Recent Comments


Powered by Disqus

25 Penulis Teraktif

  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • Foto anda tak tampak disini? Segera buat akun di Gravatar.com!
Netsains.Com on Facebook

Disini juga numpang iklan, yah. Buat biaya server :)

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 suara, nilai: 5.00 ⁄ 5)
Loading ... Loading ...

Perhatian!
Artikel ini adalah artikel lama, diterbitkan lebih dari setahun yang lalu.
Mohon beritahu kami melalui komentar apabila artikel ini sudah tidak relevan lagi

Fritz Sumantri Usman, Pakar Neurologi Intervensi

Wawancara eksklusif kita kali ini adalah bersama Fritz Sumantri Usman.

 

Siapakah bintang tamu istimewa Netsains.com kali ini?

Beliau adalah seorang neurolog biasa yang karena keterbatasannya dalam mengerti dan mengaplikasikan bidang neurologi mainstream , maka beliau mencoba untuk mencari dan menghadirkan satu subspesialis neurologi yang baru di Indonesia , yaitu neurologi intervensi , sehingga pada waktu itu setelah ketemu tempat yang akan menerima untuk pendidikan , maka ia kuatkan hati dan tekadnya untuk belajar bidang tersebut , tentu saja faktor utamanya adalah kesukaannya dengan bidang yang beliau geluti tersebut , namun faktor lainnya adalah karena beliau tahu bahwa dirinya tidak cukup pandai untuk mengaplikasikan ilmu neurologi yang dimiliki dengan sebaik atau sehebat teman teman neurologinya yang lain.

 

Beliau belajar dengan dana dari beasiswa orang tua ( ha…ha… dibayarin orang tua maksudnya, berangkat tanpa tahu nanti setelah selesai mau bekerja dimana , yang beliau persiapkan sebelum berangkat adalah hanya fakta secara de facto , bahwa neurologi intervensi telah masuk dalam buku standar kompetensi dokter spesialis saraf Indonesia; dimana hal tersebut berarti banyak , salah satunya adalah bahwa Neurologi Indonesia melindungi dan mengakui Neurologi Intervensi sebagai salah satu subspesialisnya .

 

Setahun lebih beliau menimba ilmu neurologi intervensi, setelah kembali beliau harus berusaha keras ke berbagai pihak untuk memberikan pengertian dan gambaran mengenai neurologi intervensi; tidak hanya apa itu dan seperti apa , namun juga bahwa neurologi intervensi itu sudah diakui oleh PERDOSSI , bahwa neurologi intervensi merupakan bagian dari Perdossi . Lebih dari 1 tahun beliau berjuang dengan keras untuk tegaknya subspesialis ini , tidak hanya masalah mental dan psikis , tapi ekonomi , pekerjaan tidak tetap, tempat prosedur tidak ada yang mau menerima , uang tidak punya……dsb dsb…..

 

Ada satu cerita yang berkesan , orang lain mungkin menganggapnya tolol , tapi ia menganggap itu adalah prinsip,tekad dan kebanggaan ; jadi ceritanya waktu itu ia ditawari bekerja di sebuah RS swasta baru di bilangan serpong dengan gaji sekian puluh juta / bulan dengan janji boleh melakukan prosedur neuro intervensi , setelah 6 bulan disana dan cathlab mereka sudah selesai , ternyata ia tidak diberi kesempatan untuk melakukan prosedur , akhirnya ia cari-cari masalah, mau keluar, dan sukses dikeluarkan , ha…ha…,hilanglah x puluh juta tiap bulannya, padahal waktu itu ia tidak punya pekerjaan yang lain , orang lain menganggapnya tolol , bodoh, arogan , konyol, sok kaya karena istilahnya membuang atau menyia-nyiakan gaji sebesar itu (untuk neurolog muda gaji tersebut tentu sangatlah cukup) , tapi itu harus dilakukan ( keluar dari RS tersebut dan menghilangkan x puluh  juta rupiah perbulan dari daftar pemasukan) , karena kalau tetap disana, bisa-bisa neurologi intervensi Indonesia tidak akan seperti sekarang ini, jadi ….dari yang x puluh juta sebulan , menjadi kembali mengorek ngorek tabungan , indahnya cerita tersebut adalah…..akhirnya 2 tahun setelah ia keluar, ia tidak hanya bisa mencapai dan melebihi angka tersebut , namun ia  juga sudah melakukan prosedur intervensi sesuai dengan panggilan jiwanya, dan tentu saja hal seperti ini yang ia inginkan. Jadi suka atau tidak suka ia harus berterima kasih kepada RS swasta  di serpong tsb, karena kalau mereka tidak mengeluarkan dirinya , mungkin neurologi intervensi tidak akan seperti sekarang ini…( ha….ha…), dan angka prosedur yang telah ia lakukan juga tidak sebanyak seperti saat ini .

