Netsains.Com - Bidang neurosains tergolong masih belum dikenal banyak orang. Berikut bagian kedua dari wawancara eksjlusif Netsains.Com dengan salah satu pakar neurosains kita.
Tantangan Belajar dan Kehidupan di Negeri Orang
DITO: Boleh diceritakan pengalaman (pahit-manisnya) dan tantangan hidup Anda pribadi saat belajar dan bekerja di Jepang?
Jawab:
Bangsa Jepang adalah bangsa yang sangat exclusive dan masyarakatnya pun terkesan ”introverts” (tertutup –red.). Jika kita mau ”in-grup” (bergabung, masuk –red.) kita harus memahami bahasa dan budaya mereka. Kagawa Medical University adalah universitas kecil. (Sekadar diketahui, Kagawa Medical University menjadi Faculty of Medicine pada tahun 2001 dan bergabung dengan Kagawa University yang sudah ada sebelumnya –red.). Belum banyak mahasiswa asingnya pada saat saya belajar di sana. Sehingga penguasaan bahasa lokal (bahasa Jepang) menjadi kunci jika kita ingin bergaul dengan meraka.
Sehingga awal-awal tahun berada di sana, saya berusaha keras untuk menguasai bahasa Jepang dan pada saat saya bergabung dengan departemen tempat saya belajar, saya sudah bisa berkomunikasi dengan mereka. Tampaknya professor saya menghargai usaha itu dan saya diberi kesempatan untuk mengajar mahasiswa lokal dan memberikan kuliah di rehabilitation colleges. Tanggung jawab ini cukup berat karena walaupun saya bisa berkomunikasi akan tetapi memberi kuliah kepada mahasiswa lokal maupun college’s student disana tidaklah mudah. Saya harus memahami terminologi khusus (kesehatan/kedokteran) dalam huruf kanji (senmon hyogo) yang orang Jepang awampun belum tentu bisa membacanya. Saya biasa menerapkan ”learning by doing” dan alhamdulillah sedikit demi sedikit saya bisa menguasai terminologi tersebut dan memberikan kuliah pada mahasiswa disana tanpa kesulitan.
Saya sama sekali tidak banyak mendapatkan halangan ketika belajar dan bekerja sebagai assistant professor disana karena kolega saya banyak mendukung. Demikian pula ketika isteri bergabung dengan saya setelah selesai pendidikan notariatnya, banyak sekali teman di luar kampus dan keluarga Jepang yang saya kenal membantu kami. Oh..ya kami mempunyai Indonesian-Kagawa Friendship Association dikota tempat kami tinggal kami di Jepang, Takamatsu. Saya mengajarkan bahasa Indonesia kepada mereka…dari assosiasi ini kami memiliki banyak teman.
Tentang kegiatan ibadah…kembali seperti yang saya kemukakan sebelumnya kami tidak mempunyai kesulitan sama sekali.. saya bersama dengan teman-teman muslim dari Bangladesh, Pakistan dan Middle-East bisa mengadakan sholat berjamaah dan bergantian memberikan khutbah Jumat.
Alhamdulillah semua berlangsung lancar sampai kepindahan kami ke US. Kebaikan mereka senantiasa kami rasakan dan kami masih selalu berkomunikasi sampai sekarang. Biasanya jika saya mempunyai waktu, saya singgah di Jepang selama beberapa hari menemui mereka untuk berdiskusi atau sekedar silaturahmi sebelum ke Indonesia.
DITO: Boleh diceritakan pengalaman (pahit-manisnya) dan tantangan hidup Anda pribadi saat berada di USA?
Jawab:
Amerika mendapat julukan “American dream” dan menjadi tempat tujuan bekerja atau tinggal bagi banyak orang diseluruh dunia. Tak terkecuali bagi orang-orang yang memiliki pendidikan tinggi (Doctoral degree). Setiap tahunnya US menghasilkan lebih dari 20.000 doktor, belum termasuk didalamnya orang-orang asing yang meraih pendidikan master atau doktor dari luar yang berdatangan dan bekerja disini. Artinya… negeri ini sangat kompetitif …. Jika kita tidak bisa melakukan yang terbaik..kita tidak akan dibutuhkan oleh mereka… Walaupun demikian saya melihat banyak juga orang Indonesia yang bekerja dan berprestasi disini. Mereka ada yang menjadi professor atau enterprenuer….walaupun jumlahnya di bandingkan rekan-rekan dari India dan China masih sangat kurang.
