NetSains.com

Recent Comments


Powered by Disqus

25 Penulis Teraktif

  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • Foto anda tak tampak disini? Segera buat akun di Gravatar.com!
Netsains.Com on Facebook
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (Belum ada rating)
Loading ... Loading ...

Perhatian!
Artikel ini adalah artikel lama, diterbitkan lebih dari setahun yang lalu.
Mohon beritahu kami melalui komentar apabila artikel ini sudah tidak relevan lagi

NKRI = Negara Keluarga Republik Indonesia

 

Tulisan ini adalah esaiku yang ada di dalam buku ‘Andai Presiden Kita Sehebat Harry Potter’, terbitan Kanisius, yang digagas olehku dan teman-teman di Komunitas Penulis Agenda 18. Esai ini juga pernah dibawakan menjadi contoh tulisan dalam workshop penulisan mahasiswa baru Psi UI 2008.

Laut dan Sungai
Laut. Bumi kita sebagian besar diisi oleh air laut. Kehidupan manusia dan spesies-spesies lain amat tergantung darinya. Kita butuh air laut, bukan hanya sebagai sarana rekreasi, melainkan penghasil makanan (ikan, udang dsb), sumber mata pencaharian, dan juga elemen penting dalam siklus hujan. Spesies lain, seperti ikan, membutuhkan air sebagai ruang hidupnya.

Bayangkan jika laut terisi oleh air yang kurang sehat. Sungai yang menyumbang air bagi lautan, ternyata memberikan air dengan kualitas seadanya; kotor, banyak sampah, limbah, penuh bakteri yang memicu penyakit. Tentu saja, kualitas air laut secara keseluruhan pun ikut menurun. Imbas penurunan ini tentu saja akan dirasakan oleh seluruh makhluk hidup yang menggantungkan dirinya pada laut.

Lalu bagaimana cara membuat laut tetap berguna bagi penikmatnya? Tentu saja dengan menjaga kualitas air yang diberikan oleh sungai. Lalu bagaimana menjaga kualitas air sungai? Tentu, air dari mata air haruslah tetap dijaga kemurniannya. Selain itu, kita juga perlu melakukan suatu tindakan untuk mencegah pencemaran sungai, atau setidaknya melakukan upaya untuk membersihkan sungai yang telah tercemar.

Intinya, jika ingin menciptakan laut yang bersih dan berguna bagi kehidupan, kita perlu menjaga kebersihan sumbernya, yaitu mata air sungai.

Keluarga Sebagai Mata Air
Saya disini tidak ingin berbicara mengenai pencemaran sungai, maupun pencemaran laut. Melainkan, Saya ingin bicara tentang Indonesia, negeri kita tercinta.

Sama seperti lautan, negara kita terdiri dari berbagai macam “sungai”; ada 30an lebih propinsi, yang masing-masing memiliki karakteristik tersendiri. Propinsi-propinsi tersebut lalu terbagi ke dalam berbagai satuan kotamadya, kabupaten, desa, dusun, dan yang terkecil adalah keluarga.

Keluarga inilah yang Saya sebut sebagai mata air, karena dari sinilah muncul individu-individu yang akan mengisi negara kita. Individu-individu ini yang nantinya akan terjun ke berbagai lapisan masyarakat. Ada yang menjadi penjual di pasar, buruh pabrik, nelayan, pengusaha berdasi, hingga pejabat di instansi pemerintah, dan bahkan presiden! Keluarga akan mempengaruhi kondisi individu, dan sebaliknya, individu juga dapat mempengaruhi keluarga secara keseluruhan. Dan mereka nantinya akan mempengaruhi masyarakat di sekitarnya. Jika kehidupan dalam keluarga berjalan dengan baik, individu-individu di dalamnya tentu akan dapat berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat, dan negara nantinya.

