NetSains.com

Recent Comments


Powered by Disqus

25 Penulis Teraktif

  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • Foto anda tak tampak disini? Segera buat akun di Gravatar.com!
Netsains.Com on Facebook
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (Belum ada rating)
Loading ... Loading ...

Perhatian!
Artikel ini adalah artikel lama, diterbitkan lebih dari setahun yang lalu.
Mohon beritahu kami melalui komentar apabila artikel ini sudah tidak relevan lagi

Mengapa saya mulai aktif di Google+?

Mengapa Google+? Ini dia alasannya:


Tidak Puas dengan yang lain

‘Tidak puas dengan lain hati’ bisa dibilang adalah alasan utama mengapa saya mulai aktif di Google+. Nah, saya selama ini aktif menggunakan beberapa media sosial (medsos). Awalnya, tentu saja saya menggunakan friendster. Namun, belakangan muncul facebook yang mulai populer. Awalnya, saya suka dengan facebook, karena sama seperti friendster, saya bisa berkenalan dengan teman baru, ataupun menjaga silaturahmi dengan teman lama. Namun, belakangan ada beberapa hal yang menggangu. Adapun, saya sudah mulai tidak puas menggunakan facebook, semenjak sudah terlalu banyak konten spam dan pornografi yang bertebaran didalamnya. Skandal dimana ada seorang pejabat AS yang meposting foto porno dirinya sendiri (secara tidak sengaja) ke status, menyebabkan kita memang harus berhati-hati. Saya sendiri sudah muak di’hajar’ oleh spam ke wall saya, yang nampaknya tidak ada hentinya.Tidak hanya itu, saya juga suka diadd oleh akun tak dikenal, yang walau pada awalnya sopan, namun belakangan memakai bahasa yang intimidatif. Langsung akun seperti ini pasti saya blok.

Saya juga sejujurnya sangat traumatis juga dengan facebook, mengingat teman baik saya ada yang pernah menjadi korban ‘predator’ dunia maya yang dia kenal di medsos si biru tersebut, dan si predator tersebut hampir saja menghilangkan nyawa dia. Syukurlah sahabat saya tersebut masih segar bugar sampai detik ini dan kembali beraktivitas seperti sedia kala. Akhirnya, dia menutup akun facebooknya, untuk menghindari ancaman dikemudian hari. Setting privacy facebook yang terlalu longgar, memang sebabkan teman saya menjadi korban, karena memang settingnya sangat ruwet. End user tidak akan pernah paham bagaimana mengamankan data mereka. Beberapa faktor tersebut yang menyebakan saya mengurangi aktivitas secara drastis pada medsos sibiru tersebut. Saya membuka akun facebook, semata hanya untuk membalas message dan wall yang masuk saja, dan tidak pernah posting data-data secara gencar seperti itu.

Saya sangat aktif di Twitter. Saya suka sekali medsos ini, karena sangat ringan, ringkas, dan efisien. Disini, malah saya banyak bertemu teman baru, yang akhirnya berakhir pada kopdar. Dari segi kemananan dan privasi, sangat terjamin dan mudah dikendalikan. Hanya masalahnya, dengan keterbatasan 140 karakter setiap twit, itu sangat ‘memeras’ kreativitas kita dalam posting. Harus benar-benar gunakan trik tertentu, agar ide kita dapat dibagi disana. Oleh karena itu, jika ingin membagi wacana yang serius, nampaknya Twitter fungsinya masih terbatas. Fitur kultwit yang bisa dicatat oleh chirpstory misalnya, masih terlalu repot untuk digunakan untuk membagi wacana secara serius dan panjang lebar. Sementara itu, untuk membuat album gambar dan video pada twitter, kita tetap harus menggunakan aplikasi pihak ketiga.

Integrasi dengan Picasa

Saya mulai tidak puas dengan aplikasi photo management facebook, karena di macosx, kita sangat tergantung pada sebuah extension di iphoto, yang fungsinya terbatas. Nah, Picasa ternyata sudah terintegrasi penuh dengan Google+, sehingga edit foto pra-unggah sangatlah mudah. Picasa juga memiliki file management/indexing yang baik, sehingga mengindex gambar sangatlah mudah.

Privacy setting yang mudah

Fitur ‘circle’ di Google+ memang mempermudah kita untuk menjaga privasi. Kita bisa pilih posting yang hanya bisa dibaca oleh circle tertentu, atau untuk publik, dan bahkan untuk akun tertentu saja. Hal ini mempermudah kita untuk mengamankan diri kita dari predator. Privasi memang kekuatan utama Google+, karena kita bisa dengan mudah mengaturnya, tanpa harus banyak tahu mengenai parameter yang rumit.

Linus Torvalds punya akun Google+ lho!

Nah ini dia, jika kita bicara open source software, kita bicara Linus Torvlads! Beliau memang memiliki akun google+ yang aktif, dan setiap penggiat OSS, rasanya wajib mengikuti akun dia.

Integrasi dengan layanan Google yang lain

Ini kekuatan Google+ yang sangat sukar ditandingi oleh medsos lain. Fitur integrasi antara Google+ dan blogger sangat saya sukai, karena saya mulai aktif juga dalam blogging. Sayangnya, karena Google+ API belum sepenuhnya dipublikasi, sehingga automatic blog scheduling belum bisa dilakukan. Fitur automatic blogging sudah bisa dilakukan, namun menggunakan script PHP, yang bukan open source (berbayar) dari vendor lain. Namun saya harap dimasa depan fitur ini akan diadakan. Belum lagi integrasi dengan google talk, email, maps/earth, dan semua. Dengan kata lain, aktif di Google+ adalah mendapatkan ‘berkah’ dari ‘Google God’.

