Di Indonesia, mendengar negara yang bernama Korea Selatan tentu sangat familiar. Banyak orang Indonesia yang menyukai segala sesuatunya tentang Korea, mulai dari musik, drama, sampai keinginan untuk belajar di Korea Selatan. Rasanya seperti suatu kebanggaan tersendiri untuk dapat mengunjungi negeri yang mendapat julukan negeri Ginseng ini. Maka dari itu, tidak sedikit para pelajar Indonesia yang memiliki kesempatan untuk menimba ilmu di sana, termasuk saya.
Tahun 2009 awal bulan Maret, saya memulai kelas Master Course di suatu universitas bernama Kyungpook National University. Kyungpook National University terdiri dari dua kampus yaitu yang pusatnya berada di kota Daegu, dan yang satu lagi berada di kota yang menjadi area pertanian, Sangju. Awal pertama saya datang ke Korea, sama sekali tidak bisa bahasa Korea dan itu ternyata menjadi kendala tersendiri dalam hal komunikasi karena tidak semua orang Korea dapat berbahasa Inggris. Maka dari itu orang Korea prefer untuk menggunakan bahasa Korea daripada bahasa Inggris. Karena professor saya sangat menginginkan saya untuk dapat berkomunikasi dengan bahasa Korea, sehingga saya pun terpaksa menulis thesis saya dalam bahasa Korea! Tentu saja itu semua atas perintah dari professor dengan ancaman tidak diluluskan jika tidak menulis dalam bahasa Korea.
Bidang saya adalah Plant Molecular Breeding. Karena saya mengambil bidang science, sehari-harinya saya lebih banyak menghabiskan waktu di laboratorium. Harus berada di lab sebelum professor, yang dalam bahasa Koreanya adalah kyosunim, datang dan pulang setelah beliau pulang. Itu adalah aturan tidak tertulis yang kebanyakan professor di Korea menerapkannya. Sehingga apabila sang kyosunim ini pulang larut hingga jam 11 malam, para mahasiswa akan setia menunggu sampai beliau pulang. Begitu pula untuk akhir pekan. Ada sebagian professor yang datang pada akhir pekan dan menyuruh mahasiswa-mahasiswanya pun datang, bahkan ada sebagian professor yang mengadakan lab meeting setiap hari sabtu! Begitulah Korea, aturan ketimurannya masih sangat dijunjung tinggi. Professor akan menjadi seperti dewa bagi mahasiswanya, karena setiap apa yang dikatakan professor selalu benar. Tidak ada yang berani membantah professor. Sehingga di Korea jarang sekali terlihat perdebatan antara professor dan mahasiswa. Akan tetapi, tidak semua professor mempunyai karakter seperti itu. Saat ini banyak professor muda yang berpikiran lebih open-minded. Di Korea, professor terdiri dari 3 tingkatan jabatan. Tingkatan pertama adalah jo-kyosu, atau kurang lebih seperti associate profesor. Lalu ada bu-kyosu yang barulah bisa dikatakan sebagai professor sesungguhnya. Yang terakhir adalah kyosu, atau bisa dikatakan sebagai profesor senior.
Karena di Korea juga untuk para lelaki diwajibkan untuk wajib militer, sehingga kesenioritasan di Korea sangat diperhatikan. Dalam suatu sistem di laboratorium, biasanya professor akan memberikan suatu kerjaan pada sang senior, dan sang senior baru nanti akan menyampaikannya pada junior. Jadi sangatlah wajar jika senior di Korea sangat berkuasa. Akan tetapi ketika sang junior membuat kesalahan, bukan junior yang mendapat omelan sang professor. Professor akan menyalahkan senior karena dianggap telah gagal membimbing juniornya. Sehingga tugas senior di sini pun sebenarnya lebih berat karena tanggung jawabnya lebih besar.
Beasiswa untuk bersekolah di Korea ada dua macam. Beasiswa dari pemerintah, seperti NIIED, dan ada pula beasiswa yang berasal dari universitas, seperti pada universitas saya. Beasiswa dari Kyungpook National University ini bernama KNU Honors Scholarship, yang syarat-syaratnya dapat di lihat di link ini. Scholarship ini akan membebaskan kita untuk membayar biaya SPP kuliah per semester sampai kita lulus. Untuk living cost atau biaya sehari-hari biasanya kita mendapat uang dari professor. Biasanya uang living cost kita diambilkan dari uang proyek yang kita kerjakan. Semakin senior kita, akan mendapat gaji yang lebih banyak, akan tetapi intensitas pekerjaan yang semakin banyak pula. Untuk nominal biasanya akan mendapat kisaran mulai dari 500 ribu won sampai dengan 1 juta won. Bagaimana untuk dapat mendapatkan scholarship ini? Triknya adalah menghubungi para professor melalui e-mail dan menanyakan apakah di labnya menerima mahasiswa asing untuk belajar di sana. Selain akan mendapat rekomendasi untuk memperkuat diterimanya kita di universitas tersebut, biasanya professor yang berani menerima mahasiswa asing adalah professor yang memang mempunyai banyak proyek. Sehingga dari proyek itulah kita mendapatkan gaji sebagai living cost.
Tempat tinggal yang menjadi incaran para mahasiswa adalah asrama, karena biaya tergolong lebih murah dan sudah termasuk makan yang di sediakan tiga kali sehari. Kemudian gositel, yaitu tempat tinggal hanya satu kamar dengan dapur dan kamar mandi biasanya umum. Mungkin bisa disebut dengan kamar kos. Lalu yang terakhir adalah one-r00m, semacam apartment tetapi hanya terdiri dari satu kamar saja.
Menjadi mahasiswa di Korea bukan berarti hanya mempunyai kehidupan di dalam kampus saja. Akan tetapi kadang saya meluangkan waktu bersama mahasiswa-mahasiswa Indonesia lainnya. Ada satu organisasi sebagai wadah yang mengumpulkan kami, PERPIKA (Persatuan Pelajar Indonesia di Korea). Dengan bergabung di sana, saya banyak sekali mendapat banyak informasi, mulai dari urusan-urusan dengan Kedubes Indonesia hingga info mencari beasiswa.
Tiga tahun rasanya cukup untuk mencari pengalaman dan ilmu di Korea. Itulah tadi sedikit pengalaman selama menjadi mahasiswa di Korea. Ada suka dan duka itu pasti. Bagi yang ingin melanjutkan sekolahnya di Korea, selamat berjuang dan semoga berhasil.
Sumber foto: Koleksi pribadi




