NetSains.com

Recent Comments


Powered by Disqus

25 Penulis Teraktif

  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • Foto anda tak tampak disini? Segera buat akun di Gravatar.com!
Netsains.Com on Facebook
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (Belum ada rating)
Loading ... Loading ...

Perhatian!
Artikel ini adalah artikel lama, diterbitkan lebih dari setahun yang lalu.
Mohon beritahu kami melalui komentar apabila artikel ini sudah tidak relevan lagi

Mewaspadai Musim Bencana

Perhatikan Bulan-Bulan Bencana

 

Dalam beberapa hari ini saja kita mendengar beberapa informasi kejadian bencana rutin yang selalu saja kita dengan pada bulan-bulan November hingga maret. Ya. Bencana yang berkaitan dengan proses meteorologis. Musim hujan !!

Indonesiamemang sebuah negara yang gemah ripah loh jinawi, tentunya kalau dilihat dari kesuburan tanahnya. Kesuburan tanah ini akibat proses pelapukan tanah yang sangat intensif yang menyebabkan lapisan tanah lapuk dan tanah subur ini menjadi cukup tebal. Namun konsekuensi logis dari ketebalan tanah ini adalah semakin mudahnya tanah ini untuk longsor bila diguyur air hujan berlebihan. Proses longsoran, pengangukutan oleh air, dan sedimentasi memang proses alamiah saja.

Sebagai manusia yang berpikir tentunya kita perlu mengantisipasinya supaya memperoleh manfaat yang optimal selain menghindari bahaya bencananya.

 

Bulan-bulan hujan

 

Grafik diatas menunjukkan bahwa bencana itu mirip seperti musim meteorologis. Mengapa bisa begitu ? Ya karena secara statistik diIndonesiakejadian bencananya terutama yang berkaitan dengan kejadian meteorologis. Sehingga kalau kita tahu bahwa karakteristikIndonesiaseperti itu maka pengerjaan proyek-proyek lingkungan sepantasnyalah dikerjalan pada bulan-bulan dimana musim hujan tidak terjadi. Ini perlu dimengerti juga bahwa satu bencana selalu berkaitan dengan peristiwa lainnya.

 

Mengapa pelapukan menyebabkan peningkatan longsor ?

 

Dibawah ini sebuah ringkasan sebuah artikel yang memperlihatkan bagaimana tingkat pelapukan tinggi menyebabkan tingkat bahaya longsor semakin tinggi. Tulisan ini dapat diunduh di internet juga, looh.

Bangunan dipinggir tanah miring memang biasanya sangat menarik pemandangannya. Coba saja tengok di daerah puncak juga didaerah-daerah wisata lainnya. Karena pandangan kedepan yang terbuka menyebabkan daerah pinggir tebing atau pinggir gunung menjadi sangat eksotis pemandangannya. Namun serigkali daerah ini memiliki tingkat risiko longsor yang cukup besar. Garis titik-titik ini memperlihatkan kemungkinan bidang luncur yang mampu meretakkan tanah dan menyebabkan bangunan rusak.

Daerah longsor biasanya tidak hanya terdapat satu longsoran saja. Ketika anda melihat satu daerah longsor, maka perlu dilihat sekitar-sekitarnya. Sangat mungkin daerah longsor ini merupakan satu kompleks tempat dimana longsoran kecil-kecil juga terjadi. Seandainya longsoran ini dikumpulan tentusaja akan mencakup daerah yang cukup luas dan bahkan mampu membahayakan satu kampung atau satu dusun.

Memetakan daerah yang berpotensi longsor memang bukan pekerjaan mudah. Namun bagi mahasiswa geologi, memetakan darah longsor merupakan sebuah latihan yang akan bermanfaat. Proses longsoran merupakan proses dasar dalam berbagai proses geologi. Terutama proses perubahan morfologi dan stuktur akibat gravitasi.

Dalam skala kecil proses longsoran ini terlihat sederhana saja. Dapat diamati dilapangan, dapat dipakai sebagai model, dan mudah dijangkau. Namun dalam skala raksasa yang mencakup daerah sangat luas bahkan puluhan kilometer juga terjadi. contoh mudahnya ya yang ada di Merapi seperti yang pernah didongengkan disini

Jadi, dengan mempelajari longsoran sejatinya mempelajari banyak hal kan ?. Ayo amati lingkunganmu sendiri. Kalau ada gejala longsoran amati lagi yang lebih luas.

Referensi :

CALCATERRA, D. & PARISE, M. (2010) Weathering as a Predisposing Factor to Slope Movements. Geological Society,London, Engineering Geology Special Publications, 23, 105–130.

 

 

 Tentang Penulis:

Rovicky Putrohari Just me, an Indonesian geologist. Nothing special. Has been working as an explorationist in oil companies (Hudbay Oil, Lasmo, Kondur PSA, Shell, Total, Murphy Oil, and now with HESS). Now live in Kuala Lumpur, Malaysia. member of : * IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia), * HAGI (Himpunan Ahli Geofisika Indonesia) * AAPG (American Assoc of Petroleum geologist), * SEG (Society of Exploration Geophysicists), * IPA (Indonesian Petroleum ... Selengkapnya »
 
  Beri komentar atau taut balik artikel ini.