NetSains.com

Recent Comments


Powered by Disqus

25 Penulis Teraktif

  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • Foto anda tak tampak disini? Segera buat akun di Gravatar.com!
Netsains.Com on Facebook
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (Belum ada rating)
Loading ... Loading ...

Perhatian!
Artikel ini adalah artikel lama, diterbitkan lebih dari setahun yang lalu.
Mohon beritahu kami melalui komentar apabila artikel ini sudah tidak relevan lagi

Samurai: Sejarah dan Perkembangannya

Judul:    Samurai, Sejarah dan Perkembangan

Pengarang: H.Paul Varley, Ivan dan Nobuko Morris

Penerjemah: Dwi Istiani

Penerbit (TerjemahanIndonesia): Komunitas Bambu

Jepang adalah salah satu negara paling kuat di Asia-Pasifik. Pengaruh negeri matahari terbit ini sangat terasa dalam setiap aspek kehidupan bangsa kita. Sebut saja pada bidang automotif, IT, kuliner, budaya, dan sebagainya. Seakan-akan, bangsa ini memiliki elan vital untuk selalu kreatif dalam segala bidang. Namun, berasal dari manakah dorongan motivasi mereka? Mari kita simak!

 

Samurai: Kelas SosialParaPetarung Unggul

Buku ‘samurai’ ini banyak sekali membahas mengenai sejarah Jepang, dari mulai masuknya pengaruhChinadi abad ke 4-6, sampai dengan awal restorasi Meiji di tahun 1867. Berhubung rentang waktu yang dibahas sangat panjang, maka saya hanya akan membahas poin-poin menarik dari buku ini.

Jepang antara abad 10-12 mengalami disintegrasi sosial yang mengguncang tatanan kemasyarakatan mereka. Kekuasaan istana yang dikontrol Kaisar, secara perlahan mengalami perlemahan dan akhirnya diambil alih oleh tuan tanah feodal.  Di era itu, dua klan yang sangat kuat, yaituTaradan Minamoto, menjadi klan yang sangat mendominasi panggung sejarah Jepang klasik. Kedua klan tersebut memiliki kelas petarung yang sangat kuat. Mereka disebut sebagai samurai.

Samurai adalah kelas petarung yang sangat unggul, disiplin, dan setia. Loyalitas adalah trait utama seorang samurai. Dia akan setia membela tuannya, dengan nyawanya sendiri. Salah satu tradisi samurai, yang di satu sisi tidak dapat kita tiru, tentunya adalah hara-kiri. Apakah hara-kiri ini? Sebagian awam menganggap bahwa hara-kiri adalah bunuh diri begitu saja. Padahal proses bunuh diri ini tidaklah semudah itu. Proses hara-kiri dapat digambarkan sebagai proses mengeluarkan isi perut, dengan menusukkan pedang kecil dari sebelah kiri perut, dan merobaknya sampai kea rah kanan. Kemudian, pedang tersebut digerakkan ke atas. Jika sampai tahap ini, pelaku masih hidup, ada seorang algojo yang siap memenggal kepala sang pelaku.

Sebagai bangsa yang beragama, tentu saja kita tidak dapat melakukan hara-kiri. Itu adalah dosa besar, yang dilarang oleh agama kita. Namun, kita belajar satu hal terhadap proses ini. Hara-kiri dilakukan oleh seorang samurai, jika dia melakukan kesalahan fatal terhadap tuannya. Hal tersebut dilakukan sebagai pengakuan terhadap kesalahan dia, dan menebus rasa malu. Jadi, hara-kiri adalah manifestasi dari budaya malu. Di jaman sekarang, kita dapat melihat perkembangan politik Jepang, bahwa budaya malu pun masih tetap mereka pegang teguh. Jika seorang perdana menteri atau menteri dalam kabinet baru saja diduga (belum menjadi terdakwa) terlibat dalam suatu skandal, mereka otomatis akan mengundurkan diri dari jabatannya. Hal ini tentu sangat positif, dan kita dapat meniru budaya malu ini, tanpa perlu melakukan hara-kiri.