Benarkah Google+ adalah kota hantu?

Ini tergantung bagaimana persepsi anda. Jika pernah belajar beberapa metode komputasi, seperti machine learning atau markov model, kita akan sadar, bahwa suatu metode akan semakin cerdas, jika kita semakin banyak mem’feed’ data kepada ‘engine’ tersebut. Dengan kata lain, kecerdasan suatu metode, tergantung bagaimana kita melatih metode tersebut dengan data yang diberikan.
Google+ bekerja dengan prinsip yang sama. Jika tidak ada data yang kita ‘feed’, Google+ akan menjadi ‘kota hantu’ bagi kita. Namun, jika kita konsisten mem’feed’ data, Google+ akan menjadi ‘city that never sleeps’. Oleh karena itu, jika baru pertama kali menggunakan Google+, tidak usah heran jika anda merasa berada di kota hantu, karena memang akan begitu terus kalau anda tidak melakukan apa-apa.
Aplikasi google yang lain, seperti Google Translate, bekerja dengan prinsip pelatihan data yang sama. Tidak heran, semakin hari, Google Translate semakin cerdas, karena banyak menerima input data dari jurnal ilmiah, ataupun sumber lainnya.
Prinsipnya sangat simple…Jadilah aktif disini! Jangan menunggu seseorang men’circle’ anda! Langsung ‘circle’ semua yang anda minati, dan postinglah apapun yang ada dikepala anda!

Apa bahasa yang harus digunakan di Google+?

Bahasa Inggris harus diutamakan 

Memang, di Google+, saya perhatikan sebagian besar audiensnya menggunakan bahasa inggris. Tidak hanya orang Amerika dan Inggris saja, namun orang Indonesia juga. Hal ini sangat wajar, karena bahasa Inggris adalah bahasa internasional, dan seyogyanya semua orang dapat berbahasa inggris, supaya bisa saling berkomunikasi. Bukan berarti menggunakan bahasa inggris, itu tidak nasionalis. Namun hal itu adalah wajar supaya posting kita bisa dibaca semua orang di dunia ini. Justru dengan berbahasa inggris, kita dapat memperkenalkan Indonesia ke bangsa lain, bukankah begitu bukan?
Namun, sejujurnya, saya sangat malas menggunakan bahasa asing jika posting ke medsos. Bukan karena tidak bisa, karena selain bahasa Inggris, saya menguasai bahasa Jerman, Perancis, dan sedikit Belanda. Namun saya merasa lebih nyaman jika menggunakan bahasa sendiri, plus ditambah sedikit elemen bahasa daerah (Jawa ataupun yang lain). Ini masalah kebiasaan saja, dan tidak ada hubungannya dengan nasionalisme atau chauvinisme. Ini terutama karena saya merasa bisa lebih intim di medsos, jika menggunakan bahasa sendiri. Lagipula, saya berpikir, tokh Google sudah menyediakan aplikasi Translator, yang dengan sedikit langkah mudah, konten apapun bisa mereka terjemahkan ke berbagai bahasa penting di dunia ini. Hanya ada dua alasan mengapa saya memutuskan posting menggunakan bahasa sendiri, yaitu merasa lebih intim, dan ketersediaan translator.
Begitu malasnya saya menulis tulisan populer dalam bahasa inggris, sehingga seingat saya, hanya ada beberapa gelintir tulisan populer yang saya tulis dalam bahasanya Mr.Obama tersebut. Saya juga belum pernah menurunkan tulisan bahasa inggris ke media, karena masih merasa belum perlu untuk itu. Entah dimasa depan bagaimana. Bisa jadi berubah lagi.
Namun saya tidak ingin mempengaruhi rekan-rekan lho. Silahkan saja posting dengan bahasa inggris atau bahasa apapun. Secara prinsip, saya justru bahagia jika ada semakin banyak bahasa yang digunakan di medsos. Saya membagi semangat rekan-rekan linguist, yang selalu berupaya supaya semua bahasa yang masih aktif dimuka bumi ini, dikonservasi sebisa mungkin. Posting bahasa Indonesia yang saya lakukan, tidak lain adalah upaya untuk memperkaya dunia maya dengan konten bahasa tersebut. Semakin bahasa Indonesia aktif digunakan disemua layanan Google, maka saya percaya bahwa bahasa kita itu akan semakin populer juga, dan akan terkonservasi dengan baik. Mesin penterjemah Google, justru akan menggunakan data bahasa tersebut, untuk melatih algoritma mereka.

Sumber gambar: http://noviku.com/

 

 Tentang Penulis:

Arli Aditya Parikesit Penulis adalah alumni program Phd bidang Bioinformatika dari Universitas Leipzig, Jerman. Ia bisa dihubungi di akun twitter: @arli_par . Membantu penelitian di Laboratorium Bioinformatika, FMIPA-UI pun masih dilakukannya juga. Penulis juga bekerja sebagai Dosen ilmu kependidikan di STAI Al-Hikmah di Cilandak, ... Selengkapnya »
 
  Beri komentar atau taut balik artikel ini.
  • ferakomalasari

    i love it… :)