Banyak di antara mereka yang ingin pulang mengabdikan diri atau membantu orang Indonesia yang lain yang ingin belajar atau bekerja disini. Diantara mereka, ada yang bergabung dalam Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4). Pemerintah kita diharapkan bisa mengakomodasi niat baik ini dan menjembatani teman teman yang memiliki prestasi tersebut dengan institusi dan universitas ditanah air. Demikian pula dengan teman atau sejawat lain yang ada di Indonesia, diharapkan bisa memanfaatkan keberadaan mereka dan melakukan kerjasama yang menguntungkan kedua belah pihak. Coba kita lihat India dan China… sekarang sudah sedemikan majunya dalam melakukan alih teknologi…. Banyak profesor dan enterpreneur mereka yang bekerja di US …pulang-pergi ke tanah airnya untuk mengembangkan sains-teknologi atau industri di negaranya….
Top Ten Problems
DITO: Menurut Anda, apa saja “top ten problems” atau “top ten diseases-disorders” (di bidang neurosains) yang sering Anda jumpai di dalam kehidupan/praktik sehari-hari?
Jawab:
Saya kira prioritasnya akan berbeda-beda di setiap center (pusat pendidikan –red), akan tetapi hal yang menjadi fokus saat ini adalah;
- Cereberovascular disease; Stroke
- Spinal Cord Injury dengan masalah motor dan respiratory disfunction-nya
- Dementia or Alzheimer’s disease
- Epilepsy
- Parkinson’s diesase
- Neurooncology; Brain Tumor, neurofibromatosis etc.
- Chronic Pain
- Immune disease; Multiple Sclerosis
- Motor Neurons Disorder; Amyotrophic Lateral Sclerosis, Muscular Dystrophy
- Pediatric; Autism, dyslexia
DITO: Secara umum, bagaimana solusi untuk mencegah dan mengatasi “top ten problems” atau “top ten diseases-disorders” tersebut?
Jawab:
Sudah tentu integrasi keilmuan sangat diperlukan. Kerjasama penelitian antara ilmuwan dasar dan klinis serta mereka yang terlibat di bidang biomedik sangat dibutuhkan. Dengan cara meningkatkan keamanan penanganan pasien melalui practice-based translational research dan evidence-based therapy yang kesemuanya ditujukan untuk memberikan yang terbaik bagi penderita atau pasien.
Pencegahan dini dengan ”genetic screening” dan terapi seawal mungkin…Walaupun biasanya kami yang menerima pasien yang pada umumnya sudah mempunyai gejala atau dalam kondisi end-stage (kondisi-akhir- red)… jika demikian peningkatan quality of life dan extended the life span (memperpanjang waktu hidup-red) adalah alternatif terakhir yang akan kita bisa berikan kepada penderita.
Hal yang cukup menarik untuk di amati di USA adalah keluarga dan penderita suatu penyakit disini membentuk asosiasi/ikatan sebagai tempat untuk berbagi informasi, bahkan banyak diantara asosiasi atau institusi tersebut yang juga menyediakan dan membantu dana penelitian seperti halnya Christopher Reeve Foundation, aktor pemeran film superman yang terjatuh dari kudanya dan menderita quadriplegic (lumpuh tangan dan kaki -red) serta menggunakan alat bantu pernafasan sampai ia meninggal dunia, yang memberikan dana penelitian untuk spinal cord injury… ALSA; Amyothrophic Lateral Sclerosis Association … Alzheimer’s Foundation of America…National Parkinson Foundation dan sebagainya…
Mereka mendapatkan support (bantuan, dukungan –red.) dari para donatur yang tentunya bisa dideduksi pada saat mereka membayar pajak. Organisasi mereka sangat maju dan interaksi antara pasien, dokter dan peneliti berjalan baik. Saya kira kita perlu meniru hal ini sehingga dana atau dukungan dan biaya riset tidak hanya terbebankan kepada pemerintah, akan tetapi masyarakatpun ikut terlibat aktif didalamnya.