 

Kembali lagi, dimasa awal setelah datang ke Indonesia, Prof. DR. Dr. Hasan Sjahrir SpS(K), adalah orang yang pertama memberikan kesempatan kepada beliau untuk bicara mengenai neurologi intervensi di FK USU Medan , beliau tidak hanya membukakan pintu untuknya, namun ke depannya pun beliau tetap konsisten membantu perkembangan neurologi intervensi di Indonesia ; katanya, kalau saja suatu saat nanti kami bisa memberikan neurologi intervensi award , maka achievement pertama akan diserahkan kepada Prof. DR. Dr. Hasan Sjahrir SpS(K), karena bila tidak seorang guru besar di Indonesia dari bidang neurologi yang pantas menerimanya adalah Prof.Hasan Sjahrir , tanpa beliau maka tidak ada neurologi intervensi di Indonesia, diri saya (Fritz Usman) adalah nothing….tanpa beliau kami sama sekali tidak memiliki kekuatan.

 

Setelah di Medan , beliau mengadakan workshop neurointervensi di Makasar, lalu Jogjakarta , kemudian Bukittinggi, setelah itu baru datang kesempatan untuk berbicara di sedikit seminar tentang neurologi intervensi ; kenapa sedikit ? , ya karena kami masih sedikit ( saat tulisan ini dibuat – Juni 2011 ) , kami ( ahli neurologi intervensi dari spesialis neurologi ) baru berjumlah 10 orang , kebanyakan sejawat menganggap bidang kami tidak bisa dijual sehingga kalau dimasukan ke dalam seminar pasti jadi sesi amal karena tidak ada sponsor, atau karena neuro intervensi tidak bisa dikuasai hanya lewat workshop, jadinya kalau diseminarkan atau dibuat workshop , itu hanya sebagai pengantar , dan tidak akan pernah mendapatkan skill untuk melakukan prosedur intervensi , karena belajarnya harus 1 tahun (standard international minimal 1 tahun) , jadi menurut panitia buat apa bikin workshop neurointervensi , sudah sponsor tidak ada, output-nya ngga jelas.

Kembali lagi ke masalah pekerjaan , setelah keluar dari RS tersebut , beliau bekerja di RS swasta lainnya di bilangan Jakarta Selatan , hingga pada suatu hari ada seorang neurolog, kepala SMF Neurologi RSUP Fatmawati , menawarkan untuk bekerja disana , akhirnya dengan perjuangan dan kesabaran , beliau pun bekerja di RSUP Fatmawati hingga saat ini , dan sehingga tidaklah berlebihan bila pihak kedua yang berjasa terhadap perkembangan neurologi intervensi di Indonesia  dan khususnya perkembangan skill saya tidak lain adalah dr. Hastari Soekardi SpS dan direktur RSUP Fatmawati pada saat itu Dr. Chaerul R. Nasution SpPD yang sudah memberi kepercayaan untuk mengembangkan pelayanan neurologi intervensi yang dilakukan oleh seorang neurolog. Tak lupa pula beliau menitipkan ucapan terima kasih kepada Direktur Fatmawati yang sekarang , yang masih memberikan kepercayaannya untuk terus berkarya di bidang Neurologi Intervensi .

Indahnya bekerja di RS umum adalah , dengan jumlah pasien yang banyak, tentu angka prosedur yang dapat dilakukan pun meningkat pesat , dan itu semua perlu disyukuri, diambil hikmahnya, dijadikan pelajaran dan merupakan bagian dari perjalanan hidup beliau sebagai seorang neurolog intervensi.

