Recent Comments


Powered by Disqus

25 Penulis Teraktif

  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • Foto anda tak tampak disini? Segera buat akun di Gravatar.com!
Netsains.Com on Facebook

Disini juga numpang iklan, yah. Buat biaya server :)

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 suara, nilai: 5.00 ⁄ 5)
Loading ... Loading ...

Maudy Ayunda : perpaduan sempurna bakat dan kecerdasan

Mengagumkan, bakat seni dan gairah pada pencarian ilmu pengetahuan ternyata menyatu hampir sempurna pada sosok Maudy Ayunda. Itulah yang terasa saat kontributor Netsains, Reza Syariati, melakukan wawancara di kediaman Maudy, Kemang, Jakarta, Jum’at (31/9/2012).

Kecerdasan dan kerjernihan pemikirannya ibarat Hypatia, ilmuwan perempuan yang terkenal di perpustakaan kuno Alexandria, itulah kesan yang nampak pada gadis yang bernama asli Ayunda Faza Maudia. Sosoknya saat ini sedang menjadi ikon baru film Indonesia, dengan keberhasilannya memerankan karakter Kugy di film Perahu Kertas yang merupakan adaptasi dari Novel Dee Lestari.

“Saya memang jatuh cinta dengan ilmu Ekonomi, Sejarah dan Politik” ujarnya

Menurut Maudy ketertarikannya dan kecintaannya pada subyek ilmu tersebut yang membuatnya menjatuhkan pilihan untuk melanjutkan pendidikannya ke Columbia University. Saat ini, Maudy sudah sudah terdaftar sebagai mahasiswa di Economics-Political Science Interdepartmental Major di Department Political Science, Columbia University, New York, Amerika Serikat.

Bukan saja itu, Maudy juga mempunyai kesempatan untuk melanjutkan ke Oxford University. Nilainya masuk dalam kualifikasi penerimaan mahasiswa di Oxford. Namun karena Oxford tidak memperkenankan penundaan masa kuliah, akhirnya dia memutuskan untuk mendaftar ke Columbia University.

“Saya sangat nyaman saat memperlajari teori-teori ekonomi waktu di sekolah,” jelas gadis cantik kelahiran 19 Desember 1994 ini.

Maudy mengakui ketertarikannya pada ilmu ekonomi dan politik karena dia begitu antusias mempelajari sejarah. Hal itu ditunjukannya dari penjelasan pemahamannya tentang berbagai teori ekonomi politik dengan sangat fasih dia jelaskan, seperti teori Marxisme dan kritik-kritiknya.

Menurutnya, subyek ilmu ekonomi dan politik yang saling berkaitan dan kompleks tersebutlah yang menjadi tantangan baginya untuk mempelajari lebih dalam.

“Saya memang memilih ekonomi sebagai konsentrasi studi saya, namun saya harus memilih ilmu politik sebagai pondasinya. saya rasa itu akan saling melengkapi” ujar aktris yang memulia debutnya dalam film “Untuk Rena” 2006 itu.

Maudy mampu secara lugas dan sistematis menjelaskan berbagai pemikiran tokoh-tokoh dunia seperti Hitler dengan Fasisme ekonominya. Lenin dengan teori revolusinya dan Stalin yang menyimpang dari pelaksanaan konsep dasar Marxisme.

“menurut saya, dalam case Stalin, tujuan komunisme tidak tercapai bahkan menjadi diktator. Dia “menyimpang” dari konsep dasar Marxisme tentang persamaan manusia. dan pada satu kondisi Stalin malah membuat Komunisme itu sama saja dengan Fasisme,” jelas Maudy.

Pandangannya terhadap struktur ekonomi Indonesia, Maudy mengkritisi ekonomi Indonesia yang disebut ibaratnya “Going to No Where”.

“Indonesia seperi labil dalam strategi dan fokus ekonominya. Harusnya pemerintah fokus pada pembangunan infrastruktur untuk mempercepat pertumbuhan dan pemerataan akses ekonomi. Namun saya melihat, menurut pendapat saya, tidak ada political will” ujar dengan agak malu-malu.

