NetSains.com

Recent Comments


Powered by Disqus

25 Penulis Teraktif

  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • Foto anda tak tampak disini? Segera buat akun di Gravatar.com!
Netsains.Com on Facebook
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (Belum ada rating)
Loading ... Loading ...

Perhatian!
Artikel ini adalah artikel lama, diterbitkan lebih dari setahun yang lalu.
Mohon beritahu kami melalui komentar apabila artikel ini sudah tidak relevan lagi

Pembangkit Listrik Tenaga Singkong

Singkong merupakan tanaman yang dapat menjadi sumber bahan baku Bahan Bakar Nabati (BBN) yaitu bioetanol dan atau biogas sebagai sumber tenaga listrik.  Bioetanol adalah etanol yang diperoleh dari proses fermentasi bahan baku yang mengandung pati atau gula seperti singkong dan tetes tebu. Komoditas singkong dan tetes tebu saat ini telah digunakan untuk memproduksi bioetanol sebagai pengganti premium atau sebagai pencampuran bensin di beberapa negara.

Umumnya, penggunaan bioetanol masih dalam bentuk campuran dengan bensin. Campuran bioetanol dalam bensin dikenal dengan gasohol. Bioetanol dapat digunakan sebagai campuran  Bahan Bakar Minyak (BBM) tanpa perlu memodifikasi mesin kendaraan berbasis bahan bakar premium dan bioetanol juga memilki kelebihan dibanding BBM karena sumbernya terbarukan dan memiliki nilai oktan tinggi sehingga proses pembakaran menjadi lebih sempurna. Hal ini telah dibuktikan

dan disosialisasikan oleh Wakil Gubernur Jawa Barat, tapi belum diimplementasikan secara nasional? Detailnya dapat dilihat di:

http://www.jpnn.com/read/2012/03/04/119451/BBM-Naik,-Beralih-ke-Singkong-

Singkong sebagai sumber energi listrik juga telah di implementasikan oleh pihak swasta, antara lain PT. Indonesia Ethanol Industry dengan memanfaatkan ampas singkong dari pengolahan ethanol dan dari kapasitas pabrik ethanol 120.000 liter per hari dapat menghasilkan tenaga listrik sekitar 5 MW dan dengan demikian PT.Indonesia Ethanol Industry dapat memenuhi kebutuhan listrik secara mandiri.

Singkong yang selama ini hanya dipandang makanan murahan dan merusak lahan, ternyata merupakan bahan baku terbaik untuk “Bahan Bakar Nabati” dan sebagai “sumber Energi Listrik”, sehingga persepsi tentang singkong selama ini perlu di rubah.

 

Mengingat bahan bakar berbasis fosil yang berdasarkan analisa beberapa pakar bahwa di Indonesia akan habis dalam kurun waktu sekitar 18 tahun, bila ladang minyak baru tidak ditemukan. Dilain pihak bahwa pembangkit tenaga listrik yang dimiliki oleh PT. PLN (Persero) saat ini sebagian besar menggunakan pembangikit tenaga diesel yang diperkirakan akan menghabiskan solar sekitar 7,49 juta kilo liter solar di tahun 2012 atau setara dengan Rp. 52,43 triliyun (bila harga solar per liter di asumsikan Rp. 7.000,-) dan mendapat subsidi dari pemerintah pada tahun 2012 (RAPBN-P 2012) sebesar Rp. 68,47 triliyun. Turun dari realisasi tahun lalu sebesar 11,2 juta kiloliter dan penurunan konsumsi solar sekitar 4 juta kiloliter tersebut setara dengan mematikan PLTD dengan kapasitas 1.800 MW dan tentu saja harus segera dioperasikan sumber tenaga listrik baru untuk menggantikan daya tersebut.

http://www.tribunnews.com/2012/05/18/pln-pakai-bbm-non-subsidi-sebanyak-28-juta-kiloliter

 