Tentang kepribadian beliau….hmmmm… seperti sudah dijelaskan di atas , beliau “hanyalah” seorang neurolog biasa , yang kebetulan bisa neuro intervensi …., bagi banyak orang, beliau mungkin adalah seorang dengan pribadi yang amat menyebalkan , itu sah sah saja mereka berpendapat seperti itu ungkap beliau, yang penting saya mau berbagi ilmu, berkarya untuk kemajuan ilmu neurologi di Indonesia , membantu masyarakat Indonesia sesuai dengan bidangnya.

Apabila karya beliau itu diterima dan orang suka, itu hak mereka, begitupun sebaliknya bila ada yang tidak berkenan dan kemudian membenci, itu sepenuhnya hak mereka. Beliau tidak pernah mau ambil pusing dengan hal hal seperti itu , yang pasti juga tidak akan pernah berniat untuk menjahati orang , menzalimi orang, menipu orang, mengambil harta orang apalagi mencelakakan orang , cukup dirinya dan Tuhan saja yang tahu , kalau beliau tidak ada niatan yang macam-macam.

Bagaimana dengan obsesi dan impian beliau? Untuk kehidupan pribadi , tentu saja ia bermimpi menjadi seorang suami dan ayah yang sukses dalam memelihara keluarga dan membesarkan anak-anak kami hingga masa kontraknya di dunia nanti habis. Beliau menikahi seorang wanita yang hebat dan ingin mengajarkan serta melihat anak-anaknya menggoreskan pena mereka sendiri di dalam buku besar dunia. Beliau ingin mereka besar dan tumbuh menjadi orang orang yang lebih baik dan lebih hebat dari orang tuanya di segala hal. Sementara obsesi dan impian di dalam karier, beliau ingin agar neurologi intervensi :

  1. Tidak mendapat resistensi yang besar lagi dari teman teman sejawat spesialis lain , karena kita bicara masalah ilmu . Kita bukan bicara masalah agama , kalau agama sudah jelas , orang islam sembahyangnya di masjid , orang Kristen di gereja, orang hindu di pura dan orang budha di vihara , orang islam tidak boleh sembahyang di gereja atau orang hindu tidak boleh sembahyang di masjid ….kalau agama masalahnya jelas , nah inikan masalah ilmu. Cobalah dipikir, bila seseorang selama memiliki kompetensi yang cukup ( ada ijazah dan sudah melewati pendidikan terstruktur sesuai standard international ) , diakui oleh kolegium spesialis masing masing maka dia sudah berhak untuk mengamalkan dan mengaplikasikan ilmunya untuk masyarakat.
  2. Di terima oleh sejawat sesama neurolog, dan semakin banyak yang mengerti bahwa neurologi intervensi itu ada untuk memberikan pelayanan yang komphrehensif terhadap pasien pasien neurologi khususnya kelainan kelainan pada pembuluh darah otak
  3. Diterima dan diakui oleh ASKES, sehingga orang yang membutuhkan pelayanan ini , tidak perlu membayar lagi , kasihan orang orang yang ekonominya pas pas an.

Itu saja obsesi dan impiannya.

 

Mewujudkan Mimpi

DITO: Apakah menjadi dokter merupakan cita-cita sejak kecil? Bila tidak, apa cita-cita dokter sebenarnya? Mohon diceritakan…

Jawab: pemain musik , saya suka main musik, saya punya studio pribadi di rumah untuk menyalurkan keinginan saya bermain musik

 

DITO: Bagaimana reaksi keluarga dan para sahabat, saat dokter memutuskan menjadi dokter?

Jawab: ayah saya kebetulan seorang spesialis juga , sebenarnya beliau tidak memaksa saya menjadi dokter , bahkan dulu sebelum masuk FK, beliau yang mengambilkan saya formulir untuk masuk IKJ , jadi kalau ditanya apa reaksi beliau saat saya menjadi dokter ,  maka beliau cuma bilang….so another doc in our family …..sementara ibu saya , beliau memang mau semua anak-anaknya jadi dokter , Alhamdulillah keinginan ibu saya terkabul , jadi beliau pasti senang karena tidak hanya 1 , tapi semua anak anaknya sekarang menjadi dokter

DITO: Mengapa tertarik memilih spesialis saraf?

