NetSains.com

Recent Comments


Powered by Disqus

25 Penulis Teraktif

  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • Foto anda tak tampak disini? Segera buat akun di Gravatar.com!
Netsains.Com on Facebook
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (Belum ada rating)
Loading ... Loading ...

Perhatian!
Artikel ini adalah artikel lama, diterbitkan lebih dari setahun yang lalu.
Mohon beritahu kami melalui komentar apabila artikel ini sudah tidak relevan lagi

Gus, Goodwill, Glory

Bapa Guru sebagai figur teladan kami senantiasa memberikan pembelajaran dalam setiap ucapan, pikiran dan tindakan beliau. Pun ketika hendak mengutarakan pertimbangan yang berbeda dari pemikiran kami, cara penyampaian beliau penuh tata krama dan bermisi penyadaran insan. Sehingga keputusan beliau selalu kami patuhi sepenuh hati tanpa berani mendebat lagi.

Suatu kali kami bersama saudara berembuk hendak membelikan mobil untuk Bapa Guru. Selama ini beliau kemana-mana –terutama saat menghadiri undangan pengajian– selalu menyewa, karena memang tidak memiliki mobil pribadi. Asumsi kami, dengan mobil yang terbeli itu nanti, dakwah akan kian mudah. Setidaknya Bapa Guru tidak lagi repot memikirkan sewa mobil saat hendak berangkat menggembala umat.

Dus, kami yakin pemanfaatan mobil ini nanti tidak akan jadi properti pribadi. Karena kebutuhan pelayanan penghuni pesantren yang 24 jam juga butuh fasilitas kendaraan. Sehingga usulan pembelian mobil tersebut sudah sangat layak dengan berbagai pertimbangan fungsi sosial. Untuk menyeriusi niat tersebut, akhirnya kami putuskan bayar uang muka pembelian di sebuah dealer di Surabaya.

Sesuai hasil rembukan, seorang wakil saudara akan menyampaikan niat pembelian mobil ini ke Bapa Guru untuk mendapatkan ijin dan persetujuan. Gus Glory terpilih untuk tugas ini, karena dia pemula inisiatif sekaligus penyumbang mayoritas diantara saudara yang ikut urunan pembelian.

Saat niat itu disampaikan, Bapa Guru tidak tergesa menanggapinya. Beliau diam seolah menunggu ilham sekaligus memilih kata yang pas untuk menjelaskan. Menurut pengalaman kami, jika Bapa Guru bersikap diam agak lama begini, biasanya jawaban akhir adalah “tidak setuju”. Setelah beberapa saat menunggu, Bapa Guru pun membuka jawabannya.

“Gus, niat sampean dan dulur-dulurmu itu sudah bagus. Aku sebagai orang tua dan gurumu berterimakasih untuk inisiatif baik itu. Tapi ada beberapa pertimbangan yang ingin aku sampaikan,” kata beliau mengawali.

“Pertama, santri-santri yang ada di sini dan mondok di pesantren kita ini, semua ingin menyerap ilmu dan mewarisi nilai keislaman yang kita ajarkan. Mereka datang dari berbagai daerah yang jauh dan rela bersusah payah di sini hanya untuk belajar dan praktik perilaku santri secara benar. Sementara posisiku Guru dan sampeyan adalah Gus yang akan digugu ditiru oleh mereka itu,” terang Bapa Guru.

Sejenak jeda, beliau melanjutkan jawabannya. “Nah, jika nanti aku jadi sampeyan belikan mobil baru, bagaimana dengan santri-santri itu? Aku khawatir jika nanti mereka melihat mobil baru itu, santri-santri itu tidak jadi ikhlas kepingin mewarisi ilmu dan nilai Islam yang kita ajarkan, tapi justeru terpengaruh nafsu lalu kepingin mobil baru seperti yang sampeyan belikan itu.”

“Kedua,” lanjut beliau, “Warga desa di sekitar pesantren kita ini masih banyak fakir miskin dan keluarga telantar yang kesehariannnya memprihatinkan. Jangankan berfikir beli mobil, untuk menutupi kebutuhan makan saja, mereka sering kesulitan dan terpaksa pinjam tetangga kanan-kirinya. Lha nanti kalau kita jadi beli mobil, betapa kian nelangsah perasaan mereka saat melihat kita setiap hari wira-wirilewat depan rumah mereka dengan mobil baru itu. Apa mereka tidak ingin punya juga saat melihat mobil baru itu parkir di halaman rumah kita?,” tanya retoris beliau.

Selagi kami masih merenungi kebenaran jawaban kedua itu, Bapa Guru meneruskan, “Selain kita akan berdosa telah membuat mereka kepingin tapi tak mungkin, kita juga akan terkena tuntutan pertanyaan dari Gusti Allah atas kepemilikan mobil itu. Apa jawab kita, saat nanti ditanya tentang tanggungjawab sosial sebagai seorang pemuka agama yang harus peduli pada nasib bangsanya?? Alangkah besar dosanya jika fasilitas kita lapang berkecukupan, sementara hidup mereka sempit dan kekurangan?.”

