NetSains.com

Recent Comments


Powered by Disqus

25 Penulis Teraktif

  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • gravatar
  • Foto anda tak tampak disini? Segera buat akun di Gravatar.com!
Netsains.Com on Facebook
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (Belum ada rating)
Loading ... Loading ...

Peran Kreativitas dan Inovasi dalam Industri Media (Bagian 1)

Britney-SpearsArti “kreativitas” dan “inovasi” sering dicampur-adukkan. Meskipun ada hubungan antara kreativitas dan inovasi, keduanya sebenarnya berbeda. Perbedaan utama antara kreativitas dan inovasi adalah pada fokusnya.

Kreativitas lebih berfokus pada pencurahan potensi pikiran untuk menemukan ide-ide baru. Ide-ide baru ini bisa ditunjukkan dengan berbagai macam cara. Namun, bisa juga penggalian ide-ide baru itu hanya berlangsung seperti eksperimen mental di dalam pikiran seseorang, sehingga sulit diukur.

Kreativitas adalah kemampuan seseorang –lewat ide-ide barunya– untuk membuat perbedaan. Orang yang kreatif adalah orang yang melihat hal yang sama, tapi berpikir dengan cara yang berbeda. Maka orang yang kreatif bisa tampil menonjol di antara kerumunan orang lain. Perbedaan lewat munculnya ide-ide inilah yang membuat berbagai peluang baru terbuka. Namun, seperti sudah diuraikan di atas, kreativitas lebih bersifat subyektif dan sulit diukur.

Secara sederhana, inovasi adalah proses penciptaan dan pengimplementasian ide baru. Berbeda kontras dengan kreativitas, inovasi adalah sesuatu yang sepenuhnya bisa diukur. Fokus inovasi adalah bagaimana mewujudkan perubahan atau ide-ide baru itu dalam sistem yang relatif stabil. Inovasi bukan sekadar punya ide baru, tetapi juga memperhitungkan kerja dan sumberdaya yang dibutuhkan. Yakni, agar ide baru itu tidak mengawang-awang, namun dianggap layak, bisa diwujudkan, dan menguntungkan secara komersial.

Sekadar berbekal kreativitas saja tidak cukup untuk meraih sukses. Kreativitas hanya membuat perbedaan, sedangkan inovasi adalah yang membuat perbedaan tersebut memiliki nilai komersial. Dalam konteks bisnis atau industri, inovasi merupakan suatu kreasi, pengembangan dan implementasi suatu produk, proses, ataupun layanan baru, dengan tujuan meningkatkan efisiensi, efektifitas, ataupun keunggulan bersaing. Sifat inovatif adalah kemampuan untuk menemukan nilai komersial dari kreativitas.

Sebagai contoh, kreativitas bisa sangat liar dan itu sah-sah saja. Misalnya, untuk memecahkan masalah kemacetan lalu lintas di Jakarta, ada ide untuk menciptakan mobil yang bisa terbang. Ide itu baru dan unik, namun belum bisa dibilang inovasi, karena belum bisa diwujudkan dengan tingkat teknologi yang ada sekarang, serta membutuhkan biaya produksi yang mungkin tidak realistis.

Dalam konteks industri media siar, misalnya, sebuah stasiun TV lokal di Banten ingin meningkatkan rating pemirsa, dengan cara mendatangkan artis kaliber dunia. Stasiun TV ini ingin agar Britney Spears bisa tampil menyanyi di salah satu programnya. Ini jelas ide yang unik, belum pernah terpikir sebelumnya. Namun ini belum bisa disebut inovasi, karena tidak bisa diwujudkan akibat keterbatasan sumberdaya.

Organisasi sering bilang ingin mengejar kreativitas, namun yang betul-betul mereka butuhkan sebetulnya adalah inovasi. Yang sering kurang dimiliki perusahaan bukanlah kreativitas dalam penciptaan ide, namun inovasi dalam arti menghasilkan tindakan. Misalnya, bagaimana agar ide-ide itu bisa diwujudkan dan berhasil di pasar.

Contoh inovasi adalah ketika Jeff Bezos mendirikan Amazon.com. Bezos menemukan cara baru bagi orang untuk membeli buku. Mereka tidak perlu repot pergi ke toko buku, tapi cukup memilih buku, memesan, dan membayarnya melalui Internet. Ide-ide baru yang menjurus ke inovasi mungkin datang dari dalam perusahaan, tetapi juga sering datang dari sumber lain. Misalnya, banyak perusahaan lalu meniru temuan baru Bezos. Mereka mulai menjual produk-produk lain –bukan lagi buku– melalui Internet.

Inovasi, Arti Penting dan Strategisnya

Perubahan dan inovasi sangat erat kaitannya. Perubahan dalam kadar tertentu sering melibatkan ide-ide baru. Ide baru itu mungkin berupa penciptaan produk baru atau proses baru, atau mungkin bisa berupa gagasan, tentang bagaimana bisa mengubah sepenuhnya cara melakukan bisnis.

Namun, ide baru bukanlah satu-satunya alasan bagi penciptaan perubahan organisasional. Misalnya, seorang CEO mungkin memutuskan bahwa budaya organisasi perlu diubah agar cocok dengan strategi globalnya. Namun, budaya baru yang diciptakan di perusahaan tidak tergantung pada temuan yang betul-betul baru.