Rahasia Sukses
DITO: Boleh diceritakan, bagaimana perjalanan atau proses Anda sehingga dapat meraih berbagai penghargaan dan prestasi berikut ini:
1. Japanese Government Scholarships (Monbusho), 4/1997-3/2002.
Jawab:
Sesungguhnya saya pertama kali tidak ada niat untuk belajar di Jepang. Saya mengirimkan lamaran ke Virginia Commonwealth University, USA dan University of Toronto, Canada. Mereka membalas surat saya dan menyatakan bersedia menerima akan tetapi untuk tahun awal saya diminta untuk menyiapkan dana sendiri. Surat tersebut saya bawa ke pimpinan universitas. Pihak universitas bersedia membantu akan tetapi saya harus menunggu turunnya dana pengembangan untuk human resources dari Asian Development Bank (ADB) kurang lebih satu atau 2 tahun lagi…
Wah cukup lama ya, saya mengemukakan keberatan.. Mereka menyatakan jika saya ingin bersekolah lebih awal, saya bisa melamar untuk beasiswa pendidikan ke Jepang melalui program Monbukagakusho (kementrian pendidikan dan teknologi) .
Ada dua program monbusho, yaitu U to U (University to University) dan G to G (government to government). Program U to U biasanya dilakukan oleh universitas yang sudah memiliki kerjasama dengan universitas di Jepang dan biasanya mahasiswa Indonesia doktoral yang sudah selesai memberikan rekomendasi tentang yuniornya kepada supervisor mereka, sehingga penelitian atau projek kerjasama tersebut bisa berjalan berkesinambungan. Sementara program G to G dilakukan melalui proses seleksi; dari proses administrasi, wawancara dan jika kita diterima diwajibkan untuk mengikuti pelatihan bahasa Jepang selama 6 bulan di Indonesia sebelum diberangkatkan ke Jepang. Sudah tentu surat pernyataan penerimaan dari calon supervisor/professor (letter of acceptance) dari Jepang merupakan salah satu faktor yang cukup penting.
Singkat cerita, saya mengikuti program G to G dan termasuk salah satu dari 25 orang yang akan diberangkatkan pada tahun 1997. Pada mulanya saya ingin belajar di salah satu institut di Kobe University, akan tetapi karena ketidak-cocokan saya dengan calon supervisor saya. Saya berdiskusi dengan atase pendidikan Jepang untuk mencari calon pengganti pembimbing saya nanti di kedutaan mereka di Jakarta.
Mereka menyarankan untuk memilih beberapa Professor dari universitas dimana universitas tempat saya berkerja sudah ada kerjasama seperti University of Tokyo atau Osaka University. Akan tetapi kekhawatiran saya bekerja pada universitas besar akan mengurangi independensi saya dan biasanya mereka sudah mempunyai proyek tertentu, dimana mau tidak mau kita diharuskan terlibat di dalamnya.
Pada saat saya menunggu di ruang tamu mereka, saya melihat bulletin tentang Kagawa Medical University yang mencantumkan tentang graduate school program dan professor pembimbingnya. Perhatian saya tertuju pada Prof. Yoshiki Takeuchi dan kegiatan penelitiannya yang cukup menarik. Saya mengatakan pada atase pendidikan jepang, jika saya tertarik pada penelitian dia dan menginginkan dia menjadi pembimbing saya. Nampaknya setelah pertemuan itu, bapak atase pendididikan menelpon Prof. Takeuchi sebelum saya mengontak dia melalui email. Prof. Takeuchi sangat terkejut karena kami sama sekali belum mengenal..entah karena paksaan atau yang menelpon adalah atase pendidikan, ia mau menerima saya menjadi salah satu muridnya… Prof. Takeuchi selalu menceritakan hal ini pada setiap pertemuan jika ia mengenalkan saya dengan teman sejawatnya ha ha ha… Keuntungan lain yang saya dapatkan belajar di departemen dia adalah kebebasan saya untuk melakukan penelitian.. Jika saya ingin belajar suatu tehnik atau materi tententu yang tidak dia kuasai, saya dikirimkan untuk belajar di pada koleganya di universitas lain. Saya sempat keliling ke Ehime University, Tottory, Okayama, Osaka untuk mempelajari berbagai tehnik Neurosains… tentunya saya manfaatkan sambil jalan-jalan juga.. Learning science and sightseeing ha ha ha..
Hal lain adalah saya dapat belajar menjadi corresponding author pada setiap manuscripts yang saya kirimkan ke Jurnal International yang biasanya dilakukan oleh supervisor. Pengalaman ini membantu saya tentang ”laboratory management”, membuat grants, team leadership etc. yang pada gilirannya sangat menolong ketika saya selesai pendidikan doktor, bekerja Assistant Professor di departmennya dan bekerja di Amerika sekarang ini.