Jawab: saya memutuskan jadi spesialis setelah 3 tahun tidak ngetop ngetop sebagai musisi , tahun 1998 album kami keluar , tapi langsung hangus karena Jakarta rusuh ( peristiwa Mei 1998 ) , setelah bosen nggak beken beken , saya masuk spesialis ….kenapa milih saraf….sebenernya saya juga nggak ngerti kenapa ; tapi sekarang saya tahu , mungkin ini jalan hidup saya yang dipilihkan oleh Tuhan saya , karena kelak setelah lulus saya akan menjadi seorang neuro intervensi.

 

 

 

 

DITO: Mengapa tertarik memilih sub spesialis saraf intervensi?

Jawab: kan sudah dibilang diatas , karena saya bodoh di neurologi …ha…ha….ha…, otak saya nggak cukup bisa menghafal dan mengerti penyakit penyakit saraf tepi, epilepsi , penyakit degeneratif . Anda boleh tanya sama semua guru dan teman teman saya waktu masa masa residen di UI , “ apakah Fritz itu pintar ? “ , pasti mereka semua bilang , kalau Fritz itu tidak termasuk yang pintar , bisanya cengenges cengenges saja ……he…he…., di neuro intervensi , anda lebih membutuhkan skill , pengamatan , perhitungan dan keberanian dibandingkan teori, dan saya suka itu .

Pengalaman Hidup

DITO: Bagaimana Dokter menjalani kehidupan masa anak-anak, remaja, dan dewasa?

Jawab: sama seperti anak anak yang lain , tidak ada yang istimewa . Saya dibesarkan di keluarga yang alhamdulillah bisa memberikan kesempatan kepada saya terkait pendidikan apa yang saya inginkan ; saya dibesarkan di keluarga yang sangat demokratis , saya dan adik adik saya ( saya sulung dari 3 bersaudara )  bisa tidak sependapat dengan orang tua kami dan menyatakan ketidaksependapatan kami tersebut ( tentu dengan cara yang sopan ) , orang tua saya adalah salah satu hal terbaik yang dilimpahkan oleh Allah kepada saya , dan saya bangga pada mereka , bagi saya , mereka adalah orang tua terbaik yang pernah ada di muka bumi ini .

 

DITO: Dapatkah Dokter berbagi cerita tentang kehidupan “masa lalu” yang begitu menempa dan mendewasakan diri, sekaligus mengandung hikmah?

Jawab: saya mengambil sub spesialis neuro intervensi di New Delhi India , hidup lebih dari 1 tahun , terpisah dari orang yang saya cintai . Karena saya mau menghemat , flat saya tidak ada AC ataupun pemanas ( di New Delhi bila musim dingin suhu bisa mencapai 3-5 derajat dan bila musim panas suhu bisa mencapai 50 derajat ) , dan para fellow yang lain pada saat itu menyebut saya reptil , karena bisa tahan disegala cuaca , sementara flat tempat saya tinggal , flat itu sedemikian buruknya hingga ke 9 neuro intervensi setelah saya , tidak ada yang mau tinggal disana ( ha…ha…ha..) , sedemikian buruknya hingga istri saya bilang , kandang kuda pun lebih baik daripada tempat saya tinggal 1 tahun itu. Uang dari penghematan yang ekstrim itu saya pergunakan untuk menelfon anak anak saya di Jakarta dan istri saya di Tokyo ( waktu itu dia sedang belajar juga disana ) . Saya belajar di perpustakaan karena di kamar flat panas / dingin, saya tidak punya kendaraan disana , bila ada pasien datang , jam 2 pagi saya harus berjalan dari flat ke RS di tengah malam penuh kabut dan dingin, demikian pula bila selesai prosedur dini hari , pulang berjalan kaki cuma untuk mandi , sarapan dan memulai aktivitas lagi,  untuk makan pun saya berhitung , dan sifat orang semenanjung Bengali yang keras setidaknya berpengaruh terhadap temperamental saya , terlebih sewaktu pulang ke Indonesia , dan menyaksikan banyak hal yang masih saya harus lakukan.