Keluarga Tercemar dan Tidak
Namun, sama seperti sungai, individu-individu ini sangat mungkin mengalami “pencemaran” selama hidupnya, pergaulan bebas, narkoba, kejahatan, korupsi, dsb. Yang terparah, jika individu ini sudah tercemar semenjak di dalam mata air. Ya, mereka memiliki keluarga yang “tercemar”. Tak terbayangkan bagaimana individu-individu dari keluarga semacam ini, akan bertingkah laku dalam masyarakat.

Keluarga disini Saya definisikan sebagai sekelompok individu yang memiliki hubungan generasi (hubungan anak-orang tua). Dalam kelompok tersebut, anggotanya saling berbagi kedekatan (berbagi komitmen, rasa percaya, dan penghargaan). Selain itu, orang tua dalam keluarga juga berbagi kedekatan seksual. Terakhir, keluarga ini memiliki tujuan tertentu.

Sedangkan istilah pencemaran mengacu pada suatu kondisi dalam keluarga, yang menyebabkannya tidak berfungsi dengan baik atau mengalami disfungsi. Kondisi ini muncul karena anggota keluarga ternyata tidak memiliki kompetensi yang cukup untuk (1) mencintai diri sendiri dan orang lain, tanpa syarat; dan (2) bernegosiasi dalam kehidupan keluarga.

Kemampuan untuk mencintai ini seperti: (1) melihat kebaikan dalam diri sendiri dan orang lain; (2) memperhatikan diri sendiri dan orang lain secara fisik dan juga finansial; (3) memaafkan kesalahan diri dan orang lain; dan (4) menjaga keintiman—berbagi rasa sakit dan perasaan takut disakiti. Sedangkan, kemampuan untuk bernegosiasi melibatkan: (1) pengambilan keputusan; dan (2) pemecahan masalah.

Ketidakmampuan untuk mencintai, bisa memunculkan penolakan, penelantaran, agresi, kekerasan, keterasingan, atau bahkan ketergantungan yang berlebihan. Sedangkan ketidakmampuan untuk bernegosiasi bisa memunculkan hiperaktifitas, impulsifitas (bertindak tanpa berpikir panjang), atau penarikan diri.

Untuk menciptakan suatu keluarga yang berfungsi dengan baik, tentu harus diadakan suatu program yang bisa mencegah keluarga itu menjadi tidak berfungsi dengan baik. Pencegahan disini adalah segala pendekatan, prosedur, atau metode yang ditujukan dan dirancang untuk meningkatkan kompetensi seseorang; sebagai individu, pasangan dan orang tua. ini berarti, pasangan yang hendak menikah, sudah menikah, dan juga yang telah bercerai merupakan target utama program-program ini. Dan kesemua program tersebut tetap berpusat pada peningkatan kompetensi.

Negara Kuat Adalah Keluarga Kuat
Kembali ke tema besar dari buku ini, yaitu pandangan kaum muda terhadap calon presiden RI 2009, maka Saya ingin presiden yang melihat bahwa mengembangkan bangsa ini sama artinya dengan mengembangkan seluruh keluarga warga negaranya; untuk menciptakan negara yang kuat, keluarga-keluarga di dalamnya juga harus kuat. Dengan perkataan lain, keluarga bisa berfungsi dengan baik. Namun bukan hanya melihat saja, namun juga menerapkan pengembangan tersebut dengan sungguh-sungguh. Sungguh-sungguh!

Undang-undang
Saya membaca Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera, serta Peraturan Pemerintah nomor 21 tahun 1994 tentang penyelenggaraan Pembangunan Keluarga Sejahtera. Kesan Saya setelah membaca keduanya adalah: tidak jelas dan juga sangat muluk-muluk!