Subsidi tersebut akan cenderung naik bila harga bahan bakar internasional naik, bila harga minyak mentah dunia naik menjadi USD 120 per barel, maka subsidi kepada PT. PLN (Persero) akan tembus menjadi Rp. 100,32 triliyun, dan untuk menurunkan subsidi tersebut Menteri ESDM telah melarang PT. PLN (Persero) mengoperasikan pembangkit baru berbahan bakar minyak yang disampaikan dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR beberapa waktu yang lalu dan Menteri ESDM mengakui bahwa pembangkit listrik saat ini mayoritas masih menggunakan bahan bakar minyak (BBM), sehingga biaya listrik menjadi mahal, yaitu sekitar USD 36 – 40 sen per kilowatt hour (kWh).

<http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/502714/>

 

Di Wilayah Lampung PT. PLN (Persero) mengoperasikan pembangkit dengan kapasitas 130 MW dengan biaya produksi dan atau dibeli dari pihak swasta menggunakan tenaga disel dengan harga Rp. 2.800,- per kWh dan bila menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Singkong, maka PT. PLN (Persero) hanya akan membeli sebesar Rp. 975,- per kWh sesuai dengan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Nomor 4 tahun 2012 tanggal 31 Januari 2012. Hal ini akan mengurangi pemakaian bahan bakar berbasis fosil dan sekali gus akan mengurangi subsidi dari pemerintah serta meningkatkan kesejahteraan dan harkat petani melalui pergerakan perekonomian rakyat sebagai dampak pelaksanaan budidaya singkong untuk bahan baku sumber energi listrik. Subsidi pemerintah di bidang energi yang mencapai 84,4% dari total anggaran subsidi pemerintah dapat dialihkan kepada subsidi non energi yang langsung dapat menyentuh masyarakat.

 

Provinsi Lampung merupakan 60% penghasil singkong nasional, tersedia alat-alat pertanian yang cukup lengkap, lahan masih luas serta tersedianya pabrik tapioka dan ethanol yang sangat memerlukan bahan baku singkong dan PT. Lampung Kasava Agro telah berhasil melaksanakan pilot proyek budidaya singkong dengan produksi tinggi di Provinsi Lampung, sehingga Provinsi Lampung sangat layak dijadikan daerah Pilot Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Singkong.

 

 

Manfaat Pembangkit Listrik Tenaga Singkong:

Seperti telah diuraikan di atas, bahwa dengan pembangkit listrik tenaga singkong akan memberikan manfaat, antara lain:

  1. Penghematan bahan bakar berbasil fosil;
  2. Mengurangi subsidi dari pemerintah, sehingga subsidi di bidang energi sebesar 84,4% dari total anggaran subsidi pemerintah dapat dialihkan ke subsidi non energi yang langsung menyentuh masyarakat;
  3. Membuka lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi pedesaan.

 

Sedangkan dari budi daya singkong dapat:

  1.   meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan rakyat, dan sekali gus
  2.   meningkatkan ketahanan pangan nasional berbasis desa,
  3.   penyerapan tenaga kerja,
  4.   mengurangi animo untuk urbanisasi dan
  5. limbahnya dapat digunakan untuk bahan baku makanan ternak, baik untuk   penggemukan, maupun penghasil susu.
  6.   sebagai bahan baku Bahan Bakar Nabati (ethanol) dan
  7. gas Methane untuk pembangkit energi listrik serta serta
  8. batangnya dapat digunakan sebagai bahan baku industri kerta
  9. singkong juga dapat berfungsi untuk menahan erosi, karena umbi singkong yang besar, panjang, rapat dan bersususun sangat efektif di bawah permukaan tanah.
 

 Tentang Penulis:

Adjisar Ch Pensiunan PT. TELKOM; Mantan Vice President PT. Bakrie Telecom, Tbk; Direktur Utama PT. Mitra Utama Solusi Telematika dan Direktur Pemasaran PT. Lampung Kasava ... Selengkapnya »
 
  • Website Pribadi/Blog:
  • Tulisan di NetSains: 2 Tulisan
  Beri komentar atau taut balik artikel ini.