 

DITO: Apa sajakah pengalaman Dokter yang paling unik, lucu, dan/atau berkesan selama menjadi mahasiswa kedokteran, koas, dokter, residen?

Jawab: tidak ada yang unik , semua berjalan seperti air , mentok disini mengalir kesana , mentok disana cari lagi tempat untuk mengalir ….let it flow my friend…..saya menikmati setiap detik dalam hidup saya , malah karena terlalu menikmati saya mungkin agak terlalu santai .

 

DITO: Bagaimana suka-duka menjadi dokter umum dan dokter saraf, dan subspesialis neurologi intervensi?

Jawab: saya hampir tidak menikmati saat saat sebagai dokter umum , karena sejak ko as saya lebih suka main musik . Sebagai dokter saraf suka dukanya , masih banyak penyakit penyakit yang defisit neurologi nya irreversible….semoga suatu saat nanti jumlah yang irreversible semakin sedikit . Sebagai neuro intervensi , sukanya …… saya suka  bidang ini , jadi saya mencintai bidang ini dan ikhlas menjalaninya , ngga sukanya , kalau kita dihambat berkarya .

 

Menemukan Allah

DITO: Bagaimana Dokter dapat menemukan (mengakui) hakikat atau eksistensi Allah melalui ilmu neurologi intervensi ini?

Jawab: wuihhhh…berat nih yang ini pertanyaannya ……Saya percaya Allah , walaupun saya tidak bisa melihat dan mendengarnya , tapi saya bisa merasakannya , tidak hanya di neurologi , tapi di setiap detak jantung saya . Dan saya percaya , Allah yang menyembuhkan pasien pasien saya , saya hanya perantara saja , tidak lebih dan tidak kurang .

 

 

Top Ten Diseases

 

DITO: Menurut Dokter, apa saja “top ten diseases” yang sering dijumpai di dalam praktek/kehidupan sehari-hari?

Jawab: stroke, nyeri kepala, nyeri bawah panggul, vertigo, kesemutan, epilepsi , cedera kepala…sudah berapa tuh….oh ok…3 lagi ya …..hmmm….infeksi otak, tumor otak…..satu lagi biar yang baca saja lah yang menjawabnya…..hitung hitung interaktif…wakakkak…….

 

DITO: Secara umum, bagaimana solusi untuk mencegah dan mengatasi “top ten diseases” tersebut?

Jawab: hidup sehat, jangan cengeng, dan selalu mencegah bila sudah ada gejala awal , tentu semuanya tergantung penyakitnya ya .

 

 

Dokter dan Pasien yang Ideal

 

DITO: Menurut Dokter, bagaimana kriteria dokter dan dokter gigi yang ideal itu?

Jawab: memberikan keterangan yang jelas kepada pasien , memberikan usulan entah itu terapi, ataupun pemeriksaan penunjang yang terbaik bagi pasien tersebut .

 

DITO: Berbicara tentang dokter yang ideal, tentunya ada “pasien ideal”, menurut Dokter?

Jawab: mau bekerja sama dengan dokternya , tidak sok pintar atau sok jadi dokter buat diri sendiri.


Formula Sukses

DITO: Boleh tahu formula sukses Dokter?

Jawab:

Bekerja dengan cermat dan hati senang , berdoa , ditambah lagi dengan :

  1. jangan pernah jahat sama orang
  2. jangan pernah ambil rejeki orang
  3. jangan pernah ambil hak orang

 

DITO: Boleh diceritakan tentang pengalaman menimba ilmu di India?

Jawab: belajar di India khususnya di bidang kedokteran ada perbedaannya dengan di Indonesia , mereka sudah hospital based , jadi bukan faculty based lagi seperti kita , ada kelebihan dan kekurangan dari masing masing sistem tersebut , namun saya melihat program yang dikerjakan residen hampir sama , hanya mereka memang lebih berat dalam durasi waktu kerja , dan lebih diberi tugas yang menumpuk , akhirnya mau ngga mau belajar keras juga. Saya sering berdiskusi dengan residen bedah saraf di sana , dan mereka , maksud saya orang orang India , fighting spirit dan struggle of life nya ( secara umum ) memang sedikit lebih tinggi di banding orang Indonesia seperti saya .