 

Periode Edo: Isolasi oleh Klan Tokugawa

Membatasi pengaruh asing. Hanya pedagang China dan Belanda yang boleh beroperasi di Nagasaki. Orang Jepang dilarang meninggalkan negaranya. Di Periode ini, Jepang justru banyak membenahi pendidikannya. Periode Edo ini adalah era terakhir, dimana Kelas Samurai masih memiliki dominasi politis. Akhirnya, setelah Kaisar Meiji  naik tahta di tahun 1867, dominasi mereka berakhir.

 

Restorasi Meiji: Akhir dari Kelas Samurai dan Berlanjutnya Spirit mereka keabad modern

Tahun 1853, Laksamana Mathew Perry dan ancaman angkatan laut USA untuk membuka akses ke pelabuhan Jepang. Perang saudara antara Pro-Kaisar dan Samurai, dengan kemenangan pihak Kaisar. Akhirnya Kaisar memutuskan untuk menghapuskan kelas Samurai, namun nilai/norma yang diwariskan mereka tetap dipegang bangsa Jepang di abad modern ini. Apa yang disebut sebagai ‘jalan samurai’ tetaplah menjadi panduan abadi bagi bangsa Jepang.

 

Indonesia dan Jepang:  Kita dapat belajar dari mereka!

Hal yang menarik adalah buku ‘Samurai’ ini dilengkapi oleh 59 ilustrasi khas Jepang. Sehingga kita dapat membayangkan atau berimajinasi mengenai kehidupan samurai di Jepang tempoe doeloe. Kesemua ilustrasi tersebut menunjukkan betapa gagah beraninya para samurai dalam pertempuran, dan mengagantifikasi keunggulan mereka dalam melawan setiap lawannya.

Baru minggu yang lalu saya menonton sebuah acara di TV, yang menginterview orang-orang barat yang tinggal di Indonesia. Ternyata, mereka mengabdi di Indonesia karena melihat bahwa bangsa kita tidak dapat menjaga lingkungan hidup/konservasi flora fauna, dan kebersihan. Miris saya menonton interview ini, karena mengekspos ketidak mampuan kita dalam mengurus lingkungan/kebersihan.  Padahal kebalikannya, orang barat banyak yang belajar ke Jepang. Banyak Profesor Jepang, yang mensupervise orang-orang barat dalam proyek penelitian. Kesaksian mahasiswa Jepang yang studi di Jerman/Eropa, bahwa Jepang jauh lebih bisa menjaga kebersihan dan lingkungan daripada orang barat. Kasus ini menunjukkan, walaupun Jepang dan Indonesia adalah sama-sama Negara asia yang memiliki kemiripan kultur, namun barat memandang kedua bangsa tersebut dengan kacamata yang sangat berbeda. Apa yang harus kita lakukan untuk ‘meredam’ sinisme pihak barat ke kita?

Mencela-cela pihak barat, karena mereka kasihan kepada kita, jelas adalah tindakan yang kontraproduktif. Kita harus membenahi diri kita secara serius, supaya kita dipandang setara dengan barat, dengan tetap menjaga nilai asia kita. Disiplin, tepat waktu, kerja keras, dan loyalitas tidaklah suatu trait yang khas barat. Namun orang Jepang pun juga memegang teguh trait ini dari jaman Samurai. Indonesia, berhubung memiliki banyak kemiripan kultur dengan Jepang, dapat belajar lebih banyak mengenai budaya Jepang.  Saya sangat merekomendasikan untuk membaca buku ini, sebab banyak hal yang dapat kita pelajari mengenai budaya Jepang. Bangsa Jepang mampu menjaga kebersihan.lingkungan, berdisiplin, tepat waktu, dan kerja keras. Kalau mereka sesama bangsa asia dapat melakukan hal-hal itu, mengapa kita harus tidak bisa? Tentu saja kitapun bisa!

Sumber gambar: http://cinta-buku.blogspot.com

 

 Tentang Penulis:

Arli Aditya Parikesit Penulis adalah alumni program Phd bidang Bioinformatika dari Universitas Leipzig, Jerman. Ia bisa dihubungi di akun twitter: @arli_par . Membantu penelitian di Laboratorium Bioinformatika, FMIPA-UI pun masih dilakukannya juga. Penulis juga bekerja sebagai Dosen ilmu kependidikan di STAI Al-Hikmah di Cilandak, ... Selengkapnya »
 
  Beri komentar atau taut balik artikel ini.