2. Teaching assistant and Research assistant fellowship, Kagawa Medical University, 2000-2002.
Jawab:
Saya sempat mengajar di bagian Anatomi pada saat saya bekerja di Indonesia. Karena saya dianggap sudah cukup mampu berkomunikasi. Prof. Takeuchi meminta saya membantu mengajar di laboratorium anatominya. Saya bersedia karena sayapun ingin tetap terlibat dalam kegiatan mengajar dan berinteraksi dengan mahasiswa fakultas kedokteran. Senangnya pada saat Valentine day… saya mendapatkan banyak coklat dari mahasiswi kami yang didalamnya ada kartu bertuliskan nama dan nomor induk mahasiswanya…ha ha ha..
Tentang Research Assistant fellowship saya dapatkan karena saya membimbing mahasiswa S3 lain dan membantu proyek penelitian staffs di department. Cukup senang karena saya mendapatkan tambahan dana selain dari beasiswa monbusho itu sendiri. Saya gunakan dana-dana tersebut untuk presentasi ke negara lain (US, Australia etc.) atau pulang ke Indonesia menengok keluarga.. Saya merasa sangat fortunate (beruntung –red.) dan berterima kasih atas kesempatan itu mengingat banyak mahasiswa asing lain yang harus “arbaito” atau bekerja part-time (paruh waktu –red.) di restoran atau mengantar koran, dll untuk memenuhi kebutuhan mereka dan keluarga mereka selama studi disana karena biaya hidup di Jepang memang cukup tinggi.
3. Travel grant untuk presentation in Annual meeting of American Association for the Advancement of Science (AAAS) in Denver, CO (2003).
Jawab:
Pada awalnya saya hanya mencoba mengirimkan abstrak tersebut ke AAAS (Asosiasi ini yang menerbitkan majalah Science – red) dan ternyata diterima. Lalu saya membawa acceptance letter tersebut ke pihak universitas dan menanyakan jika mereka bisa membiayai perjalanan tersebut. Dan ternyata mereka mempunyai dana tersebut..ya alhamdullillah..saya bisa presentasi disana.
4. Nankai (2002-2003) and Achievement for young scientist (2003-2005) grants
Jawab:
Tentang grants yang saya terima baik dari institusi private (Nankai) maupun dari pemerintah Jepang (Achievement for young Scientist atau Wakate) tidak lain adalah hasil kerjasama dengan saya dengan staffs di departmen. Sebagai Assistant Professor yang baru diangkat saya mempunyai kewajiban untuk mencari dana penelitian untuk membiayai proyek riset saya sendiri, itulah sebabnya saya mencoba meng”apply”nya. Terlebih untuk Achievement for young scientist atau Wakate karena merupakan prestige grant bagi penerimanya.
Pada awalnya saya agak merasa kurang percaya diri karena saya adalah “orang asing” atau “gaikoku jin”, akan tetapi professor dan staffs department yang lain encourage (memotivasi, memberanikan diri –red.) saya untuk membuat grant proposal dan mengirimkannya. Alhamdulillah ….. saya mendapatkannya. Dari mereka saya belajar “self confidence” dan “team-work” yang merupakan karakter mereka yang perlu kita tiru.
Pengalaman di Jepang membantu saya untuk menyiapkan grants di tempat saya bekerja sekarang, UW. Kami mendapatkan grants cukup besar untuk stem-cell research pada penyakit ALS dari National Institute of Health (NIH) selama 5 tahun dan baru saja kami dapat grants dari Department of Defense (DoD), US untuk proyek spinal cord injuries yang bertujuan untuk membantu veteran mereka yang mengalami cacat sumsum tulang setelah pulang perang dari Iraq, Afganistan etc.
DITO: Sebenarnya, apa sih rahasia atau kunci sukses Anda?
Jawab:
Saya sendiri merasa belum sukses karena masih terus “berproses”. Saya lebih merasakan sebagai “fortunate person” dimana segala sesuatu yang saya dapatkan saat ini datang dari yang maha kuasa dan sudah tentu doa dan dukungan dari keluarga dan orang sekelilingnya yang membuat proses ini bisa berjalan baik. Saya hanya mencoba berbuat yang terbaik …“doing my best”… dimana saja saya berada.
DITO: Menurut Anda, siapa sajakah orang penting yang berada di balik kesuksesan Anda, dan apa saja kontribusi mereka terhadap kesuksesan Anda?
Jawab:
Guru, dosen, orang tua dan keluarga! Tanpa dukungan dan doa mereka, kita semua tidak bisa menikmati apa yang kita miliki sekarang.
DITO: Siapakah guru-guru yang amat berkesan dan berpengaruh dalam kehidupan Anda sampai saat ini?
