Pertanyaan : Dokter Dito YTH, sebulan lalu saya terkena batuk dengan dahak kadang berwarna kuning, kadang putih, dan kadang bening. Belum sembuh total hingga saat ini. Pernah juga saya menggunakan obat toko dengan merk tertentu, tapi tetap belum sembuh. Kadang-kadang masih muncul, hanya saja frekuensinya berkurang. Kemarin karena terasa di dalam, saya sedikit paksakan untuk batuk, dan yang keluar berwarna bening dengan sedikit bercak darahnya. Saat ini, tenggorokan saya terasa panas dan sakit buat menelan. Dada sebelah kiri atas kadang terasa nyeri, kadang rasa itu hilang, seperti masuk angin. Kadang juga serasa sampai punggung saya juga sering bersendawa jika rasa nyeri itu muncul. Apa itu dikarenakan saya memiliki riwayat sakit maag juga ya dok? Sekarang jika masih terasa ada dahak di dalam, kadang saya takut untuk batuk, karena khawatir keluar darahnya lagi. Mohon pencerahan dari dokter Dito, apa dan bagaimana penyembuhan penyakit saya ini, ya dok? Terimakasih atas bantuannya semoga Allah memberikan rahmat, karunia, dan ridho untuk dokter sekeluarga. Amiin 3x.
Nama : Haris, Jenis Kelamin : Laki Laki, Usia : 26 Tahun, Tinggi Badan : 169 cm,
Berat Badan : 65 kg
Jawaban:
Saudara Haris yang dirahmati Allah SWT, terimakasih atas
kepercayaannya kepada kami.
Langsung saja, menuju pokok permasalahan….
Dari pertanyaan di atas, kami menemukan petunjuk kunci sebagai berikut:
• Batuk sekitar satu bulan.
• Batuk disertai dahak yang kadang berwarna putih, kadang kuning, dan
kadang bening. Baru-baru ini keluar dahak berwarna bening dengan
sedikit bercak darah.
• Disertai dada sebelah kiri atas kadang terasa nyeri, hilang-timbul.
• Hingga kini belum sembuh total.
Dari petunjuk di atas, maka ada kemungkinan diagnosis tuberculosis
(TBC) atau pulmonary tuberculosis.
Berikut ini beberapa tanda dan gejala yang mengarah ke diagnosis TBC:
1. Batuk lebih dari 2-3 minggu (awalnya batuk kering, bukan batuk
produktif, namun lama kelamaan menjadi batuk berdahak, seiring
perjalanan penyakit).
2. Berkeringat malam hari, ini gejala klasik TBC, namun biasanya
muncul bila penyakit sudah lama berlangsung / diderita.
3. Berat badan menurun, terutama bila TBC sudah tahap lanjut.
4. Batuk disertai dahak yang berwarna merah (atau bercak merah, dengan
variasi warna merah yang beragam) atau batuk berdarah (hemoptysis).
5. Nyeri dada.
6. Demam atau agak demam pada malam hari, selama berminggu-minggu.
7. Menggigil atau kedinginan.
8. Mudah merasa lelah atau capek.
9. Selera makan menurun.
10. Awalnya mirip gejala flu biasa.
Sedikit penjelasan tentang sputum (dahak), bila berwarna putih,
pertanda penyakitnya masih akut (belum lama berlangsung), makin lama,
bila terjadi infeksi sekunder, maka sputum akan berwarna
kekuning-kuningan hingga kuning. Bila sudah parah, berat, atau
berlangsung lama (kronis), maka sputum dapat berwarna merah (hemoptoe,
batuk darah).
Selain itu, perlu diketahui pula, jarang seorang penderita TBC
memiliki semua tanda dan gejala di atas. Hanya beberapa tanda dan/atau
gejala yang dialami penderita TBC. Bahkan uniknya, beberapa penderita
dengan infeksi TBC aktif (active pulmonary tuberculosis) dapat juga
tanpa gejala (asymptomatic) atau tidak merasakan keluhan apapun.
Pemeriksaan Fisik
Idealnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik berikut ini:
1. Tanda-tanda sistemik (systemic signs)
2. Berat badan (weight)
3. Pemeriksaan kerongkongan (throat examination)
4. Pemeriksaan pembuluh limfe (lymph node examination)
5. Pemeriksaan paru-paru (pulmonary examination)
6. Pemeriksaan penyakit/kelainan jantung (cardiac pericardial disease
examination)
7. Pemeriksaan perut (abdominal examination)
8. Pemeriksaan saluran kemih dan kelamin (genitourinary examination)
9. Pemeriksaan otot dan rangka (musculoskeletal examination)
10. Pemeriksaan persarafan (neurological examination)
Pemeriksaan Penunjang
Untuk memastikan diagnosis TBC, maka dokter akan menyarankan minimal
satu dari pemeriksaan berikut ini, tentunya sesuai fasilitas yang
dimiliki rumah sakit / pelayanan kesehatan dimana dokter itu berada:
1. Foto röntgen dada.
2. Pemeriksaan kuman TBC melalui sputum (dahak), apusan laring, kumbah
lambung, bronkoskopi.
