NetSains.com

Recent Comments


Powered by Disqus

25 Penulis Teraktif

  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • Foto anda tak tampak disini? Segera buat akun di Gravatar.com!
Netsains.Com on Facebook
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 suara, nilai: 5.00 ⁄ 5)
Loading ... Loading ...

Perhatian!
Artikel ini adalah artikel lama, diterbitkan lebih dari setahun yang lalu.
Mohon beritahu kami melalui komentar apabila artikel ini sudah tidak relevan lagi

Nemesis, Kembaran Matahari yang Mematikan

Teori tentang Nemesis pertama kali dipublikasi dalam “Nature” oleh Davis, Hut dan Muller yang namanya diambil dari salah satu nama  Dewa Yunani. Hal ini menjelaskan tentang periodisitas kepunahan massal yang pernah terjadi sepanjang sejarah Bumi. Hal ini telah terbukti dalam catatan fosil bahwa kepunahan massal terjadi dalam siklus tiap 26-34 juta tahun.

Menurut teori ini Matahari memiliki bintang pendamping yang disebut Nemesis yang mana mempengaruhi pergerakan awan Oort yang mengorbit Matahari. Awan Oort merupakan sabuk komet yang mengorbit Matahari yang berjarak puluhan ribu A.U (satuan jarak antar Bumi dan Matahari). Medan gravitasi dari Nemesis menyebabkan komet terpental/menyimpang dari orbitnya. Komet-komet ini dapat menabrak Bumi dan menyebabkan berbagai tingkat kepunahan global dengan pengaruh yang sangat buruk seperti hujan asam, terjadi penurunan suhu bumi yang drastis (beku) atau hilangnya lapisan ozon. Hujan komet ini akan berlangsung dari 100.000 tahun sampai 2 juta tahun dengan perkiraan 10 tabrakan dalam interval 50.000 tahun setiap terjadi tabrakan.

Teori Nemesis ini bermula dari penemuan kawah berdiameter 10 km yang dipercaya sebagai penyebab punahnya Dinosaurus 65 juta tahun yang lalu. Periode kepunahan ini mengakibatkan 95% kematian dari total seluruh makhluk hidup.

Teori Nemesis ini juga didukung oleh penemuan Iridium dalam konsentrasi tinggi yang mana unsur ini hanya terdapat pada benda-benda angkasa seperti komet. Jejak Iridium dapat ditemukan dalam sampel batu kapur yang tersebar di 25 situs di seluruh dunia.

Hal yang menjadi dasar dalam teori Nemesis ini adalah kepunahan massal terjadi secara berkala. Dengan memeriksa catatan fosil fosil laut, Dave Raup dan Jack Sepkoski telah mengumpulkan data yang menunjukkan estimasi statistik dari kepunahan, yaitu terjadi dalam kurun waktu 26 juta tahun sekali. Setelah diketahui bahwa kepunahan terjadi secara berkala, para ahli memperkirakan adanya Nemesis, yang menjadi kembaran bintang Matahari, yang sewaktu-waktu datang mendekati tata surya.

Terlepas dari bukti-bukti diatas, teori ini masih berupa hipotesis karena belum dapat ditemukan wujudnya. Meski begitu, Nemesis yang juga disebut “The Death Star” atau “Bintang Kematian” kehadirannya menjadi sesuatu yang sangat menakutkan karena bisa mendatangkan bencana kepunahan di atas muka Bumi. Saat ini Nemesis letaknya diperkirakan  1,5 sampai 2,5 tahun cahaya dari bumi (kecepatan cahaya adalah 300.000 km/detik, satu tahun cahaya sama dengan kira-kira 9500 milyar km).

 

Sumber : http://swanson.bol.ucla.edu/ & http://edukasi.kompasiana.com/2011/08/08/nemesis-dan-nazaruddin/

foto: http://www.exitmundi.nl
 

 Tentang Penulis:

adilla safiera Lulusan Kimia, bekerja di bidang Perpajakan dan sangat menyukai (khususnya) Astronomi, Konspirasi dan tentu saja ilmu pengetahuan pada ... Selengkapnya »
 
  • Website Pribadi/Blog:
  • Tulisan di NetSains: 7 Tulisan
  Beri komentar atau taut balik artikel ini.