Ketidakjelasan dapat dilihat dari definisi-definisi yang diutarakan di dalam kedua peraturan tersebut. Sebagai contoh, dalam UU No.10, ketahanan keluarga didefinisikan sebagai sebuah kondisi dinamik suatu keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguhan serta mengandung kemampuan fisik-materiil dan psikis-mental spiritual guna hidup mandiri dan mengembangkan diri dan keluarganya untuk hidup harmonis dalam meningkatkan kesejahteraan lahir dan kebahagiaan batin. (ah, capai sekali Saya membaca pengertian tersebut). Dari definisi di atas, tak diketahui seperti apa ketangguhan dan keuletan itu, apa itu kemampuan fisik-materiil serta psikis-mental spiritual, seperti apa hidup mandiri itu, bagaimana mengembangkan diri dan serta keluarga, apa itu hidup yang harmonis, dan juga apa itu kebahagiaan lahir dan batin. Kalaupun ada pasal penjelasnya, tetap tak menjelaskan.

Dari definisi di atas pula, dapat dilihat betapa idealnya ketahanan keluarga tersebut. Karena terlalu ideal, sehingga merupakan suatu konsep yang mengawang-awang, dan sulit untuk diterapkan dalam hidup sehari-hari.

Dampak dari ketidakjelasan dan kemuluk-mulukan tadi adalah tidak mampunya kedua peraturan tersebut untuk diterjemahkan dengan baik ke dalam sebuah program. Bagaimana bisa membuat sebuah program untuk menciptakan keluarga yang harmonis, sedangkan Kita tidak tahu apa yang dimaksud dengan harmonis itu sendiri? Dampak lebih jauh, karena tidak adanya program dengan dasar yang jelas, keluarga sejahtera yang diidam-idamkan dalam kedua peraturan itu, tak akan pernah bisa terwujud.

Oleh sebab itu, siapapun presiden yang akan terpilih, wajib melakukan revisi pada undang-undang tentang keluarga. Atau bahkan membuat suatu lembaga khusus yang menangani masalah keluarga (mungkin suatu saat akan ada satu menteri baru: Menteri Urusan Keluarga?).

Tokoh Panutan
Dalam pandangan Saya, program ini sulit sekali untuk dilaksanakan, mengingat jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 200 juta jiwa lebih. Belum lagi jika banyak penduduk yang tidak menganggap program ini adalah sesuatu yang penting bagi mereka. Oleh karena itu, dibutuhkanlah satu figur presiden yang bukan hanya memiliki kemampuan kepemimpinan yang mumpuni, namun juga mampu memberi contoh sebuah keluarga yang berfungsi dengan baik. Sehingga masyarakat pun tergerak untuk mengikuti presidennya.

Namun, haruskah presiden memiliki keluarga sempurna? Saya rasa, istilah keluarga yang sempurna itu tidak ada, karena tiap-tiap keluarga pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Karena itu, setidaknya, keluarga presiden harus bisa menunjukkan bahwa mereka mampu untuk mencintai sesamanya tanpa syarat, serta bisa bernegosiasi dalam berhubungan dengan anggota keluarga lainnya.

Apakah semua itu bisa terwujud? Sulit memang. Namun bukan tidak mungkin kan?

Catatan Editor: Walaupun tulisan ini sudah setahun lebih, namun kami muat karena dirasa masih relevan dengan kondisi sosio-budaya Indonesia masa kini.

Sumber artikel: http://popsy.wordpress.com/

Sumber gambar: http://lforliberty.files.wordpress.com

 

 Tentang Penulis:

F A Triatmoko Lahir di Klaten, 26 Mei 1982. Pria pecinta musik, tulis menulis, mengobrol dan diskusi ini, telah menjadi alumnus Fakultas Psikologi UI sejak tahun 2006. Skripsinya berjudul “Gambaran Konflik Pengambilan Keputusan pada Imam Katolik yang Memutuskan Meninggalkan Jabatannya”. Saat ini sedang bekerja sebagai staff pendidikan e-Learning di PPSP Universitas Indonesia, (terus) menyenangi bermain gitar serta mencipta lagu, menulis di fatriatmokohs.com, menulis bersama, sekaligus menjadi ... Selengkapnya »
 
  Beri komentar atau taut balik artikel ini.