Menurutnya. Harusnya pengeluaran pemerintah itu bisa memicu multifier effect sehingga dengannya meningkatkan standar kehidupan rakyat. namun menurut saya, korupsi membuat pengeluaran pemerintah tersebut tidak berdampak apa-apa pada kehidupan rakyat.

“Dengan sumberdaya kita yang banyak dan berlimpah harusnya kesejahteraan itu bisa terwujud. namun pemimpin politik seperti tidak mempunyai fokus dan tujuan yang jelas, bahkan tidak punya komitmen untuk mencapai kondisi kesejahteraan”

Maudy mengakui dia terinspirasi dengan tokoh John Maynard Keynes, ahli ekonomi AS, yang terkenal dengan teori intervensi pemerintah untuk melindungi rakyat dari pengangguran melalui belanja pemerintah untuk menjamin kesejahteraan.

Menanggapi subsidi BBM, Maudy juga mempunyai pandangan yang visioner. Menurutnya, Sebaiknya Indonesia mempunyai klasifikasi berdasarkan pendapatan atau indikator yang terukur lainnya sehingga bisa menjamin terlebih dahulu perlindungan pada masyarakat yang berpendapatan rendah.

“Menurut saya melepas harga energi ke pasar tidak realitis, harus ada perlindungan terlebih dahulu bagi masyarakat menengah ke bawah.” tukasnya

Maudy juga mampu memberikan analisa terhadap kondisi pendidikan di Indonesia, menurut Maudy, belanja pemerintah di sektor pendidikan belum bisa meningkatkan kualitas pendidikan apabila sistemnya tidak terjaga dari perilaku korupsi.

Menurur Maudy, pembangunan pendidikan masih tersentralisir, harusnya tiap daerah mendapatkan perlakukan yang berbeda. Perlakukan tersebut berdasarkan kebutuhan nyata tiap wilayah di Indonesia.

“Jadi sebaiknya, belanja pendidikan itu difokuskan sesuai dengan kebutuhan wilayah masing-masing, karena kebutuhan tiap wilayah berbeda,” ujarnya

Maudy, menekankan fokus pemerintah pada peningkatan kualitas guru. Pemerintah harus memastikan tiap belanja pendidikan harus sesuai dengan kebutuhan tiap-tiap wilayah. dan itu jangan di generalisir apalagi disentralisir, tiap daerah dan wilayah punya kebutuhan yang berbeda-beda.

“Saya sebenarnya sangat ideological, punya prinsip-prinsip yang agak-agak unconventional, dalam memandang hal-hal ini” tegasnya.

Pengetahuan Maudy yang luas terhadap dasar ilmu ekonomi dan sejarah ini dilatari dengan kegemaran dia pada buku-buku. Tak kurang ratusan judul buku text ekonomi, sejarah, politik yang menjadi koleksinya.

“Saya memang Nerdy sekali, kedengarannya aneh ya, tapi bisa dilihat koleksi buku saya, saya banyak terinspirasi dari buku-buku itu” ujarnya

Saat ini dia mengakui sedang membaca buku The Rise and Decline of Nation karya Mancur Olson dan The Rise and Fall Roman Empire karya Gibbon.

“Saya tipe orang sekali membaca langsung ingat dan ngerti, namun bukan tipe orang yang ingat bertahun-tahun” katanya.

Dengan optimismenya, saat ini maudy sedang berproses membangun keyakinan untuk berbuat banyak hal bagi banyak orang.

“Mungkin satu saat nanti saya akan berjuang untuk banyak orang melalui jalur politik menjadi politisi dan menjadi pemimpin di negeri ini,’ ujarnya yakin.

Sumber Photo : trinity production/kapanlagi.com

 

 Tentang Penulis:

Reza Syariati The Ghost Writer; Konsultan manajemen & strategi politik; suka sejarah & filsafat; Agitator; Spin-Control; Korlap Demo; Sosialis Demokrat; ... Selengkapnya »
 
  • Website Pribadi/Blog:
  • Tulisan di NetSains: 5 Tulisan
  Beri komentar atau taut balik artikel ini.