Organisasi yang sukses memahami bahwa baik inovasi maupun perubahan sama-sama dibutuhkan, untuk memuaskan para pemangku kepentingan (stakeholders) yang terpenting.
Lingkungan yang dinamis dan terus berubah membuat inovasi dan perubahan sangat penting, baik bagi organisasi yang sudah mapan maupun organisasi baru. Organisasi yang sukses tidak bisa “beristirahat” dan mengandalkan pada sukses-sukses masa lalu. Jika tidak inovatif dan lamban berubah, organisasi yang mapan bisa saja lalu merosot kinerjanya dan bahkan punah.

Contoh Pasang-Surut Inovasi di Trans TV

Ambillah contoh Trans TV, stasiun TV swasta nasional yang berdiri pada 2001. Awalnya, sangat berat bagi Trans TV untuk bersaing dengan stasiun TV yang sudah mapan dan lebih lama berdiri, seperti RCTI dan SCTV. Namun, berkat berbagai program inovatif dan kerja keras gaya spartan para krunya, dari segi rating kepemirsaan, Trans TV sempat menjadi tiga besar bersama RCTI dan SCTV. Dari segi profit, Trans TV di puncak kejayaannya mungkin adalah stasiun TV yang paling tinggi profitabilitasnya dibandingkan stasiun-stasiun TV lain.

Namun, lalu daya inovatifnya surut akibat berbagai faktor internal. Antara lain, pemilik Trans TV terlalu jauh ikut campur dalam urusan program tayangan sehari-hari. Segala keputusan yang menyangkut program baru, harus menunggu persetujuan pemilik, barulah program itu bisa dieksekusi dan ditayangkan. Bahkan, usulan program biasa yang sudah disetujui Direktur Utama pun bisa dimentahkan lagi, jika belum ada persetujuan pemilik.

Akibatnya, gerak program Trans TV jadi lamban dan birokratis, justru pada saat stasiun-stasiun TV kompetitor bisa mengubah program-programnya secara dinamis. Kru Trans TV juga kehilangan semangat untuk bereksperimen dan “bermain” dengan program-program baru. Iklim kerja yang terlalu menekan dan mengkondisikan setiap orang jadi “takut membuat kesalahan,” tidak mendorong munculnya kreativitas dan inovasi. Yang terjadi, karyawan “ditekan atau dipaksa untuk kreatif,” sementara iklim yang kondusif kurang tercipta. Tentu masih ada faktor-faktor lain yang tak cukup tempat untuk diuraikan di sini.

Kombinasi berbagai faktor tersebut membuat rating Trans TV pun menurun, bahkan secara rating bisa dikalahkan oleh “adiknya” Trans-7. Trans-7 awalnya bernama TV7. Karena TV7 terus-menerus merugi, akhirnya separuh sahamnya dijual oleh Kelompok Kompas-Gramedia (KKG) ke Trans Corp (sekarang CT Corp), yang lalu diubah menjadi Trans-7. Berbeda dengan kasus Trans TV, kru Trans-7 justru lebih bebas bereksperimen dengan program-program baru, karena pemilik tidak terlalu jauh ikut campur tangan. Alasannya, mungkin karena separuh saham Trans-7 masih dimiliki KKG.

Pada saat artikel ini ditulis (November 2013), kita lihat Trans TV tidak punya lagi program-program unggulan yang menangguk rating dan pemasukan iklan besar seperti di masa lalu. Trans TV yang dulu bangga dengan julukan “HBO-nya Indonesia” karena sering menayangkan film-film Hollywood terbaru, kini hanya mengulang-ulang tayangan film lama. Tayangan film bukan lagi menjadi butir keunggulan Trans TV dibandingkan stasiun-stasiun TV kompetitor.

Ketika sebuah organisasi gagal berinovasi dan berubah sesuai tuntutan kebutuhan pelanggan, karyawan, dan bahkan komunitas yang lebih besar bisa menderita. Contohnya adalah Eastman Kodak, yang bermarkas di Rochester, New York. Kodak adalah perusahaan dengan jumlah karyawan terbesar di kawasan itu. Kodak adalah merek Amerika yang paling dikenal di dunia fotografi. Namun ketika pesaing utamanya Fuji, yang berkantor di Tokyo, mengurangi harga film berwarna sebesar 30 persen, keuntungan Kodak langsung menciut.

Untuk mengurangi biaya, Kodak mengumumkan akan memotong jumlah karyawan sebanyak 10.000 orang di seluruh dunia. Karena merasa cemas tentang nasib pekerjaannya, sebagian dari 34.000 karyawan lokal Kodak mengurangi belanja makan siangnya di restoran-restoran lokal, dan ketika makan siang pun wajah mereka tanpa senyum. Ini tentu berdampak pada bisnis restoran dan pelaku ekonomi lain di lingkungan itu. Akhirnya, CEO Kodak saat itu, George Fisher, juga menjadi korban akibat kurangnya inovasi dan lambannya perubahan di Kodak. Fisher diminta mundur untuk diganti dengan CEO baru. (Bersambung ke bagian 2)

 

 Tentang Penulis:

Satrio Arismunandar Satrio Arismunandar lahir di Semarang, 11 April 1961. Menyelesaikan kuliah di Teknik Elektro FTUI (S-1) dan Program Studi Pengkajian Ketahanan Nasional di UI (S-2). Pernah bekerja di Harian Pelita, Harian Kompas, Majalah D&R, Harian Media Indonesia, dan terakhir menjadi Producer di Trans TV (sejak Februari 2002). Bersama sejumlah wartawan muda mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) pada 1994, sesudah pembreidelan DeTik, Editor, dan Tempo oleh rezim Soeharto. Pernah menjadi Dewan ... Selengkapnya »
 
  Beri komentar atau taut balik artikel ini.