 

 

DITO: Menurut Dokter, bagaimana kemajuan ilmu kedokteran di India? Mengapa mereka lebih maju dari Indonesia? Mohon diceritakan secara detail dan lengkap.

Jawab: Bila bicara masalah kedokteran , kita harus berbicara tentang banyak hal dan dari banyak sisi .

  1. Kebijakan pemerintah ; di India , obat murah , alkes murah , bea masuk perangkat diagnostik minim , karena apa , karena mereka semua diharuskan membuat barang barang tersebut di India , sehingga akses masyarakat dalam menikmati pelayanan kesehatan yang optimal lebih maju dan merata , obat obat India dengan kualitas yang sama ( bahkan beberapa merk yang saya cari di pasar pramuka ) harganya jauh lebih murah dibanding produk kita , karena kita hanya mengimpor , di kasih stempel sudah ada ijin POM terus diedarkan , jadi kita ini tidak ubahnya seperti distributor saja , kalau mereka , mereka yang membuat obat itu dengan license dari pabrik induknya .
  2. Asuransi lebih berjalan disana ; kalau melihat bentuk polis atau klaim mereka , kita pasti ketawa , karena cuma kertas foto copy , tapi untuk pertanggungan dan premi yang disetor , mohon maaf ….mereka lebih maju dibanding kita .
  3. Subsidi ; kalau mau melihat subsidi untuk pendidikan dan peningkatan kualitas pendidikan , silahkan contoh india , harga kertas amat sangat murah ( koran dengan tebal yang sama di jakarta 5000 rupiah di india 1800 rupiah ) , sehingga harga buku buku pun amat sangat murah , mereka berbahasa Inggris sehingga buku buku kedokteran setelah di license sama gov’ , mereka cetak dengan kertas subsidi mereka , murah sekali .
  4. Pelayanan RS ; kalau yang ini hampir sama , mungkin masalah mental ya , jadi memberikan kepuasan yang maksimal kepada pasien itu masih menjadi tujuan .
  5. Mental ; di India  dokter pembimbing saya , praktek di 1 RS , dari jam 8 pagi hingga jam 8 malam , bahkan kadang lebih kalau kami ada prosedur . Di tempat tersebut , dia operasi, terima pasien, makan siang , tidur siang, makan malam , terima pasien sore ; jarang sekali dokter praktek di 3 tempat , maksimal 2 itupun yang 1 biasanya rumah sakit jejaring yang pertama .
  6. Biaya murah disana , untuk program fellow ini , waktu saya belajar hanya 10 juta pertahun ( sekarang sudah 30 juta an pertahun ; padahal baru 3 tahun , denger denger karena mulai banyak orang Indonesia , mereka mulai pasang harga….ha…ha.. ), namun karena guru saya suka sama saya , mungkin tepatnya kasihan ya , akhirnya saya boleh tidak bayar uang sekolah alias free of tuition fee …..jadi saya hanya bayar untuk living cost saja , yang plus minus sama lah dengan yang di Jakarta .

 

DITO: Hikmah apa saja yang Dokter dapatkan setelah menimba ilmu dari India?

Jawab: kalau mau maju itu memang usaha nya juga harus lebih ya . Dua hari pertama di India saya nangis , koq kenapa nekad bener kesini , apa yg saya cari disini ; tapi karena udah tekad saya jalan terus , saudara saya felow dari Bangladesh banyak membantu adaptasi saya , hidup keras disana , temperamen keras disana , bentakan juga lebih keras disana dan lebih sering ( sungguh….4,5 tahun saya sekolah spesialis , bentakan yang saya terima jauh lebih sedikit dibanding di India ) , namun saya sadar itu semua untuk mental dan kehandalan skill saya , akhirnya terbawa bawa ke jakarta , banyak yang bilang saya arogan , nggak mau kalah, suka bekoar koar , mungkin itu dari alam bawah sadar saya ……saya tidak rela apa yg sudah saya lakukan dan kerjakan di India , dengan penuh perjuangan dan pengorbanan yang tidak hanya moril, materi dan imateri ……di Indonesia diremehkan dan diacuhkan , bahkan sempat dilarang dengan seenaknya ….no way man….over my dead body first………

 

 

 

 

 

DITO : sewaktu di India dulu , apakah tidak ada tawaran untuk bekerja di negara lain ?

