Sebelum tidur ku-cross check kembali jadwal kuliah untuk esok hari. Besar harapan bahwa selama ini aku salah melihat jadwal. Jika bukan aku yang salah melihat jadwal, kuharap jadwalnya lah yang salah memberi informasi kepadaku. Tapi, kenyataan tetap tidak berubah. Tetap saja nama profesor itu bertengger dengan indah nya di deretan angka 09.15 pagi.
Hampa sudah harapan untuk melaksanakan ibadah sunnat setahun sekali itu. Apakah tidak cukup penderitaan berlebaran dirantau saja yang aku terima, hingga harus kau tambah lagi dengan tidak memberiku kesempatan untuk melaksanakan ibadah sunnat ini wahai kau pemimpin negeri, teriakku miris dalam hati. Tapi apalah daya, Istana negara di Berlin sana tentunya tidak kan mampu mendengar lengkingan suara 180Hz ku yang kian parau karna menahan kesedihan.
Namun benarlah bahwa Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Salah seorang sahabat sekaligus teman kelasku asal Bangladesh,tak lama kemudian memberitahukan bahwa shalat ied akan dilaksanakan pukul 08.15 pagi. Dipercepat 1 jam dari jadwal sebenarnya. Mengingat banyak jamaah lain yang juga harus bekerja dan melakukan aktivitas lainnya di hari tersebut. Alhamdulillah ya Allah, akhirnya kau memberikan kesempatan indah ini kepada hamba-Mu.
Tanpa menunggu lama, kusetel alarm di handphone ku untuk bangun lebih awal esok pagi. Ingin ku membersihkan diri dan berdandan dengan sempurna untuk menyambut hari yang agung itu. Kurencanakan juga sedikit waktu untuk memasak makanan sederhana, sebagai bentuk perayaan hari Ied mubarak ini. Tentu bukan sebuah makanan lengkap berbumbu sebagaimana yang kurasakan saat dikampung halaman dulu. Hanya roti wafel ditambah sedkit gorengan kentang dan telur mata sapi sudahlah cukup sebagai simbol. tidak lupa pula “sop” sayur dan nasi putih ku persiapkan sebagai menu pendamping guna menghadapi beban pelajaran yang harus kuterima sesaat setelah ritual ibadah ini selesai. Dan untuk melepas dahaga, cukuplah air keran sebagai simbol pengganti timun kerok + sirup Marjan. Alhamdulillah.
Sebelum melangkah menuju tempat tidur, kuhitung-hitung kembali rencana perjalanan yang akan kutempuh esok hari, agar semuanya dapat berjalan sesuai dengan harapan. Waktu adalah hal yang paling krusial di negara berbangsa Aria ini. 1 menit keterlambatan berarti mempersiapkan diri untuk merubah seluruh rencana 15 menit lebih lama. Transportasi disini sangat terpaku pada waktu. Jangan berharap bahwa Tram atau Bus disini seperti angkutan kota yang berseliweran setiap menitnya. Sebaliknya, yang kau dapati tidak lebih hanya jalanan/rel kosong sembari duduk termangu di halte sambil menahan dingin yang menusuk tulang menunggu kedatangan mereka pada jadwal berikutnya. Kusarankan agar kau jangan mencobanya kawan, karena aku pernah dan penderitaan hanyalah hadiah yang kau terima.
30 menit waktu yang harus kutempuh dari kediamanku di Kiewerstrasse menuju Hauptbahnhof. Kemudian 15 menit tambahan wakktu kubutuhkan untuk menuju Masjid yang terletak di kawasan Leipzig Zentrum Nord itu. Setelahnya, 20 menit adalah waktu minimal yang harus kutempuh untuk menuju gedung perkuliahanku di Bethoovenstrasse dari mesjid Ar-Rahman tersebut. Berarti setidaknya, aku harus berangkat paling telat pukul 07.23 dari wohnung ku dan segera meninggalkan mesjid paling tidak pukul 08.50 pagi. Semoga saja dalam waktu yang singkat ini dapat kulaksanakan ibadah sunnah ini dengan sempurna dan segala amal ibadah ku diterima di sisi Allah SWT.
Segalanya telah dipersiapkan. tidak ada lagi yang mampu keperbuat selain berserah diri kepada Allah. Dengan langkah mantap kututup hari sembari memenjamkan mata dan membaca doa dalam hati. Berharap esok hari akan lebih baik dari hari-hari yang telah terlampaui. Amin.