3. Tes tuberkulin.
4. Biopsi pleura.
5. Laju endap darah (LED) umumnya meningkat.
6. Deteksi secara biologi molekuler, meliputi: PCR (Polymerase Chain
Reaction), DNA-Probe, RFLP (Restrictive Fragmen Length Polymorphism).
7. Diagnosis secara serologis, memakai metode Complement Fixation Test
(CFT), Haemaglutination (HA), difusi agar, Radio Immuno Assay (RIA),
ELISA (enzyme-linked-immunosorbent serologic assay).
Penanganan
Di awal tahun 1990-an WHO dan IUATLD telah mengembangkan strategi
penanggulangan TB yang dikenal sebagai strategi DOTS (Directly
Observed Treatment Short-course) dan telah terbukti sebagai strategi
penanggulangan yang secara ekonomis paling efektif (cost-efective).
Pengobatan TBC diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan
lanjutan.
Tahap awal (intensif)
Pada tahap intensif (awal) penderita mendapat obat setiap hari dan
perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi
(kebal) obat. Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara
tepat, biasanya penderita menular menjadi tidak menular dalam kurun
waktu 2 minggu. Sebagian besar penderita TBC BTA (Basil Tahan Asam)
positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam waktu 2 bulan.
Tahap Lanjutan
Pada tahap lanjutan penderita mendapat jenis obat lebih sedikit, namun
dalam jangka waktu yang lebih lama. Tahap lanjutan penting untuk
membunuh kuman persistent sehingga mencegah terjadinya kekambuhan
Panduan OAT (Obat Anti Tuberkulosis) yang digunakan oleh Program
Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia:
Kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3.
Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3.
Disamping kedua kategori ini, disediakan paduan obat sisipan (HRZE)
Kategori Anak: 2HRZ/4HR
Keterangan:
Isoniazid (H)
Rifampicin (R)
Pyrazinamide (Z)
Ethambutol (E)
Streptomycin (S)
Kategori-1 (2HRZE/ 4H3R3)
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru:
• Pasien baru TB paru BTA positif.
• Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif
• Pasien TB ekstra paru
Kategori -2 (2HRZES/ HRZE/ 5H3R3E3)
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya:
• Pasien kambuh
• Pasien gagal
• Pasien dengan pengobatan setelah putus berobat (default)
Terapi TB pada Anak (2RHZ/4RH)
Prinsip dasar pengobatan TB adalah minimal 3 macam obat dan diberikan
dalam waktu 6 bulan. OAT pada anak diberikan setiap hari, baik pada
tahap intensif maupun tahap lanjutan. Dosis obat harus disesuaikan
dengan berat badan anak.
Dokter akan memberikan nasihat kepada penderita dan keluarganya bahwa
TBC itu mudah menular, sehingga penderita perlu isolasi sementara.
Maksud isolasi bukan dikucilkan dari pergaulan, melainkan diminta
tidak kemana-mana atau menetap di satu tempat, agar tidak menularkan
TBC ke orang lain di sekitarnya. Misalnya: kalau bekerja, disarankan
berada di ruangannya saja, dijaga jangan sampai ada orang lain yang
masuk atau berinteraksi dengannya. Bila hal ini dirasakan repot, lebih
baik ke rumah sakit (RS) saja, karena di RS pasti ada ruang isolasi
khusus penderita TBC.
Penderita TBC disarankan bila batuk atau bersin memakai/menggunakan
tisu sekali pakai (disposable tissues) yang langsung dibuang dan
jangan dipakai ulang. Dokter, praktisi medis, perawat hendaknya
mencontohkan cara bersin dan batuk bagi penderita TBC, yaitu: tisu
menutupi hidung dan mulut, lalu dibuang, sehingga partikel kuman
berupa percikan bersin/batuk (dalam kedokteran disebut: droplet
nuclei) tidak menyebar ke udara.
Dengan penanganan yang berkelanjutan dan komprehensif, maka TBC dapat
dicegah dan dapat disembuhkan. Demikian penjelasan ini, semoga
bermanfaat. Salam SEHAT! Dito
dr. Dito Anurogo
Berkarya di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah (FK UNIMUS) Semarang.
Sumber gambar: webmd.com



