tebu (khususnya di Jawa) sehingga tidak ditemukan terjadinya persilangan. Penelitian sitogenetika telah membuktikan penyerbukan silang yang melibatkan spesies yang berbeda dan dengan kemungkinan jumlah dan struktur kromosom yang berbeda tidak bisa bertahan hidup dengan sempurna.

Capai 1 Milliar Hektare

Sementara Direktur yang juga pendiri International Service For The Acquisition of Agri-Biotech Applicatins (ISAAA) Clive James mengatakan, memasuki tahun ke 15 komersialisasi (1996- 2010) luas lahan penanaman biotek melonjak mencapai 1 miliar hektar di seluruh dunia. “Hal ini menandakan bahwa tanaman biotek diterima oleh petani di seluruh dunia,” katanya.

Kenaikan ini meningkat 87 kali lipat atau sekitar 148 juta hektar di banding 15 tahun lalu sedangkan jumlah negara yang menanam tanaman biotek melonjak sebanyak 29 negara dari sebelumnya 25 negara. Dari 29 negara yang membudidayakan tanaman biotek pada 2010, tambahnya, 19 diantaranya adalah negara berkembang dan hanya 10 negara yang hanya merupakan negara industri.

Ada lima negara berkembang sudah menggunakan tanaman biotek ini di Asia ada dua seperti Cina dan India, dua di Amerika Latin yakni Brazil dan Argentina dan satu di Afrika yaitu Afrika Selatan. Sementara itu 30 negara mengimpor produk tanaman biotek untuk digunakan pangan.

Pada dasarnya prinsip pemuliaan tanaman, baik yang modern melalui penyinaran untuk menghasilkan mutasi maupun pemuliaan tradisional sejak zaman Mendel, adalah sama, yakni pertukaran materi genetik. Baik seleksi tanaman secara konvensional maupun rekayasa genetika, keduanya memanipulasi struktur genetika tanaman untuk mendapatkan kombinasi sifat keturunan (unggul) yang diinginkan.

Bedanya, pada zaman Mendel, kode genetik belum terungkap. Proses pemuliaan dilakukan dengan ”mata tertutup” sehingga sifat-sifat yang tidak diinginkan kembali bermunculan di samping sifat yang diharapkan.

Cara konvensional tidak mempunyai ketelitian pemindahan gen. Sedangkan pada new biotechnology pemindahan gen dapat dilakukan lebih presisi dengan bantuan bakteri, khususnya sekarang dengan dikembangkannya metode-metode DNA rekombinan.

Apa yang ingin dilakukan oleh para ahli genetika ialah memasukkan gen-gen spesifik tunggal ke dalam varietas-varietas tanaman yang bermanfaat. Hal ini akan meliputi dua langkah pokok. Pertama, memperoleh gen-gen tertentu dalam bentuk murni dan dalam jumlah yang berguna. Kedua, menciptakan cara-cara untuk memasukkan gen-gen tersebut ke kromosom-kromosom tanaman, sehingga mereka dapat berfungsi.Langkah yang pertama bukan lagi menjadi masalah.

Dengan teknik DNA rekombinan sekarang, ada kemungkinan untuk menumbuhkan setiap segmen dari setiap DNA pada bakteri. Tidak mudah untuk mengidentifikasi segmen khusus yang bersangkutan di antara koleksi klon. Khususnya untuk mengidentifikasi segmen tertentu yang bersangkutan di antara koleksi klon, apalagi untuk mengidentifikasi gen-gen yang berpengaruh pada sifat-sifat seperti hasil produksi tanaman.

Langkah kedua, memasukkan kembali gen-gen klon ke dalam tanaman juga bukan sesuatu yang mudah. Peneliti menggunakan bakteri Agrobacterium yang dapat menginfeksi tumbuhan dengan lengkungan kecil DNA yang disebut plasmid Ti yang kemudian menempatkan diri sendiri ke dalam kromosom tumbuhan.

Agrobacterium merupakan vektor yang siap pakai. Tambahkan saja beberapa gen ke plasmid, oleskan pada sehelai daun, tunggu sampai infeksi terjadi, setelah itu tumbuhkan sebuah tumbuhan baru dari sel-sel daun tadi. Selanjutnya tumbuhan itu akan mewariskan gen baru kepada benih-benihnya.

Rekayasa genetika pada tanaman tumbuh lebih cepat dibandingkan dunia kedokteran. Alasan pertama karena tumbuhan mempunyai sifat totipotensi (setiap potongan organ tumbuhan dapat menjadi tumbuhan yang sempurna). Hal ini tidak dapat terjadi pada hewan, kita tidak dapat menumbuhkan seekor tikus dari potongan kepala atau ekornya. Alasan kedua karena petani merupakan potensi besar bagi varietas-varietas baru yang lebih unggul, sehingga mengundang para pebisnis untuk masuk ke area ini.

Apakah rekayasa genetika dapat dikatakan aman? Kita bahas dalam tulisan selanjutnya yang akan terbit besok.

Foto: scq.ubc.ca

 

 Tentang Penulis:

Dadang Gusyana * Information Officer, Indonesian Biotechnology Information Centre (Indo BIC) - member of ISAAA SEAsia Centre, 2005 – present. * Production Supervisor PT Strawberindo Lestari a Allseasons Holland b.v. Company, 2004 – present. * Responsibility : * Develop high quality berries family with hydroponics system and fully automatic green house. * Develop continuities production both winter and dry seasons. * Develop post harvest system adoption from Europe. * Develop predator system for pest ... Selengkapnya »
 
  Beri komentar atau taut balik artikel ini.