Jawab : ada…banyak malah, sewaktu di India dulu , banyak tawaran yang masuk ke departemen neurologi intervensi , menawarkan kepada saya untuk bekerja di Emirates, Kuwait, Saudi , bahkan Malaysia . Namun saya ingat , saat itu saya adalah calon neurologi intervensi pertama di Indonesia , Tuhan saya sudah memberikan banyak jalan dan kemudahan agar saya dapat sekolah ini , dan yang terpenting , di dada saya ada merah putih , bagaimana pertanggung jawaban saya di hadapat Tuhan dan Negara saya , apabila saya malah kabur ke negara lain. Memang tidak ada kewajiban saya kembali ke Indonesia , karena tidak ada sedikitpun uang pemerintah yang saya pakai , tapi…saya cinta Tuhan saya , saya cinta negara saya , saya cinta keluarga besar saya…walaupun banyak pihak pihak di negara saya yang katanya tidak membutuhkan saya , tapi saya yakin masyarakat Indonesia membutuhkan saya. Saya seorang Indonesia , dan Indonesia adalah darah yang mengalir di tubuh saya, terserah bila orang tidak membutuhkan saya, tapi tidak akan saya menari diatas penderitaan dan ketertinggalan bangsa saya. Bangladesh sudah memiliki 4 orang neuro intervensi pada saat itu , dan kita belum…., kalau saya pergi dan tidak pulang ke Indonesia, mungkin neurologi intervensi membutuhkan lebih lama lagi waktu untuk hadir di Indonesia .

 

The Men Behind the Gun

DITO: Menurut Dokter, siapa sajakah orang-orang penting yang berada di balik kesuksesan Dokter?

Jawab: kedua orang tua saya ( Usman Atmaprawira SpKK dan Farida Baringin ) , oma saya ( Fatimah Nur ) , anak anak saya ( Fritz Sumantri Usman Jr  dan Firos J. Sumantri Usman ), istri saya tercinta ( Fitri Octaviana SpS ), adik adik saya , dan sejak saya menikah dengan istri saya , tentu ke 2 mertua saya pun memiliki andil yang besar dalam kesuksesan saya . Selain itu Guru guru saya seperti Shakir Husain, Osama Zaidat, Andrew Xavier, Martin Schumacher, Prof. Hasan Sjahrir, Prof. Aliah, Prof. Hasan Machfoed, Prof. Lamsudin, Prof. Misbach , Dr. Hadril H……mereka punya porsi masing masing dalam kesuksesan saya

 

DITO: Siapa (saja)kah guru yang amat berkesan dan berpengaruh dalam kehidupan Dokter sampai saat ini? (Boleh guru TK, SD, SMP, SMA, dosen, dosen di India, dsb)

Jawab: semua nya sama , tanpa mereka semua saya tidak bisa menjadi seperti sekarang ini , thanks GOD for all of them , may GOD bless ’em all.

 

DITO: Boleh tahu kiat Dokter di dalam mengharmoniskan waktu untuk keluarga, profesi (sebagai dokter spesialis saraf….), hobi ( bermain musik), dan organisasi (Perdossi)?

Jawab: he…he….saya cuma praktek malam 2x koq , jadi waktu saya banyak untuk keluarga , kecuali ada prosedur cito , kalo tidak …..5 malam dalam seminggu saya di rumah ….ada yg bilang saya pemalas….saya bilang saya terlalu menikmati hidup saya…he…he…

Untuk organisasi , saya belum banyak di undang , karena saya masih ngurusin pokdi , belum ada apa apa nya saya itu di kancah per-neurologi-an indonesia , masih kelas kecoa .