Jawab:
Pertama adalah orang tua saya. Kedua adalah setiap individu yang saya temui dan berinteraksi dengannya adalah guru saya. Saya mencoba mengambil manfaat dan belajar dari setiap orang yang saya temui. Tanpa kita sadari sesungguhnya banyaknya pelajaran yang bisa kita lihat dari phenomena atau bisa kita petik dari lingkungan dimana kita berada …. Itu sebabnya Allah SWT pertama kali memberikan wahyu kepada nabi Muhammad SAW….ayat pertama yang diturunkan adalah iqra!…. Bacalah!…bukan membaca dalam bentuk harfiah….. tetapi lebih bersifat kontemplatif……thoughful!
DITO: Siapa (saja)kah tokoh/idola Anda? (Misal: Ir. Sukarno, Albert Einstein, dsb).
Jawab:
Rasulullah, Muhammad SAW.
Manajemen Waktu
DITO: Boleh tahu tips Anda di dalam me-manage waktu?
Jawab:
Saya tidak punya tips khusus…just flow like a river. Ada judul lagunya yang di bawakan oleh Billy Flunk ha ha ha.. Anyway, saya berusaha bekerja dengan target akan tetapi sangat flexible tergantung kondisi yang ada.
DITO: Boleh tahu kiat Anda di dalam menyeimbangkan/mengharmoniskan antara karir dengan keluarga?
Jawab:
Pada awal-awal karier saya, saya memang merasa agak sukar membagi waktu dengan keluarga. Akan tetapi kesemuanya akan berproses dan masing-masing orang akan menemui polanya sendiri-sendiri.
Saya berusaha 100% berkonsentrasi menyelesaikan tugas dan kewajiban saya selama berada di kantor atau di laboratorium pada waktu bekerja, serta memberi perhatian penuh pada keluarga dan mencoba tidak melaksanakan pekerjaan kantor pada saat berada di rumah.
Kesan dan Pesan
DITO: Apa kesan dan pesan Anda untuk mahasiswa dan residen kedokteran, terutama yang berminat mengikuti jejak Anda, sebagai pakar di bidang neurosains?
Jawab:
Saya merasa belum layak untuk disebut pakar atau expert karena belum memberikan kontribusi banyak dalam bidang neurosains…. Saya hanya belajar lebih dahulu dibanding teman sejawat Indonesia lainnya.. dan masih terus belajar sampai sekarang.
Berkaitan dengan pertanyaan anda…saya berharap mereka terus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan di luar tidak hanya pada bidang neurosains akan tetapi juga perkembangan ilmu kedokteran lainnya. Saat ini adalah information and science explosion era.
Begitu banyak informasi terbaru tentang penyakit, obat….. dsb. Dengan adanya akses via internet dan semakin banyaknya perpustakaan universitas yang memiliki akses untuk jurnal luar negeri memudahkan kita mengakses informasi tersebut. Masalahnya adalah bagaimana kita memahami dan mampu menginterpretasi serta mensintesis informasi yang didapat. Dan ini adalah tugas dosen dan kolega staff pengajar untuk membantu yunior dan mahasiswanya.
Pada era sekarang bukan pada tempatnya bahwa dosen atau guru besar sebagai satu-satunya ”sumber informasi”. Mereka harus mampu bertindak sebagai fasilitator agar mahasiswa dan residennya bisa mengolah informasi dari luar.
DITO: Apa kesan, pesan, dan saran Anda untuk pemerintah, terutama berkaitan dengan kebijakan di bidang kesehatan, terutama masalah neurosains?
Jawab:
Ya seperti yang saya sampaikan sebelumnya, sudah saatnya neurosains di masukan dalam kurikulum di kedokteran atau ilmu kesehatan/biologi. Demikian pula perlu regulasi dan dukungan dari pemerintah terhadap pengembangan institut neurosains atau pada rumah sakit pemerintah. Pengiriman tenaga pengajar/kesehatan dan kerjasama dengan pusat-pusat neurosains dinegara maju sudah saatnya dilakukan, yang pada gilirannya mereka bisa mengembangkan neurosains dan menangani pasien berdasarkan riset.
DITO: Apa pesan dan kesan Anda untuk pembaca netsains?
Jawab:
Mari kita bekerja yang terbaik untuk kita semua di bidang kita masing-masing dan semoga Allah SWT memberikan kesejahteran dan karunia bagi bangsa dan negara yang kita cintai ini.



(7 suara, nilai: 4.71 ⁄ 5)