Netsains.Com - Jakarta amat heterogen. Soal jalur kendaraan, ada jalur sepeda, jalur bus trans jakarta, jalur pejalan kaki, hingga jalur sepeda motor. Maklum, pada tahun 2011 ini, tak kurang dari 11 juta kendaraan bermukim di Jakarta.
Pembuatan jalur-jalur tersebut, dalam perspektif saya, bertujuan mereduksi potensi kecelakaan lalu lintas jalan. Di sisi lain, secara teknis juga diharapkan bisa mengurangi kesemrawutan lalu lintas jalan. Walau, faktanya karut marut masih menjadi pemandangan rutin.
Bagaimana tidak, para pengguna jalan saling serobot. Jalur motor dikangkangi angkutan umum dan mobil pribadi. Jalur pejalan kaki dilibas pemotor dan pedagang kaki lima. Jalur busway diserobot pemotor, angkutan umum, hingga mobil pribadi. Bahkan, jalur sepeda dilibas pemotor dan mobil pribadi, serta angkutan umum. Seakan semua tak ingin saling mengalah.
Saat ini, jalur motor di Jl Sudirman dan Jl MH Thamrin yang membujur di Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat, tak pernah sepi dari pengguna jalan lain. Di lajur tersebut memang hanya dipisahkan garis putih menyambung. Praktis pengguna jalan nakal bisa seenaknya. Mulai angkutan umum, hingga mobil pribadi.
Ironisnya, ketika pemotor melambung keluar dari jalurnya, yakni masuk ke jalur cepat seperti di Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, banyak yang kena semprit. Ada beberapa teman yang kena tilang. Sebaliknya, jalur motor yang disusupi kendaraan lain bisa melenggang seenaknya. Gak adil yah?
Foto: edo rusyanto