DITO: Boleh diceritakan secara umum dan awam tentang bidang neurologi intervensi ini?

Jawab: please visit this website :

www.fritzsumantri.blogspot.com

www.kuizneurologyintervensi.blogspot.com/

di sana anda akan temukan banyak hal tentang neurologi intervensi,mau yang di Indonesia atau asing , semuanya ada .

Idola, Buku, Masakan Favorit

DITO: Siapa (saja)kah tokoh/idola Anda? (Misal: Nabi Muhammad SAW, Ir. Sukarno, Albert Einstein, dsb). Lalu, buku jenis apa (saja) yang menjadi bacaan favorit Dokter (misal: novel Laskar Pelangi karya Andreas Hirata, dsb)?

Jawab:

Idola saya Muhammad SAW dan Ali bin Abi Thalib ra, untuk buku ….selain main musik saya suka sekali membaca dan nonton film , jadi semua buku yang bisa dibaca dan asyik , pasti saya suka….btw saya sudah menulis 3 buku lho…., untuk film saya suka best of the best yang dibintangi Eric Roberts , untuk grup music, dewa bermusik saya adalah Duran Duran dan Mono , lagu kebangsaan saya Life in mono ( bukan Indonesia Raya , karena itukan lagu kebangsaannya Indonesia ) . Saya suka jenis buku dan film tentang  detektif dan pembunuhan…pokoknya yang sadis, dark, underground dan …..pokoknya yang mengungkapkan sisi kelam dari manusia-lah.

DITO: Boleh tahu (apa saja) resep masakan dan minuman favorit Dokter?

Jawab: jus alpukat dan gulai otak…….mau bawain…..he…..he…

DITO : apa yang dokter paling sukai dalam kehidupan dokter

Jawab: keindahan dalam semua aspek kehidupan

DITO : yang dokter benci adalah ¿

Jawab : kemunafikan

“Pesan dan Kesan”

 

DITO: Apa (saja) pesan dan kesan Dokter untuk mahasiswa kedokteran, koas, dan residen?

Jawab: menjadi dokter itu tidaklah mudah , namun lebih tidak mudah lagi menjadi dokter yang baik ; sayangi pasien anda , maka mereka akan berdoa untuk diri anda .

 

DITO: Apa pesan dan kesan Dokter untuk rekan sejawat atau rekan seprofesi?

Jawab:

Rekan sejawat sebaiknya saling menghargai satu sama lain, jangan menyalahkan terapi dokter lain dan disampaikan kepada pasien karena setiap dokter pasti mempunyai alasan untuk memilih terapi tersebut berdasarkan keadaan tiap pasien.
DITO: Apa pesan dan kesan Dokter untuk pemerintah?

Jawab: kalau yang ini sudah ada yang berwenang mas Dito , kita tambah pesan buat beliau beliau itu pasti hanya akan membuat mereka semakin bingung.

 

DITO: Apa pesan dan kesan Dokter untuk pembaca Netsains.com?

Jawab: nikmati dan cintai hidup anda


Demikian wawancara eksklusif ini, semoga bermanfaat dan mencerahkan kita semua.

 

 Tentang Penulis:

Dr Dito Anurogo Dito Anurogo adalah dokter yang sedang berkarya dan mengabdikan diri di neuroscience department, Brain and Circulation Institute of Indonesia (BCII), Surya University, Indonesia.Ia adalah dokter pehobi filateli-numismatik, fotografi, pecinta alam, pernah aktif di FLP (Forum Lingkar Pena) Semarang, Member of IFMSA (International Federation of Medical Students' Associations), dan konsultan kesehatan di NetSains.net dan detik.com. Ia mendapatkan sertifikasi CME dari berbagai universitas ... Selengkapnya »
 
  Beri komentar atau taut balik artikel ini.
  • Anonymous

    tulisannya keren, profilnya juga keren !!!……….

  • Anonymous

    nasionalis bener dokter kita ini…..kaya sih…..tapi jarang lho dok orang kaya itu nasionalis , biasanya cuek atau malah opurtunis

  • Effendy Harun

    this is Severity COOL doc !…..your story was realy inspired !!!…..keep on the BEST doc !!!