Recent Comments


Powered by Disqus

25 Penulis Teraktif

  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • Foto anda tak tampak disini? Segera buat akun di Gravatar.com!
Netsains.Com on Facebook

Disini juga numpang iklan, yah. Buat biaya server :)

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (Belum ada rating)
Loading ... Loading ...

Diskusi Siang Bolong

Dua orang dari bangsa dan budaya yang berbeda tengah berdiskusi siang ini, setelah sebuah undangan temu sapa. Seorang teman yang baru saja saya kenal berasal dari Ukraina datang ke apartemen kecil ini. Dengan membawa sebotol sirup lemon dan kue dengan krim inggris, dia mengajak saya menikmati siang hari yang lumayan terik di Montpellier ini.

Percakapan dan senda gurau tak tanggung langsung menyeruak ke seluruh sudut ruangan. Dalam bahasa Perancis berlogat Eropa Timur yang khas, Jarek bertanya mengenai foto yang terpajang di atas lemari buku.

“Itu foto istri dan saya”, jawab saya.

“Wah kamu masih muda, tapi sudah menikah ?”, timpalnya.

“Di negeri kami, pada umumnya orang menikah pada usia 22-25 tahun. Rata-rata usia populasi kami adalah 27 tahun. Negeri yang masih muda. Dengan usia sekarang ini, saya termasuk yang terlambat menikah di Indonesia”.

Jarek mengangguk.

Dibandingkan dengan rata-rata usia populasi di Ukraina yaitu 39,9 tahun, Indonesia adalah negeri muda.

Pribadi seperti Jarek yang sudah berusia 32 tahun tersebut merupakan tipe petualang. Dengan gelar PhD yang diperolehnya di Inggris, Jarek melanglang buana ke beberapa benua di dunia. Dua post-doc di US dan saat ini sedang co-research di Perancis. Dengan status belum menikah, pria dengan tinggi 185 cm bahagia dengan apa yang dia kerjakan.

Dia cukup terkejut ketika saya menjelaskan bahwa di Indonesia, masyarakat sosial cenderung menekankan keberhasilan sebuah individu dilihat dari status pendidikan (minimal sarjana), kesuksesan dalam karir (kekayaan, jabatan) dan status menikah.

“Negerimu sungguh menarik. Lalu kenapa kamu lakukan ? Kenapa kamu menikah? Padahal dengan keterampilanmu sekarang ini, kamu bisa menggapai apapun yang kamu mau.”

Saya tersenyum. Pertanyaan justifikasi seperti ini sungguh sering saya dengar. Saya kemudian mengambil sebuah kertas yang pernah saya tempelkan di tembok dan menyodorkan kertas tersebut kepadanya.

“We grow old. And some of us adapt. And learn how to enjoy simple and pleasures of life, like a family, a home.”

Sumber gambar : http://www.juneaubirthcenter.org

 

 Tentang Penulis:

Rizaputranto Penulis adalah penerima beasiswa dari Pemerintah Perancis tahun 2008-2010 dan 2010-2012 sementara berdiam diri di sebuah kota di sebelah selatan Perancis, bernama Montpellier. Penulis berkecimpung spesifik dalam riset tanaman karet dengan pendekatan Biologi Molekuler & Rekayasa ... Selengkapnya »
 
  Beri komentar atau taut balik artikel ini.