Dalam kebingungan antara membenarkan pertimbangan Bapa Guru dan kengototan membelikan mobil baru, Gus Glory bertanya, “Lalu uang calon beli mobil baru ini baiknya digunakan untuk apa, Bi?” Seperti sudah bisa menebak pertanyaan kami itu, Bapa Guru pun menjawab dengan cerita.

“Dulu tahun 1974, aku menjual sepeda motor keluarga untuk membangun jembatan dari kayu jati yang menghubungkan areal perumahan penduduk desa ini dengan lahan persawahan. Awalnya jembatan ini hanya berbentuk wot dari sebatang bambu sehingga sering petani yang menyeberang terjatuh ke sungai, terutama ketika kondisi wot licin di musim penghujan. Kemarin (waktu itu tahun 2002), aku lihat jembatan dari jati itu banyak yang rusak dan keropos di tiang-tiang utamanya. Mungkin setelah tiga puluhan tahun usianya sudah waktunya minta ganti baru.”

“Nah, bagaimana jika uang yang sampeyan niatkan untuk beli mobil ditasarufkan saja untuk merehab jembatan yang sudah rusak itu? Kalau dulu Abi menjual sepeda motor satu-satunya milik keluarga untuk kepentingan kemanusiaan, giliran sekarang sampeyan latihan mengikuti jejak Abi, bangun jembatan itu kembali. Sementara ini kita tidak harus punya mobil, untuk pergi ngaji cukup sewa saja. Yakinlah jembatan itu akan lebih langsung bermanfaat buat masyarakat daripada diperuntukkan beli mobil kita. Semogalah pembangunan jembatan itu nanti akan berwujud mobil keluarga kita di akhirat sana. InsyaAllah,” pungkas Bapa Guru.

Atas jawaban dan pertimbangan beliau yang sangat masuk akal itu semua, kami bersepakat menyetujuinya. Mobil yang sudah di-down payment itu pun tak jadi mampir di garasi rumah kami. Pada akhirnya seluruh biaya calon pembelian mobil digunakan untuk membangun jembatan, seperti yang Bapa Guru sarankan.

Alhamdulillaah kini jembatan itu kokoh berdiri menyambung keterisolasian areal perumahan dan lahan persawahan. Hingga wafat 2006 silam, Bapa Guru tidak pernah memiliki mobil pribadi —sebuah teladan hidup kesederhanaan yang patut diturut oleh kami dan para santri.

Dari peristiwa itu kami diajari Bapa Guru tentang praktik keagamaan dalam fungsi sosial kemasyarakatan. Betapa seorang santri dituntut lebih peka melihat kebutuhan umat, meski dengan konsekwensi kebutuhan pribadi harus menepi. Bahwa “Gus” sebagai simbol kepesantrenan bukanlah sebuah fasilitas yang boleh dinikmati enak-enakan, tapi amanah agung yang harus dipertegas dengan pembuktian dan keteladanan.

Ketokohan di depan tidak akan melahirkan perubahan kebaikan yang signifikan jika hanya puas menempati kasta tinggi tanpa peran berarti. Dibutuhkan “Goodwil” serius dan pengorbanan demi kesejahteraan umatnya agar pemuka agama ternyatakan sebagai figur teladan pengubah sejarah. Bapa Guru juga mengajarkan bahwa di atas pertimbangan keputusan yang seolah sudah berdalih dakwah, ada pertimbangan yang lebih bijaksana: pertimbangan keadilan dan kemanusiaan.

Tanpa keseriusan Goodwill serta pertimbangan kemanusiaan dan keadilan, maka kepemimpinan pemuka agama akan terlihat semu. Tanpa keteladanan yang bisa diperlihatkan, umat akan enggan meniru. Barangkali ini yang menjelaskan pertanyaan kenapa fatwa tokoh agama selalu dilawan fakta kondisi riil umatnya. Terbaru, fatwa haram penayangan sebuah program hiburan hipnotis di layar kaca justeru direspon penghargaan reality show favorit pemirsa.

Fragmen cerita Gus Glory yang hendak membelikan mobil baru buat Bapa Guru menginspirasi saya, Anda, dan kita semua bahwasanya Gus adalah peneladan dalam semangat kebaikan (Goodwill). Niatan itu yang akan membawa kemenangan dan kejayaan semua insan (Glory of Humanity).

Kepada kami Bapa Guru sering berpesan, “Kemenangan hanya bisa dicapai dengan pengorbanan.” Bila Anda menonton Transformer, sila dengar Hammerfall dalam lirik lagunya “No Sacrifice, No Victory”. Ia kian menegaskan lagi peran keleladanan Gus, kemauan berkorban, dan arti kemenangan ini: “By the code we are living, we are breathing, and then we die Sacrifice our own lives, but we’ll never stand to lose our pride and glory”

 

 Tentang Penulis:

Gus Adhim Belajar melayani Tuhan selama hayat di kandung badan dengan cara aktif berbagi peduli dan ilmu pengetahuan untuk sebesar-besarnya kemakmuran umat dunia akhirat. Penulis bisa dihubungi pada akun Twitter di: @gusadhim Wish I could be your wisest ... Selengkapnya »
 
  • Website Pribadi/Blog:
  • Tulisan di NetSains: 4 Tulisan
  Beri komentar atau taut balik artikel ini.